Jumat, 09 November 2012

LAPTOP SENGKETA




           
            Hari ini genap 17 tahun usianya. Hmm sungguh bahagianya. Mamanya menjanjikan  sebuah laptop, barang yang diidam-idamkannya sejak tiga tahun yang lalu. Yah penantian yang panjang memang.          
“Why are you looks so happy today?” Nayla tiba-tiba hadir di belakang Nadia.
            “I just feel so wonderful. Today is my birthday, do you forget it?” Jawabnya ceria.
            “Ah ya, I am almost missing it, haha.” Nayla tertawa.
            “Isshhh, you are really disgusting sister.” Sang adik memukulnya dengan bantal.
            “Hahaha.” Tawanya bertambah keras, “of course not, I forget your birthday? It’s imposible. Happy birthday honey. I have a price for you. Tara....!” Kak Nayla mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam kantong jaketnya.
            “Waw, what is it?” tanya Nadia penasaran.
            “Just open it.” Perintahnya. Nadia menurut. Dibukanya kotak itu, kepala boneka menyembul dari dalamnya.
            “That is flashdisk. I thing you need it for your task or homework.” Lanjut Nayla menerangkan.
            “Ahh, you are always understand me, you are really nice sister.” Nadia teriak-teriak kegirangan.
            “Sure? U said I am disgusting sister just time.” Nayla meledek.
            “I was no sure, but I am really sure now.” Nadia tersipu. “Ka, do you now something?” lanjutnya.
            “What?”
            “Mom will give me a laptop today. The price for my birthday.” Nadia menerangkan sambil tak henti matanya berbinar.
            “Right? I dont hear it from her.” Nayla mengerutkan keningnya.
            “Oh? Hmmm, maybe She want to give surprice for me, so She doesn’t tell to anyone.”
            Oh, yes maybe. Nadia, what time is it? Dont you go to school today?”
            “Astagfirullah, , you are right. Aku berangkat dulu ka!!!” Nadia langsung ngacir ke kamar mandi. Nayla hanya geleng-geleng kepala, berjalan ke taman depan menemui ibunya.
            “Ma, benar Nad bakalan dapat laptop dari Mama?”
            Mama mengerutkan kening, “Kata siapa Nay?”
            “Adeku bilang sendiri. Katanya Mama janjiin dia laptop di ultahnya tahun ini.” Terang Nayla.
            “Oh itu. Mama emang janji Nay, tapi sepertinya belum bisa untuk tahun ini. Hmm, kamu tahu sendiri kan bagaimana keadaan keuangan kita saat ini, Bapakmu sebentar lagi pensiun. Kita hanya bisa mengandalkan gaji Bapak saat ini, takkan bisa pinjam dari bank.” Mama menjelaskan panjang lebar.
            “Nay tahu Ma, makanya Nay tanya mama buat konfirmasi. Tapi apa Nadia bisa mengerti? Mama masih ingat kan bagaimana kecewanya dia saat tahun lalu Mama ga bisa nepatin janji Mama?”
Mama hanya menarik napas berat.
            “Biar nanti Nay yang ngomong sama Ade Ma.” Nayla mengusap punggung ibunya.
            “Tolong ya Sayang, Mama ga tau harus bilang apa sama Adikmu. Mama pun sebenarnya tak ingin membuat janji padanya, tapi dia begitu teguh menginginkannya. . “
            “Tak apa Ma.” Nayla memeluk ibunya.

Sore itu tak begitu cerah, hujan menggantung di ujung awan, menandakan ia kan segera turun. Nadia baru saja mengunci pintu laboratorium bahasa. Ya, sebagai asisten pengajar bahasa inggris dia diberi tanggung jawab untuk mengurus lab ini. Langkahnya cepat menuju parkiran, seseorang telah menunggunya.
“Maaf lama.” Ujarnya pada pemuda itu.
“Tak apa, ayo pulang, sudah gerimis.” Timpal pemuda itu.
“Oke, nanti kita makan di rumahku, Mama mengundangmu.” Ajaknya kemudian, Ardian mengangguk.

“Assalamualaikum..” Nadia membuka pintu rumah, Ardian mengekor di belakangnya.
“Waalaikumsalam...” jawab sebuah suara, “Sudah pulang sayang? Oh Ardian, apa kabar sayang?” Mama ramah menyapa sang tamu.
“Alhamdulillah sehat, Mama sendiri?” timpal Ardian.
“Seperti yang kau lihat.” Jawab mama sambil tersenyum, “ Ayo, kalian pasti sudah sangat lapar, Mama sudah siapkan makan spesial hari ini.”
“Kebetulan Ma, perut saya sudah keroncongan dari tadi. Nadia tak sedikitpun mentraktir makan. Padahal Aku nunggu dia lama banget, haha.” Gurau Ardi.
“Aissshh, kau ini !!” Nadia memukul pundaknya. Mama tertawa.
“Ka Nay ke mana Ma?” tanya Nadia tiba-tiba.
“Sedang mengantar Bapak ke depan, sebentar lagi juga balik.”
“Oooh...” Nadia ber-O panjang.

Perlahan terdengar suara motor mendekat. Tak lama kemudian muncul sesosok gadis cantik berjilbab dari balik pintu.
“Tuh Ka Nay datang Nad.” Ujar Ardi sambil berdiri menghampiri kakak semata wayangnya Nadia itu.
“Ahhh, , my beatiful sister…” Nadia menggelayut manja di lengan kakaknya.
“Apa sih De?? Pasti ada maunya nih kalo gini.” Nayla berusaha melepaskan diri. Ardi memperhatikan sambil tertawa.
“Ia tuh Ka,  kaya mpuss dia mah, kalo ada maunya ajah ngedeketin, haha…” Ardi mengejek Nadia.
“Iiiishh, jahat. Masa seimut gini disamain kaya mpuss?” Nadia manyun.
“Bercanda deeeh…” Ardi mengajak berdamai, tapi tetap saja ketawanya ga berhenti, bibir Nadia makin monyong saja.
“Ayo ayo kita makan. . udah pada lapar kan??” Mama muncul dari dapur membawa mangkuk sayur yang masih mengepulkan asap.
“Ayoo…” Ardi, Nad dan Nay kompak menyambut.
Keluarga itu kemudian sibuk dengan kebutuhan perut mereka, hanya denting sendok beradu piring yang terdengar.
“Hatciihhh…” tiba-tiba Nadia bersin, kontan seluruh yang ada di ruangan itu tertawa. “Aduuuh,  maaf  maaf pemirsa.” Ujar Nadia sambil menyeka mulut dan hidungnya.
Selesai makan, Mama dibantu kedua anaknya serta Ardi membereskan meja makan. Piring kotor dibawa Nayla ke wastafel dan langsung dicucinya. Nadia membersihkan sisa2 makanan yang tercecer diatas meja. Ardi mengelap piring basah yang telah dicuci oleh Nayla.
Setelah semua selesai, Mama meminta semua orang berkumpul di ruang keluarga. Ardi meminta izin untuk pulang,  tak enak mungkin yang akan dibicarakan oleh Mama adalah masalah keluarga yang tak ada sangkut paut dengan dirinya.
Tinggal bertiga mereka berkumpul di ruangan itu. Mama sepertinya berat untuk memulai pembicaraan.
“Nad, kaka ngewakilin Mama mau menyampaikan sesuatu sama kamu.” Nayla berinisiatif untuk mencairkan suasana.
“Ya udah bilang ajah, napa musti pake diwakilin segala?” Nadia bertanya heran.
“Kamu dengerin dulu kaka baik-baik yah, jangan langsung ngambil kesimpulan sendiri.” Nayla masih berbicara hati-hati.
“Ia ia Ka. Ada apa sih?”
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Nayla, tentang apa yang diceritakan oleh mamanya tadi pagi, , tentang sesuatu yang sesungguhnya membuat mama risau, khawatir akan mengecewakan Nadia.
Perlahan raut wajah Nadia berubah. Yang awalnya tersungging senyum, kini mengkerut.
“Tuh kan, bohong lagi.” Ujar Nadia pelan. Tapi tak cukup pelan hingga Mama dapat mendengarnya.
“Nad, bukan Mama niat bohongin kamu. Demi Allah Mama ga ada niat seperti itu sama sekali.” Mama menghampiri Nadia.
Terlanjur kecewa, alih-alih mendengarkan Mamanya, Nadia langsung pergi, mengunci diri di kamarnya.
Nayla hanya bisa tertunduk sambil memegang kepala. Mama mengusap-usap punggung Nay, memberi tahu bahwa semua akan baik-baik saja. Nadia bukan seorang anak yang nekat, dia hanya butuh waktu menyendiri untuk mengakui bahwa perkataan Mama tak sepenuhnya salah.
Sementara di kamar, Nadia duduk memeluk beruang kesayangannya. Sediiih rasanya, membayangkan sesuatu yang indah, tapi nyatanya tak terwujud.
“Kenapa sih Mama lagi lagi bohongin Gue? Menyebalkan sekali. Apa salahnya bilang ga bisa beliin kalo emang kenyataannya seperti itu. Kenapa selalu bilang bisa tapi ga ada faktanya. Heuh, coba kalo orangtuaku pengusaha sukses, pasti segala yang aku mau bisa terpenuhi.” Nadia ngedumel pada beruang putihnya. Entah cape atau udah kehabisan naskah, Nadia kemudian tertidur pulas, sambil masih memeluk bonekanya.
Kriiiuukk… 6.30 pagi
“hoahmm….” Nadia menggeliat. Perlahan tersadar dari mimpinya. “Aduh, ni perut ko bunyi sih? Perasaan barusan Gue udah makan deh.” Ujarnya sambil mengusap-usap perutnya.
“hmmm, kalo gue makan, gengsi donk. Gue kan lagi marah sama Mama. Jam berapa sih ini?” gumamnya sambil melirik jam.
“Aih aih, , udah siang ternyata. Pantesan perut gue bunyi. Ini minggu yah, hmmm bagus deh.” Lanjutnya sambil mengumpulkan ingatan. “Lama juga ternyata gue hibernasi, hehe.” Ujarnya sambil tersenyum.
Nadia perlahan membuka pintu kamar, mengintip keadaan di luar. Aman. Rencananya menuju kamar mandi sesaat goyah saat hidungnya mencium bau masakan yang kembali menggugah selera makannya. Tapi diurungkannya niat untuk menghampiri meja makan saat terdengar langkah kaki mendekat.
“Eh, udah bangun De?” Sapa Nayla. Nadia acuh, langsung masuk ke kamar mandi. Nayla sudah paham, begitulah adiknya. Kalau ada masalah, semua orang akan dianggap musuh olehnya.
Selesai mencuci muka dan membersihkan badan, Nadia kembali ke kamar. Tak berniat menghabiskan waktu sendiri, ia kemudian memanggil Ardi, mengajaknya lari pagi.

Hari ketiga Nadia sudah mau berbaikan. Hatinya sudah menerima bahwa Mama tak bersalah. Malah kini ia ingin sekali meminta maaf dan mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Biarlah nanti waktu yang akan mengabulkannya, begitu tekadnya.
Saat Nadia sedang mengobrol dengan Mamanya, sebuah pesan singkat datang, mengakibatkan ponselnya bersin.
“NAD, HARI INI KAMU DATANG PAGI YAH. ADA KUNJUNGAN DARI GUBERNUR KE SEKOLAH KITA”
Nadia terdiam. Heran. So? Tanyanya dalam hati.
“Siapa Nad?” Mama membuyarkan lamunannya.
“Wakil Kepsek Ma, Nad hari ini disuruh dateng pagi-pagi.” Jawabnya sambil membalas pesan.
“Ya sudah. Berangkat aja. Sudah siapkan? Mumpung kakakmu belum berangkat.” Perintah mama.
“Ia Ma. Nad mau nebeng sama Ka Nayla aja. Nadia berangkat yah Ma.” Pamitnya sambil mencium tangan Mama. Kemudian mengambil sepatu hitam dari rak di samping pintu.

Sampai di sekolah, Nadia langsung ke kantor, tanpa menyimpan tas ke kelasnya terlebih dahulu. Kebetulan Pa Harry ada di lapang depan kantor, sedang memberi pengarahan kepada beberapa siswa yang ada di situ.
“Assalamu’alaikum, Pa.” Salam Nadia sambil mencium tangan gurunya itu.
“Waalaikumsalam. Nah Nad, Akhirnya kamu dateng juga.” Jawab Pa Harry. Beberapa siswa yang telah diberi wejangan itu kemudian undur diri, bergabung dengna kawan-kawannya.
“Ada apa sih Pa?” Tanya Nadia penasaran.
“Gubernur kita kan mau berkunjung ke SMK ini Nad, dalam rangka Safary Jawa Barat. Kamu sudah denger kan?” Pa Harry malah balik bertanya.
“Tahu sih Pa, lalu apa hubungannya sama Nadia? yang jadi audience nanti kelas 1 aja kan?” Jawab Nadia sambil memastikan.
“Betul. Tapi Bapak baru dapat kabar bahwa ada acara pemberian cinderamata bagi siswa berprestasi. Bapak langsung kepikiran kamu. Bulan lalu kan kamu jadi juara 1 Design Packaging and labeling tingkat jabar.”
“Ohh begitu.” Nadia membulatkan mulutnya.
“Ia. Nanti kamu yang maju menerima cinderamata itu. Berdua dengan Aryo yang mewakili OSIS.”
“Oke Pa. Asalkan absenan saya aman.” Jawab Nadia tegas. Ia tak mau hak pribadinya dirugikan karena kepentingan  umum sekolah.
“Beres. Tadi saya sudah titipkan surat dispen ke teman kamu. Agar dikasihkan ke guru yang mengajar di kelasmu hari ini.” Timpal Pa Harry. “Kamu duduk di kursi tengah paling depan ya, gabung sama adik kelas kamu.” Lanjutnya.
“Sip.” Balas Nadia sambil melangkah ke kursi tempat yang direkomendasikan. Namun seketika ia berbalik, “Oia Pa, memangnya cindermatanya itu apa?”
“Kabarnya sih laptop.” Jawab Pa Harry sedikit berbisik.
Mata Nadia membulat. Laptop ?!! Asikkkk, teriaknya dalam hati. Tapi tak salah dengarkah ia? Keinginannya untuk kembali bertanya ia urungkan saat dilihatnya Pa Harry sibuk mengarahkan anak buahnya mengatur dekorasi panggung.
Tak kurang 2 jam Nadia menunggu. Tamu yang ditunggu belum juga hadir. Begini nih Indonesia, tahu begini aku ikut pelajaran dulu deh, batinnya sedikit kesal.
Pukul 9.45 orang-orang terlihat lebih sibuk. Menurut kabar dari mulut ke mulut, Pa Gubernur telah sampai gerbang sekolah, dan saat ini sedang menuju tempat di mana ia dan sejumlah siswa lainnya menunggu. Dalam hati Nadia bersyukur, penantiannya berakhir juga.
Pemimpin Provinsinya itu kini duduk tepat duduk di depannya. Antara percaya dan tidak Nadia mengucek mata dan mencubit tangannya. Awww, jeritnya lirih.
Seperti biasa acara diawali dengan sambutan-sambutan, baik itu dari kepala sekolah, panitia serta pidato motivasi dari sang Leader Jawa Barat itu.
Sampai pada acara pemberian cinderamata, nama Nadia Tasya Kamila dipanggil. Tepuk tangan bergemuruh. Serasa melayang, Nadia berjalan ke depan panggung.
Seperti sebuah dongeng, mimpi Nadia kini nyata ada di hadapannya. Telah digenggamnya pula setelah sesaat sebelumnya Pa Gubernur menyerahkannya sambil mengucapkan beberapa kata selamat dan nasihat. Setelah berfoto bersama, Nadia kembali ke tempat duduknya.
Tak sampai 1 jam, acara selesai. Karena ini acara safary, Pa Gubernur harus melanjutkan perjalanannya ke sekolah lain yang terpilih untuk dikunjungi.
Pa Harry berjalan menghampiri Nadia.
“Nad, laptopnya tolong di simpan dulu di meja bapak di kantor. Nanti dirapatkan dulu sama Bapak Kepala Sekolah tentang kepemilikannya.” Katanya berbisik di tengah hiruk pikuk para siswa.
“Disimpan Pa?” Nadia bertanya bingung.
“Ia, disimpan dulu.”
Meski penuh dengan tanda tanya, Nadia menuruti juga perintah gurunya itu. I follow your game, bisiknya dalam hati.

Seminggu berlalu sejak “award” itu. Belum ada tanda-tanda sang laptop akan dipindah tangankan. Masih terbujur kaku di lemari kaca di kantor kepala sekolah.
Nadia menjalani hari-harinya seperti biasa. Awalnya ia tak terlalu merisaukan kepemilikan leptop itu, meski ia sangat menginginkannya. Toh awalnya pun leptop itu tak ada. Muncul tiba-tiba, maka akan menghilang tiba-tiba pula, begitu pikirnya. Namun semakin banyak orang yang bertanya tentang leptop itu, ia menjadi sanksi dengan pernyataan hatinya sendiri. Tapi apa daya, meski banyak teman serta guru yang mendukungnya, ia tak mungkin mengangkat bendera berdemo di depan kantor sekolah.
Oia, sebenarnya ada 2 kubu di sini. Pertama yang mendukung dirinya sebagai pemilik tunggal leptop itu. Dan yang kedua mendukung pihak penggugat untuk menyingkirkannya sebagai pemilik sah benda itu. Dan pihak kedua ini kebanyakan adalah guru yang membimbingnya dalam menghadapi kompetisi yang mengaharumkan sekolahnya, bulan lalu. Sungguh ironis memang.
Siang itu Nadia duduk termenung di taman. Menikmati sekantung es jeruk yang baru saja dibelinya. Nana melambai dari kejauhan. Menghampiri, lalu duduk di sampingnya.
“Anteng sendiri aja nih Nad?” tanya gadis berdarah indo itu.
Nadia tersenyum, “Ia nih, ga ada yang mau nemenin, hehe.”
“Gue temenin deh.” Balas Nana sambil tertawa. “Mau?” tanyanya, menawarkan jus strawberry miliknya. Nad menolak lembut.
“Nad, gue pengen tau deh. Bener ga sih gosip itu?” Nana bertanya sambil menghisap minumannya.
Nadia menghela nafas. Pertanyaan sama yang akhir-akhir ini sering dilontarkan teman-temannya.
“Engga tau yah. Tanya aja sama yang bawa gosip.” Jawab Nadia sambil bergurau. Nana manyun.
“Kalo gue jadi elu ya Nad, gue labrak tuh orang kantor. Udah ga pantes disopanin deh kalo mereka ga bisa ngebedain mana milik sekolah sama hak pribadi siswanya.” Lanjut Nana emosi.
“Gue juga maunya gitu Na. yah tapi gue ngaca dulu lah. Siapa gue, siapa orang tua gue. Kayanya ga pantes juga kalo papa gue yang seorang guru agama itu punya anak anarkis kaya gitu.” Nadia menjelaskan. “Lagian bener juga kata mereka Na, gue kan bukan siapa-siapa tanpa bimbingan mereka. Gue ikut kompetisi aja mereka bilang cuman keberuntungan. Mau taro di mana nih muka gue kalo gue demo?” Lanjutnya.
Nana menghela nafas panjang. Bener juga sih. Aaah susah deh kalo gini. Jadi pusing sendiri dia.

10 hari terhitung sejak pemberian “award”. Masih tak ada tanda-tanda positif. Naga-naganya hak milik memang sudah berpindah tangan. Tak apalah. Toh Nadia sudah melupakan semua itu.
“Nad, Nadia !!” seseorang memangggil ketika Nadia baru saja beranjak dari kantin.
“Ia?” tanyanya setelah berhadapan dengan sang pemanggil.
“Barusan Pa Harry nitip pesen ke gue. Katanya elo ditunggu di kantor sekarang.” Jawab Lidya.
“Ko tumben beliau ga sms gue?” tanya Nadia heran.
“Entahlah. Kalo menurut gue sih elu cepetan ke sana sekarang. Di lihat dari wajahnya sih Pa Harry lagi galau. Kali aja dia musti ngembaliin kepemilikan leptop itu ke elu.” Terang Lidya kemudian.
“Masa? Oke. Thanks ya Lid.” Ucap Nadia. Langsung melesat ke kantor sesuai saran pemberi kabar itu.
Saat sudah mendekati kantor, terlihat oleh Nadia Pa Harry sedang mondar-mandir. Persis kaya orang kebelet pipis nunggu toilet. Dihampirinya wakaseknya itu.
“Bapa manggil saya?” pertanyaan Nadia yang tiba-tiba rupanya cukup ampuh membuat bapak setengah baya itu terkejut.
“Astagfirullah. Oh kamu. Ia, kamu ko saya telpon ga nyambung-nyambung sih?” Pa Harry malah ngomel. Lidya bener, wajahnya kelihatan galau banget.
Nadia menepuk jidat. Semalam hpnya lupa ia charge. Tadi pagi mati mendadak. Dan sekarang terbaring tak berdaya di saku bajunya. Pantesan aja dari tadi ga ada pesan yang masuk.
“Maaf Pa. Hp saya lowbet.” Jawabnya singkat.
“Ya sudah. Begini. Di dalam sudah ada tamu. Wartawan dari koran radar Jawa Barat. Ingin menindak lanjuti mengenai kunjungan Gubernur kemarin. Termasuk mewawancarai kamu sebagai penerima cinderamata itu. Nanti kamu jawab aja pertanyaan-pertanyaan mereka seolah-olah laptop itu sudah kamu pegang yah.” Pa Harry berpetuah sambil setengah berbisik. Kalo orang lewat yang ga tau pembicaraan mereka mungkin mengira kalo Pa Harry itu ada skandal dengan Nadia. Haha
Nadia mendengarkan sambil manggut-manggut. Lagi-lagi gue musti turutin nih permainan, batinnya. Setelah itu terlihat Pa Harry membawa Nadia masuk ke ruangannya, menemui wartawan yang sedari tadi menunggu gadis manis itu.
Di ruangan itu Nadia ditanyain macam-macam. Mulai nama lengkap, tanggal lahir, usia, alamat, kelas berapa, jurusan apa, pekerjaan orang tua, no HP dan masih banyak lagi, termasuk no sepatu kali yah, hehe. Nadia jawab simpel aja, sesuai fakta. Hingga sampai pada perkara yang bikin Pa Harry galau bin risau. Pekara LAPTOP !!
“Nah, kemarin kan kamu dikasih cinderamata sama pa Gubernur nih Nad, dipake buat apa aja tuh?” Tanya bapak yang berkacamata.
“Hmm, biasanya sih buat  gerjain tugas sekolah Pa. Kan sekarang sering banget tuh kita dikasih tugas yang musti dikerjain pake komputer. Mulai browsing, download, ampe pe-er yang musti diketik.” Jawab Nadia lugas. Lagi-lagi sesuai fakta.Kedua bapak wartawan tertawa. Kepsek, wakasek dan guru biologi yang ada di situ garuk-garuk kepala sambil nyengir kuda. Hahay…
“Begitu yah. Oke, untuk lebih meyakinkan apa benar laptop itu digunakan untuk belajar atau malah buat main-main, nanti sore kami berkunjung ke rumahmu, boleh? Sekalian silaturahmi dan ngambil dokumen saat kamu lagi ngerjain tugas itu. Laptopnya ada di rumah kan?” Lanjut bapak tadi.
Nadia sedikit melirik ke arah Pa Harry, “Ia ada ko Pa.” jawabnya kemudian. Pa Harry mendesah, antara lega dan gelisah.
Nadia beranjak kembali ke kelas. Pa Broto, wartawan yang berkacamata tadi bilang wawancara dianggap cukup. Nanti akan dilanjutkan di rumah Nadia.
Baru saja 10 langkah meningglkan kantor, Pa Harry kembali memanggil namanya. Ia berbalik menghampiri.
“Apa lagi Pa?” tanyanya.
“Nad, sekarang Pa Inu lagi di jalan mengantar leptop itu ke rumah kamu. Nanti kamu masuk-masukin aja data dari flashdisk kamu yah. Pokoknya tolong yah.” Pinta Pa Harry setengah merayu.
“Haaa, ia gampang.” Jawab Nadia singkat. Pa Harry tersenyum. Nadia berlalu, kembali ke kelas.

Sore harinya, wawancara di rumah Nadia tidak terlalu lama. Dasarnya sih sudah selesai, hanya ingin memastikan tentang kepemilikan serta kegunaan laptop saja.
Sepulangnya kedua wartawan iktu, Nadia bengong sendirian di kamar. Nayla menghampiri.
“Ko bengong sih De? Mustinya kan seneng.” Tanyanya, sambil duduk di tepi kasur
“Gue bingung aja nih Ka. Mau gue apain nih leptop? Apa bener ini udah jadi hak milik gue?” Nadia balas bertanya.
“Lha ialah De.” Jawab Nayla. Namun perkataannya segera Nadia potong. Pa Harry menelpon. Bentar Ka, isyaratnya.
“Assalamu’alaikum Pa. Ia sudah Pa. Baru saja pulang. Sudah saya urus Pa. Besok? Dibawa ke sekolah? Oke.” Nadia menutup telpon lesu. Kemudian berbalik menghadap kakaknya.
“Nah Pa Harry dah kasih jawabannya Ka. Ni leptop musti gue balikin ke sekolah. Hah tenang dah gue.” Ujarnya sambil melemparkan diri ke pembaringan. Tidur. Nayla mengerutkan kening.

Besoknya pagi-sekali Nadia udah sampe di sekolah. niatnya sih mo balikin laptop ke Pa Harry. Makanya dia segera menuju ruangannya.
“Assalamua’laikum Pa.” Salamnya sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam. Wah sudah sampai ternyata. Silahkan silahkan duduk Nak.” Sambut Pa Harry. Wajahnya berseri-seri, sisa galau kemarin tak lagi membekas.
“Ini Pa. saya Cuma mo balikin ni aja. Kebetulan saya musti buru-buru ke kelas.” Ujar Nadya datar sambil meletakan leptop di meja di hadapan Pa Wakasek.
“Oh ia ia. Simpan di situ aja Nak. Makasih loh sudah dianterin.” Kata Pa Harry. Gombal.
Baru saja Nadia pamit mo balik. Tiba-tiba Hp-nya bunyi. Pa Broto.
            “Halo Assalamu’alaikum Pa.” sapa Nadia sesaat setelah menekan tombol ‘terima’. “Ia Pa? beasiswa kuliah?! Serius Pa? oke oke. Terimakasih banyak Pa.” Alhamdulilah, ucap Nadya penuh syukur sambil menutup telepon.
            Pa Harry yang menyaksikan ‘drama’ itu tentu saja heran. Tanya mengapa dari bibirnya tak sempat terbendung.
            “Alhamdulillah Pa. Nadia ditawarin kuliah gratis Pa sama Pa Gubernur. Barusan Pa Broto yang nelpon, katanya semua siswa yang kemarin dikasih cinderamata sama Pa Gubernur, ditawarin kuliah gratis di salah satu universitas swasta di Jakarta Pa. meski begitu yang kuliah di situ tuh aneh, kalo ga kaya kaya sekali, musti pinter pinter sekali.” Terang Nadia antusias.
            “Emh bagus donk. Lalu?”
            “Nah, besok itu kita musti dateng sendiri ke tempatnya Pa. Oia Pa Broto juga bilang kalo pembelajaran di sana udah ga pake buku lagi. Semua siswa musti pake laptop. Dan Pa Gubernur sudah memfasilitasi kita dengan itu.” Lanjut Nadya sambil menunjuk pada benda di hadapannya. Seketika Raut Pa Harry berubah. Namun ia berusaha menyembunyikannya.
            “Masihkah bapa akan meminta saya untuk menyimpannya di sini?” tanya Nadya, menohok ulu hati bapa di hadapannya.
            “Tidak Nad. Lagipula maksud saya tidak seperti itu.” Pa Hary berujar sambil menyerahkan barang yang tadi Nadya diletakkan oleh Nadya. Berat.
            Nadia menerimanaya. Senyum terkembang. Setelah mengucapkan terimakasih, ia berlalu, menuju ke kelas. Yah namanya gosip, pembicaraan Nadya dan Pa Harry segera tersebar. Entah siapa yang memulai. Yang jelas pendukung Nadya bersorak untuk keadilan. Sedangkan pendukung Pa Harry bermuram durja, tergugu, dan nangis bombai dah. Haha…
Di selembar kertas Nadia menulis
 It’s real happen to me. My dream that I was dreaming. And also something that I never thought can  come to me. Alhamdulillah. Thanks for You Allah. This is more dramatize than a romance movie.
something that imposible can happen if Allah make it happen, though wihout our knowledge. This is not just a bulshit!!’














Tidak ada komentar:

Posting Komentar