Selasa, 27 November 2012

My Diary




Ini kali pertama aku bertemu dengan calon teman-teman baruku. Yups, gathering ini sengaja diadakan, bahkan sebelum ospek digelar, guna mengakrabkan camaba yang notabene sudah akrab di dunia maya.
Kulihat sekeliling, BMK sudah dipenuhi oleh bocah-bocah peralihan. Peralihan dari remaja ke dewasa serta peralihan dari daerah ke ibu kota. Semakin mataku berkeliling, semakin banyak wajah yang kulihat. Saling melempar senyum, menyapa, beramah tamah. Namun ada yang belum aku temukan. Sosok itu.
Acara berjalan lancar hingga akhir. Dan selama itu pula sosoknya belum kutemukan. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan menemukannya andai saja Reliza tidak memberitahuku di mana dia berada.
Setelah acara berakhir, kita semua bubar. Ku sempatkan untuk menghampirinya, menyapanya. but what did I get? Just smile. Jlebb !!!
***
Berbulan-bulan hubungan kami baik, lebih dari baik malah. Hanya saja beberapa kali terjadi benturan yang menyebabkan pertemanan kami retak. Namun selalu hanya sesaat. Selalu ada maaf. Itu semua terjadi karena pengakuan saling sayang yang entah berawal dari mana. Ya, aku sayang Reza meski semua orang tahu aku telah memiliki Arsad. Tapi itu tak mengurangi rasa sayangku pada pacarku itu. Aku menyayangi 2 laki-laki yang berbeda di saat yang sama. Itu gila !! suatu kegilaan yang baru sekarang aku rasakan.
Reza baik. Lebih dari baik untuk ukuran seorang teman. Apakah hanya modus?? Aku  akan mengetahuinya kemudian. Tapi Reza tak pernah memintaku untuk menjadi seorang pacar, itu yang membuatku menghargainya, karena ia menghargai hubunganku dengan Arsad. Meski berkali-kali dia menjauh karena mempermasalahkan statusku. Sebenarnya ia tidak bersalah, namun aku takut dia akan selamanya hilang dari hidupku, seandainya ia terus merasa menjadi orang ketiga. Publik terus bergunjing mengenai tindakan kami itu. Ia yang lebih sering berhadapan dengan para penggosip yang sok tahu ketimbang aku. Dia juga yang berusaha lebih tuli menanggapi mereka ketimbang aku. Dan dia juga yang berusaha lebih sabar ketimbang aku. Ah, memang aku belum sukses untuk disebut dewasa.
***
Kutimang-timang ponselku, ragu antara ya atau tidak. Sore ini begitu bosan. Berdiam seorang diri di tempat kost adalah hal terburuk dalam sejarah. Seperti seorang pesakitan saja.
“Halo…” Sapaku menggantung. Kerinduanku padanya telah membutakanku, hatiku berkata ya untuk menghubunginya.
“Ya Re, ada apa?” Tanyanya.
“Emhh, ada acara ga Lo sekarang?” Lanjutku.
“Kosong. Kenapa? Mau ngajakin jalan??” Ujarnya sambil tertawa.
“Huuuu enak aja, emangnya Gue cewe apaan?” Balasku, pun sambil tertawa.
“Lo kan cewe jadi-jadian !!” Ungkapnya, semakin puas dengan tawa setannya.
“Sialan !!” Aku tertawa. Suasana mulai menghangat, “Temenin ke luar yuk. Bosan di sini.” Lanjutku.
“Kemana?” Tanyanya singkat.
“Emhhh, kemana aja deh, yang jelas jalan ke luar. Tapi itupun kalo Lo mau sih.” Ujarku cepat. Khawatir permintaanku menjadi beban buatnya.
“Baik Nona, saya siapkan kuda putih dan segera meluncur ke tempat Nona.” Guraunya. Berlebihan.
“Huuu gombalnya gak ketulungan.” Balasku. Tertawa.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunggunya. 15 menit cukup. Dia berpakaian biasa, namun rapi. Hmmm nice, ujarku layaknya stylist yang puas akan penampilan kliennya.
Jadilah setelah itu kami berdua jalan, perjalanan tanpa tujuan sebenarnya. Benar-benar mengikuti kehendak ibu jari kaki. Not too bad, karena dia mengantarkan kami ke sebuah taman kota. Cukup indah dengan temaram lampunya yang berwarna-warni.
“Nah sudah sampai. Mau apa kita di sini?” Dia yang pertama membuka percakapan. Memecah keheningan.
“Engga tahu. Ia ya, mau apa kita di sini?” Jawabku, innocence.
“Yeee kebiasaan. Engga ada planning, engga ada tujuan, engga ada pola kerja. Itu tanda-tandanya orang yang engga punya cita cita.” Antusias sekali dia kalo sedang menyeramahiku.
“Ia kita di sini mau menimati indahnya langit malam.” Potongku cepat saat ia kembali membuka mulutnya, bersiap luncurkan beribu kata petuahnya itu. Kami tertawa, dia menjitak kepalaku. Tahu usahaku hanya untuk menghindari nasihatnya.
Malam cerah tanpa awan. Berbagai cara ia lakukan untuk membuat suasana hidup. Mulai dari bergombal ria, bernyanyi, melawak, dan apaun yang bisa membuatku tertawa. Ini indah, tapi aneh. Dia bukan siapa-siapa buatku. Tapi dia rela sebaik ini padaku. Dan tiba-tiba aku ingat Arsad.
Tuhan, ampuni saya. Arsad, maafkan Rere. Maaf maaf..,  aku memohon dalam hati.
Arsad baik sekali. Dia bahkan tidak marah saat aku meminta izin untuk keluar dengan Reza. Dia baik, tapi menurut Reza dia aneh. Seorang pacar takkan mungkin melepas kekasihnya dengan orang lain. Tapi aku tetap untuk pendirianku, dia baik, titik.
“Hoi, ngelamun.” Ucapnya sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh engga ko.” Balasku, tersadar dari lamunan  sekejapku itu.
“Hmm bohong. Kelihatan ko.” Ujarnya tak mau menerima.
“Apanya yang kelihatan?”
“Itu bohong, idungnya mancung kaya pinokio, tapi…. Ke dalem. Hahaha… “ Ungkapnya tertawa. Usahanya melarikan diri gagal saat tanganku sigap menarik kemejanya, memaksa kembali mendudukkannya, dan menyerangnya dengan beribu-ribu cubitan. Huaahhh… puas sekali rasanya.
“Eh eh tunggu. Jam berapa ini, Re?” tanyanya sambil memegang tanganku. Mencegah berlanjutnya usaha balas dendamku.
“Mau lihat jam gimana, Mas, tanganku kamu yang pegang begitu.” Protesku. Dia kemudian melirik pergelangan tanganku.
“Sudah jam sepuluh, Re. ayo pulang, sebelum kostmu dikunci dari dalam.” Ujarnya. Dengan paksa menyeretku pulang, dengan tangan yang masih ia genggam. Seperti menyeret tawanan perang saja.
“Tangan gue sakit,  Za.” Pintaku, pura-pura meringis.
“Ah, aku tidak akan tertipu, Nona.” Jawabnya tak berperikemanusiaan.
“Kuda putihnya ketinggalan, Za.” Aku masih berusaha untuk melepaskan tanganku.
“Biarin, nanti juga dia pulang sendiri.” Jawabnya acuh. Yah, , , gagal. Pasrah deh balik sempai kost-an diseret seperti ini.
***
Sepi. Kembali termenung di dalam kamar. Berdua dengan Deza yang sibuk SMS-an dengan pacar barunya. Romantis sekali.
“Ngapain Lo cemberut Re?” Tanyanya memandangku sesaat.
“Karena Gue liat Lo senyum-senyum sendiri.” Jawabku sekenanya.
“Yeee, Lo ga seneng liat Gue bahagia??”
“Bukan ga seneng, kurang suka aja. Masa giliran Lo bahagia Gue sedih sih, Dez??” jawabku sambil cemberut.
“Yaelah, mana pangeran berkuda putih Lo?? Dia engga SMS?”  lanjutnya sambil lalu.
“Tau tuh. Kambuh lagi penyakit ngilangnya.”
“”Because of what?”
“Gara-gara waktu dia tanya Gue pilih Arsad atau dia, Gue jawab pilih Arsad.” Ujarku sambil merebahkan badan, lelah.
“Lha terus? Salahnya di mana?”
“Engga tau ah, aneh. Kesel gue, Dez.”
“Ya udah sih. Lo kan ada Arsad, ngapain juga musingin Reza.” Lanjutnya, tidak mau ambil pusing.
“Ia sih. Tapi…… Gue kangen Reza.” Ucapku jujur. Menerawang ke masa yang telah terlewat. Taman itu, kelap-kelip lampunya, udara dingin yang menyusup, tawa yang tak pernah berhenti, gombalan-gombalan yang tak kunjung habis, serta kuda putih khayalannya. Ah, aku begitu merindukannya.
Tapi bayangan Arsad segera menghampiri. Senyumnya, tangan kokohnya yang selalu membangkitkanku di kala aku terjatuh, dan kesabarannya menghadapi semua tingkah konyolku. Termasuk kedekatanku dengan Reza yang ia tanggapi dengan kepala dingin. Tak pernah sekalipun marah, apalagi membentakku. Tak pernah sedikitpun menunjukan rasa cemburu terhadap laki-laki yang mendekat padaku. Begitu datar. Bahkan pernah suatu saat aku bertanya apakah ia benar-benar mencintaiku, mengingat sikapnya yang tak pernah cemburu. Diiringi tawa ia menjawab, “Tentu saja, Sayang.”
Masih pukul 22.30. Aku gagal berusaha memejamkan mata sedari tadi. Aku berfikir Reza pasti belum tidur juga. Keriduan ini lagi-lagi mengalahkan akal sehatku. Kuhubungi Ponselnya.
Za, sudah tidur?
Aku memulai. Tak lama benda kecil putih di sampingku bergetar.
Belum. Ada apa?
Balasnya. Begitu dingin. Seperti tak terselip kerinduan yang malah semakin menyiksaku. Ah laki-laki memang selalu seperti ini. Tidak peka.
Tidak, hanya sedang merindukanmu.
selamat malam, Za. Semoga kamu cepat kembali berbaik hati padaku.
Tak ada gunanya dilanjutkan. Hanya akan menambah sesak di dada. Kupejamkan mata. Dan ajaib, alam mimpi langsung menyambutku. Mengaburkanku dari berbagai peliknya dunia nyata.
Maaf, Re. Aku pun rindu kamu. Selamat malam.
SMS terakhirnya baru aku baca setelah adzan subuh berkumandang. Ada bahagia yang membuncah. Ada senyum yang kembali terkembang. Ah hidup. Begitu mudah kau berubah.
***
Hari-hari setelah itu kembali berjalan seperti biasa. Ada aku, Reza, juga Arsad yang jauh di sana. Kembali segitiga, bukan hanya garis lurus. Maafkan Aku Reza, aku telah menyeretmu ke dalam kehidupanku. Maafkan Aku Arsad.
Reza berjanji tidak akan menjauh lagi, apapun yang terjadi. Reza tidak akan mempermasalahkan statusku lagi. Reza menyayangiku, meski aku masih bersama Arsad.
Sabtu malam kembali datang. Mengantar kebahagiaan bagi setiap muda-mudi dengan pasangan. Tapi aku lelah hari ini. Ingin beristirahat saja rasanya. Terlelap bersama beruang besar yang memelukku.
Pukul 5.00 sore. Nokia putihku bergetar. Pikirku itu adalah Ibu, mengabarkan bahwa rekeningku sudah terisi. Tanpa mengindahkannya, aku berlalu ke kamar mandi. Rasa gerah memaksaku segera berjumpa dengan air mandi.
Begitu segarnya selesai mandi. Kulirik benda putih kesayanganku. Dengan kening sedikit berkerut, kubuka inbox. Ternyata bukan ibu.
Re, ada acara? Mau engga nanti kita keluar setelah magrib?
Ternyata yang datang adalah SMS dari Reza. Kulirik jam dinding. Oh Tuhan, 45 menit berlalu. Magrib 10 menit lagi. aku belum bersiap-siap.
Maaf, Za. Tadi aku sedang mandi. Oke, kau jemput saja aku.
Message sent. Oke 15 menit bersiap cukuplah, pikirku.
Tak lama setelah salam solat magribku, Reza mengabarkan bahwa dia sudah ada di depan pintu pagar tempat kost. Dengan kecepatan super, aku meluncur turun dari kamarku yang memang berada di lantai atas. Tersenyum dan membuka pagar dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Kenapa Lo? Dikejar anjing?” Ujarnya meledek.
“Bukan. Melarikan diri dari kata terlambat.” Gelengku, sok bijak. Dia tertawa sambil mengangguk-angguk.
Berjalan berdua dibawah gemerlapnya lampu kota. Perjalanan yang sudah kuduga kemana arah tujuannya, Taman Kota. Ya, tempat ini menjadi favorit kami berdua untuk sekedar berbagi cerita, sedih dan bahagia.
“Za, Gue mau tanya.” Ujarku, setelah bermenit-menit duduk dan tertawa tak karuan karena ulahnya.
“Aduh jadi deg-degan.” Jawabnya sambil tak melepas tawa, “Mau tanya apa, Re?” lanjutnya.
“Lo kenapa kemarin jutek kaya gitu?” Tanyaku.
Dia menghela napas. Tawanya terhenti. Berganti dengan wajah serius. Seperti orang dewasa saja. Padahal usianya masih 1 tahun di bawahku.
“Lo ga sadar, Re?” ujarnya balik bertanya. Aku menggeleng. Dia melanjutkan, “Karena Lo meminta Gue berubah sikap saat Lo sama Arsad.”
Aku tercengang. Apa karena permintaanku itu. Beberapa hari yang lalu aku memang pulang dan bertemu Arsad. Saat itu aku diajak Arsad untuk berkunjung ke rumahnya, menemui ibunya yag sudah lama tak kulihat. Dan aku meminta Reza untuk bersikap biasa di SMS. Apa itu salah?
Setelah terdiam beberapa saat aku mencoba untuk menjelaskan, menjawab pertanyaannya yang sedikit menyalahkanku itu, “Za, maaf kalau itu bikin Lo tersinggung. Tapi Gue tidak bermaksud seperti itu. Gue hanya engga pengen Arsad tau seberapa dekat kita. Meskipun seandainya dia tahupun, Gue ragu dia akan marah ke Gue. Dan Gue engga pengen waktu Gue yang cuma satu hari dengannya itu rusak hanya karena adanya kesalahpahaman. Lo tahu, setiap Gue mau pergi sama Lo, itu tak luput dari izinnya, Za. Gue engga bermain di belakang dia seperti kebanyakan orang bicarakan. Arsad tau, Za. Gue Cuma engga pengen nyakitin dia, karena dia terlalu baik.” Jelasku panjang lebar.
“Terus ngapain Lo mau deket-deket Gue, Re. menurut Gue ini yang bisa bikin dia sakit. Lebih dari sakit yang Lo prediksi.” Cecarnya tak mau begitu saja menerima penjelasanku.
Aku menghela napas, “Karena Lo sayang Gue, dan ternyata Gue juga sayang Lo. Udah gitu alasan Gue deket sama Lo.” Jawabku singkat. Mengakhiri pembicaraan ini.
Terjadi hening yang panjang. Aku terdiam, Reza juga. sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga rintik hujan membasahi kami, menyadarkan untuk kembali ke dunia nyata.
“Hujan, Re. balik yu.” Dia memulai pembicaraan.
Aku menggeleng. Pembicaraan tadi masih mengganggu. Ya, aku memang bersalah atas semua ini. Aku sumber persoalan ini. Andai saja aku tidak memberi harapan….
“Sudahlah, Re. jangan dipikirkan. Gue yang salah, maafin Gue ya.” Ujarnya seraya melepas sweeter yang sedari tadi dikenakannya. Menutupkannya di atas kepalaku. Menarik tanganku untuk segera beranjak dari tempat ini.
Aku menatap matanya, tidak ada dendam yang kutemukan. Tuhan, dia tersenyum. Andaikan tidak ada pembatas antara aku dan dia…
***
Udara Sukabumi begitu sejuk menyapa. Melepaskan penat yang telah lama melekat. Menghabiskan hari-hari bersama keluarga sungguh kurindukan kini. Tak seperti aku dahulu yang malah menginginkan pergi berekreasi saat libur menjelang.
Ibu seperti biasa selalu menyambut anaknya yang telah lama pergi merantau. Mengutamakan segala kebutuhan anaknya itu. Begitu mulianya dirimu, Ibu. Aku semakin betah saja di rumah. Waktu 5 libur hari tak terasa tinggal bersisa 2. Besok aku harus kembali ke perantauan. Kembali bergelut dengan segala tantangan sendirian, tanpa rengkuhan kasih keluarga, hanya bersama teman-teman seperjuangan.
Ponselku berdering saat aku sedang mengepak barang-barang yang akan kubawa esok hari. Sebuah SMS dari Reza.
Re, sedang apa? Aku kangen kamu yang di Jakarta. Cepat pulang ke Jakarta ya Re.
Kuabaikan sejenak. Melanjutkan kegiatanku yang tertunda. Ibu sudah sedari tadi memanggil, menyuruhku segera mengemas makanan yang akan menjadi perbekalanku beberapa hari ke depan. Seperti aku tidak akan menemukan makanan saja di Jakarta sana. Ah Ibu, begitu perhatiannya dirimu.
Pukul 2 siang. Semua tugasku telah selesai. Tinggal menikmati hari terakhir di depan TV. Sejenak kulirik Handphone, tak ada pesan masuk. Tapi…. Reza!! Pesan Reza belum aku balas. Oh Tuhan, 2 jam lalu. Aku menepuk jidat, menyesali kepelupaanku.
Maaf gue baru balas, Za. Gue juga rindu lo. Gue balik besok, lo juga cepet balik dong. Oke?? J
Pesan terkirim. Tak lama datang balasan dari Reza. Singkat dan datar.
Gue besok baru balik. Pagi dari sini. Ada yang pengen gue omongin sama lo.
Reza marah. Pikirku panik.
Tentang apa, Za?
Tanyaku cepat.
Nanti saja gue ngomong langsung. Gue ada urusan dulu sekarang.
Tuh kan Reza marah. Bahkan SMS terakhirku setelahnya pun tak berbalas.
***
Hello Jakarta. I am back !!
Rasa panas dan gerah sudah sedari tadi menerpa. Jakarta penat. Rutukku dalam hati. Baru pukul 11.15. Mungkin empat jam lagi Reza sampai sini. Leluasa bagiku untuk beres-beres dan beristirahat dahulu.
Sejak kemarin Reza sudah wanti-wanti. Hari ini kami berdua harus bertemu. Ada sesuatu yang akan dia sampaikan. Entahlah apa itu. Yang jelas ini sebuah keharusan, bukan opsional.
Di antara rasa penasaran, aku tak mampu menebak. Khawatir prediksi akan melenceng jauh dari fakta yang akan terjadi. Jadi, terima nanti sajalah, face everything that will happen.
Langit sore sedikit mendung. Namun awan belum ingin menurunkan pasukannya untuk menyerang ibu kota ini. Reza akan menjemputku sepuluh menit lagi. mungkin sekarang ia sedang menunggang kuda putihnya menuju tempat kost ku.
Tak lama sesosok tubuh muncul. Lengkap dengan pakaian santai anak remaja. Mengingatkanku pada masa-masa dua tahun silam.
“Hai, Re. Lama nunggu?” Sapanya dengan senyuman.
“Hai. Hemmmh, lumayan. Tapi lunas ko kalo dibayar pake ayam bakar, haha.” Jawabku ngasal. Dia mengacak-acak rambutku, gemas.
“Yuk jalan.” Ajaknya kemudian.
“Taman kota lagi?” Tanyaku.
“Ikuti saja kemana kakiku melangkah, Kau akan tahu.” Jawabnya sok puitis.
Berjalan beriringan, bercanda, ceria, dan tertawa. Indah sekali. Berbagi cerita, saling berbantah-bantah, seperti tak ada habisnya kata terucap. Begitu riang, hingga tak tersadar dua jam telah berlalu. Langit yang menghitam mengingatkan kami bahwa sebentar lagi malam menjelang.
“Oia, Za. Katanya ada yang mau diomongin, apa?” Tanyaku tiba-tiba. Dia terdiam sejenak.
“Re, gue mau bilang jujur sama Lo. Gue ga suka Lo perlakuin kaya kemaren.” Ujarnya. Terhenti.
Aku mengerutkan kening. Kembali bingung atas pernyataannya, “Memangnya kenapa, Za?”
“Dengar ya, Re. Di sini Lo memang bersikap baik, manis dan menyenangkan. Perhatian dan segala hal kebaikan lainnya Lo lakuin ke Gue. Namun itu engga Gue rasain saat Lo balik ke rumah Lo, ke Sukabumi. Lo seperti orang asing, Re. Bahkan SMS Gue, telpon Gue seringkali Lo abaikan. Suatu hal yang jarang banget Lo lakuin di sini.” Kalimatnya terputus. Menarik napas sejenak, “Lo tau kan, Re? Gue selama ini perlakuin Lo lebih dari temen. Gue sayang Lo lebih dari temen. Dan Gue tau Lo juga gitu ke Gue. Tapi kenapa Gue ngerasa Lo baik ke Gue saat Lo ada di deket Gue aja? Apa karena saat Lo jauh lo ga butuh Gue? Karena ada Arsad? Atau karena…”
“Za!!” Aku memotong ucapannya, “Bukan seperti itu.” Bantahku. Sedih. Setega itu dia berpikir tentangku.
“Lalu apa? Gini deh. Gue mau Lo jadi pacar Gue.” Ujarnya, langsung jlebb.
“Kenapa, Za?” Tanyaku setelah beberapa saat tak mampu berucap.
“Biar semua yang Gue lakuin ke Lo ga sia-sia.” Jawabnya pasti.
“Tapi itu ga mungkin, Za.” Balasku, sedikit memohon.
“Ya sudah.  Gue ngerti. Toh dengan Lo pilih dia, berarti Lo yakin hidup Lo akan lebih bahagia sama dia. Selamat ya. Semoga kalian tetap bersama.” Ujarnya begitu menusuk ke ulu hati.
“Tapi kita masih berteman kan, Za?” Tanyaku, berharap.
“Tentu. Tapi semua takkan sama, Re.”
Aku mengangguk, pasrah.
***
Hari-hari setelah itu kembali sepi. Dia menepati ucapannya bahwa semua takkan sama lagi seperti dahulu. Namun dia ingkar bahwa kita masih bisa berteman. Karena beberapa kali aku bertemu dengannya, seperti ada kilatan kebencian, dan tembok tinggi yang kokoh yang memisahkan kami berdua kini.
Entahlah….

*Memory itu tetap ada dan pernah terjadi, De. Maafkan saya.. Kuharap kamu segera berbaik hati lagi padaku.*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar