Upi menghentikan aktifitasnya. Ponselnya bergetar,
diliriknya benda putih mungil itu. Sebuah pesan baru dari kaka perempuannya.
‘De, kapan pulang? Mama
tadi udah transfer.’
Dengan cepat jemari Upi membalas.
‘Insyaallah rabu teh. Ia
tadi mama sudah sms de ko.’
Upi yang berniat melanjutkan aktifitasnya terhenti karena
ponselnya kembali berdering.
‘Oh. De tau ga? Pembagian
uang sertifikasi bapak itu lucu banget. Jatahmu 5 juta buat 3 bulan, wajar. C Ujang,
abangmu itu, dia minta 3 juta buat DP motor mama kasih juga. nah, giliran teteh
tagih utang mama 1,6 juta doang, mama malah baru ngasih 1 juta. Gondok ga sih?’
Gadis berkacamata itu menegakkan duduknya. Sms kakanya itu
mau tak mau membuatnya merasa geli dan…. Jijik.
‘masa teh? Ko bisa
sih? Gatau malu banget dia minta-minta ke mama. Ya udah teh, bairin aja. Mama
kaya gitu juga buat ngelindungin kita kali teh. Kita mah orang sehat dan bisa
BERFIKIR, bisa cari rezeki sendiri.’
‘Ia, makanya teteh
juga heran. Gondok banget.’
‘udah ah. Jadi ikut2an
enek nih. De lagi ngerjain tugas.’
‘Ya udah.’
Upi tak berminat lagi melirik soal-soal fisika yang tadi
sedang dikerjakannya. Ditutupnya leptop kemudian berbaring tidur setelah
merapikan buku-bukunya.
***
Sudah 2 hari Upi berada di rumah. Dirinya belum sekalipun
bertegur sapa dengan kakak laki-lakinya. Luka itu sudah lama tergores, tapi
sakitnya masih membekas. Entah sampai kapan. Kakak perempuannya pun pergi menginap
ke rumah nenek. Arsyil, keponakannya yang baru berumur 4 tahun ikut serta
dengan bundanya itu. Jadi seperti anak tunggalah ia di rumah.
“Ma, si teteh kenapa sih?” Upi menghampiri mama yang sedang
merapikan baju-baju pesanannya.
“Engga tau De. Dia mau menginap saja mama engga tau kalo
bukan Arsyi yang bilang.”
“Hmm gitu. Kemarin sebelum de pulang sih dia sempet curhat.”
Upi duduk di samping mamanya.
“Curhat apa?” Mama menghentikan kegiatannya.
“Ya tentang itu.” Upi terdiam sejenak. Ragu antara bercerita
atau tidak, “tentang sertifikasi bapak itu.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengutarakan
isi hatinya.
“Lalu?” mama menunggu.
Mengalirlah cerita itu. Dari awal hingga akhir, tak terlewat
satu kata pun.
“Hmmm. Ya sebenarnya mama juga tidak setuju bapak ngasih
abangmu itu. Tapi mama berfikir jauh De. Mama takut berimbas buruk pada kamu
dan tetehmu. Sudah dari kemarin-kemarin juga tetehmu marah-marah kaya gitu. Dia
itu kalo dibilangin malah balik marah. Ya Allah mama sampai sakit hati itu
waktu hari apa ya. Tapi orang tua itu lautan maaf De. Jangan sampai ya kamu
kaya gitu.” Mama bercerita sambil matanya menerawang. Upi mendengarkan dengan
mata yang berkaca.
“Hmm ia ma.” Upi bangkit, tak ingin rasa terharunya kentara
di mata mama. Dalam hati ia berujar ‘maafkan Upi ya ma. Maafkan kakak-kakak Upi
juga.’
Dalam doa Upi panjatkan sebaris harap : “Semoga kakak bisa
berfikir dari sudut pandang mama, biar kakak engga marah-marah sama mama. Amin”
Di penghujung doa tak lupa ia menyebut mamanya, “Ya Allah,
beri mama Upi kesabaran. Sayangi dia Ya Allah. Biarkan Upi menyayanginya
selama-lamanya, jangan hapuskan rasa sayang ini untuknya. Amin”

makasih de....dah mengingatkan hal itu....
BalasHapus