Jumat, 09 November 2012

SAKITNYA, LUAR BIASA…




Siang itu matahari sangat terik. Fani yang baru saja sampai di rumah langsung membuka kulkas, mencari minuman dingin.
“Napa lu De? Dikejar guguk? Ampe ngos-ngosan gitu?” Tanya Farel, abang tunggalnya.
“Panas banget tau di luar Ka. Gua jalan dari gang ampe banjir keringet gini nih.” Jawab sang adik sambil mengibas-ngibaskan seragam putih-abunya.
“Oalah Deee, segitu mah cetek. Jaman gua sekolah nih, Gua malah jalan nih dari rumah ke sekolah.” ujar abangnya  sambil menjentikan jarinya.
“Ia jalan, pagi kan?!” tanya Fani sewot. Farel tertawa puas.
“Haduh gerah… gerah…” Fani mondar-mandir sambil mengipas-ngipas mukanya.
“Masuk kulkas sono.” Perintah Farel iseng.
“Ia bener !!” teriak Fani girang serasa mendapat ilham. Farel melongo !

Selesai shalat isya,  Fani menghampiri abangnya.
“Tabloid apa ni Bang?” tanya Fani pada abangnya yang asik maen PB.
“ Mana? Oh itu. Itu Tabloid HP. Tadi Abang beli pas pulang kuliah. Biasa, liat-liat harga HP sama gadget.” Jawab abangnya, tak melepaskan pandangan dari layar komputer.
“Wah asik donk. Gue pengen beli HP Samsung yang kaya di drama Korea itu loh. Berapaan yah Bang?”
“Lu liat aja sendiri di situ.” Jawab sang abang cuek.
Fani melihat-lihat, membolak balik lembar demi lembar tabloid yang dipegangnya. Sampai pada satu lembar, telunjuknya beraksi, mencari sambil komat kamit membaca huruf-huruf yang dilewatinya.
“Nah ni dia Bang. Samsung galaxy S Advance GT-i9070. Fiturnya keren bang. Nih baca…” Ujar Fani sambil menekuri artikel di hadapannya. “Harganya itu…” Fani tak menyelesaikan ucapannya. Dia malah cegukan, kaya orang keselek biji duren.
“Berapa harganya De?” Farel belum ngeh dengan apa yang terjadi. Kedua tangannya masih asik memainkan stik PS. Namun berhubung tak ada jawaban dari sang adik, Farel menoleh.
“De?” tangannya mengguncang-guncang bahu Fani. Tak ada jawaban. Ditepuk-tepuk pipinya, masih juga tak ada jawaban. Cegukan Fani makin hebat. Tak sengaja Farel melirik tabloid yang dipegang adiknya. Tepat ke arah telunjuk fani.
“Aduh, ni anak kenapa sih? Masa gara-gara liat harga HP ade gue jadi kaya anyan gini?” Farel bergumam, antara panik dan heran.
Di rumah hanya ada mereka berdua. Mama sedang ke Tasik, jenguk nenek yang sakit. Papa lagi tugas ke luar daerah. Itu yang bikin Farel garuk kepala, bingung.
Akhirnya Farel menerapkan pertolongan pertama yang sempat dipelajarinya saat mengikuti PMR di SMP dulu. Fani diberinya minum, kemudian dibawanya ke kamar, ditidurkannya. Meskipun sering adu mulut, Farel sayang banget sama adiknya. Apalagi kalo lagi gak ada Papa sama Mama kayak gini.
“Lu kenapa sih De?” tanya Farel sambil mengelus-ngelus rambut Fani. Cegukannya tak sesering tadi. Perlahan matanya tertutup, tidur.
Tak tega meninggalkan sang adik sendirian, Farel memutuskan untuk tidur menemaninya. Digelarnya tikar dan kasur, lalu merebahkan diri, bersiap menyusul adiknya ke alam mimpi.
Farel terbangun, denting jam menunjukan pukul 10 malam. Denting jam yang sama seperti malam-malam sebelumnya, tapi kali ini terdengar aneh. Seperti ada suara lain. Berasal dari pembaringan adiknya.
Farel bangkit, dihampirinya Fani. Mulutnya bergumam mengigau. Tubuhnya demam tinggi.
“Ka… gu..e le..mes ..” “Bisik Fani pelan. Nafasnya senin-kamis. Farel yang baru saja beranjak ke dapur,  mengurungkan niatnya untuk mengambil kompresan. Dihampirinya kembali adiknya.
“Lu pengen apa donk De? Lu kan belum makan dari siang. Gue bikinin bubur mau?” tanya Farel cemas. Fani mengangguk pelan.
Farel segera melesat ke dapur. Menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan. Tak sampai 5 menit, dia sudah kembali sambil membawa semangkuk bubur.
Fani masih mengigau. Didudukannya adik semata wayangnya itu. Disuapinya. Namun baru suapan ketiga, Fani bereaksi, muntah-muntah.
“Waduh, lu sakit apa sih De?” antara panik dan bingung, Farel akhirnya memutuskan untuk membawa Fani ke rumah sakit.
Di rumah sakit Farel mondar mandir, ga bisa duduk kaya aseupan 1. Hatinya gak tenang sebelum ada keterangan dari dokter yang memeriksa adiknya.
Krekkk, pintu terbuka. Wanita muda berseragam putih keluar dari ruangan itu, menghampiri Farel.
“Maaf anda keluarga pasien?” tanyanya pada Farel.
“Ia dokter. Saya kakaknya. Bagaimana keadaan adik saja?” ujar Farel, balik bertanya.
“Secara medis ia baik-baik saja. Saya tidak menemukan gejala penyakit yang menyebabkannya seperti itu.” Urai sang dokter singkat.
“Masa sih Dok ga bisa dideteksi secara medis? Masa ade gue disantet?” Farel bergumam pada dirinya sendiri. Doter dengan mata berbingkai itu tersenyum.
“Bukan, maksud saya mungkin adik anda mengalami gangguan psikologis. Mungkin dia dalam keadaan tertekan atau mungkin strees.” Tambahnya kemudian.
“Atau mungkin shock?” tanya Farel.
“Bisa saja.”
Farel sedikit berfikir. Lalu ia memutuskan untuk menceritakannya.
“Dok, sebenarnya tadi abis magrib ade saya melihat-lihat tabloid Hp dan gadget. Namu tiba-tiba dia seperti itu ketika dia melihat harga HP yang diinginkannya. Apakah mungkin itu penyebabnya?” Farel menjelaskan dengan serius.
“Hmmm, bisa saja. Lalu HP apa yang dia inginkan?” tanya sang dokter. Kemudian tersenyum dan berlalu setelah Farel menyebutkan salah satu tipe HP keluaran korea yang diinginkan adiknya.

Hingga pagi demam Fani belum juga turun. Sebentar lagi waktunya minum obat, begitu pesan perawat beberapa menit yang lalu. Namun ia belum kembali. Farel malah heran obat apa yang akan diberikan pada adiknya. Padahal kemarin dokter bilang penyakit adiknya belum diketahui.
Sedetik berikutnya perawat tadi muncul, beserta dokter yang kemarin berbicara dengan Farel. Tangannya membawa sesuatu. Tapi bukan, itu bukan obat. Hampir menyerupai kotak, apakah….
“Farel, karena sakit adikmu ini luar biasa, coba kamu berikan ‘obat’ ini padanya.” Pinta Bu dokter sambil menyerahkan kotak yang dibawanya. Farel menurut.
Farel membangunkan Fani. Diperlihatkannya kotak yang dipegangnya. Awalnya Fani tak menyadari, namun sejurus kemudian ia terbangun, menjerit histeris, kegirangan.
“Waa, , Samsung Galaxy !!! buat gue Ka?” tanyanya meyakinkan. Farel mengangguk ragu.
“Haaaa? Asikkk. Thank Ka.” Ucap Fani bersemangat. Demam tak lagi menghalangi ekspresinya. Iseng Farel meraba kening adiknya. Ajaib sudah tidak panas !! Alhamdulillah.
Dokter menyarankan Fani dibawa pulang. Farel tak henti-hentinya berterimakasih. Dokter muda itu membalas dengan senyum, sambil mengingatkan untuk menyelesaikan urusan administrasi.
Kedua kaka beradik itu langsung berkemas. Farel terlebih dahulu membayar perawatan adiknya, Fani menyusul. Namun betapa terkejutnya Farel saat melihat tagihan pembayaran. Rp. 4.500.000 !! emangnya ade gue sakit apa? Tanyanya heran.
Niatnya untuk komplen urung saat ia meliat list tagihan tersebut. Selain biaya rawat inap, di situ tercantum juga 1 dus book Samsung Galaxy seharga Rp. 3.999.000 2
“Buset De.” Ujarnya pada fani.
“Apaan Ka?” tanya Fani.
“Liat nih, tau gini lu mending langsung ke konter aja, gak usah ke rumah sakit dulu.” Farel ngedumel. Pantesan saja dokter tadi Cuma mesem-mesem. Ternyata…
“Emangnya kalo gue langsung ke konter bakalan ada duitnya Ka? Kalo gue ke rumah sakit dulu kan pasti ada.” Jawab Fani cuek, memainkan barang barunya.
“Ah elu..” balas Farel, mau tak mau menguras kartu kreditnya. “Tar gue laporin Papa lu.” Ujarnya di jalan pulang. “Eh, tapi lain kali giliran gue ya De.” Lanjutnya. Fani nyengir kuda.

Note:
1.      Alat yang digunakan oleh orang tua jaman dulu untuk menanak nasi (daerah sunda)
2.      Berdasarkan Tabloid Pulsa edisi 235 Th X / 2012 / 30 Mei-12 Juni





Tidak ada komentar:

Posting Komentar