Ini kali pertama aku bertemu dengan calon
teman-teman baruku. Yups, gathering ini sengaja diadakan, bahkan sebelum ospek
digelar, guna mengakrabkan camaba yang notabene sudah akrab di dunia maya.
Kulihat sekeliling, BMK sudah dipenuhi oleh bocah-bocah
peralihan. Peralihan dari remaja ke dewasa serta peralihan dari daerah ke ibu
kota. Semakin mataku berkeliling, semakin banyak wajah yang kulihat. Saling
melempar senyum, menyapa, beramah tamah. Namun ada yang belum aku temukan.
Sosok itu.
Acara berjalan lancar hingga akhir. Dan selama
itu pula sosoknya belum kutemukan. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan
menemukannya andai saja Reliza tidak memberitahuku di mana dia berada.
Setelah acara berakhir, kita semua bubar. Ku
sempatkan untuk menghampirinya, menyapanya. but what did I get? Just smile.
Jlebb !!!
***
***
Berbulan-bulan hubungan kami baik, lebih dari
baik malah. Hanya saja beberapa kali terjadi benturan yang menyebabkan
pertemanan kami retak. Namun selalu hanya sesaat. Selalu ada maaf. Itu semua
terjadi karena pengakuan saling sayang yang entah berawal dari mana. Ya, aku
sayang Reza meski semua orang tahu aku telah memiliki Arsad. Tapi itu tak
mengurangi rasa sayangku pada pacarku itu. Aku menyayangi 2 laki-laki yang
berbeda di saat yang sama. Itu gila !! suatu kegilaan yang baru sekarang aku
rasakan.
Reza baik. Lebih dari baik untuk ukuran
seorang teman. Apakah hanya modus?? Aku akan mengetahuinya kemudian. Tapi Reza tak
pernah memintaku untuk menjadi seorang pacar, itu yang membuatku menghargainya,
karena ia menghargai hubunganku dengan Arsad. Meski berkali-kali dia menjauh
karena mempermasalahkan statusku. Sebenarnya ia tidak bersalah, namun aku takut
dia akan selamanya hilang dari hidupku, seandainya ia terus merasa menjadi
orang ketiga. Publik terus bergunjing mengenai tindakan kami itu. Ia yang lebih
sering berhadapan dengan para penggosip yang sok tahu ketimbang aku. Dia juga
yang berusaha lebih tuli menanggapi mereka ketimbang aku. Dan dia juga yang
berusaha lebih sabar ketimbang aku. Ah, memang aku belum sukses untuk disebut
dewasa.
***
Kutimang-timang ponselku, ragu antara ya atau
tidak. Sore ini begitu bosan. Berdiam seorang diri di tempat kost adalah hal
terburuk dalam sejarah. Seperti seorang pesakitan saja.
“Halo…” Sapaku menggantung. Kerinduanku padanya
telah membutakanku, hatiku berkata ya
untuk menghubunginya.
“Ya Re, ada apa?” Tanyanya.
“Emhh, ada acara ga Lo sekarang?” Lanjutku.
“Kosong. Kenapa? Mau ngajakin jalan??” Ujarnya
sambil tertawa.
“Huuuu enak aja, emangnya Gue cewe apaan?”
Balasku, pun sambil tertawa.
“Lo kan cewe jadi-jadian !!” Ungkapnya,
semakin puas dengan tawa setannya.
“Sialan !!” Aku tertawa. Suasana mulai
menghangat, “Temenin ke luar yuk. Bosan di sini.” Lanjutku.
“Kemana?” Tanyanya singkat.
“Emhhh, kemana aja deh, yang jelas jalan ke
luar. Tapi itupun kalo Lo mau sih.” Ujarku cepat. Khawatir permintaanku menjadi
beban buatnya.
“Baik Nona, saya siapkan kuda putih dan segera
meluncur ke tempat Nona.” Guraunya. Berlebihan.
“Huuu gombalnya gak ketulungan.” Balasku.
Tertawa.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk
menunggunya. 15 menit cukup. Dia berpakaian biasa, namun rapi. Hmmm nice,
ujarku layaknya stylist yang puas akan penampilan kliennya.
Jadilah setelah itu kami berdua jalan,
perjalanan tanpa tujuan sebenarnya. Benar-benar mengikuti kehendak ibu jari
kaki. Not too bad, karena dia
mengantarkan kami ke sebuah taman kota. Cukup indah dengan temaram lampunya
yang berwarna-warni.
“Nah sudah sampai. Mau apa kita di sini?” Dia
yang pertama membuka percakapan. Memecah keheningan.
“Engga tahu. Ia ya, mau apa kita di sini?”
Jawabku, innocence.
“Yeee kebiasaan. Engga ada planning, engga ada tujuan, engga ada pola
kerja. Itu tanda-tandanya orang yang engga punya cita cita.” Antusias sekali
dia kalo sedang menyeramahiku.
“Ia kita di sini mau menimati indahnya langit
malam.” Potongku cepat saat ia kembali membuka mulutnya, bersiap luncurkan
beribu kata petuahnya itu. Kami tertawa, dia menjitak kepalaku. Tahu usahaku
hanya untuk menghindari nasihatnya.
Malam cerah tanpa awan. Berbagai cara ia
lakukan untuk membuat suasana hidup. Mulai dari bergombal ria, bernyanyi,
melawak, dan apaun yang bisa membuatku tertawa. Ini indah, tapi aneh. Dia bukan
siapa-siapa buatku. Tapi dia rela sebaik ini padaku. Dan tiba-tiba aku ingat
Arsad.
Tuhan, ampuni saya. Arsad, maafkan Rere. Maaf maaf.., aku memohon dalam hati.
Tuhan, ampuni saya. Arsad, maafkan Rere. Maaf maaf.., aku memohon dalam hati.
Arsad baik sekali. Dia bahkan tidak marah saat
aku meminta izin untuk keluar dengan Reza. Dia baik, tapi menurut Reza dia
aneh. Seorang pacar takkan mungkin melepas kekasihnya dengan orang lain. Tapi
aku tetap untuk pendirianku, dia baik, titik.
“Hoi, ngelamun.” Ucapnya sambil mengibaskan
tangannya di depan wajahku.
“Eh engga ko.” Balasku, tersadar dari
lamunan sekejapku itu.
“Hmm bohong. Kelihatan ko.” Ujarnya tak mau
menerima.
“Apanya yang kelihatan?”
“Itu bohong, idungnya mancung kaya pinokio,
tapi…. Ke dalem. Hahaha… “ Ungkapnya tertawa. Usahanya melarikan diri gagal
saat tanganku sigap menarik kemejanya, memaksa kembali mendudukkannya, dan
menyerangnya dengan beribu-ribu cubitan. Huaahhh… puas sekali rasanya.
“Eh eh tunggu. Jam berapa ini, Re?” tanyanya
sambil memegang tanganku. Mencegah berlanjutnya usaha balas dendamku.
“Mau lihat jam gimana, Mas, tanganku kamu yang
pegang begitu.” Protesku. Dia kemudian melirik pergelangan tanganku.
“Sudah jam sepuluh, Re. ayo pulang, sebelum kostmu dikunci dari dalam.” Ujarnya. Dengan paksa menyeretku pulang, dengan tangan yang masih ia genggam. Seperti menyeret tawanan perang saja.
“Sudah jam sepuluh, Re. ayo pulang, sebelum kostmu dikunci dari dalam.” Ujarnya. Dengan paksa menyeretku pulang, dengan tangan yang masih ia genggam. Seperti menyeret tawanan perang saja.
“Tangan gue sakit, Za.” Pintaku, pura-pura meringis.
“Ah, aku tidak akan tertipu, Nona.” Jawabnya
tak berperikemanusiaan.
“Kuda putihnya ketinggalan, Za.” Aku masih
berusaha untuk melepaskan tanganku.
“Biarin, nanti juga dia pulang sendiri.”
Jawabnya acuh. Yah, , , gagal. Pasrah deh balik sempai kost-an diseret seperti
ini.
***
Sepi. Kembali termenung di dalam kamar. Berdua
dengan Deza yang sibuk SMS-an dengan pacar barunya. Romantis sekali.
“Ngapain Lo cemberut Re?” Tanyanya memandangku
sesaat.
“Karena Gue liat Lo senyum-senyum sendiri.”
Jawabku sekenanya.
“Yeee, Lo ga seneng liat Gue bahagia??”
“Bukan ga seneng, kurang suka aja. Masa giliran Lo bahagia Gue sedih sih, Dez??” jawabku sambil cemberut.
“Yaelah, mana pangeran berkuda putih Lo?? Dia engga SMS?” lanjutnya sambil lalu.
“Bukan ga seneng, kurang suka aja. Masa giliran Lo bahagia Gue sedih sih, Dez??” jawabku sambil cemberut.
“Yaelah, mana pangeran berkuda putih Lo?? Dia engga SMS?” lanjutnya sambil lalu.
“Tau tuh. Kambuh lagi penyakit ngilangnya.”
“”Because of what?”
“Gara-gara waktu dia tanya Gue pilih Arsad
atau dia, Gue jawab pilih Arsad.” Ujarku sambil merebahkan badan, lelah.
“Lha terus? Salahnya di mana?”
“Engga tau ah, aneh. Kesel gue, Dez.”
“Ya udah sih. Lo kan ada Arsad, ngapain juga musingin
Reza.” Lanjutnya, tidak mau ambil pusing.
“Ia sih. Tapi…… Gue kangen Reza.” Ucapku
jujur. Menerawang ke masa yang telah terlewat. Taman itu, kelap-kelip lampunya,
udara dingin yang menyusup, tawa yang tak pernah berhenti, gombalan-gombalan
yang tak kunjung habis, serta kuda putih khayalannya. Ah, aku begitu merindukannya.
Tapi bayangan Arsad segera menghampiri.
Senyumnya, tangan kokohnya yang selalu membangkitkanku di kala aku terjatuh,
dan kesabarannya menghadapi semua tingkah konyolku. Termasuk kedekatanku dengan
Reza yang ia tanggapi dengan kepala dingin. Tak pernah sekalipun marah, apalagi
membentakku. Tak pernah sedikitpun menunjukan rasa cemburu terhadap laki-laki
yang mendekat padaku. Begitu datar. Bahkan pernah suatu saat aku bertanya
apakah ia benar-benar mencintaiku, mengingat sikapnya yang tak pernah cemburu.
Diiringi tawa ia menjawab, “Tentu saja, Sayang.”
Masih pukul 22.30. Aku gagal berusaha
memejamkan mata sedari tadi. Aku berfikir Reza pasti belum tidur juga. Keriduan
ini lagi-lagi mengalahkan akal sehatku. Kuhubungi Ponselnya.
Za,
sudah tidur?
Aku memulai. Tak lama benda kecil putih di
sampingku bergetar.
Belum.
Ada apa?
Balasnya. Begitu dingin. Seperti tak terselip
kerinduan yang malah semakin menyiksaku. Ah laki-laki memang selalu seperti
ini. Tidak peka.
Tidak,
hanya sedang merindukanmu.
selamat malam, Za. Semoga kamu cepat kembali berbaik hati padaku.
selamat malam, Za. Semoga kamu cepat kembali berbaik hati padaku.
Tak ada gunanya dilanjutkan. Hanya akan
menambah sesak di dada. Kupejamkan mata. Dan ajaib, alam mimpi langsung
menyambutku. Mengaburkanku dari berbagai peliknya dunia nyata.
Maaf,
Re. Aku pun rindu kamu. Selamat malam.
SMS terakhirnya baru aku baca setelah adzan
subuh berkumandang. Ada bahagia yang membuncah. Ada senyum yang kembali terkembang.
Ah hidup. Begitu mudah kau berubah.
***
Hari-hari setelah itu kembali berjalan seperti
biasa. Ada aku, Reza, juga Arsad yang jauh di sana. Kembali segitiga, bukan
hanya garis lurus. Maafkan Aku Reza, aku telah menyeretmu ke dalam kehidupanku.
Maafkan Aku Arsad.
Reza berjanji tidak akan menjauh lagi, apapun
yang terjadi. Reza tidak akan mempermasalahkan statusku lagi. Reza
menyayangiku, meski aku masih bersama Arsad.
Sabtu malam kembali datang. Mengantar kebahagiaan
bagi setiap muda-mudi dengan pasangan. Tapi aku lelah hari ini. Ingin
beristirahat saja rasanya. Terlelap bersama beruang besar yang memelukku.
Pukul 5.00 sore. Nokia putihku bergetar. Pikirku itu adalah Ibu, mengabarkan bahwa
rekeningku sudah terisi. Tanpa mengindahkannya, aku berlalu ke kamar mandi.
Rasa gerah memaksaku segera berjumpa dengan air mandi.
Begitu segarnya selesai mandi. Kulirik benda
putih kesayanganku. Dengan kening sedikit berkerut, kubuka inbox. Ternyata
bukan ibu.
Re,
ada acara? Mau engga nanti kita keluar setelah magrib?
Ternyata yang datang adalah SMS dari Reza.
Kulirik jam dinding. Oh Tuhan, 45 menit berlalu. Magrib 10 menit lagi. aku
belum bersiap-siap.
Maaf, Za. Tadi aku sedang mandi. Oke, kau jemput saja aku.
Maaf, Za. Tadi aku sedang mandi. Oke, kau jemput saja aku.
Message sent. Oke 15 menit bersiap cukuplah,
pikirku.
Tak lama setelah salam solat magribku, Reza
mengabarkan bahwa dia sudah ada di depan pintu pagar tempat kost. Dengan
kecepatan super, aku meluncur turun dari kamarku yang memang berada di lantai
atas. Tersenyum dan membuka pagar dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Kenapa Lo? Dikejar anjing?” Ujarnya meledek.
“Bukan. Melarikan diri dari kata terlambat.”
Gelengku, sok bijak. Dia tertawa sambil mengangguk-angguk.
Berjalan berdua dibawah gemerlapnya lampu
kota. Perjalanan yang sudah kuduga kemana arah tujuannya, Taman Kota. Ya,
tempat ini menjadi favorit kami berdua untuk sekedar berbagi cerita, sedih dan
bahagia.
“Za, Gue mau tanya.” Ujarku, setelah
bermenit-menit duduk dan tertawa tak karuan karena ulahnya.
“Aduh jadi deg-degan.” Jawabnya sambil tak
melepas tawa, “Mau tanya apa, Re?” lanjutnya.
“Lo kenapa kemarin jutek kaya gitu?” Tanyaku.
Dia menghela napas. Tawanya terhenti. Berganti
dengan wajah serius. Seperti orang dewasa saja. Padahal usianya masih 1 tahun
di bawahku.
“Lo ga sadar, Re?” ujarnya balik bertanya. Aku
menggeleng. Dia melanjutkan, “Karena Lo meminta Gue berubah sikap saat Lo sama
Arsad.”
Aku tercengang. Apa karena permintaanku itu. Beberapa
hari yang lalu aku memang pulang dan bertemu Arsad. Saat itu aku diajak Arsad
untuk berkunjung ke rumahnya, menemui ibunya yag sudah lama tak kulihat. Dan
aku meminta Reza untuk bersikap biasa di SMS. Apa itu salah?
Setelah terdiam beberapa saat aku mencoba
untuk menjelaskan, menjawab pertanyaannya yang sedikit menyalahkanku itu, “Za,
maaf kalau itu bikin Lo tersinggung. Tapi Gue tidak bermaksud seperti itu. Gue
hanya engga pengen Arsad tau seberapa dekat kita. Meskipun seandainya dia
tahupun, Gue ragu dia akan marah ke Gue. Dan Gue engga pengen waktu Gue yang cuma
satu hari dengannya itu rusak hanya karena adanya kesalahpahaman. Lo tahu,
setiap Gue mau pergi sama Lo, itu tak luput dari izinnya, Za. Gue engga bermain
di belakang dia seperti kebanyakan orang bicarakan. Arsad tau, Za. Gue Cuma
engga pengen nyakitin dia, karena dia terlalu baik.” Jelasku panjang lebar.
“Terus ngapain Lo mau deket-deket Gue, Re.
menurut Gue ini yang bisa bikin dia sakit. Lebih dari sakit yang Lo prediksi.”
Cecarnya tak mau begitu saja menerima penjelasanku.
Aku menghela napas, “Karena Lo sayang Gue, dan
ternyata Gue juga sayang Lo. Udah gitu alasan Gue deket sama Lo.” Jawabku
singkat. Mengakhiri pembicaraan ini.
Terjadi hening yang panjang. Aku terdiam, Reza
juga. sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga rintik hujan membasahi kami,
menyadarkan untuk kembali ke dunia nyata.
“Hujan, Re. balik yu.” Dia memulai
pembicaraan.
Aku menggeleng. Pembicaraan tadi masih
mengganggu. Ya, aku memang bersalah atas semua ini. Aku sumber persoalan ini.
Andai saja aku tidak memberi harapan….
“Sudahlah, Re. jangan dipikirkan. Gue yang
salah, maafin Gue ya.” Ujarnya seraya melepas sweeter yang sedari tadi
dikenakannya. Menutupkannya di atas kepalaku. Menarik tanganku untuk segera
beranjak dari tempat ini.
Aku menatap matanya, tidak ada dendam yang
kutemukan. Tuhan, dia tersenyum. Andaikan tidak ada pembatas antara aku dan
dia…
***
Udara Sukabumi begitu sejuk menyapa.
Melepaskan penat yang telah lama melekat. Menghabiskan hari-hari bersama keluarga
sungguh kurindukan kini. Tak seperti aku dahulu yang malah menginginkan pergi
berekreasi saat libur menjelang.
Ibu seperti biasa selalu menyambut anaknya
yang telah lama pergi merantau. Mengutamakan segala kebutuhan anaknya itu. Begitu
mulianya dirimu, Ibu. Aku semakin betah saja di rumah. Waktu 5 libur hari tak
terasa tinggal bersisa 2. Besok aku harus kembali ke perantauan. Kembali
bergelut dengan segala tantangan sendirian, tanpa rengkuhan kasih keluarga,
hanya bersama teman-teman seperjuangan.
Ponselku berdering saat aku sedang mengepak
barang-barang yang akan kubawa esok hari. Sebuah SMS dari Reza.
Re,
sedang apa? Aku kangen kamu yang di Jakarta. Cepat pulang ke Jakarta ya Re.
Kuabaikan sejenak. Melanjutkan kegiatanku yang
tertunda. Ibu sudah sedari tadi memanggil, menyuruhku segera mengemas makanan
yang akan menjadi perbekalanku beberapa hari ke depan. Seperti aku tidak akan
menemukan makanan saja di Jakarta sana. Ah Ibu, begitu perhatiannya dirimu.
Pukul 2 siang. Semua tugasku telah selesai.
Tinggal menikmati hari terakhir di depan TV. Sejenak kulirik Handphone, tak ada pesan masuk. Tapi….
Reza!! Pesan Reza belum aku balas. Oh Tuhan, 2 jam lalu. Aku menepuk jidat,
menyesali kepelupaanku.
Maaf
gue baru balas, Za. Gue juga rindu lo. Gue balik besok, lo juga cepet balik
dong. Oke?? J
Pesan terkirim. Tak lama datang balasan dari
Reza. Singkat dan datar.
Gue
besok baru balik. Pagi dari sini. Ada yang pengen gue omongin sama lo.
Reza marah. Pikirku panik.
Tentang
apa, Za?
Tanyaku cepat.
Nanti
saja gue ngomong langsung. Gue ada urusan dulu sekarang.
Tuh kan Reza marah. Bahkan SMS terakhirku
setelahnya pun tak berbalas.
***
Hello Jakarta. I am back !!
Rasa panas dan gerah sudah sedari tadi menerpa.
Jakarta penat. Rutukku dalam hati. Baru pukul 11.15. Mungkin empat jam lagi Reza
sampai sini. Leluasa bagiku untuk beres-beres dan beristirahat dahulu.
Sejak kemarin Reza sudah wanti-wanti. Hari ini
kami berdua harus bertemu. Ada sesuatu yang akan dia sampaikan. Entahlah apa
itu. Yang jelas ini sebuah keharusan, bukan opsional.
Di antara rasa penasaran, aku tak mampu
menebak. Khawatir prediksi akan melenceng jauh dari fakta yang akan terjadi. Jadi,
terima nanti sajalah, face everything that will happen.
Langit sore sedikit mendung. Namun awan belum
ingin menurunkan pasukannya untuk menyerang ibu kota ini. Reza akan menjemputku
sepuluh menit lagi. mungkin sekarang ia sedang menunggang kuda putihnya menuju
tempat kost ku.
Tak lama sesosok tubuh muncul. Lengkap dengan
pakaian santai anak remaja. Mengingatkanku pada masa-masa dua tahun silam.
“Hai, Re. Lama nunggu?” Sapanya dengan
senyuman.
“Hai. Hemmmh, lumayan. Tapi lunas ko kalo
dibayar pake ayam bakar, haha.” Jawabku ngasal. Dia mengacak-acak rambutku, gemas.
“Yuk jalan.” Ajaknya kemudian.
“Taman kota lagi?” Tanyaku.
“Ikuti saja kemana kakiku melangkah, Kau akan
tahu.” Jawabnya sok puitis.
Berjalan beriringan, bercanda, ceria, dan tertawa.
Indah sekali. Berbagi cerita, saling berbantah-bantah, seperti tak ada habisnya
kata terucap. Begitu riang, hingga tak tersadar dua jam telah berlalu. Langit
yang menghitam mengingatkan kami bahwa sebentar lagi malam menjelang.
“Oia, Za. Katanya ada yang mau diomongin, apa?”
Tanyaku tiba-tiba. Dia terdiam sejenak.
“Re, gue mau bilang jujur sama Lo. Gue ga suka
Lo perlakuin kaya kemaren.” Ujarnya. Terhenti.
Aku mengerutkan kening. Kembali bingung atas
pernyataannya, “Memangnya kenapa, Za?”
“Dengar ya, Re. Di sini Lo memang bersikap
baik, manis dan menyenangkan. Perhatian dan segala hal kebaikan lainnya Lo
lakuin ke Gue. Namun itu engga Gue rasain saat Lo balik ke rumah Lo, ke
Sukabumi. Lo seperti orang asing, Re. Bahkan SMS Gue, telpon Gue seringkali Lo
abaikan. Suatu hal yang jarang banget Lo lakuin di sini.” Kalimatnya terputus.
Menarik napas sejenak, “Lo tau kan, Re? Gue selama ini perlakuin Lo lebih dari
temen. Gue sayang Lo lebih dari temen. Dan Gue tau Lo juga gitu ke Gue. Tapi
kenapa Gue ngerasa Lo baik ke Gue saat Lo ada di deket Gue aja? Apa karena saat
Lo jauh lo ga butuh Gue? Karena ada Arsad? Atau karena…”
“Za!!” Aku memotong ucapannya, “Bukan seperti
itu.” Bantahku. Sedih. Setega itu dia berpikir tentangku.
“Lalu apa? Gini deh. Gue mau Lo jadi pacar
Gue.” Ujarnya, langsung jlebb.
“Kenapa, Za?” Tanyaku setelah beberapa saat
tak mampu berucap.
“Biar semua yang Gue lakuin ke Lo ga sia-sia.”
Jawabnya pasti.
“Tapi itu ga mungkin, Za.” Balasku, sedikit
memohon.
“Ya sudah.
Gue ngerti. Toh dengan Lo pilih dia, berarti Lo yakin hidup Lo akan
lebih bahagia sama dia. Selamat ya. Semoga kalian tetap bersama.” Ujarnya begitu
menusuk ke ulu hati.
“Tapi kita masih berteman kan, Za?” Tanyaku,
berharap.
“Tentu. Tapi semua takkan sama, Re.”
Aku mengangguk, pasrah.
***
Hari-hari setelah itu kembali sepi. Dia
menepati ucapannya bahwa semua takkan sama lagi seperti dahulu. Namun dia
ingkar bahwa kita masih bisa berteman. Karena beberapa kali aku bertemu
dengannya, seperti ada kilatan kebencian, dan tembok tinggi yang kokoh yang
memisahkan kami berdua kini.
Entahlah….
Entahlah….
*Memory itu tetap ada dan pernah terjadi, De.
Maafkan saya.. Kuharap kamu segera berbaik hati lagi padaku.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar