Minggu, 18 November 2012

Hujan

Hujan, jangan kau turun dahulu, kami ingin sehari ini pergi melihat dunia.
 Doa singkat yang kupanjatkan sesaat sebelum melangkah ke luar dari pintu rumah kost. Aku dan Deni, serta 2 orang teman kami akan pergi ke Monas. Rencana ini tercetus begitu saja dari otakku. Awalnya awan tak memperlihatkan tanda-tanda tangisan. Namun perkiraan kami meleset setelah beberapa langkah dari pagar rumah, titik-titik kesedihan awan mulai menetes. Seiring detik berdentang semakin merapatkan serangannya.
Hujan adalah saat yang romantis
Ujar temanku.
Hujan adalah saat kita berbasah kuyup
Balasku. Dia tertawa.
Usaha untuk bernaung tak membuahkan hasil. sekujur tubuh sudah terlanjur basah. Gigil sudah mulai terasa. Rencana yang tercetus mendadak, terpaksa dicancel mendadak juga. tak mungkin kami berbasah-basahan memaksakan diri berkunjung ke Monumen Nasional itu.
Makanya sebelum bepergian itu lihat situasi dulu ya...
Ujar seorang teman menasehati, dikala tubuhku demam.
Tapi tadi cerah ko.
Tukasku.
Cuacanya sedang tidak menentu, Sayang.
Jawabnya kemudian.
Ya kan kita engga tahu bakal hujan tiba-tiba. 

Aku tak mau kalah.
Makanya yang meragukan itu dihindari ya.  Ucapnya sabar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar