Selasa, 30 September 2014

Izinkan Aku Pacaran!! (Kalam Basmala)

Semalam Kajian Islam Basmala (Kalam-Basmala) perdana semester ini. Peserta membludak memenuhi ruangan, membuat senyum terkembang penuh harap. Sebuah kemustahilan jika berkaca dari Kalam satu tahun lalu dengan peserta yang sangat jarang melebihi jumlah jari tangan dan kaki. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi pergerakan dakwah kami tahun ini, dan akan terus membaik. Semoga kami para pengurus, pun teman-teman Basmala selalu diringankan untuk melangkahkan kaki dalam kebaikan, dengan niat yang selalau diluruskan.
Ada sedikit oleh-oleh, atau anggaplah ini notulensi dari jemari yang tergerak untuk menari bersama ekspresi hati. Tak berharap banyak, moga saja tulisan ini dapat bermanfaat.
“Cinta dalam Pandangan Islam” menjadi bahasan kajian semalam. Sang Ustadz, dengan ekstrim membawakan materi dengan judul “Izinkan Aku Pacaran!”. Kata pacaran seringkali disandingkan dengan cinta. Berbicara tentang cinta, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi mahluk-mahluk galau, terutama mahasiswa tingkat menengah ke atas. Cinta itu fitrah. Apapun yang tidak sesuai dengan fitrah, yang masuk ke dalam diri kita, akan menyakiti dan melukai. Jika begitu, apakah yang kita rasakan saat ini cinta? Apakah penyebab kita berlarut-larut curhat sambil menangis itu cinta? Apakah status-status menyakitkan tentang si dia selama ini karena cinta?
Cinta bukan sekedar ekspresi perasaan seorang ikhwan. Cinta lebih dari itu, begitu kata Ustadz Eri. Cinta itu rasa sakit seorang bunda ketika 9 bulan mengandung. Cinta itu kelelahan seorang bunda ketika 2 tahun menyapih. Cinta itu kesabaran bunda saat mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Cinta itu tetes lelah ayah yang rela berpeluh demi buah hati. Dari kesemua itu, bermuaralah cinta dari Sang Pencipta yang tak pernah melupakan makhluk-Nya. Lalu pada siapa selama ini kita melabuhkan cinta? Another one? Sungguh tega.
Rasa suka, juga cinta adalah fitrah. Kesalahan justru muncul dari para pencinta sendiri. Penyebabnya adalah rasa takut, ketidakberanian untuk mengungkapkan cinta. Bukan mengungkapkan dalam konteks untuk menjadi seorang pacar, itu hanya mengubah ketidakberanian menjadi ketidakbertanggungjawaban. Karena ketenangan juga kedamaian tidak akan didapat dari proses berpacaran. Lalu bagaimana? Mudah saja, jika sungguh dirimu cinta, sampaikanlah pada yang berhak melepasnya untukmu.
Allah berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk, dalam bentuk emas dan perak,…” Q.S Al-Imran:14. Muslim ra. mengatakan bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Jika boleh, dapatlah dibentuk kalimat wanita adalah perhiasan yang bisa menjadi indah. Mengapa harus bisa menjadi? Bukankah wanita memang indah? Mengutip ucapan sang ustadz, dalam ilmu estetika, perhiasan akan terlihat indah jika memenuhi tiga syarat, yatu waktu, tempat dan cara. Dari ketiga syarat tersebut dapat ditarik simpulan kapan wanita akan terlihat indah, yaitu ketika setelah menikah (waktu), dalam berumah tangga (tempat), dengan cara menikahinya (cara). Meski begitu, menikah pun tidak sesimpel hanya karena cinta. Muarakanlah hanya karena Allah, karena dengan ridha Sang Baqa,  mahligai pernikahan dapat dinaungi dengan kekekalan.
Kembali pada cinta. Saat hati akan tergelincir dengan berteriak “Izinkan Aku Pacaran!!”, atau sudah terjerembab pada cinta yang bukan haknya, bangkitlah lagi. Tumbuhkanlah kemauan untuk bangkit dan memperbaiki diri dengan mengingat semua pengorbanan orang-orang yang mencintai kita sepenuh hati. Jika perlu, bandingkanlah dengan pengorbaban cinta orang yang tak seharusnya kita cinta. Optimis sekali, hati putih akan berkata bahwa kita keliru dalam melabuhkan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar