Langkahku menuju kamar mandi terhenti saat kudengar
sebuah percakapan. Sepertinya berasal dari kamar orangtuaku. Kurasa bapak tak
pergi kuliah subuh hari ini.
Sebenarnya aku tak berniat untuk menguping
pembicaraan mereka. Namun beberapa kali kudengar namaku disebut. Juga kakakku.
Bahkan ketika aku kembali dari kamar mandi, pembicaraan mereka masih
berlangsung. Dari sinilah rasa penasaran memaksaku untuk mendengarkan apa yang
mereka bicarakan. Kuyakin pembicaraan ini tentang anak-anak mereka.
“Bu, ibu yakin akan membicarakan ini dengan Tika?”
Terdengar suara Bapak.
“Ibu juga masih bingung, Pa. Bukannya Ibu tak
mengenal siapa Tika dan bagaimana sikapnya jika Ibu mengatakan ini padanya.
Namun sepertinya ucapan Rasha benar. Kita tak mungkin selamanya mengontrak ,
Pa. Cepat atau lambat kita memang harus pergi dari sini. Ibu selalu resah
memikirkan ini, Pa.” Terdengar suara Ibu, lebih pelan daripada suara Bapak.
“Lalu Ibu inginnya menggunakan uang ini untuk bayar
DP rumah di BTN itu?” lagi Bapak yang berbicara.
“Ia Pa. Rasha waktu itu bilang pada Ibu bahwa pemilik
developernya adalah saudara dari kepala sekolah tempat ia mengajar. Dan ini
dalam masa promosi. Kita diizinkan membayar DP minimal 3 juta. Padahal untuk
umum minimal 5 juta. Yah ibu rasa sayang saja jika kita melewatkan kesempatan
ini. Kapan lagi kita bisa punya rumah kalau tidak diusahakan?” Ibu kembali mengemukakan
pendapatnya.
“Bapak terserah Ibu lah. Hanya saja Bapak tidak mau
tahu kalau Tika marah gara-gara masalah ini.” Ucapan Bapak seperti mengakhiri
percakapan itu.
“Ya sudah. Biar Ibu yang menangani.” Ujar ibu
menyanggupi.
Benar saja, tak lama kemudian kudengar suara langkah
mendekat menuju pintu. Alih-alih pergi atau bersembunyi, aku malah ingin mereka
tahu aku ada di sini.
“Tika? Bapak kira kamu tidur lagi setelah subuh
tadi.” Kulihat Bapak sedikit terkejut aku sudah ada di balik pintu yang
dibukanya.
“Tadinya mau, Pa. Tapi Tika lebih suka di sini.”
Jawabku ketus. Tangan kusilangkan di depan dada.
“Tika? Sedang
apa kamu di sini?” Tak lama Ibu menyusul di belakangnya.
“Mendengarkan pembicaraan Bapak dan Ibu.” Ujarku.
“Kalo ga salah tadi kalian
menyebut-nyebut namaku, ada yang mau disampaikan?” Tanyaku kemudian.
Ibu dan Bapa saling lirik. Kulihat Ibu mengangguk.
“Ia Nak. Ini tentang kuliahmu, dan…” Bapak
menghentikan ucapannya.
“Rumah.” Ibu menyambung. “Tika, sebenarnya sudah
lama ibu ingin membicarakan ini denganmu. Namun Ibu rasa belum tepat waktunya.”
“Tunggu tunggu. Kalian bilang masalah kuliahku dan
rumah? Apa hubungannya?” Aku bertanya heran. “Oww, apa ini sebenarnya tentang
uang? Tentang biaya? Ia kan Bu?” cecarku.
“Tika sabar dulu lah. Dengarkan Ibu.” Ibu memintaku
untuk tenang.
“Engga perlu Tika dengerin Ibu lagi. Intinya Ibu
ingin Tika menyerahkan kuliah Tika demi rumah kan bu? Tolong dengarkan Tika Bu,
Pa. Bulan lalu Tika sudah mengubur keinginan Tika untuk kuliah di Universitas
ternama di Yogya. Lalu sekarang Ibu hambat cita-cita Tika lagi? Ini beasiswa
penuh Bu. Hanya 1 langkah lagi. Hanya biaya keberangkatan dan biaya hidup. Dan
Ibu minta Tika buat nyerah? Engga akan !!” Ucapku menggebu. Aku ingin Bapak dan
Ibu tahu apa yang kurasa.
“Dulu Ibu pernah bilang kan. Ibu ingin melihat Tika
memakai baju toga? Ibu ingin kan melihat anak Ibu berpendidikan tinggi? Lalu
kenapa seperti ini?” Tak ada air mata. Aku bukan anak cengeng yang hobi
meratapi nasib diri.
“Tika ! Tika ! dengarkan Ibu !” Ibu sedikit
membentak. “Kamu tidak mengerti Nak. Ibu sama sekali tak berniat menghambat
cita-citamu. Kuliahmu masih bisa dimulai tahun depan. Sambil menunggu
sertifikasi bapakmu cair. Tapi kesempatan kita untuk memiliki rumah mungkin takkan
datang dua kali. Kita tak mungkin selamanya mengontrak di sini nak.” Ibu
mencoba menjelaskan.
“Tika emang engga ngerti apa yang ada di pikiran Ibu.
Ibu bilang kesempatan kita untuk memiliki rumah mungkin takkan datang dua kali.
Tapi Tika bilang kesempatan untuk mendapatkan besiswa ini hanya ada 1 kali.
Lalu Ibu mengeluhkan tentang rumah kontrakan? Kenapa Ibu ga minta Ka Rasha untuk
bertanggung jawab tentang masalah ini?! Dia kan yang membuat Ibu dan Bapak
menjual rumah untuk biaya kuliahnya 7 tahun lalu? Kenapa harus Tika yang kena
imbasnya?!” kurasa cukup. Semua yang mengganjal di hatiku sudah kukeluarkan.
Aku berlalu dari hadapan mereka, mengunci diri dalam kamar. Tak kupedulikan Ibu
yang memanggil.
Kalian jangan salah paham. Dalam kamar aku tidak
menangis seperti anak-anak lain setelah bertengkar dengan orangtua mereka. Aku
berpikir, terus berpikir bagaimana aku bisa menghasilkan uang. Puasa masih 25
hari lagi. Dan keberangkatanku ke Jakarta 1 minggu setelah hari raya. Berarti
masih ada kurang lebih 1 bulan. Dan aku harus menghasilkan uang.
Bekerja di pabrik atau toko milik orang jelas engga
mungkin. Aku tak suka bekerja di bawah telunjuk orang lain. Perfeksionis
memang. Tapi kupikir itu hal wajar. Mengapa ingin bekerja pada orang lain jika
selama sekolah rangkingku tak pernah beranjak dari 1?
Sepertinya aku harus membuat dan menjual sesuatu. Tiba-tiba
terlintas sebuah nama: Abel. Dia sahabat SMPku yang berjualan es buah sejak
hari pertama Ramadhan ini.
“Aha, kurasa aku tahu apa yang bisa kulakukan.” Aku
menjentikan jari.
Ternyata statement
“the power of kepepet” itu benar. Saat kepepet ide-ide dan inspirasi akan
berdatangan. Yang awalnya tak masuk akal, jadi masuk akal. Yang tadinya tidak
mungkin, jadi bisa terjadi. Hebat hebat.
Kubuka buku kumpulan resepku. Tak sia-sia aku menghabiskan
waktu 3 tahun terakhir ini di SMK. Program studi Pengolahan Pangan yang kupilih
ternyata bisa sangat bermanfaat di saat saat seperti ini. Kupilih produk
makanan yang potensial untuk menghasilkan benefit sebesar-besarnya.
Cukup lama juga aku memilih. Aku harus menghitung
biaya variabel dan biaya tetap yang dibutuhkan. Menentukan harga jual yang
pantas, sehingga dapat memperkirakan keuntungan yang akan didapat. Meski
kerugian bukanlah suatu dosa, tapi saat ini aku tak boleh mengambil resiko itu.
Setelah aku yakin dengan pilihanku. Aku segera
mengontak handphone Abel. Aku tak perlu khawatir ide kerjasamaku dengannya akan
ditolak, karena ia pernah menawarkannya padaku sebelumnya.
Masih pukul 9 pagi. Aku segera meluncur menuju rumah
Abel yang ada di daerah Alun-alun kota. Sekitar 7 Km dari rumahku.
Hanya 15 menit aku sampai di tempat tujuan. Rumah
mungil bercat kuning krem, berpagar bambu coklat. Tak banyak yang berubah
selain cat tembok yang mulai terkelupas di sana sini. Wajar. 3 tahun berlalu
sejak terakhir aku berkunjung.
“Hai Non.” Abel menyapaku. Bahkan kini dia masih
memanggilku dengan panggilan itu. Menurut informasi dari temannya, dia dulu
sempat menaruh rasa padaku.
“Hai Bel.” Jawabku. Kulihat dia sudah menungguku
sedari tadi.
“Emangnya aku lonceng?” tanyanya sambil tertawa. Aku
tersenyum. “Ada apa Non?” tanyanya kemudian.
Aku lalu menceritakan rencanaku untuk ikut berjualan
dengannya. Saat ia tanya mengapa, aku tak sungkan mengatakan alasannya. Dia
sahabatku meski 3 tahun ini kita jarang bertemu, karena kesibukan
masing-masing.
“Terus produknya apa?” tanyanya.
“Aku pilih Risoles bumbu cabai, gentur 1
pedas dan donat cinta.” Jawabku tegas.
“The reason?” lanjutnya.
“Aku pilih risoles dan gentur karena aku tahu
penduduk Sukabumi ini sangat menyukai makanan berbumbu pedas. Dan mereka tak
perlu khawatir, karena es buah milikmu siap menjadi penawar rasa pedasnya. Untuk
minoritas yang tidak suka pedas, atau anak-anak, kita tawarkan donat cinta.
Harga untuk risoles dan donat masing-masing Rp. 2000, sedangkan untuk gentur
hanya Rp. 1000. Konsumen dijamin tidak akan kecewa dan akan datang untu kembali
membeli.” Aku berpromosi, layaknya sales gadungan.
“God job. So cool.” Abel mengangkat kedua ibu
jarinya. “Oke, kapan akan mulai?”
“Hari ini juga. aku akan langsung belanja, lalu
pulang untuk produksi. Nanti sore aku
antar ke sini yah?” Jawabku penuh semangat.
“Wiih tokcer. Semangat banget nih kayanya.” Abel
meledekku.
“Hehe, ia. Semangat karena kepepet.” Timpalku.
“Bagus deh bagus. Oya, Abel ada saran. Mending Abel
aja yang jemput makanannya. Jadi kamu ga usah bolak balik ke sini.” Sarannya.
“Ga apa-apa?” tanyaku meyakinkan.
“Kapan sih Abel bohong?” Dia malah balik bertanya.
“Besok.” Jawabku sambil tertawa.
Aku lalu pamit. Mesti segera ke pasar, sebelum
kebutuhanku benar-benar habis diborong ibu-ibu.
Siangnya aku langsung produksi. Dapur menjadi markas
besarku sekarang. Tak kupedulikan pertanyaan Ibu dan tatapan heran Kak Rasha. Pokoknya
sekarang uang uang uang !! Aku menjadi penentang keras lagu Jessie J. Karena
untukku “It’s all about the money”.
Jam 4 sore Abel sudah nangkring di depan rumahku
dengan sepeda yang menjadi gayanya sejak SMP. Pikirku, mungkin karena
jabatannya sebagai duta Go Green, dia jadi gengsi naik angkot.
Untungnya produkku sudah siap. Jadi dia tak perlu
menunggu lama. Segera saja dia pergi, menghilang ditelan tikungan membawa 1
kotak besar makanan.
Otakku kini dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang
uang. Hari pertama Abel memberiku setoran Rp. 210.000. Modal pertamaku Rp.
150.000. Keuntungan bersih yang kudapat setelah dibagi 2 dengan Abel Rp. 30.000.
Alhmadulillah. Awal yang baik. Jika pendapatanku
seperti ini tiap hari, ini akan cukup untuk biaya keberangkatan, bekal, serta
setoran kos untuk bulan pertama. Tapi ini takan semulus itu. Aku harus terus
berinovasi agar konsumen tidak bosan dengan produk yang kujual.
Usahaku menginjak usia 5 hari. Pikiranku masih
berkisar diantara makanan-makanan yang kujual. Bahkan saat berjamaah shalat
Qiyamulail bersama Ibu dan Bapak pun pikiranku masing melanglang buana.
Targetku sekarang naik. Minimal aku harus menyiapkan uang untuk bekalku selama
2 bulan pertama kuliah.
Kurva usaha penjualanku terus menanjak. Aku puas. Di
hari ke tujuh, keuntungan yang kutabung telah mencapai Rp. 295.000.
“Hei Tika”. Tiba-tiba terdengar suara. Aku yang
sedang membuat adonan donat tertegun.
Siapa itu. Suara itu terdengar bukan dari sekelilingku. Tapi… dari diriku
sendiri. Tepatnya dari hatiku. Ada apa ini.
“Kamu selama ini bekerja dengan otak dan pikiranmu.
Kau selalu menyuruhku untuk diam. Kamu lupa? Sudah berapa hari kamu bersikap
buruk pada kedua orang tuamu? Sudah berapa Qiyamulail yang kamu lewati hanya
dengan pikiran-pikiran tentang uang?” dia kembali berucap. Kali ini lebih
lantang.
“Tau apa kamu?” Kali ini otakku yang berteriak.
“Diam kamu! Kamu hanya membuatnya bersikap tamak.”
Hati membentaknya. “Tika, pernahkan kamu renungkan tentang apa yang kamu
lakukan sekarang? Tak pernahkah kamu merasa sedikit saja bersalah pada kedua
orangtuamu?” dia menasihatiku lagi. Kalau dia orang lain mungkin aku akan
membentaknya. Tau apa dia tentang hidupku sekarang. Sok sok an menasehatiku. Tapi
ia ada di sini, dia masih diriku.
“Ramadhan ini memberimu berkah berdagang, Tika. Tapi
apa terlintas keinginannmu untuk mendapatkan berkah yang lainnya? Lailatul Qodar
Tika. Bagaimana kau mendapatkannya, sedangkan pada orangtuamu pun kamu bersikap
dingin. Tanpa Ibu dan Bapak, kamu tidak mungkin ada di sini, Tika” Dia makin
lancang mencercaku.
“Dan dia takan mungkin merasa sakit hati seperti
kemarin.” Otak kembali membelaku.
Hati terdiam. Jika dia bisa, mungkin akan menghela
nafas panjang, “Berapa sering sih sakit hati kamu dibandingkan pengorbanan
mereka sejak kamu masih bayi hingga kamu sepintar ini? Bahkan terlalu pintar
hingga berani melawan kedua orangtuamu sendiri.” Dia meledekku.
“Usahamu untuk mengumpulkan biaya kuliahmu sendiri
ini baik, sangat baik. Tapi bukan berarti kamu bisa terlepas dari orangtuamu
seperti ini.” Dia mengakhiri ceramahnya.
“Tapi Ibu Bapak yang bersalah padanya.” Otak kembali
bersuara.
“Mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk
semua.” Hati menentang.
“Kamu terlalu alim !!”
“kamu terlalu naif!!”
Kedua bagian diriku saling berteriak dan menentang.
Membuat kepalaku serasa akan pecah.
“Cukup !!” teriakku. Kali ini mulutku yang
berbicara. “Kalian bisa diam tidak? Oke aku salah. Tapi aku tak sepenuhnya
salah.” Aku mengaku salah, tapi juga menolak.
“Aku akan minta maaf sama Ibu dan Bapak. Tapi kalian
diam.” Perintahku. Hati tersenyum menang. Otak bermuram durja, kecewa padaku.
“Apa? Aku akan tetap menjalankan bisnis kita.”
Ujarku menghiburnya. Cukup ampuh mengubah lengkung ekspresi bibirnya -jika dia
punya-.
Hmmm, aku bersyukur Allah masih menyayangiku. Meski
entah bagaimana caranya aku bisa mendengarkan hati menasehatiku, sekaligus
bertengkar dengan otakku. Kurasa itu anugerah yang diberikan oleh-Nya. Karena
ia Maha Tahu, jika yang menyampaikannya seorang ‘manusia’aku pasti tidak akan
mendengarkannya.
Note:
1. Makanan
tradisional dari singkong yang dihancurkan dan ditambah tepung tapioka,
kemudian dibentuk bulat dan digoreng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar