Rabu, 14 November 2012

Mama, Upi sayang



Upi menghentikan aktifitasnya. Ponselnya bergetar, diliriknya benda putih mungil itu. Sebuah pesan baru dari kaka perempuannya.
‘De, kapan pulang? Mama tadi udah transfer.’
Dengan cepat jemari Upi membalas.
‘Insyaallah rabu teh. Ia tadi mama sudah sms de ko.’
Upi yang berniat melanjutkan aktifitasnya terhenti karena ponselnya kembali berdering.
Oh. De tau ga? Pembagian uang sertifikasi bapak itu lucu banget. Jatahmu 5 juta buat 3 bulan, wajar. C Ujang, abangmu  itu, dia minta 3 juta buat DP  motor mama kasih juga. nah, giliran teteh tagih utang mama 1,6 juta doang, mama malah baru ngasih 1 juta. Gondok ga sih?’
Gadis berkacamata itu menegakkan duduknya. Sms kakanya itu mau tak mau membuatnya merasa geli dan…. Jijik.
masa teh? Ko bisa sih? Gatau malu banget dia minta-minta ke mama. Ya udah teh, bairin aja. Mama kaya gitu juga buat ngelindungin kita kali teh. Kita mah orang sehat dan bisa BERFIKIR, bisa cari rezeki sendiri.’
‘Ia, makanya teteh juga heran. Gondok banget.’
‘udah ah. Jadi ikut2an enek nih. De lagi ngerjain tugas.’
‘Ya udah.’
Upi tak berminat lagi melirik soal-soal fisika yang tadi sedang dikerjakannya. Ditutupnya leptop kemudian berbaring tidur setelah merapikan buku-bukunya.
***
Sudah 2 hari Upi berada di rumah. Dirinya belum sekalipun bertegur sapa dengan kakak laki-lakinya. Luka itu sudah lama tergores, tapi sakitnya masih membekas. Entah sampai kapan. Kakak perempuannya pun pergi menginap ke rumah nenek. Arsyil, keponakannya yang baru berumur 4 tahun ikut serta dengan bundanya itu. Jadi seperti anak tunggalah ia di rumah.
“Ma, si teteh kenapa sih?” Upi menghampiri mama yang sedang merapikan baju-baju pesanannya.
“Engga tau De. Dia mau menginap saja mama engga tau kalo bukan Arsyi yang bilang.”
“Hmm gitu. Kemarin sebelum de pulang sih dia sempet curhat.” Upi duduk di samping mamanya.
“Curhat apa?” Mama menghentikan kegiatannya.
“Ya tentang itu.” Upi terdiam sejenak. Ragu antara bercerita atau tidak, “tentang sertifikasi bapak itu.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya.
“Lalu?” mama menunggu.
Mengalirlah cerita itu. Dari awal hingga akhir, tak terlewat satu kata pun.
“Hmmm. Ya sebenarnya mama juga tidak setuju bapak ngasih abangmu itu. Tapi mama berfikir jauh De. Mama takut berimbas buruk pada kamu dan tetehmu. Sudah dari kemarin-kemarin juga tetehmu marah-marah kaya gitu. Dia itu kalo dibilangin malah balik marah. Ya Allah mama sampai sakit hati itu waktu hari apa ya. Tapi orang tua itu lautan maaf De. Jangan sampai ya kamu kaya gitu.” Mama bercerita sambil matanya menerawang. Upi mendengarkan dengan mata yang berkaca.
“Hmm ia ma.” Upi bangkit, tak ingin rasa terharunya kentara di mata mama. Dalam hati ia berujar ‘maafkan Upi ya ma. Maafkan kakak-kakak Upi juga.’
Dalam doa Upi panjatkan sebaris harap : “Semoga kakak bisa berfikir dari sudut pandang mama, biar kakak engga marah-marah sama mama. Amin”
Di penghujung doa tak lupa ia menyebut mamanya, “Ya Allah, beri mama Upi kesabaran. Sayangi dia Ya Allah. Biarkan Upi menyayanginya selama-lamanya, jangan hapuskan rasa sayang ini untuknya. Amin”

1 komentar: