Sepetinya ini akan jadi malam terakhir untuk kesekian kalinya. akan menjadi akhir yang tak pernah berawal.
Salahmu sendiri yang memberi harapan.
Ujar sobatku.
Aku hanya ingin berteman dekat. Apa salah?
Balasku membela.
Ah entahlah, salah kalian berdua. Kau yang lebih dulu memberi harapan, dan dia yang tidak mau mengerti posisimu.
Omelnya panjang lebar.
Aku terdiam. sepertinya benar begitu. Tapi kelihatannya keadaan tidak persis seperti itu.
Melihatku terdiam, dia kembali bekata.
Ah palingan nanti juga kalian akan kembali seperti biasa. Ya kan?
Aku menjawab dalam diam.
Sepertinya tidak. ini Untuk terakhir kali menurutnya.
Hmmm, terdengar tarikakn nafasnya.
Sudahlah, , tak usah menangis.
Siapa yang menangis?? ujarku sambil mengangkat wajah. Dia hanya mengangkat bahu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar