Siang itu matahari sangat terik. Fani yang baru saja
sampai di rumah langsung membuka kulkas, mencari minuman dingin.
“Napa lu De? Dikejar guguk? Ampe ngos-ngosan gitu?”
Tanya Farel, abang tunggalnya.
“Panas banget tau di luar Ka. Gua jalan dari gang
ampe banjir keringet gini nih.” Jawab sang adik sambil mengibas-ngibaskan
seragam putih-abunya.
“Oalah Deee, segitu mah cetek. Jaman gua sekolah
nih, Gua malah jalan nih dari rumah ke sekolah.” ujar abangnya sambil menjentikan jarinya.
“Ia jalan, pagi kan?!” tanya Fani sewot. Farel
tertawa puas.
“Haduh gerah… gerah…” Fani mondar-mandir sambil
mengipas-ngipas mukanya.
“Masuk kulkas sono.” Perintah Farel iseng.
“Ia bener !!” teriak Fani girang serasa mendapat ilham.
Farel melongo !
Selesai shalat isya,
Fani menghampiri abangnya.
“Tabloid apa ni Bang?” tanya Fani pada abangnya yang
asik maen PB.
“ Mana? Oh itu. Itu Tabloid HP. Tadi Abang beli pas
pulang kuliah. Biasa, liat-liat harga HP sama gadget.” Jawab abangnya, tak
melepaskan pandangan dari layar komputer.
“Wah asik donk. Gue pengen beli HP Samsung yang kaya
di drama Korea itu loh. Berapaan yah Bang?”
“Lu liat aja sendiri di situ.” Jawab sang abang
cuek.
Fani melihat-lihat, membolak balik lembar demi lembar
tabloid yang dipegangnya. Sampai pada satu lembar, telunjuknya beraksi, mencari
sambil komat kamit membaca huruf-huruf yang dilewatinya.
“Nah ni dia Bang. Samsung galaxy S Advance GT-i9070.
Fiturnya keren bang. Nih baca…” Ujar Fani sambil menekuri artikel di
hadapannya. “Harganya itu…” Fani tak menyelesaikan ucapannya. Dia malah
cegukan, kaya orang keselek biji duren.
“Berapa harganya De?” Farel belum ngeh dengan apa
yang terjadi. Kedua tangannya masih asik memainkan stik PS. Namun berhubung tak
ada jawaban dari sang adik, Farel menoleh.
“De?” tangannya mengguncang-guncang bahu Fani. Tak
ada jawaban. Ditepuk-tepuk pipinya, masih juga tak ada jawaban. Cegukan Fani
makin hebat. Tak sengaja Farel melirik tabloid yang dipegang adiknya. Tepat ke
arah telunjuk fani.
“Aduh, ni anak kenapa sih? Masa gara-gara liat harga
HP ade gue jadi kaya anyan gini?” Farel bergumam, antara panik dan heran.
Di rumah hanya ada mereka berdua. Mama sedang ke
Tasik, jenguk nenek yang sakit. Papa lagi tugas ke luar daerah. Itu yang bikin
Farel garuk kepala, bingung.
Akhirnya Farel menerapkan pertolongan pertama yang
sempat dipelajarinya saat mengikuti PMR di SMP dulu. Fani diberinya minum,
kemudian dibawanya ke kamar, ditidurkannya. Meskipun sering adu mulut, Farel
sayang banget sama adiknya. Apalagi kalo lagi gak ada Papa sama Mama kayak
gini.
“Lu kenapa sih De?” tanya Farel sambil
mengelus-ngelus rambut Fani. Cegukannya tak sesering tadi. Perlahan matanya
tertutup, tidur.
Tak tega meninggalkan sang adik sendirian, Farel
memutuskan untuk tidur menemaninya. Digelarnya tikar dan kasur, lalu merebahkan
diri, bersiap menyusul adiknya ke alam mimpi.
Farel terbangun, denting jam menunjukan pukul 10
malam. Denting jam yang sama seperti malam-malam sebelumnya, tapi kali ini
terdengar aneh. Seperti ada suara lain. Berasal dari pembaringan adiknya.
Farel bangkit, dihampirinya Fani. Mulutnya bergumam
mengigau. Tubuhnya demam tinggi.
“Ka… gu..e le..mes ..” “Bisik Fani pelan. Nafasnya
senin-kamis. Farel yang baru saja beranjak ke dapur, mengurungkan niatnya untuk mengambil
kompresan. Dihampirinya kembali adiknya.
“Lu pengen apa donk De? Lu kan belum makan dari
siang. Gue bikinin bubur mau?” tanya Farel cemas. Fani mengangguk pelan.
Farel segera melesat ke dapur. Menyiapkan segala
bahan yang dibutuhkan. Tak sampai 5 menit, dia sudah kembali sambil membawa
semangkuk bubur.
Fani masih mengigau. Didudukannya adik semata
wayangnya itu. Disuapinya. Namun baru suapan ketiga, Fani bereaksi,
muntah-muntah.
“Waduh, lu sakit apa sih De?” antara panik dan
bingung, Farel akhirnya memutuskan untuk membawa Fani ke rumah sakit.
Di rumah sakit Farel mondar mandir, ga bisa duduk
kaya aseupan 1. Hatinya gak tenang sebelum ada
keterangan dari dokter yang memeriksa adiknya.
Krekkk, pintu terbuka. Wanita muda berseragam putih
keluar dari ruangan itu, menghampiri Farel.
“Maaf anda keluarga pasien?” tanyanya pada Farel.
“Ia dokter. Saya kakaknya. Bagaimana keadaan adik
saja?” ujar Farel, balik bertanya.
“Secara medis ia baik-baik saja. Saya tidak
menemukan gejala penyakit yang menyebabkannya seperti itu.” Urai sang dokter singkat.
“Masa sih Dok ga bisa dideteksi secara medis? Masa
ade gue disantet?” Farel bergumam pada dirinya sendiri. Doter dengan mata
berbingkai itu tersenyum.
“Bukan, maksud saya mungkin adik anda mengalami
gangguan psikologis. Mungkin dia dalam keadaan tertekan atau mungkin strees.”
Tambahnya kemudian.
“Atau mungkin shock?” tanya Farel.
“Bisa saja.”
Farel sedikit berfikir. Lalu ia memutuskan untuk
menceritakannya.
“Dok, sebenarnya tadi abis magrib ade saya
melihat-lihat tabloid Hp dan gadget. Namu tiba-tiba dia seperti itu ketika dia
melihat harga HP yang diinginkannya. Apakah mungkin itu penyebabnya?” Farel
menjelaskan dengan serius.
“Hmmm, bisa saja. Lalu HP apa yang dia inginkan?”
tanya sang dokter. Kemudian tersenyum dan berlalu setelah Farel menyebutkan
salah satu tipe HP keluaran korea yang diinginkan adiknya.
Hingga pagi demam Fani belum juga turun. Sebentar
lagi waktunya minum obat, begitu pesan perawat beberapa menit yang lalu. Namun
ia belum kembali. Farel malah heran obat apa yang akan diberikan pada adiknya.
Padahal kemarin dokter bilang penyakit adiknya belum diketahui.
Sedetik berikutnya perawat tadi muncul, beserta
dokter yang kemarin berbicara dengan Farel. Tangannya membawa sesuatu. Tapi
bukan, itu bukan obat. Hampir menyerupai kotak, apakah….
“Farel, karena sakit adikmu ini luar biasa, coba
kamu berikan ‘obat’ ini padanya.” Pinta Bu dokter sambil menyerahkan kotak yang
dibawanya. Farel menurut.
Farel membangunkan Fani. Diperlihatkannya kotak yang
dipegangnya. Awalnya Fani tak menyadari, namun sejurus kemudian ia terbangun,
menjerit histeris, kegirangan.
“Waa, , Samsung Galaxy !!! buat gue Ka?” tanyanya
meyakinkan. Farel mengangguk ragu.
“Haaaa? Asikkk. Thank Ka.” Ucap Fani bersemangat.
Demam tak lagi menghalangi ekspresinya. Iseng Farel meraba kening adiknya.
Ajaib sudah tidak panas !! Alhamdulillah.
Dokter menyarankan Fani dibawa pulang. Farel tak
henti-hentinya berterimakasih. Dokter muda itu membalas dengan senyum, sambil
mengingatkan untuk menyelesaikan urusan administrasi.
Kedua kaka beradik itu langsung berkemas. Farel
terlebih dahulu membayar perawatan adiknya, Fani menyusul. Namun betapa
terkejutnya Farel saat melihat tagihan pembayaran. Rp. 4.500.000 !! emangnya
ade gue sakit apa? Tanyanya heran.
Niatnya untuk komplen urung saat ia meliat list
tagihan tersebut. Selain biaya rawat inap, di situ tercantum juga 1 dus book
Samsung Galaxy seharga Rp. 3.999.000 2
“Buset De.” Ujarnya pada fani.
“Apaan Ka?” tanya Fani.
“Liat nih, tau gini lu mending langsung ke konter
aja, gak usah ke rumah sakit dulu.” Farel ngedumel. Pantesan saja dokter tadi
Cuma mesem-mesem. Ternyata…
“Emangnya kalo gue langsung ke konter bakalan ada
duitnya Ka? Kalo gue ke rumah sakit dulu kan pasti ada.” Jawab Fani cuek,
memainkan barang barunya.
“Ah elu..” balas Farel, mau tak mau menguras kartu
kreditnya. “Tar gue laporin Papa lu.” Ujarnya di jalan pulang. “Eh, tapi lain
kali giliran gue ya De.” Lanjutnya. Fani nyengir kuda.
Note:
1. Alat
yang digunakan oleh orang tua jaman dulu untuk menanak nasi (daerah sunda)
2. Berdasarkan
Tabloid Pulsa edisi 235 Th X / 2012 / 30 Mei-12 Juni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar