Jumat, 05 April 2013

Ikan Teri yang Sombong


“Wah , ikan terinya naik pangkat.” Begitu komentar yang saya lontarkan saat berjalan-jalan bersama Farah. Kala itu kami sedang berada di salah satu supermarket di kawasan Rasuna Epicentrum. Kata “jalan-jalan” ini saya rasa lebih tepat dibanding “berbelanja”, karena kami memang saat itu hanya melihat-lihat.
Tergelitik untuk membuktikan statement bahwa harga suatu produk tidak hanya didasarkan pada row material yang digunakan, tetapi juga branding serta posisioning dari produk itu sendiri.
Mari saya contohkan dengan ikan teri. Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Saya rasa ikan teri cukup populer di kalangan masyarakat. ‘Dia’ adalah salah satu protein hewani yang biasa melengkapi meja makan para petani, buruh, dan masyarakat yang mempunyai profesi dengan ‘gaji’ rendah. Meski sering disepelekan, ternyata ikan teri mempunyai harga yang lumayan ‘keren ‘ juga di pasaran. Informasi terbaru yang saya dapatkan, ikan teri mempunyai harga Rp.64.000 per kilo. Menurut saya itu tidak sebanding dengan postur tubuhnya yang mini. Bahkan daging ayam di pasaran hanya dipatok Rp. 28.000 per kilo. Jadi sebenarnya mana yang menjadi makanan rakyat??
Oke kita abaikan dahulu mengenai gelar sebagai makanan rakyat. Mari kita lihat si tubuh mini ini saat dia telah masuk ke pasar modern. Oh ternyata harganya lebih mahal lagi. Dengan kemasan yang menarik dan minimalis, dengan sombong ‘dia’ membandrol dirinya Rp.22.000 per kemasan dengan bobot sekitar 1 ons. Woww.. amazing, right??
Jika saya menjadi orang awam, mungkin saya akan mengkritik habis-habisan ‘diskriminasi’ ikan teri tersebut. Namun posisi saya sekarang adalah mahasiswa ilmu dan teknologi pangan. Berdasarkan kuliah-kuliah yang telah saya jalani, saya mengakui packaging begitu berpengaruh merubah harga jual suatu produk. Begitu pula dengan merk atau branding. Kedua komponen ini yang menurut saya menjadi kekuatan utama dalam memasarkan produk. Eitss, namun jika teman-teman sekalian menjadi produsen di masa depan, jangan lupa untuk memperhatikan kualitas produk yang kalian pasarkan, apalagi produk makanan. Jangan sampai kemasan oke, namun produk yang dikemasnya tidak layak konsumsi.  (Riska/22/03)

Kamis, 04 April 2013

Risky


(ilustrasi)
“Payung, ojek payung..!!” beberapa anak kecil lewat di hadapan kami, dengan suara cempreng nan lantang menjajakan jasa ojek payung. Saat itu memang sedang hujan deras. Aku dan kelima teman saya baru saja keluar dari sebuah food court, bersiap pulang menerjang hujan karena hari telah merayap magrib.
Awalnya tak kupedulikan suara-suara itu, sebelum mataku menangkap sesosok tubuh kecil yang kurasa aku mengenalnya. Pelan aku berguman, Risky. Dan entah ketidaksengajaan apa yang membuat bocah itu menangkap gerak bibirku, menatapku barang sedetik, dan tersenyum. Kemudian tanganku tergerak untuk memanggilnya mendekat.
Selintas cerita di atas seperti potongan cerpen fiktif yang biasa aku tulis saat ide-ide bermunculan bak air bah. But it was really happen!! Risky adalah salah satu adik didikku yang tergabung dalam organisasi sosial Belajar Baca Quran. Kalo aku tidak salah ingat, saat ini dia duduk di kelas 4 SD 21 Jakarta. Setiap hari senin, selasa, dan rabu, dia bersama teman-teman ciliknya rutin belajar baca dan tulis Quran bersama kami.
Dulu, sedikitpun aku tidak menyangka akan menyentuh kehidupan Jakarta dari dua sisi. Satu sisi aku berhak bangga berkesempatan kuliah di universitas bergengsi sekelas Univ Bakrie. Dengan kelengkapan fasilitas yang serba ada di kawasan rasuna epicetrum, apapun yang aku inginkan sudah tersedia di depan mata. Namun mari kita lihat ke sisi lainnya. Saat ini aku tinggal di mentas, kawasan yang sama sekali berbeda dengan rasuna episentrum. Padahal kedua tempat ini hanya dibatasi tembok setinggi orang dewasa, dengan satu pintu kecil yang disebut “pintu surga-neraka” oleh para mahasiswa yang melewatinya, entah siapa yang pertama kali mencetuskan nama itu.
Sekolah dasar tempat Risky dan teman-temannya menuntut ilmu ini berada di kawasan menteng atas. Awalnya aku tidak pernah mengira bahwa kehidupan anak-anak ini begitu keras. Aku hanya mengira dengan mereka bisa bersekolah, berarti mereka adalah anak-anak yang mempunyai keluarga harmonis dan ekonomi yang berkecukupan. Hidup tenang dan damai tanpa beban untuk mencari uang, hanya bermain dan belajar, seperti masa kecilku dulu.
Namun kenyataannya memang berbeda. Dua kali saya bertemu dengannya di luar sekolah dengan menenteng payung besar. Berharap ada orang yang membutuhkan di tengah guyuran hujan. Menjajakan jasa agar orang-orang tidak basah kehujanan namun merelakan diri sendiri kuyup demi selembar uang. (terimakasih kepada Indah Eva yang telah memberikan ‘selembar’ yang Insyaallah berarti baginya).
Saya tidak tahu pasti apa kegiatannya di luar sekolah. benarkah hanya sebagai ojek payung? Bagaimana kalo hujan tidak turun? Apa setiap hari Risky harus berdoa supaya hujan turun agar dia mempunyai uang untuk dibawa pulang? Kemana saja saya selama ini sampai tidak menyadari adik-adik saya berlarian di tengah hujan deras, sementara saya hidup nyaman dengan kucuran dana dari orang tua?? (Riska/23/03)

Kamis, 07 Februari 2013

Journey to Tasikmalaya part 2

Hari kedua ini rencananya kami akan pulang. Tapi Farah masih sakit, belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan yang luar biasa melelahkan untuk balik ke rumah kita masing-masing. Jadi, kepulangan aku dan Farah dipending hingga esok hari. Okesip, its better, semoga bisa dimanfaatkan untuk sedikit melirik keindahan Tasikmalaya.
Alhamdulillah keadaan Farah membaik setelah lewat pukul 10, hehe. Akhirnya pukul 11 kami, Aku, Farah, dan Faisal, melaksanakan keinginan kami untuk pergi ke bukit belakang rumah Faisal.
Lets check our journey. *oia, agar lebih jelas, deskripsi perjalanan ini aku lengkapi dengan foto2 amatir yang telah kami ambil *
Perjalanan dimulai dengan menyisir pinggir sungai, dan kami menemukan ini !!! hahaha tulisan khas orang sunda.

Kemudian melewati jembatan, dan menanjak.
Baru beberapa langkah, kaki mulai terasa pegal. Hmmm maklumlah sudah lama tidak daki-mendaki. Ya sudah, istirahat dulu deh….
Perjalanan dilanjutkan. Mulai memasuki perumahan warga. Waahhh di sana masih terlihat desa yang jaman dahulu sekali. Masih banyak rumah-rumah panggung, ayam-ayam berkeliaran, anjing-anjing , juga ibu-ibu dan bapak-bapak yang memanggul kayu kering untuk kayu bakar. Semua nafas desa bisa ditemukan di sini. Haha bahkan saya sempat juga mengambil gambar dapros yang sedang dijemur, salah satu makanan tradisional orang sunda. ibu-ibu, mungkin pemiliknya, hanya melihat saja dengan heran. Maaf ya bu…
Kalau di kota, jika kalian berjalan melewati penduduk, ya lewat saja. Nah kalau di desa tidak bisa begitu. Bisa-bisa kita dilempar sendal jepit !! eh becanda deng, hehe. Maksudnya, kalo kita lewat warga kurang dari 2 meter *aproksimasi berdasarkan pengalaman*, ya harus bilang punten, kalau dalam bahasa Indonesia berarti permisi. Penduduk di sana sopaaaaan sekali. Beberapa kali kami disapa dan ditanya mau pergi ke mana. Mereka berbicara dengan bahasa sunda. Untung saja aku dan farah berasal dari sunda juga. jadi tidak gelap gulita menangkap apa yang mereka maksud. Lucunya mereka menyapa setiap orang asing dengan bahasa mereka tanpa peduli orang yang disapa mengerti atau tidak.
Oia, kita naik ke bukit itu sebenarnya tanpa tujuan. Pokoknya ingin sampai ke hutan pohon pinus. Perkara nama tempat dan jauhnya kami tidak tahu. Bahkan Faisal yang pernah sampai sana pun lupa seberapa jauh tempat itu. Jreng jreng, dan kita terus berjalan.
Di perjalanan kami menemukan tukang es cincau. Kalian tahu berapa harga jual es cincau di sana? Just Rp. 1000 !! its so cheap right? Di jakarta? mana mungkin kita menemukan yang seperti ini. Ayo kita tester.. Hahaha
Nah, dari bapak penjual inilah kami menemukan bayangan bahwa hutan pohon pinus itu jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada saat itu. Waah nambah semangat nih. Apalagi disponsori dengan es cincau ala bapak…. *eh bapak apa yah namanya??? :P
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, entah berapa langkah yang kami ambil, pohon pinus belum terlihat batang hidungnya. *emang punya idung?? :P *. Yah, capek mulai terasa lagi. kami memutuskan untuk bertanya pada tiga ibu yang kebetulan lewat membawa kayu kering.
Farah: “Bu punten, ari hutan pinus tebih keneh henteu ti dieu?”
“Bu maaf, kalau hutan pinus masih jauh dari sini?”
Ibu: “Uh tebih keneh Neng. Engkin pami atos ngalangkungan jalan cagak, nembe tiasa mendakan hutan pinus.”
“Uh masih jauh Neng. Nanti kalau sudah lewat pertigaan, baru bisa menemukan hutan pinus.”
Aku: “Oh kitu nyah Bu? Janten tebih keneh ti dieu?”
“Oh begitu ya Bu, jadi masih jauh dari sini?”
Ibu: “Muhun Neng.”
“Ia Neng.”
Nah kurang lebih begitu percakapan kami dengan 3 ibu perkasa itu. Jawaban yang mau tidak mau membuat kami lemas juga. Ialah, sudah jauh, capek, peluh bercucuran entah sudah berapa liter *eh lebai, haha*.
Tapi kami terus berjalan, dan kalian tahu apa yang kami dapatkan di depan? Kebun kopi !! Ya, meski tidak sampai ke hutan pinus, kami menemukan kebun kopi yang saaaaangat indah. Rasanya kalau tidak berbahaya, aku ingin berguling-guling merasakan indahnya kebun ini. huaaaaa, penat hilang !! :D
Time to take photos..

Oke, waktu habis. Kami harus kembali ke rumah Faisal. Kalau lama-lama di atas sini, bisa-bisa kami tidak dapat jatah makan siang *eh :P .
Nah perjalanan menuruni bukit ini tidak memakan waktu terlalu lama, kalau ingin lebih cepat pun bisa sebenarnya. Tinggal melemparkan badan ke bawah sana. Sampai deh, ke rumah sakit !!
Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali dengan ibu yang tadi kami tanyai. Dia bertanya apa kami sampai ke hutan pinus atau tidak. Kemudian dia juga menawarkan kami untuk singgah di kediamannya. Namun kami menolak dengan halus. Kami sampai di rumah Faisal pukul setengah tiga sore.
***
Hari ketiga. Time to go back. Sudah terlalu lama aku dan Farah bermukim di rumah Faisal, numpang, makan, numpang mandi, numpang tidur. Untuk tidak ada tagihan bon yang harus kami bayar, hehe.
Pukul 7.30 kami berdua menuju terminal Garut, diantar oleh Papa Faisal. Kalian tahu bagaimana keadaan kami di angkot? Seperti orang mabuk !! medan yang menanjak dan berputar membuat aku dan Farah merasa mual dan pusing. Padahal ini belum apa-apa. Masih ada berkilo-kilo meter lagi jalan yang harus dilewati. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali memanggil Doraemon….
Di terminal kami sempatkan untuk sarapan. Sebenarnya makan pun tak berselera, melihat nasi malah ingin muntah. Tapi kami harus makan !!
Perjalanan dengan bus dimulai pukul 9 pagi, setelah sebelumnya Papa Faisal mengantarkan kami ke pintu bus. Beliau berpesan agar kami turun di Rancaekek, dan mencari bus Budiman jurusan Bogor dan Sukabumi. Oke siap.. !! But, bapak di samping tempat duduk kami menyarankan untuk turun di Cileunyi. Khawatir bus yang kami cari tidak ditemukan di Rancaekek, yang berarti akhirya kami harus menuju Cileunyi juga. Ah dasar masih labil, aku manggut aja ikut saran bapak yang barusan. Farah apalagi, sudah pasrah mengikuti keputusanku, hehe.
Dari terminal Garut ke Cileunyi ternyata bukan perjalanan main-main. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam, mungkin lebih. Di Cileunyi kami turun, celingak-celinguk mencari bus yang bisa membawa kami pulang ke hometown masing-masing. Tapi jangankan busnya, knalpotnya saja ga ada. Hanya ada 3 atau 4 bus hijau jurusan Jakarta yang berjajar . Bingung sudah sejak tadi, panik mulai menjalar. Jiwa petualanganku sesaat menciut, membayangkan tersesat di kota Bandung, berdua, dengan uang pas. Haha
Takut bertanya, tak bisa pulang. Aku memberanikan diri berdialog denga salah satu kernet bus. Beliau dengan antusias malah menyarankan kami naik bus jurusan jakarta tersebut. Karena tidak punya pilihan, akhirnya aku memutuskan untuk naik. Juga Farah. Di bus aku masih bawel bertanya bagaimana cara kami sampai ke Bogor dan Sukabumi. Kata sopirnya, kalau ke Bogor, nanti turun di Ciawi. Kalo ke Sukabumi nanti turun di Jekbrog, kemudian disambung dengan bus Bandung-Sukabumi. Bahkan Jekbrog saja aku baru mendengar, di mana itu?? Oh ternyata tempat itu ada di Cianjur.
Sedikit memutar otak. Kalau aku turun di Cianjur, berarti kami berpisah. Kemungkinan tersesat jika sendiri lebih berbahaya. Lagipula aku belum pernah melakukan perjalanan sendiri dari Cianjur ke Sukabumi. Berbeda dengan Ciawi yang selalu aku lewati saat pulang ataupun berangkat ke perantauan di Kuningan sana. Sepertinya emang niat awalnya mengantarkan Farah ke Bogor juga, akhirnya aku memutuskan untuk turun di Ciawi, meski memakan waktu yang lebih lama. Tak apa, setidaknya lebih aman untuk kami berdua.
Dan bus pun melaju. Kami duduk paling depan, di samping sopir, di atas additional chair. Amazing, seperti naik roller coaster. Dan setelah beberapa saat kami baru sadar bahwa bus yang kami naiki adalah bus ekonomi !! aku berbisik pada Farah,” untung engga ada ayam ya. Ra.” hehe.
sepuluh menit pertama, masih bisa enjoy. Masih tertawa-tawa dan mengobrol. Menit berikutnya mulai lemas. Untung tidak mual seperti tadi. Hanya saja pegal dan kantuk mulai menyerang. Sebisa mungkin kami halau dengan ngemil-ngemil makanan !!
Perjalanan berlanjut. Melewati toll Padalarang, Puncak, jalan penuh tikungan dan menurun, jalan bagus, jalan jelek, jalan lancar dan macet, aku rasa semua jenis jalan kami lewati. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di Ciawi.
Perjalan dari Ciawi ke rumah tidak terlalu asik untuk diceritakan. Aku terlalu lelah untuk memperhatikan keadaan sekitar. Oia, ada satu yang tak mungkin aku lupakan. Ada anak kecil yang berkali-kali muntah di sampingku. Kalian tau bagaimana rasanya?? Aku terus berusaha berfikiran bahwa aku tidak ada di tempat itu saat itu, melainkan sedang berada di suatu tempat yang indah dan nyaman bernama kamar tidur. :P

Journey to Tasikmalaya part 1

Journey to Tasik Perjalanan dimulai pukul 7 malam, dari Cawang. Bus bercorak merah milik Primajasa mengantarkan kami menuju kota tempat tinggal Faisal, Tasikmalaya Jawa Barat.
Masih di bilangan Jakarta, kemacetan jalan tak mampu dihindarkan, maklum weekend. Saat memasuki jalan toll, bus mulai melaju lancar, saatnya untuk tiduuuuuur…
Sampai di terminal Garut sudah tengah malam. Papa Faisal menjemput kami berempat. Huaaah, ternyata tempat yang kami tuju masih perlu waktu sekitar setengah jam lagi. Padahal mata ini sudah merindukan kedamaian kamar tidur, dan perut sudah menagih jatahnya sejak tadi. Hehe. Untung saja Papa Faisal mengerti kegalauan kami, beliau menyarankan kami untuk mampir di salah satu kedai nasi goreng. Thanks Pa..
Pukul setengah 1 malam, *jika tidak salah ingat*, kami sampai di rumah Papa faisal. Alhamdulillah, langsung saja menuju kamar yang telah disediakan, dan tiduuur…. !!! eh belum salat, capcus kamar mandi dulu deh.. :D
***
Hari pertama yang rencananya akan dimanfaatkan untuk mengobrak-abrik kota Tasik terpaksa dibatalkan. Dua personil kami tepar, mabuk perjalanan mungkin.. :p okelah, kita habiskan hari ini dengan berdiam diri di rumah, , capek sekali….
Kita belum sarapan loh, bangun saja pukul 9, hehe. Habisnya suasana mendukung, sejuuuuk sekali, lelah dan mengantuk pula. Yasudah deh selesai solat subuh kembali tidur.
Oia, di rumah Faisal ini tidak ada perempuan, hanya ada kakek, papa, dan Mas Gilang. Nenek lagi pergi ke Jakarta. Tidak ada perempuan its mean tidak ada yang masak !! hiatttzz kita beraksi Farah.. :D
Nah, Papanya Faisal sudah menyediakan ikan siap goreng. Ada cabe hijau di belakang rumah, dan juga kecap di meja makan. Tak terfikir sebelumnya untuk membuat ikan goreng sambal hijau, but inilah hasilnya

Selesai makan, masih juga tergoda saat melihat ada yang berjualan cilok di sebrang jalan. Oke deh, ini liburan, ayo bersenang-senang !!
Makan cilok sambil nonton tv di ruang tamu, menatap rintik hujan di balik jendela juga, akhirnya mengantarkan aku, Farah, dan Faisal ke alam mimpi. Pukul setengah 12 siang.
Hari pertama ditutup dengan makan mie rebus buatan Mas Gilang, kakak Faisal.
***

Senin, 21 Januari 2013

Cloudy Day

Rere menatap lekat boneka beruangnya. menggoyang-goyangkan kepalanya seolah mengajak berbicara,
"Bear, kamu tahu? hari ini 3 orang terdekatku sakit. Reza sejak kemarin demam, Mas Angga tadi pagi kecelakaan motor, lalu Arsad juga tadi sore tiba-tiba demam." Ia menghentikan ucapannya. Memberikan kesempatan si beruang untuk menimpali. Namun hanya hening.
"Ajaib kan, Bear? terjadi dalam waktu yang bersamaan." Rere menghela nafas berat, "Aku sedih. Disaat Reza sakit, aku bahkan tak bisa sekedar menghiburnya, mood ku sedang tidak baik, Bear."
"Lalu mas Angga.sesaat setelah kecelakaan itu, dia bahkan sempat-sempatnya meminta maaf karena tidak dapat membawakan kamus yang aku pesan." mata Rere mulai berkaca, "Dan Arsad juga sakit, Bear. kenapa harus sekarang? kenapa saat aku dengannya sedang tidak baik dia malah sakit? aku bersalahkah, Bear? terlalu kasar padanya? hatiku belum ingin berbaikan dengan Arsad. Tapi peristiwa ini tak urung membuatku sedih juga."
Lama hening, hanya isak tertahan yang terdengar. Beruang putih itu menelungkup, memeluk Rere seakan faham kesedihan yang Rere alami. Dia merelakan dirinya kuyup menampung tangisan sang majikan tunggalnya itu.
"Deza juga, Bear. Dia semakin menjauh saja dari aku dan Fini. Melirik dengan lirikan nyinyir seakan kami adalah benda busuk yang perlu dijauhi. Menatap tajam ibarat vonis hakim kepada napi. Dia bahkan tak mempercayai lagi kami sebagai pendengar kisah hidupnya. Deza sudah berubah, Bear. Aku sedih, tapi kebencian ini semakin kentara. Apakah normal? namanya kini masuk ke dalam black list ku. Aku tak ingin mendnegar namanya lagi. Aku tak mau melihat wujudnya lagi. Aku benci, bear !!"
Rere kembali menangis, menutup curhat satu arahnya malam itu.

Minggu, 20 Januari 2013

Pelangi merindu

Aku rindu sesuatu.. tapi entah apa.. Aku merindukan rumah, tapi lebih dari sebuah gubuk tempatku berkumpul dengan keluarga. Aku merindukan mama dan bapak, tapi lebih dari orang tua yang selalu ada untukku. aku merindukan apa? rasanya hampa, apa yang aku mau? aku pun tak tau. sebersit aku ingat masa-masa silam, tapi itu tidak akan kembali lagi kan? Kata orang, hidup itu harus menatap masa depan, tapi aku ingin kembali ke masa lalu. Mengenang indahnya hidup dengan kebersamaan..

Kamis, 10 Januari 2013

Open House Ub 100113

Terlambat bangun !! Selalu begitu di hari libur. Tak peduli akan ada kegiatan di luar atau tidak. Pikiran sudah diseting bahwa hari ini libur, dan saya berhak tidur kembali di pagi hari.
Ini hari kamis, seperti yang sudah saya bilang, hari ini libur. Tapi, di kampus ada even ynag harus saya ikuti, open house UB. Sebenarnya bukan kewajiban sih, tapi karena sudah mengusulkan diri untuk ikut andil, ya saya harus tanggung jawab dong.
Bertiga, aku, Farrah dan Faisal, yang akan hadir hari ini. Sebagai anak sulung prodi baru, kami harus berusaha mencerminkan image sebaik mungkin pada adik-adik yang akan datang hari ini. oleh karena itu, kami ingin membuat sesuatu yang bisa menarik minat mereka untuk mengenal prodi ini, ilmu dan teknologi pangan.
Pagi sekali aku bangun. Dingin yang menerpa, tentu. Dengan nyawa yang masih ngawang-ngawang, aku menggedor kamar farah, bertanya kapan akan belanja ke pasar.
Pintu terbuka, muncul sesosok farah yang sebagian nyawanya masih di alam mimpi juga. *Hehe peace Ra, aku kira kau sudah bangun sebelumnya.
Karena sang partner belum siap untuk menginjakan kaki di luar kosan *sebenarnya masih ingin memeluk bantal juga :D , aku melesat ke kamar dan…… kembali tertidur. Hingga pukul DELAPAN !! Saat bangun, melirik jam, langsung bangkit. Masih mengerjap-ngerjapkan mata, tidak percaya bahwa si kaki tiga sudah berlari jauh, melewati angka 8.
Aku dan Farrah pergi belanja pukul 9. Maksud hati ingin membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan. Namun apa daya yang didapat hanya permen (sebagai souvenir), dan karton putih. Sterofoam, karton hitam, pita dekor, dan play dough belum kami dapatkan. Masya Allah… Faisal yang direncanakan sampai kosan pukul 9 pun masih tertahan macet di Ciputat. Tahu kan seberapa lama Ciputat Kuningan?? Itu bukan sesuatu yang bisa ditunggu. Akhirnya, kami memutuskan untuk sarapan dahulu.
Teng, jarum jam terus berputar. Sudah pukul 10 lebih faisal belum juga terlihat tanda-tanda kedatangannya. Lalu, Farrah dengan ketulusan hatinya *cieee, berinisiatif untuk pergi ke pasfes sendiri mencari bahan yang kurang, sementara aku mempercantik souvenir.
Satu jam kemudian Farah kembali, dan Faisal belum juga datang !! Rencana diubah. Seperti yang diajarkan film-film action James Bond, kita harus punya plan B. dan itulah yang aku lakukan bersama Farrah. Sementara tangan sibuk mengerjakan apa yang diperintahkan otak, dengan dagdigdug kepanikanku, HP malah sibuk menerima telpon dari Denny, mengabarkan bahwa kami sudah sejak tadi dicari dan ditunggu Ka.Prodi untuk menangani stand. Hingga akhirnya Denny bilang bahwa Bapak yang menyiapkan semuanya.
Jelbb!!! Perasaan bersalah semakin menyusup. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang setengah jalan -yang juga menjadi alasan mengapa kami telat- sementara kami datang dengan tangan kosong. Ya sudah, aku bilang ke Denny kalau kami sedang jalan ke kampus *untuk menenangkannya, padahal kami pun sama sekali tidak tenang.
Keadaan yang sudah kalut, semakin kacau saat ibu kos tiba-tiba muncul di tangga dengan sikap berunagnya. Aku yang merasa tidak punya salah padanya hanya bilang maaf untuk sejenak rumah kosnya berantakan. Ternyata bukan itu yang membuatnya geram. Aku dan Farrah mengizinkan laki-laki untuk berada di depan kamar kos kami (kamarku dan Farrah berada di lantai 2, dan itu daerah terlarang untuk ikhwan). Oh My God !! aku lupa Faisal itu laki-laki. Hehe maaf Mas Faisal.
Dalam keadaan normal mungkin aku akan merasa bersalah. Tapi ini tidak. Aku malah ikut mengomel di belakang ibu kos, tentu dengan bahasa yang tidak dimengertinya. bergegas kami berkemas dan meluncur ke kampus.
Singkat cerita, kami bertiga sampai di kampus, berurutan dari Faisal, aku dan terakhir Farrah. Sudah banyak orang memang. Dengan nafas yang ngos-ngosan, aku bantu Faisal dan Denny menempel-nempelkan ‘prakarya’ kami. Sekilas kulihat kekesalan Bapak masih tergurat. Ya Allah. Akhirnya selesai juga. Meski sangat terlambat untuk sebuah persiapan, tapi masih bisa dikatakan tepat untuk ukuran acara. Alhamdulillah.
Buat Bapak
Maaf ya, Pak. Kami tidak bermaksud telat dan buat Bapak kesal. We will better later. Promise jari kelingking deh. 
Buat Mas Ivan dan Mas Kurnia
Thanks sudah membimbing dan membantu.
Buat Denny
Makasih ya sudah handle tugas kita. Yu ar awer epriting lah. 
Buat Farrah dan Faisal
Not too bad job. We can still repaire it for next season. 
Buat Gayu dan Yunita
Thanks sudah hadir membantu.. 
Buat ibu kos
Bu, sanes abdi teu ngartos aturan anu aya. Tapi pan abdi kitu oge lantaran aya alesanana. Da biasana oge tara ngajak-nagjak pameget ka luhur atuh. Sing nagrtos atuh, Bu. Nya mangga ari Ibu masih ngomel-ngomel mah, abdi mah bade ngalih wae, da seueur ieuh kosan mah, sanes di Ibu hungkul. 
And the last but not least, hehe Thanks for Mas ZCA yang sangat-sangat membantu kelancaran sepak terjang anak pangan. Hahaha

Note: Ra, lain kali kalo ga ada uang kecil buat bayar ojek, jangan gadein kunci kosan lagi ya :P hehe

Selasa, 01 Januari 2013

malam ini...

Kini aku menulis karena hanya aku ingin menulis. Biarlah tak usah ada editing karena ini tulisan murni, buka sebuah karya ilmuaih yang karus rata kanan kiri, spasi 2, dan penempatan huruf kapital yang sesuai.
Kalo berbicara perasaan pasti akan berhubungan dengan hati. Karena perasaanku yang sedang tidak menentu, maka aku kaan bilang kalo yang sakit saat ini adalah ahtiku, bukan lutut, kaki, atau bahkan otak *gila lah kalo otakku yang sakit.
Aku tidak akan menghubungkan yang kualami sekarang dengan kejadian serupa yang mungkin dialami juga oleh kalian. Ini real yang aku alami sekarang. Dengan sedikit penghalusan dalam bahasa serta penyamaran sang objek.
Waktu itu, aku sangat bahagia karena akan berbuat sesuatu yang akan mengejutkan dan membuatnya senang. Makhluk pemakan roti bilang sih surprise. Jreng jreng. Tujuanku berhasil, setidaknya menurutku begitu.
Ternyata dalam kebaikanku ini ada modus. Manusia, manusia, kapan kau berbuat baik tanpa pamrih?? BESOK !! *ngakak. Aku memperhatikannya, menyiapkan segala untuknya karena aku ingin dia pun berbuat lebih padaku. Wajar? Atau kurang aja?? Sepertinya pilihan yang kedua, ya kah?
Aku mau tanya, kalo kalian sudah memperlakukan teman kalian spesial, apa yang kalian harap? Kebaikan balik kan? Sakit ga kalo ternyata dia lebih mementingkan orang lain yang bahkan tidak sespesial kita dalam memperlakukan dia? aku rasa kalian pun akan menganggukan kepala.
Sepele kan masalahnya? Tapi kalo sedang dialami sendiri ini akan membawa efek yang dahsyat. Mual-mual, migran, alergi (ketemu orangnya, balas smsnya, angkat telponnya) dan gejala lainnya. Ajaib, karena hal sepele bisa begitu berpengaruh.
Mungkin bukan hanya aku yang saat inin merasakannya. Mungkin juga kalian. Atau bahkan aku yang menjadi objek menyebalkan itu bagi kalian? Maafkan saya sodara..

Sabtu, 15 Desember 2012

Kakak...

Kakak,
Mengapa kau membutakan matamu padaku?
Namun aku maklum
Aku akan berada di belakang garis yang kau izinkan
Tapi kakak, aku kecewa padamu
Mengapa malah kau buka ruang untuknya?
Dia yang sama sekali bukan yang kau ceritakan,
Bukan yang kau refleksikan dalam harapmu,
Bukan yang kau tuntut dariku,
Kakak,
Apa kau menyadarinya?
Meisya menutup diary putih-ungunya. Masih dengan berlinang air mata, dilemparnya bantal dan guling serta benda-benda ‘ringan’ yang bisa dijangkaunya. Hatinya dongkol sedongkol-dongkolnya. Apa sih yang bikin gadis imut ini uring-uringan sendiri? Check it out !!
Sepulang kuliah tadi, Mey langsung masuk kamar, membanting pintu, dan mengunci diri dari dalam. Pasalnya ketika istirahat tadi dia melihat Kak Vian digandeng seorang temen ceweknya. So what?? *pasti kalian nanya gitu kan?? Hayoo ngaku… !!! haha
Begini, Mey itu awalnya seorang gadis kaya yang tidak begitu peduli dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Shalat aja kadang-kadang, kalo lagi inget, kalo lagi pengen, dan kalo lagi patah hati setelah diputusin pacar. Ckckck.
Ajaibnya, ketika masuk perguruan tinggi, Mey yang tidak bisa dibilang feminim itu naksir berat sama Vian, semiornya yang anak rohis. Menyalahi kodrat kah?? Sepertinya tidak begitu. Karena sejak Mey menerima jawaban atas perasaanya terhadap Vian, Mey mulai merubah hidupnya, 180 derajat, meski perlahan. Orang rumah sudah sangat bersyukur karena Mey tidak lagi meraung-raung saat permintaannya tak dipenuhi. Tetangga-tetangga merasa tenang karena balita-balita mereka tidak lagi menagis menjerit saat berpapasan dengan Mey yang sengaja memasang tampang menyeramkan bila bertemu mereka. Teman-teman Mey di kampus juga bahagia dengan perubahan Mey itu. Hanya beberapa gelintir orang yang bermuram durja karena Mey lebih sering mampir di mushola daripada gabung bergosip ria dengan mereka. Padahal tak banyak yang diucapkan Vian waktu itu. Hanya “Kakak ingin mempunyai pasangan hidup yang sholehah, De, bukan pacar. Tapi untuk mendapatkan bidadari sholehah, kakak harus berjuang untuk menjadi pribadi yang sholeh dahulu”.
Sejujurnya Vian tak pernah menduga akan ada wanita yang terang-terangan mengatakan isi hatinya pada dirinya. Namun ia lebih terkejut saat menyadari Meisya, gadis itu, berubah total sehari selepas pembicaraan dengannya di lobi depan kampus. Sungguh hatinya sangat bersyukur, meski ada perasaan khawatir terselip dalam hatinya, apakah Mey berubah karena dirinya?
Kurang lebih 1 bulan Mey hijrah. Susah payah ia melangkah meninggalkan segala kesuraman di masa lalunya. Tak apalah ia sedikit merenggang dengan kawan lamanya, toh di Rohis ia menemukan lebih banyak sosok bidadari-bidadari mulia yang menawarkan ukhuwah lebih dari sekedar teman. Tak apalah ia menahan gerah dengan benda baru yang bertengger menutupi mahkota indahnya.Tak apalah ia harus bersikap sedikit anggun dan menjaga pandangan terutama di depan kaum adam. Mey siap melewatinya, Mey siap berubah menjadi seperti bidadari harapan Vian.
Namun titian yang disusunnya hancur seketika. Ia terjatuh terjerembab dan terluka (aisshhh bahasanya) Begitu tega Vian menelan ucapannya sendiri. Vian bukan seorang cowok yang akan dengan mudah tergoda untuk berjalan bersama wanita bukan muhrim, apalagi bergandengan tangan. Tapi tadi apa? Jelas-jelas ia melihatnya digandeng perempuan berambut pirang keluar dari ruang 7. Memang wanita itu yang menggandeng, tapi Vian pun terlihat enjoy dan tak menolaknya. Ini gila !! jerit Meisya frustasi.
Ternyata betul kata Mbak Esti. Setiap perubahan yang dikarenakan oleh makhluk Allah itu tidak akan kekal. Pasti akan dikecewakan suatu hari saat sang sebab berbuat tak sesuai dengan harapan kita. Sudah sejak lama juga Mbak Dewi mengingatkan Mey untuk berubah karena memenuhi kewajiban sebagai insan yang bertaqwa kepada Allah. Namun Mey keukeuh pada pendiriannya, Kak Vian tujuannya. Baru sekaranglah terasa akibat dari kesalahannya dalam berniat itu.
Lama termenung di dalam kamar membuat perut keroncongan juga. Tapi Mey belum berniat bangkit. Sudah berlembar-lembar tissue berserakan di lantai kamarnya yang meriah itu. Tabiat jeleknya kembali muncul, kebiasaannya setiap kali putus dengan sang pacar.
Sempat terfikir untuk kembali ke jaman jahiliyah. Kembali melepas jilbab dan berbuat urakan seperti masa-masa SMA nya. Namun hidayah yang terlanjur melekat tak rela untuk kembali pergi. Syukurnya Mey masih diberi kesempatan untuk berfikir sehat. Mey tidak ingin usahanya merintis menjadi orang baik selama ini kandas sia-sia. Hanya karena seorang makhluk tuhan, sama seperti dirinya. Tidak ada yang pantas mengahancurkan hatinya. Tak ada yang boleh memupuskan langkah-langkah baiknya, pun itu berwujud Kak Vian.
The End

Rabu, 12 Desember 2012

Kebal..

Saat-saat pertama berada di jakarta, terutama saat di angkutan umum, saya selalu menyediakan uang kecil pecahan Rp500,- dan Rp1000,-. Kenapa ? karena saya selalu tidak tega untuk tidak memberi pengamen atau peminta-minta yang beredar di sekitar saya saat itu. Ternyata hal itu tidak berlangsung lama. 1 bulan di sini saya sudah kembali terbiasa dengan suasana Jakarta yang seperti itu. tidak lagi repot merogoh dompet mengeluarkan uang receh untuk mereka. sepertinya saya sudah kebal karena terlalu banyak yang mengamen dan meminta.Oleh karenanya saya merasa itu adalah hal yang biasa di sini dan tidak lagi mencuri perhatian saya. Namun di hati kecil terkadang saya berfikir kemana nurani saya? tapi pada detik itu juga ego akan berkata'seberapa banyak yang harus kamu keluarkan untuk mereka sedangkan kamu saja masih bergantung kepada orang tua kamu'. Wallahualam...

Jumat, 30 November 2012

Fisika...

Hmmm, , lagi-lagi dingin.masih 8.00 am, 60 menit lagi waktu yang harus kulalui, bersabar hingga kelas ini berakhir.
Sebenarnya untuk apa saya duduk di sini? terbengong sedari tadi dengan pikiran yang sama sekali tidak terhubung dengan apa yang sedang dibicarakan sang dosen. sepertinya hanya raga yang berada di ruangan ini, sedangkan pikiran sudah melanglang buana keluar dari ruangan kotak yang memenjara ini. 
Bapa dosen, maafkan saya. Bukannya saya tidak menghormati anda. Bukannya saya tidak ingin bertanya tentang materi yang tidak saya mengerti. Tapi saya terlampau bingung, karena terlalu banyak materi yang bapa ajarkan, yang kesemuanya tidak saya mengerti.
Waktu lalu, saya memang tidak terlalu mengambil pusing dengan ketidakmengertian saya, Pak. Namun saya sekarang ingin berubah. Saya sudah berusaha untuk mencintai dan memahami semua materi yang Bapak ajarkan. Namun mengapa begitu sulit untuk menebus kesalahan saya itu, Pak?? Apakah karena saya terlanjur men-judge Bapak dan mata kuliah yang Bapak ajarkan sebagai sesuatu yang menakutkan dan perlu dihindari??
Waktu saya untuk berlari tinggal beberapa minggu lagi. Sangat singkat.  Terimakasih untuk setiap motivasi yang Bapak berikan. Meskipun dengan ucapn-ucapan Bapak itu hati saya terasa perih. Saya tidak membenci Bapak, tapi saya membenci diri saya sendiri karena sulit menerima materi yang bapa ajarkan.
Percaya atau tidak, karena Bapak, saya merasa menjadi orang paling bodoh saat ini. T_T

Question

Pernahkah kalian berada dalam titik kebosanan yang luar biasa terhadap sesuatu?
Pernahkah kalian merasa menjadi orang paling bodoh dan tak berguna?
Apakah kalian juga pernah merasa  menjadi satu-satunya orang yang beruntung namun tidak memanfaatkan keberuntungan itu?

Selasa, 27 November 2012

My Diary




Ini kali pertama aku bertemu dengan calon teman-teman baruku. Yups, gathering ini sengaja diadakan, bahkan sebelum ospek digelar, guna mengakrabkan camaba yang notabene sudah akrab di dunia maya.
Kulihat sekeliling, BMK sudah dipenuhi oleh bocah-bocah peralihan. Peralihan dari remaja ke dewasa serta peralihan dari daerah ke ibu kota. Semakin mataku berkeliling, semakin banyak wajah yang kulihat. Saling melempar senyum, menyapa, beramah tamah. Namun ada yang belum aku temukan. Sosok itu.
Acara berjalan lancar hingga akhir. Dan selama itu pula sosoknya belum kutemukan. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan menemukannya andai saja Reliza tidak memberitahuku di mana dia berada.
Setelah acara berakhir, kita semua bubar. Ku sempatkan untuk menghampirinya, menyapanya. but what did I get? Just smile. Jlebb !!!
***
Berbulan-bulan hubungan kami baik, lebih dari baik malah. Hanya saja beberapa kali terjadi benturan yang menyebabkan pertemanan kami retak. Namun selalu hanya sesaat. Selalu ada maaf. Itu semua terjadi karena pengakuan saling sayang yang entah berawal dari mana. Ya, aku sayang Reza meski semua orang tahu aku telah memiliki Arsad. Tapi itu tak mengurangi rasa sayangku pada pacarku itu. Aku menyayangi 2 laki-laki yang berbeda di saat yang sama. Itu gila !! suatu kegilaan yang baru sekarang aku rasakan.
Reza baik. Lebih dari baik untuk ukuran seorang teman. Apakah hanya modus?? Aku  akan mengetahuinya kemudian. Tapi Reza tak pernah memintaku untuk menjadi seorang pacar, itu yang membuatku menghargainya, karena ia menghargai hubunganku dengan Arsad. Meski berkali-kali dia menjauh karena mempermasalahkan statusku. Sebenarnya ia tidak bersalah, namun aku takut dia akan selamanya hilang dari hidupku, seandainya ia terus merasa menjadi orang ketiga. Publik terus bergunjing mengenai tindakan kami itu. Ia yang lebih sering berhadapan dengan para penggosip yang sok tahu ketimbang aku. Dia juga yang berusaha lebih tuli menanggapi mereka ketimbang aku. Dan dia juga yang berusaha lebih sabar ketimbang aku. Ah, memang aku belum sukses untuk disebut dewasa.
***
Kutimang-timang ponselku, ragu antara ya atau tidak. Sore ini begitu bosan. Berdiam seorang diri di tempat kost adalah hal terburuk dalam sejarah. Seperti seorang pesakitan saja.
“Halo…” Sapaku menggantung. Kerinduanku padanya telah membutakanku, hatiku berkata ya untuk menghubunginya.
“Ya Re, ada apa?” Tanyanya.
“Emhh, ada acara ga Lo sekarang?” Lanjutku.
“Kosong. Kenapa? Mau ngajakin jalan??” Ujarnya sambil tertawa.
“Huuuu enak aja, emangnya Gue cewe apaan?” Balasku, pun sambil tertawa.
“Lo kan cewe jadi-jadian !!” Ungkapnya, semakin puas dengan tawa setannya.
“Sialan !!” Aku tertawa. Suasana mulai menghangat, “Temenin ke luar yuk. Bosan di sini.” Lanjutku.
“Kemana?” Tanyanya singkat.
“Emhhh, kemana aja deh, yang jelas jalan ke luar. Tapi itupun kalo Lo mau sih.” Ujarku cepat. Khawatir permintaanku menjadi beban buatnya.
“Baik Nona, saya siapkan kuda putih dan segera meluncur ke tempat Nona.” Guraunya. Berlebihan.
“Huuu gombalnya gak ketulungan.” Balasku. Tertawa.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunggunya. 15 menit cukup. Dia berpakaian biasa, namun rapi. Hmmm nice, ujarku layaknya stylist yang puas akan penampilan kliennya.
Jadilah setelah itu kami berdua jalan, perjalanan tanpa tujuan sebenarnya. Benar-benar mengikuti kehendak ibu jari kaki. Not too bad, karena dia mengantarkan kami ke sebuah taman kota. Cukup indah dengan temaram lampunya yang berwarna-warni.
“Nah sudah sampai. Mau apa kita di sini?” Dia yang pertama membuka percakapan. Memecah keheningan.
“Engga tahu. Ia ya, mau apa kita di sini?” Jawabku, innocence.
“Yeee kebiasaan. Engga ada planning, engga ada tujuan, engga ada pola kerja. Itu tanda-tandanya orang yang engga punya cita cita.” Antusias sekali dia kalo sedang menyeramahiku.
“Ia kita di sini mau menimati indahnya langit malam.” Potongku cepat saat ia kembali membuka mulutnya, bersiap luncurkan beribu kata petuahnya itu. Kami tertawa, dia menjitak kepalaku. Tahu usahaku hanya untuk menghindari nasihatnya.
Malam cerah tanpa awan. Berbagai cara ia lakukan untuk membuat suasana hidup. Mulai dari bergombal ria, bernyanyi, melawak, dan apaun yang bisa membuatku tertawa. Ini indah, tapi aneh. Dia bukan siapa-siapa buatku. Tapi dia rela sebaik ini padaku. Dan tiba-tiba aku ingat Arsad.
Tuhan, ampuni saya. Arsad, maafkan Rere. Maaf maaf..,  aku memohon dalam hati.
Arsad baik sekali. Dia bahkan tidak marah saat aku meminta izin untuk keluar dengan Reza. Dia baik, tapi menurut Reza dia aneh. Seorang pacar takkan mungkin melepas kekasihnya dengan orang lain. Tapi aku tetap untuk pendirianku, dia baik, titik.
“Hoi, ngelamun.” Ucapnya sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh engga ko.” Balasku, tersadar dari lamunan  sekejapku itu.
“Hmm bohong. Kelihatan ko.” Ujarnya tak mau menerima.
“Apanya yang kelihatan?”
“Itu bohong, idungnya mancung kaya pinokio, tapi…. Ke dalem. Hahaha… “ Ungkapnya tertawa. Usahanya melarikan diri gagal saat tanganku sigap menarik kemejanya, memaksa kembali mendudukkannya, dan menyerangnya dengan beribu-ribu cubitan. Huaahhh… puas sekali rasanya.
“Eh eh tunggu. Jam berapa ini, Re?” tanyanya sambil memegang tanganku. Mencegah berlanjutnya usaha balas dendamku.
“Mau lihat jam gimana, Mas, tanganku kamu yang pegang begitu.” Protesku. Dia kemudian melirik pergelangan tanganku.
“Sudah jam sepuluh, Re. ayo pulang, sebelum kostmu dikunci dari dalam.” Ujarnya. Dengan paksa menyeretku pulang, dengan tangan yang masih ia genggam. Seperti menyeret tawanan perang saja.
“Tangan gue sakit,  Za.” Pintaku, pura-pura meringis.
“Ah, aku tidak akan tertipu, Nona.” Jawabnya tak berperikemanusiaan.
“Kuda putihnya ketinggalan, Za.” Aku masih berusaha untuk melepaskan tanganku.
“Biarin, nanti juga dia pulang sendiri.” Jawabnya acuh. Yah, , , gagal. Pasrah deh balik sempai kost-an diseret seperti ini.
***
Sepi. Kembali termenung di dalam kamar. Berdua dengan Deza yang sibuk SMS-an dengan pacar barunya. Romantis sekali.
“Ngapain Lo cemberut Re?” Tanyanya memandangku sesaat.
“Karena Gue liat Lo senyum-senyum sendiri.” Jawabku sekenanya.
“Yeee, Lo ga seneng liat Gue bahagia??”
“Bukan ga seneng, kurang suka aja. Masa giliran Lo bahagia Gue sedih sih, Dez??” jawabku sambil cemberut.
“Yaelah, mana pangeran berkuda putih Lo?? Dia engga SMS?”  lanjutnya sambil lalu.
“Tau tuh. Kambuh lagi penyakit ngilangnya.”
“”Because of what?”
“Gara-gara waktu dia tanya Gue pilih Arsad atau dia, Gue jawab pilih Arsad.” Ujarku sambil merebahkan badan, lelah.
“Lha terus? Salahnya di mana?”
“Engga tau ah, aneh. Kesel gue, Dez.”
“Ya udah sih. Lo kan ada Arsad, ngapain juga musingin Reza.” Lanjutnya, tidak mau ambil pusing.
“Ia sih. Tapi…… Gue kangen Reza.” Ucapku jujur. Menerawang ke masa yang telah terlewat. Taman itu, kelap-kelip lampunya, udara dingin yang menyusup, tawa yang tak pernah berhenti, gombalan-gombalan yang tak kunjung habis, serta kuda putih khayalannya. Ah, aku begitu merindukannya.
Tapi bayangan Arsad segera menghampiri. Senyumnya, tangan kokohnya yang selalu membangkitkanku di kala aku terjatuh, dan kesabarannya menghadapi semua tingkah konyolku. Termasuk kedekatanku dengan Reza yang ia tanggapi dengan kepala dingin. Tak pernah sekalipun marah, apalagi membentakku. Tak pernah sedikitpun menunjukan rasa cemburu terhadap laki-laki yang mendekat padaku. Begitu datar. Bahkan pernah suatu saat aku bertanya apakah ia benar-benar mencintaiku, mengingat sikapnya yang tak pernah cemburu. Diiringi tawa ia menjawab, “Tentu saja, Sayang.”
Masih pukul 22.30. Aku gagal berusaha memejamkan mata sedari tadi. Aku berfikir Reza pasti belum tidur juga. Keriduan ini lagi-lagi mengalahkan akal sehatku. Kuhubungi Ponselnya.
Za, sudah tidur?
Aku memulai. Tak lama benda kecil putih di sampingku bergetar.
Belum. Ada apa?
Balasnya. Begitu dingin. Seperti tak terselip kerinduan yang malah semakin menyiksaku. Ah laki-laki memang selalu seperti ini. Tidak peka.
Tidak, hanya sedang merindukanmu.
selamat malam, Za. Semoga kamu cepat kembali berbaik hati padaku.
Tak ada gunanya dilanjutkan. Hanya akan menambah sesak di dada. Kupejamkan mata. Dan ajaib, alam mimpi langsung menyambutku. Mengaburkanku dari berbagai peliknya dunia nyata.
Maaf, Re. Aku pun rindu kamu. Selamat malam.
SMS terakhirnya baru aku baca setelah adzan subuh berkumandang. Ada bahagia yang membuncah. Ada senyum yang kembali terkembang. Ah hidup. Begitu mudah kau berubah.
***
Hari-hari setelah itu kembali berjalan seperti biasa. Ada aku, Reza, juga Arsad yang jauh di sana. Kembali segitiga, bukan hanya garis lurus. Maafkan Aku Reza, aku telah menyeretmu ke dalam kehidupanku. Maafkan Aku Arsad.
Reza berjanji tidak akan menjauh lagi, apapun yang terjadi. Reza tidak akan mempermasalahkan statusku lagi. Reza menyayangiku, meski aku masih bersama Arsad.
Sabtu malam kembali datang. Mengantar kebahagiaan bagi setiap muda-mudi dengan pasangan. Tapi aku lelah hari ini. Ingin beristirahat saja rasanya. Terlelap bersama beruang besar yang memelukku.
Pukul 5.00 sore. Nokia putihku bergetar. Pikirku itu adalah Ibu, mengabarkan bahwa rekeningku sudah terisi. Tanpa mengindahkannya, aku berlalu ke kamar mandi. Rasa gerah memaksaku segera berjumpa dengan air mandi.
Begitu segarnya selesai mandi. Kulirik benda putih kesayanganku. Dengan kening sedikit berkerut, kubuka inbox. Ternyata bukan ibu.
Re, ada acara? Mau engga nanti kita keluar setelah magrib?
Ternyata yang datang adalah SMS dari Reza. Kulirik jam dinding. Oh Tuhan, 45 menit berlalu. Magrib 10 menit lagi. aku belum bersiap-siap.
Maaf, Za. Tadi aku sedang mandi. Oke, kau jemput saja aku.
Message sent. Oke 15 menit bersiap cukuplah, pikirku.
Tak lama setelah salam solat magribku, Reza mengabarkan bahwa dia sudah ada di depan pintu pagar tempat kost. Dengan kecepatan super, aku meluncur turun dari kamarku yang memang berada di lantai atas. Tersenyum dan membuka pagar dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Kenapa Lo? Dikejar anjing?” Ujarnya meledek.
“Bukan. Melarikan diri dari kata terlambat.” Gelengku, sok bijak. Dia tertawa sambil mengangguk-angguk.
Berjalan berdua dibawah gemerlapnya lampu kota. Perjalanan yang sudah kuduga kemana arah tujuannya, Taman Kota. Ya, tempat ini menjadi favorit kami berdua untuk sekedar berbagi cerita, sedih dan bahagia.
“Za, Gue mau tanya.” Ujarku, setelah bermenit-menit duduk dan tertawa tak karuan karena ulahnya.
“Aduh jadi deg-degan.” Jawabnya sambil tak melepas tawa, “Mau tanya apa, Re?” lanjutnya.
“Lo kenapa kemarin jutek kaya gitu?” Tanyaku.
Dia menghela napas. Tawanya terhenti. Berganti dengan wajah serius. Seperti orang dewasa saja. Padahal usianya masih 1 tahun di bawahku.
“Lo ga sadar, Re?” ujarnya balik bertanya. Aku menggeleng. Dia melanjutkan, “Karena Lo meminta Gue berubah sikap saat Lo sama Arsad.”
Aku tercengang. Apa karena permintaanku itu. Beberapa hari yang lalu aku memang pulang dan bertemu Arsad. Saat itu aku diajak Arsad untuk berkunjung ke rumahnya, menemui ibunya yag sudah lama tak kulihat. Dan aku meminta Reza untuk bersikap biasa di SMS. Apa itu salah?
Setelah terdiam beberapa saat aku mencoba untuk menjelaskan, menjawab pertanyaannya yang sedikit menyalahkanku itu, “Za, maaf kalau itu bikin Lo tersinggung. Tapi Gue tidak bermaksud seperti itu. Gue hanya engga pengen Arsad tau seberapa dekat kita. Meskipun seandainya dia tahupun, Gue ragu dia akan marah ke Gue. Dan Gue engga pengen waktu Gue yang cuma satu hari dengannya itu rusak hanya karena adanya kesalahpahaman. Lo tahu, setiap Gue mau pergi sama Lo, itu tak luput dari izinnya, Za. Gue engga bermain di belakang dia seperti kebanyakan orang bicarakan. Arsad tau, Za. Gue Cuma engga pengen nyakitin dia, karena dia terlalu baik.” Jelasku panjang lebar.
“Terus ngapain Lo mau deket-deket Gue, Re. menurut Gue ini yang bisa bikin dia sakit. Lebih dari sakit yang Lo prediksi.” Cecarnya tak mau begitu saja menerima penjelasanku.
Aku menghela napas, “Karena Lo sayang Gue, dan ternyata Gue juga sayang Lo. Udah gitu alasan Gue deket sama Lo.” Jawabku singkat. Mengakhiri pembicaraan ini.
Terjadi hening yang panjang. Aku terdiam, Reza juga. sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga rintik hujan membasahi kami, menyadarkan untuk kembali ke dunia nyata.
“Hujan, Re. balik yu.” Dia memulai pembicaraan.
Aku menggeleng. Pembicaraan tadi masih mengganggu. Ya, aku memang bersalah atas semua ini. Aku sumber persoalan ini. Andai saja aku tidak memberi harapan….
“Sudahlah, Re. jangan dipikirkan. Gue yang salah, maafin Gue ya.” Ujarnya seraya melepas sweeter yang sedari tadi dikenakannya. Menutupkannya di atas kepalaku. Menarik tanganku untuk segera beranjak dari tempat ini.
Aku menatap matanya, tidak ada dendam yang kutemukan. Tuhan, dia tersenyum. Andaikan tidak ada pembatas antara aku dan dia…
***
Udara Sukabumi begitu sejuk menyapa. Melepaskan penat yang telah lama melekat. Menghabiskan hari-hari bersama keluarga sungguh kurindukan kini. Tak seperti aku dahulu yang malah menginginkan pergi berekreasi saat libur menjelang.
Ibu seperti biasa selalu menyambut anaknya yang telah lama pergi merantau. Mengutamakan segala kebutuhan anaknya itu. Begitu mulianya dirimu, Ibu. Aku semakin betah saja di rumah. Waktu 5 libur hari tak terasa tinggal bersisa 2. Besok aku harus kembali ke perantauan. Kembali bergelut dengan segala tantangan sendirian, tanpa rengkuhan kasih keluarga, hanya bersama teman-teman seperjuangan.
Ponselku berdering saat aku sedang mengepak barang-barang yang akan kubawa esok hari. Sebuah SMS dari Reza.
Re, sedang apa? Aku kangen kamu yang di Jakarta. Cepat pulang ke Jakarta ya Re.
Kuabaikan sejenak. Melanjutkan kegiatanku yang tertunda. Ibu sudah sedari tadi memanggil, menyuruhku segera mengemas makanan yang akan menjadi perbekalanku beberapa hari ke depan. Seperti aku tidak akan menemukan makanan saja di Jakarta sana. Ah Ibu, begitu perhatiannya dirimu.
Pukul 2 siang. Semua tugasku telah selesai. Tinggal menikmati hari terakhir di depan TV. Sejenak kulirik Handphone, tak ada pesan masuk. Tapi…. Reza!! Pesan Reza belum aku balas. Oh Tuhan, 2 jam lalu. Aku menepuk jidat, menyesali kepelupaanku.
Maaf gue baru balas, Za. Gue juga rindu lo. Gue balik besok, lo juga cepet balik dong. Oke?? J
Pesan terkirim. Tak lama datang balasan dari Reza. Singkat dan datar.
Gue besok baru balik. Pagi dari sini. Ada yang pengen gue omongin sama lo.
Reza marah. Pikirku panik.
Tentang apa, Za?
Tanyaku cepat.
Nanti saja gue ngomong langsung. Gue ada urusan dulu sekarang.
Tuh kan Reza marah. Bahkan SMS terakhirku setelahnya pun tak berbalas.
***
Hello Jakarta. I am back !!
Rasa panas dan gerah sudah sedari tadi menerpa. Jakarta penat. Rutukku dalam hati. Baru pukul 11.15. Mungkin empat jam lagi Reza sampai sini. Leluasa bagiku untuk beres-beres dan beristirahat dahulu.
Sejak kemarin Reza sudah wanti-wanti. Hari ini kami berdua harus bertemu. Ada sesuatu yang akan dia sampaikan. Entahlah apa itu. Yang jelas ini sebuah keharusan, bukan opsional.
Di antara rasa penasaran, aku tak mampu menebak. Khawatir prediksi akan melenceng jauh dari fakta yang akan terjadi. Jadi, terima nanti sajalah, face everything that will happen.
Langit sore sedikit mendung. Namun awan belum ingin menurunkan pasukannya untuk menyerang ibu kota ini. Reza akan menjemputku sepuluh menit lagi. mungkin sekarang ia sedang menunggang kuda putihnya menuju tempat kost ku.
Tak lama sesosok tubuh muncul. Lengkap dengan pakaian santai anak remaja. Mengingatkanku pada masa-masa dua tahun silam.
“Hai, Re. Lama nunggu?” Sapanya dengan senyuman.
“Hai. Hemmmh, lumayan. Tapi lunas ko kalo dibayar pake ayam bakar, haha.” Jawabku ngasal. Dia mengacak-acak rambutku, gemas.
“Yuk jalan.” Ajaknya kemudian.
“Taman kota lagi?” Tanyaku.
“Ikuti saja kemana kakiku melangkah, Kau akan tahu.” Jawabnya sok puitis.
Berjalan beriringan, bercanda, ceria, dan tertawa. Indah sekali. Berbagi cerita, saling berbantah-bantah, seperti tak ada habisnya kata terucap. Begitu riang, hingga tak tersadar dua jam telah berlalu. Langit yang menghitam mengingatkan kami bahwa sebentar lagi malam menjelang.
“Oia, Za. Katanya ada yang mau diomongin, apa?” Tanyaku tiba-tiba. Dia terdiam sejenak.
“Re, gue mau bilang jujur sama Lo. Gue ga suka Lo perlakuin kaya kemaren.” Ujarnya. Terhenti.
Aku mengerutkan kening. Kembali bingung atas pernyataannya, “Memangnya kenapa, Za?”
“Dengar ya, Re. Di sini Lo memang bersikap baik, manis dan menyenangkan. Perhatian dan segala hal kebaikan lainnya Lo lakuin ke Gue. Namun itu engga Gue rasain saat Lo balik ke rumah Lo, ke Sukabumi. Lo seperti orang asing, Re. Bahkan SMS Gue, telpon Gue seringkali Lo abaikan. Suatu hal yang jarang banget Lo lakuin di sini.” Kalimatnya terputus. Menarik napas sejenak, “Lo tau kan, Re? Gue selama ini perlakuin Lo lebih dari temen. Gue sayang Lo lebih dari temen. Dan Gue tau Lo juga gitu ke Gue. Tapi kenapa Gue ngerasa Lo baik ke Gue saat Lo ada di deket Gue aja? Apa karena saat Lo jauh lo ga butuh Gue? Karena ada Arsad? Atau karena…”
“Za!!” Aku memotong ucapannya, “Bukan seperti itu.” Bantahku. Sedih. Setega itu dia berpikir tentangku.
“Lalu apa? Gini deh. Gue mau Lo jadi pacar Gue.” Ujarnya, langsung jlebb.
“Kenapa, Za?” Tanyaku setelah beberapa saat tak mampu berucap.
“Biar semua yang Gue lakuin ke Lo ga sia-sia.” Jawabnya pasti.
“Tapi itu ga mungkin, Za.” Balasku, sedikit memohon.
“Ya sudah.  Gue ngerti. Toh dengan Lo pilih dia, berarti Lo yakin hidup Lo akan lebih bahagia sama dia. Selamat ya. Semoga kalian tetap bersama.” Ujarnya begitu menusuk ke ulu hati.
“Tapi kita masih berteman kan, Za?” Tanyaku, berharap.
“Tentu. Tapi semua takkan sama, Re.”
Aku mengangguk, pasrah.
***
Hari-hari setelah itu kembali sepi. Dia menepati ucapannya bahwa semua takkan sama lagi seperti dahulu. Namun dia ingkar bahwa kita masih bisa berteman. Karena beberapa kali aku bertemu dengannya, seperti ada kilatan kebencian, dan tembok tinggi yang kokoh yang memisahkan kami berdua kini.
Entahlah….

*Memory itu tetap ada dan pernah terjadi, De. Maafkan saya.. Kuharap kamu segera berbaik hati lagi padaku.*