Senin, 21 Januari 2013

Cloudy Day

Rere menatap lekat boneka beruangnya. menggoyang-goyangkan kepalanya seolah mengajak berbicara,
"Bear, kamu tahu? hari ini 3 orang terdekatku sakit. Reza sejak kemarin demam, Mas Angga tadi pagi kecelakaan motor, lalu Arsad juga tadi sore tiba-tiba demam." Ia menghentikan ucapannya. Memberikan kesempatan si beruang untuk menimpali. Namun hanya hening.
"Ajaib kan, Bear? terjadi dalam waktu yang bersamaan." Rere menghela nafas berat, "Aku sedih. Disaat Reza sakit, aku bahkan tak bisa sekedar menghiburnya, mood ku sedang tidak baik, Bear."
"Lalu mas Angga.sesaat setelah kecelakaan itu, dia bahkan sempat-sempatnya meminta maaf karena tidak dapat membawakan kamus yang aku pesan." mata Rere mulai berkaca, "Dan Arsad juga sakit, Bear. kenapa harus sekarang? kenapa saat aku dengannya sedang tidak baik dia malah sakit? aku bersalahkah, Bear? terlalu kasar padanya? hatiku belum ingin berbaikan dengan Arsad. Tapi peristiwa ini tak urung membuatku sedih juga."
Lama hening, hanya isak tertahan yang terdengar. Beruang putih itu menelungkup, memeluk Rere seakan faham kesedihan yang Rere alami. Dia merelakan dirinya kuyup menampung tangisan sang majikan tunggalnya itu.
"Deza juga, Bear. Dia semakin menjauh saja dari aku dan Fini. Melirik dengan lirikan nyinyir seakan kami adalah benda busuk yang perlu dijauhi. Menatap tajam ibarat vonis hakim kepada napi. Dia bahkan tak mempercayai lagi kami sebagai pendengar kisah hidupnya. Deza sudah berubah, Bear. Aku sedih, tapi kebencian ini semakin kentara. Apakah normal? namanya kini masuk ke dalam black list ku. Aku tak ingin mendnegar namanya lagi. Aku tak mau melihat wujudnya lagi. Aku benci, bear !!"
Rere kembali menangis, menutup curhat satu arahnya malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar