Hari
ini genap 17 tahun usianya. Hmm sungguh bahagianya. Mamanya menjanjikan sebuah laptop, barang yang diidam-idamkannya
sejak tiga tahun yang lalu. Yah penantian yang panjang memang.
“Why are you
looks so happy today?” Nayla tiba-tiba hadir di belakang Nadia.
“I
just feel so wonderful. Today is my birthday, do you forget it?” Jawabnya
ceria.
“Ah
ya, I am almost missing it, haha.” Nayla tertawa.
“Isshhh,
you are really disgusting sister.” Sang adik memukulnya dengan bantal.
“Hahaha.”
Tawanya bertambah keras, “of course not, I forget your birthday? It’s
imposible. Happy birthday honey. I have a price for you. Tara....!” Kak Nayla
mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam kantong jaketnya.
“Waw,
what is it?” tanya Nadia penasaran.
“Just
open it.” Perintahnya. Nadia menurut. Dibukanya kotak itu, kepala boneka
menyembul dari dalamnya.
“That
is flashdisk. I thing you need it for your task or homework.” Lanjut Nayla
menerangkan.
“Ahh,
you are always understand me, you are really nice sister.” Nadia teriak-teriak
kegirangan.
“Sure?
U said I am disgusting sister just time.” Nayla meledek.
“I
was no sure, but I am really sure now.” Nadia tersipu. “Ka, do you now
something?” lanjutnya.
“What?”
“Mom
will give me a laptop today. The price for my birthday.” Nadia menerangkan
sambil tak
henti matanya berbinar.
“Right?
I dont hear it from her.” Nayla mengerutkan keningnya.
“Oh?
Hmmm, maybe She want to give surprice for me, so She doesn’t tell to anyone.”
“Oh, yes maybe. Nadia, what
time is it? Don’t
you go to school today?”
“Astagfirullah,
, you are right. Aku berangkat dulu ka!!!” Nadia langsung ngacir ke kamar mandi. Nayla hanya
geleng-geleng kepala, berjalan
ke taman depan menemui ibunya.
“Ma,
benar Nad bakalan dapat laptop dari Mama?”
Mama
mengerutkan kening, “Kata siapa Nay?”
“Adeku
bilang sendiri. Katanya Mama
janjiin dia laptop di ultahnya tahun ini.” Terang Nayla.
“Oh
itu. Mama emang janji Nay, tapi sepertinya belum bisa untuk tahun ini. Hmm,
kamu tahu sendiri kan bagaimana keadaan keuangan kita saat ini, Bapakmu sebentar lagi
pensiun. Kita hanya bisa mengandalkan gaji Bapak saat ini, takkan bisa
pinjam dari bank.” Mama menjelaskan panjang lebar.
“Nay
tahu Ma, makanya Nay tanya
mama buat konfirmasi. Tapi apa Nadia bisa mengerti? Mama masih ingat kan
bagaimana kecewanya dia saat tahun lalu Mama ga bisa nepatin janji Mama?”
Mama hanya
menarik napas berat.
“Biar
nanti Nay yang ngomong sama Ade
Ma.” Nayla mengusap
punggung ibunya.
“Tolong
ya Sayang, Mama ga tau harus bilang
apa sama Adikmu. Mama pun sebenarnya tak ingin membuat janji padanya, tapi dia
begitu teguh menginginkannya. . “
“Tak
apa Ma.” Nayla memeluk
ibunya.
Sore itu tak
begitu cerah, hujan menggantung di ujung awan, menandakan ia kan segera turun.
Nadia baru saja mengunci pintu laboratorium bahasa. Ya, sebagai asisten
pengajar bahasa inggris dia diberi tanggung jawab untuk mengurus lab ini.
Langkahnya cepat menuju parkiran, seseorang telah menunggunya.
“Maaf lama.”
Ujarnya pada pemuda itu.
“Tak apa, ayo
pulang, sudah gerimis.” Timpal pemuda itu.
“Oke, nanti kita
makan di rumahku, Mama
mengundangmu.” Ajaknya kemudian, Ardian mengangguk.
“Assalamu’alaikum..” Nadia
membuka pintu rumah, Ardian mengekor di belakangnya.
“Waalaikumsalam...”
jawab sebuah suara, “Sudah pulang sayang? Oh Ardian, apa kabar sayang?” Mama
ramah menyapa sang tamu.
“Alhamdulillah
sehat, Mama sendiri?” timpal
Ardian.
“Seperti yang
kau lihat.” Jawab mama sambil tersenyum, “ Ayo, kalian pasti sudah sangat
lapar, Mama sudah siapkan makan
spesial hari ini.”
“Kebetulan Ma, perut saya sudah
keroncongan dari tadi. Nadia tak
sedikitpun mentraktir makan. Padahal Aku nunggu dia lama banget,
haha.” Gurau Ardi.
“Aissshh, kau
ini !!” Nadia memukul pundaknya. Mama
tertawa.
“Ka Nay ke mana Ma?” tanya Nadia
tiba-tiba.
“Sedang
mengantar Bapak ke depan, sebentar
lagi juga balik.”
“Oooh...” Nadia
ber-O panjang.
Perlahan
terdengar suara motor mendekat. Tak lama kemudian muncul sesosok gadis cantik
berjilbab dari balik pintu.
“Tuh
Ka Nay datang Nad.” Ujar Ardi sambil berdiri menghampiri kakak semata wayangnya
Nadia itu.
“Ahhh,
, my beatiful sister…” Nadia menggelayut manja di lengan kakaknya.
“Apa
sih De?? Pasti ada maunya nih kalo gini.” Nayla berusaha melepaskan diri. Ardi
memperhatikan sambil tertawa.
“Ia
tuh Ka, kaya mpuss dia mah, kalo ada
maunya ajah ngedeketin, haha…” Ardi mengejek Nadia.
“Iiiishh,
jahat. Masa seimut gini disamain kaya mpuss?” Nadia manyun.
“Bercanda
deeeh…” Ardi mengajak berdamai, tapi tetap saja ketawanya ga berhenti, bibir
Nadia makin monyong saja.
“Ayo
ayo kita makan. . udah pada lapar kan??” Mama muncul dari dapur membawa mangkuk
sayur yang masih mengepulkan asap.
“Ayoo…”
Ardi, Nad dan Nay kompak menyambut.
Keluarga
itu kemudian sibuk dengan kebutuhan perut mereka, hanya denting sendok beradu
piring yang terdengar.
“Hatciihhh…”
tiba-tiba Nadia bersin, kontan seluruh yang ada di ruangan itu tertawa.
“Aduuuh, maaf maaf pemirsa.” Ujar Nadia sambil menyeka mulut
dan hidungnya.
Selesai
makan, Mama dibantu kedua anaknya serta Ardi membereskan meja makan. Piring
kotor dibawa Nayla ke wastafel dan langsung dicucinya. Nadia membersihkan sisa2
makanan yang tercecer diatas meja. Ardi mengelap piring basah yang telah dicuci
oleh Nayla.
Setelah
semua selesai, Mama meminta semua orang berkumpul di ruang keluarga. Ardi
meminta izin untuk pulang, tak enak mungkin
yang akan dibicarakan oleh Mama adalah masalah keluarga yang tak ada sangkut paut
dengan dirinya.
Tinggal
bertiga mereka berkumpul di ruangan itu. Mama sepertinya berat untuk memulai
pembicaraan.
“Nad,
kaka ngewakilin Mama mau menyampaikan sesuatu sama kamu.” Nayla berinisiatif
untuk mencairkan suasana.
“Ya
udah bilang ajah, napa musti pake diwakilin segala?” Nadia bertanya heran.
“Kamu
dengerin dulu kaka baik-baik yah, jangan langsung ngambil kesimpulan sendiri.”
Nayla masih berbicara hati-hati.
“Ia
ia Ka. Ada apa sih?”
Lalu
mengalirlah cerita dari mulut Nayla, tentang apa yang diceritakan oleh mamanya
tadi pagi, , tentang sesuatu yang sesungguhnya membuat mama risau, khawatir
akan mengecewakan Nadia.
Perlahan
raut wajah Nadia berubah. Yang awalnya tersungging senyum, kini mengkerut.
“Tuh
kan, bohong lagi.” Ujar Nadia pelan. Tapi tak cukup pelan hingga Mama dapat
mendengarnya.
“Nad,
bukan Mama niat bohongin kamu. Demi Allah Mama ga ada niat seperti itu sama
sekali.” Mama menghampiri Nadia.
Terlanjur
kecewa, alih-alih mendengarkan Mamanya, Nadia langsung pergi, mengunci diri di
kamarnya.
Nayla
hanya bisa tertunduk sambil memegang kepala. Mama mengusap-usap punggung Nay,
memberi tahu bahwa semua akan baik-baik saja. Nadia bukan seorang anak yang
nekat, dia hanya butuh waktu menyendiri untuk mengakui bahwa perkataan Mama tak
sepenuhnya salah.
Sementara
di kamar, Nadia duduk memeluk beruang kesayangannya. Sediiih rasanya,
membayangkan sesuatu yang indah, tapi nyatanya tak terwujud.
“Kenapa
sih Mama lagi lagi bohongin Gue? Menyebalkan sekali. Apa salahnya bilang ga
bisa beliin kalo emang kenyataannya seperti itu. Kenapa selalu bilang bisa tapi
ga ada faktanya. Heuh, coba kalo orangtuaku pengusaha sukses, pasti segala yang
aku mau bisa terpenuhi.” Nadia ngedumel pada beruang putihnya. Entah cape atau
udah kehabisan naskah, Nadia kemudian tertidur pulas, sambil masih memeluk
bonekanya.
Kriiiuukk…
6.30 pagi
“hoahmm….”
Nadia menggeliat. Perlahan tersadar dari mimpinya. “Aduh, ni perut ko bunyi
sih? Perasaan barusan Gue udah makan deh.” Ujarnya sambil mengusap-usap
perutnya.
“hmmm,
kalo gue makan, gengsi donk. Gue kan lagi marah sama Mama. Jam berapa sih ini?”
gumamnya sambil melirik jam.
“Aih
aih, , udah siang ternyata. Pantesan perut gue bunyi. Ini minggu yah, hmmm
bagus deh.” Lanjutnya sambil mengumpulkan ingatan. “Lama juga ternyata gue
hibernasi, hehe.” Ujarnya sambil tersenyum.
Nadia
perlahan membuka pintu kamar, mengintip keadaan di luar. Aman. Rencananya
menuju kamar mandi sesaat goyah saat hidungnya mencium bau masakan yang kembali
menggugah selera makannya. Tapi diurungkannya niat untuk menghampiri meja makan
saat terdengar langkah kaki mendekat.
“Eh,
udah bangun De?” Sapa Nayla. Nadia acuh, langsung masuk ke kamar mandi. Nayla
sudah paham, begitulah adiknya. Kalau ada masalah, semua orang akan dianggap
musuh olehnya.
Selesai
mencuci muka dan membersihkan badan, Nadia kembali ke kamar. Tak berniat
menghabiskan waktu sendiri, ia kemudian memanggil Ardi, mengajaknya lari pagi.
Hari
ketiga Nadia sudah mau berbaikan. Hatinya sudah menerima bahwa Mama tak
bersalah. Malah kini ia ingin sekali meminta maaf dan mengubur dalam-dalam
keinginannya itu. Biarlah nanti waktu yang akan mengabulkannya, begitu
tekadnya.
Saat
Nadia sedang mengobrol dengan Mamanya, sebuah pesan singkat datang,
mengakibatkan ponselnya bersin.
“NAD,
HARI INI KAMU DATANG PAGI YAH. ADA KUNJUNGAN DARI GUBERNUR KE SEKOLAH KITA”
Nadia
terdiam. Heran. So? Tanyanya dalam hati.
“Siapa
Nad?” Mama membuyarkan lamunannya.
“Wakil
Kepsek Ma, Nad hari ini disuruh dateng pagi-pagi.” Jawabnya sambil membalas
pesan.
“Ya
sudah. Berangkat aja. Sudah siapkan? Mumpung kakakmu belum berangkat.” Perintah
mama.
“Ia
Ma. Nad mau nebeng sama Ka Nayla aja. Nadia berangkat yah Ma.” Pamitnya sambil
mencium tangan Mama. Kemudian mengambil sepatu hitam dari rak di samping pintu.
Sampai
di sekolah, Nadia langsung ke kantor, tanpa menyimpan tas ke kelasnya terlebih
dahulu. Kebetulan Pa Harry ada di lapang depan kantor, sedang memberi
pengarahan kepada beberapa siswa yang ada di situ.
“Assalamu’alaikum,
Pa.” Salam Nadia sambil mencium tangan gurunya itu.
“Waalaikumsalam.
Nah Nad, Akhirnya kamu dateng juga.” Jawab Pa Harry. Beberapa siswa yang telah
diberi wejangan itu kemudian undur diri, bergabung dengna kawan-kawannya.
“Ada
apa sih Pa?” Tanya Nadia penasaran.
“Gubernur
kita kan mau berkunjung ke SMK ini Nad, dalam rangka Safary Jawa Barat. Kamu
sudah denger kan?” Pa Harry malah balik bertanya.
“Tahu
sih Pa, lalu apa hubungannya sama Nadia? yang jadi audience nanti kelas 1 aja
kan?” Jawab Nadia sambil memastikan.
“Betul.
Tapi Bapak baru dapat kabar bahwa ada acara pemberian cinderamata bagi siswa
berprestasi. Bapak langsung kepikiran kamu. Bulan lalu kan kamu jadi juara 1 Design
Packaging and labeling tingkat jabar.”
“Ohh
begitu.” Nadia membulatkan mulutnya.
“Ia.
Nanti kamu yang maju menerima cinderamata itu. Berdua dengan Aryo yang mewakili
OSIS.”
“Oke
Pa. Asalkan absenan saya aman.” Jawab Nadia tegas. Ia tak mau hak pribadinya
dirugikan karena kepentingan umum
sekolah.
“Beres.
Tadi saya sudah titipkan surat dispen ke teman kamu. Agar dikasihkan ke guru
yang mengajar di kelasmu hari ini.” Timpal Pa Harry. “Kamu duduk di kursi
tengah paling depan ya, gabung sama adik kelas kamu.” Lanjutnya.
“Sip.”
Balas Nadia sambil melangkah ke kursi tempat yang direkomendasikan. Namun
seketika ia berbalik, “Oia Pa, memangnya cindermatanya itu apa?”
“Kabarnya
sih laptop.” Jawab Pa Harry sedikit berbisik.
Mata
Nadia membulat. Laptop ?!! Asikkkk, teriaknya dalam hati. Tapi tak salah
dengarkah ia? Keinginannya untuk kembali bertanya ia urungkan saat dilihatnya
Pa Harry sibuk mengarahkan anak buahnya mengatur dekorasi panggung.
Tak
kurang 2 jam Nadia menunggu. Tamu yang ditunggu belum juga hadir. Begini nih
Indonesia, tahu begini aku ikut pelajaran dulu deh, batinnya sedikit kesal.
Pukul
9.45 orang-orang terlihat lebih sibuk. Menurut kabar dari mulut ke mulut, Pa
Gubernur telah sampai gerbang sekolah, dan saat ini sedang menuju tempat di
mana ia dan sejumlah siswa lainnya menunggu. Dalam hati Nadia bersyukur,
penantiannya berakhir juga.
Pemimpin
Provinsinya itu kini duduk tepat duduk di depannya. Antara percaya dan tidak
Nadia mengucek mata dan mencubit tangannya. Awww, jeritnya lirih.
Seperti
biasa acara diawali dengan sambutan-sambutan, baik itu dari kepala sekolah,
panitia serta pidato motivasi dari sang Leader Jawa Barat itu.
Sampai
pada acara pemberian cinderamata, nama Nadia Tasya Kamila dipanggil. Tepuk
tangan bergemuruh. Serasa melayang, Nadia berjalan ke depan panggung.
Seperti
sebuah dongeng, mimpi Nadia kini nyata ada di hadapannya. Telah digenggamnya pula
setelah sesaat sebelumnya Pa Gubernur menyerahkannya sambil mengucapkan
beberapa kata selamat dan nasihat. Setelah berfoto bersama, Nadia kembali ke
tempat duduknya.
Tak
sampai 1 jam, acara selesai. Karena ini acara safary, Pa Gubernur harus melanjutkan
perjalanannya ke sekolah lain yang terpilih untuk dikunjungi.
Pa
Harry berjalan menghampiri Nadia.
“Nad,
laptopnya tolong di simpan dulu di meja bapak di kantor. Nanti dirapatkan dulu
sama Bapak Kepala Sekolah tentang kepemilikannya.” Katanya berbisik di tengah
hiruk pikuk para siswa.
“Disimpan
Pa?” Nadia bertanya bingung.
“Ia,
disimpan dulu.”
Meski
penuh dengan tanda tanya, Nadia menuruti juga perintah gurunya itu. I follow your
game, bisiknya dalam hati.
Seminggu
berlalu sejak “award” itu. Belum ada tanda-tanda sang laptop akan dipindah
tangankan. Masih terbujur kaku di lemari kaca di kantor kepala sekolah.
Nadia
menjalani hari-harinya seperti biasa. Awalnya ia tak terlalu merisaukan
kepemilikan leptop itu, meski ia sangat menginginkannya. Toh awalnya pun leptop
itu tak ada. Muncul tiba-tiba, maka akan menghilang tiba-tiba pula, begitu
pikirnya. Namun semakin banyak orang yang bertanya tentang leptop itu, ia
menjadi sanksi dengan pernyataan hatinya sendiri. Tapi apa daya, meski banyak
teman serta guru yang mendukungnya, ia tak mungkin mengangkat bendera berdemo
di depan kantor sekolah.
Oia,
sebenarnya ada 2 kubu di sini. Pertama yang mendukung dirinya sebagai pemilik tunggal
leptop itu. Dan yang kedua mendukung pihak penggugat untuk menyingkirkannya
sebagai pemilik sah benda itu. Dan pihak kedua ini kebanyakan adalah guru yang
membimbingnya dalam menghadapi kompetisi yang mengaharumkan sekolahnya, bulan
lalu. Sungguh ironis memang.
Siang
itu Nadia duduk termenung di taman. Menikmati sekantung es jeruk yang baru saja
dibelinya. Nana melambai dari kejauhan. Menghampiri, lalu duduk di sampingnya.
“Anteng
sendiri aja nih Nad?” tanya gadis berdarah indo itu.
Nadia
tersenyum, “Ia nih, ga ada yang mau nemenin, hehe.”
“Gue
temenin deh.” Balas Nana sambil tertawa. “Mau?” tanyanya, menawarkan jus
strawberry miliknya. Nad menolak lembut.
“Nad,
gue pengen tau deh. Bener ga sih gosip itu?” Nana bertanya sambil menghisap
minumannya.
Nadia
menghela nafas. Pertanyaan sama yang akhir-akhir ini sering dilontarkan
teman-temannya.
“Engga
tau yah. Tanya aja sama yang bawa gosip.” Jawab Nadia sambil bergurau. Nana
manyun.
“Kalo
gue jadi elu ya Nad, gue labrak tuh orang kantor. Udah ga pantes disopanin deh
kalo mereka ga bisa ngebedain mana milik sekolah sama hak pribadi siswanya.” Lanjut
Nana emosi.
“Gue
juga maunya gitu Na. yah tapi gue ngaca dulu lah. Siapa gue, siapa orang tua
gue. Kayanya ga pantes juga kalo papa gue yang seorang guru agama itu punya
anak anarkis kaya gitu.” Nadia menjelaskan. “Lagian bener juga kata mereka Na,
gue kan bukan siapa-siapa tanpa bimbingan mereka. Gue ikut kompetisi aja mereka
bilang cuman keberuntungan. Mau taro di mana nih muka gue kalo gue demo?”
Lanjutnya.
Nana
menghela nafas panjang. Bener juga sih. Aaah susah deh kalo gini. Jadi pusing
sendiri dia.
10
hari terhitung sejak pemberian “award”. Masih tak ada tanda-tanda positif.
Naga-naganya hak milik memang sudah berpindah tangan. Tak apalah. Toh Nadia
sudah melupakan semua itu.
“Nad,
Nadia !!” seseorang memangggil ketika Nadia baru saja beranjak dari kantin.
“Ia?”
tanyanya setelah berhadapan dengan sang pemanggil.
“Barusan
Pa Harry nitip pesen ke gue. Katanya elo ditunggu di kantor sekarang.” Jawab
Lidya.
“Ko
tumben beliau ga sms gue?” tanya Nadia heran.
“Entahlah.
Kalo menurut gue sih elu cepetan ke sana sekarang. Di lihat dari wajahnya sih
Pa Harry lagi galau. Kali aja dia musti ngembaliin kepemilikan leptop itu ke
elu.” Terang Lidya kemudian.
“Masa?
Oke. Thanks ya Lid.” Ucap Nadia. Langsung melesat ke kantor sesuai saran
pemberi kabar itu.
Saat
sudah mendekati kantor, terlihat oleh Nadia Pa Harry sedang mondar-mandir. Persis
kaya orang kebelet pipis nunggu toilet. Dihampirinya wakaseknya itu.
“Bapa
manggil saya?” pertanyaan Nadia yang tiba-tiba rupanya cukup ampuh membuat
bapak setengah baya itu terkejut.
“Astagfirullah.
Oh kamu. Ia, kamu ko saya telpon ga nyambung-nyambung sih?” Pa Harry malah
ngomel. Lidya bener, wajahnya kelihatan galau banget.
Nadia
menepuk jidat. Semalam hpnya lupa ia charge. Tadi pagi mati mendadak. Dan
sekarang terbaring tak berdaya di saku bajunya. Pantesan aja dari tadi ga ada
pesan yang masuk.
“Maaf
Pa. Hp saya lowbet.” Jawabnya singkat.
“Ya
sudah. Begini. Di dalam sudah ada tamu. Wartawan dari koran radar Jawa Barat.
Ingin menindak lanjuti mengenai kunjungan Gubernur kemarin. Termasuk
mewawancarai kamu sebagai penerima cinderamata itu. Nanti kamu jawab aja
pertanyaan-pertanyaan mereka seolah-olah laptop itu sudah kamu pegang yah.” Pa
Harry berpetuah sambil setengah berbisik. Kalo orang lewat yang ga tau
pembicaraan mereka mungkin mengira kalo Pa Harry itu ada skandal dengan Nadia.
Haha
Nadia
mendengarkan sambil manggut-manggut. Lagi-lagi gue musti turutin nih permainan,
batinnya. Setelah itu terlihat Pa Harry membawa Nadia masuk ke ruangannya,
menemui wartawan yang sedari tadi menunggu gadis manis itu.
Di
ruangan itu Nadia ditanyain macam-macam. Mulai nama lengkap, tanggal lahir,
usia, alamat, kelas berapa, jurusan apa, pekerjaan orang tua, no HP dan masih
banyak lagi, termasuk no sepatu kali yah, hehe. Nadia jawab simpel aja, sesuai
fakta. Hingga sampai pada perkara yang bikin Pa Harry galau bin risau. Pekara LAPTOP
!!
“Nah,
kemarin kan kamu dikasih cinderamata sama pa Gubernur nih Nad, dipake buat apa
aja tuh?” Tanya bapak yang berkacamata.
“Hmm,
biasanya sih buat gerjain tugas sekolah
Pa. Kan sekarang sering banget tuh kita dikasih tugas yang musti dikerjain pake
komputer. Mulai browsing, download, ampe pe-er yang musti diketik.” Jawab Nadia
lugas. Lagi-lagi sesuai fakta.Kedua bapak wartawan tertawa. Kepsek, wakasek dan
guru biologi yang ada di situ garuk-garuk kepala sambil nyengir kuda. Hahay…
“Begitu
yah. Oke, untuk lebih meyakinkan apa benar laptop itu digunakan untuk belajar atau
malah buat main-main, nanti sore kami berkunjung ke rumahmu, boleh? Sekalian
silaturahmi dan ngambil dokumen saat kamu lagi ngerjain tugas itu. Laptopnya
ada di rumah kan?” Lanjut bapak tadi.
Nadia
sedikit melirik ke arah Pa Harry, “Ia ada ko Pa.” jawabnya kemudian. Pa Harry
mendesah, antara lega dan gelisah.
Nadia
beranjak kembali ke kelas. Pa Broto, wartawan yang berkacamata tadi bilang
wawancara dianggap cukup. Nanti akan dilanjutkan di rumah Nadia.
Baru
saja 10 langkah meningglkan kantor, Pa Harry kembali memanggil namanya. Ia
berbalik menghampiri.
“Apa
lagi Pa?” tanyanya.
“Nad,
sekarang Pa Inu lagi di jalan mengantar leptop itu ke rumah kamu. Nanti kamu masuk-masukin
aja data dari flashdisk kamu yah. Pokoknya tolong yah.” Pinta Pa Harry setengah
merayu.
“Haaa,
ia gampang.” Jawab Nadia singkat. Pa Harry tersenyum. Nadia berlalu, kembali ke
kelas.
Sore
harinya, wawancara di rumah Nadia tidak terlalu lama. Dasarnya sih sudah
selesai, hanya ingin memastikan tentang kepemilikan serta kegunaan laptop saja.
Sepulangnya
kedua wartawan iktu, Nadia bengong sendirian di kamar. Nayla menghampiri.
“Ko
bengong sih De? Mustinya kan seneng.” Tanyanya, sambil duduk di tepi kasur
“Gue
bingung aja nih Ka. Mau gue apain nih leptop? Apa bener ini udah jadi hak milik
gue?” Nadia balas bertanya.
“Lha
ialah De.” Jawab Nayla. Namun perkataannya segera Nadia potong. Pa Harry
menelpon. Bentar Ka, isyaratnya.
“Assalamu’alaikum
Pa. Ia sudah Pa. Baru saja pulang. Sudah saya urus Pa. Besok? Dibawa ke
sekolah? Oke.” Nadia menutup telpon lesu. Kemudian berbalik menghadap kakaknya.
“Nah
Pa Harry dah kasih jawabannya Ka. Ni leptop musti gue balikin ke sekolah. Hah
tenang dah gue.” Ujarnya sambil melemparkan diri ke pembaringan. Tidur. Nayla
mengerutkan kening.
Besoknya
pagi-sekali Nadia udah sampe di sekolah. niatnya sih mo balikin laptop ke Pa
Harry. Makanya dia segera menuju ruangannya.
“Assalamua’laikum
Pa.” Salamnya sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam.
Wah sudah sampai ternyata. Silahkan silahkan duduk Nak.” Sambut Pa Harry.
Wajahnya berseri-seri, sisa galau kemarin tak lagi membekas.
“Ini
Pa. saya Cuma mo balikin ni aja. Kebetulan saya musti buru-buru ke kelas.” Ujar
Nadya datar sambil meletakan leptop di meja di hadapan Pa Wakasek.
“Oh
ia ia. Simpan di situ aja Nak. Makasih loh sudah dianterin.” Kata Pa Harry. Gombal.
Baru
saja Nadia pamit mo balik. Tiba-tiba Hp-nya bunyi. Pa Broto.
“Halo Assalamu’alaikum Pa.” sapa Nadia sesaat setelah
menekan tombol ‘terima’. “Ia Pa? beasiswa kuliah?! Serius Pa? oke oke.
Terimakasih banyak Pa.” Alhamdulilah, ucap Nadya penuh syukur sambil menutup
telepon.
Pa Harry yang menyaksikan ‘drama’ itu tentu saja heran.
Tanya mengapa dari bibirnya tak sempat terbendung.
“Alhamdulillah Pa. Nadia ditawarin kuliah gratis Pa sama
Pa Gubernur. Barusan Pa Broto yang nelpon, katanya semua siswa yang kemarin
dikasih cinderamata sama Pa Gubernur, ditawarin kuliah gratis di salah satu
universitas swasta di Jakarta Pa. meski begitu yang kuliah di situ tuh aneh,
kalo ga kaya kaya sekali, musti pinter pinter sekali.” Terang Nadia antusias.
“Emh bagus donk. Lalu?”
“Nah, besok itu kita musti dateng sendiri ke tempatnya
Pa. Oia Pa Broto juga bilang kalo pembelajaran di sana udah ga pake buku lagi.
Semua siswa musti pake laptop. Dan Pa Gubernur sudah memfasilitasi kita dengan
itu.” Lanjut Nadya sambil menunjuk pada benda di hadapannya. Seketika Raut Pa
Harry berubah. Namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Masihkah bapa akan meminta saya untuk menyimpannya di
sini?” tanya Nadya, menohok ulu hati bapa di hadapannya.
“Tidak Nad. Lagipula maksud saya tidak seperti itu.” Pa
Hary berujar sambil menyerahkan barang yang tadi Nadya diletakkan oleh Nadya.
Berat.
Nadia menerimanaya. Senyum terkembang. Setelah
mengucapkan terimakasih, ia berlalu, menuju ke kelas. Yah namanya gosip,
pembicaraan Nadya dan Pa Harry segera tersebar. Entah siapa yang memulai. Yang
jelas pendukung Nadya bersorak untuk keadilan. Sedangkan pendukung Pa Harry
bermuram durja, tergugu, dan nangis bombai dah. Haha…
Di selembar kertas Nadia
menulis
‘It’s
real happen to me. My dream that I was dreaming. And also something that I never
thought can come to me. Alhamdulillah.
Thanks for You Allah. This is more dramatize than a romance movie.
something that imposible can happen if Allah make it
happen, though wihout our knowledge. This is not just a bulshit!!’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar