Semalam Kajian Islam Basmala (Kalam-Basmala) perdana semester ini.
Peserta membludak memenuhi ruangan, membuat senyum terkembang penuh
harap. Sebuah kemustahilan jika berkaca dari Kalam satu tahun lalu
dengan peserta yang sangat jarang melebihi jumlah jari tangan dan kaki.
Semoga ini menjadi awal yang baik bagi pergerakan dakwah kami tahun ini,
dan akan terus membaik. Semoga kami
para pengurus, pun teman-teman Basmala selalu diringankan untuk
melangkahkan kaki dalam kebaikan, dengan niat yang selalau diluruskan.
Ada
sedikit oleh-oleh, atau anggaplah ini notulensi dari jemari yang
tergerak untuk menari bersama ekspresi hati. Tak berharap banyak, moga
saja tulisan ini dapat bermanfaat.
“Cinta dalam Pandangan Islam”
menjadi bahasan kajian semalam. Sang Ustadz, dengan ekstrim membawakan
materi dengan judul “Izinkan Aku Pacaran!”. Kata pacaran seringkali
disandingkan dengan cinta. Berbicara tentang cinta, selalu menjadi daya
tarik tersendiri bagi mahluk-mahluk galau, terutama mahasiswa tingkat
menengah ke atas. Cinta itu fitrah. Apapun yang tidak sesuai dengan
fitrah, yang masuk ke dalam diri kita, akan menyakiti dan melukai. Jika
begitu, apakah yang kita rasakan saat ini cinta? Apakah penyebab kita
berlarut-larut curhat sambil menangis itu cinta? Apakah status-status
menyakitkan tentang si dia selama ini karena cinta?
Cinta bukan
sekedar ekspresi perasaan seorang ikhwan. Cinta lebih dari itu, begitu
kata Ustadz Eri. Cinta itu rasa sakit seorang bunda ketika 9 bulan
mengandung. Cinta itu kelelahan seorang bunda ketika 2 tahun menyapih.
Cinta itu kesabaran bunda saat mengantar dan menjemput anaknya ke
sekolah. Cinta itu tetes lelah ayah yang rela berpeluh demi buah hati.
Dari kesemua itu, bermuaralah cinta dari Sang Pencipta yang tak pernah
melupakan makhluk-Nya. Lalu pada siapa selama ini kita melabuhkan cinta?
Another one? Sungguh tega.
Rasa suka, juga cinta adalah fitrah.
Kesalahan justru muncul dari para pencinta sendiri. Penyebabnya adalah
rasa takut, ketidakberanian untuk mengungkapkan cinta. Bukan
mengungkapkan dalam konteks untuk menjadi seorang pacar, itu hanya
mengubah ketidakberanian menjadi ketidakbertanggungjawaban. Karena
ketenangan juga kedamaian tidak akan didapat dari proses berpacaran.
Lalu bagaimana? Mudah saja, jika sungguh dirimu cinta, sampaikanlah pada
yang berhak melepasnya untukmu.
Allah berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan,
anak-anak, harta benda yang bertumpuk, dalam bentuk emas dan perak,…”
Q.S Al-Imran:14. Muslim ra. mengatakan bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Jika boleh, dapatlah dibentuk kalimat wanita adalah perhiasan yang bisa menjadi indah. Mengapa harus bisa menjadi?
Bukankah wanita memang indah? Mengutip ucapan sang ustadz, dalam ilmu
estetika, perhiasan akan terlihat indah jika memenuhi tiga syarat, yatu
waktu, tempat dan cara. Dari ketiga syarat tersebut dapat ditarik
simpulan kapan wanita akan terlihat indah, yaitu ketika setelah
menikah (waktu), dalam berumah tangga (tempat), dengan cara menikahinya
(cara). Meski begitu, menikah pun tidak sesimpel hanya karena cinta.
Muarakanlah hanya karena Allah, karena dengan ridha Sang Baqa, mahligai
pernikahan dapat dinaungi dengan kekekalan.
Kembali pada cinta.
Saat hati akan tergelincir dengan berteriak “Izinkan Aku Pacaran!!”,
atau sudah terjerembab pada cinta yang bukan haknya, bangkitlah lagi.
Tumbuhkanlah kemauan untuk bangkit dan memperbaiki diri dengan mengingat
semua pengorbanan orang-orang yang mencintai kita sepenuh hati. Jika
perlu, bandingkanlah dengan pengorbaban cinta orang yang tak seharusnya
kita cinta. Optimis sekali, hati putih akan berkata bahwa kita keliru
dalam melabuhkan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar