Jumat, 16 Mei 2014

Kajian Muslimah Terakhir



Jumat, 11.45, mushola kampus…
“Sabar itu bisa dikategorikan menjadi tiga: sabar dalam beribadah kepada Allah, sabar dalam menahan diri untuk tidak berbuat maksiat, serta sabar dalam mengahadapi musibah.
Sabar dalam beribadah kepada Allah banyak bentuknya, salah satunya adalah sabar dalam melakukan sholat. Misalnya si saat sholat empat rakaat kita hanya berdurasi 2 meni, orang sholeh lain mungkin mampu melakukan sholat subuh selama 5 menit atau lebih. Sholat yang terburu-buru seperti itu bisa mengindikasikan ketidaksabaran kita dalam beribadah. Sholat adalah doa, melakukan sholat berarti juga berdoa. Bagaimana bisa kita ingin keinginan kita dikabulkan oleh Allah sedangkan dalam berdoa saja kita tidak bisa bersabar?
Maksiat bisa timbul dari semua indera yang dimiliki oleh manusia, melalui penglihatan, pendengaran, ucapan, juga melalui sentuhan. Menahan diri dari melihat lawan jenis yang bukan mahram termasuk ke dalam bersabar. Menahan diri untuk tidak mendengarkan pembicaraan yang tidak bermanfaat termasuk ke dalam bersabar. Menahan diri untuk tidak berucap selain hal yang benar dan bermanfaat, termasuk usaha untuk bersabar. Pun menahan diri untuk tidak menyentuh atau bersentuhan dengan yang tidak halal, merupakan kategori dalam bersabar.
Kategori ketiga merupakan yang lumayan berat, jarang sekali orang mampu bersabar ketika dihadapkan pada sebuah ujian atau musibah. Padahal, dalam Al-Quran sendiri Allah sudah menekankan bahwa apapun yang menimpa orang beriman, akan bernilai kebaikan. Jika ia mendapat anugerah ia akan bersyukur, dan jika ia mendapat musibah ia akan bersabar. Masyaallah…”
“Nah, lalu bagaimana dengan bersabar dalam menghadapi problema sehari-hari dengan teman ataupun lingkungan?? Seringkali kita ‘dipaksa’ untuk bersabar terhadap tingkah orang-orang di sekitar kita yang terkadang ‘nyebelin’,  padahal kan sabar ada batasnya.”
“Allah tidak akan membiarkan seseorang yang berusaha menjadi baik tanpa memberinya ujian. Bisa jadi teman-teman atau orang-orang di sekitar kita yang kadangkala bertingkah ‘unik’ sebenarnya merupakan ladang kita untuk bersabar, ladang kita untuk menaikkan derajat kesabaran kita.
Perlu diketahui, sabar itu tidak ada batasnya, karena ganjaran yang telah dijanjikan Allah terhadap orang-orang yang mampu bersabar pun merupakan kenikmatan yang tidak ada batasnya. Hanya saja sabar bukan berarti selalu diam. Ingat, sabar bukan berarti diam. Kita contohkan saja dalam sebuah organisasi ada satu oknum yang sedikit bermasalah. Setiap amanah yang diberikan kepadanya tidak pernah terselesaikan. Sekali dua kali mungkin kita bisa bersabar dengan diam. Namun, hal ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Oknum macam ini bisa menjadi virus yang menular dalam sebuah organisasi jika tidak ditindak tegas. Teguran secara personal atau melalui orang yang lebih mempunyai power bisa dijadikan sebagai alternatif untuk memangkas virus macam ini.”

Jumat, 16.15, ruang kelas…
“Tau ga? Masa tadi orang itu bertingkah lagi. So’ mau berkontribusi banyak di acara divisi kita, tugas dia di divisinya aja kagak kelar-kelar. Show up banget.” Omelku sambil mencorat-coret kertas kosong. Sosok di sampingku diam saja, aku tidak puas.
“Nah terus, si itu, yang make up nya menor itu, dia sama temen-temennya tadi berisik banget coba pas di toilet, ambisius banget tuh dia mau naik jadi ketua Padus.”
“Ssst, inget kajian tadi siang.” Ucap suara di sampingku lirih.
Astagfirullah, aku langsung diam. Jawabannya sangat singkat, tapi cukup mampu membuatku berfikir bahwa waktu yang aku luangkan untuk menghadiri kajian tadi siang menjadi sia-sia.

Sekedar refleksi, disadari ataupun tidak, seringkali ilmu-ilmu yang telah telinga kanan kita tangkap, akan keluar lagi dengan lancar lewat telinga kiri. Ilmu Consumen Behavior mengatakan: manusia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Jadi, mungkin saja terpentalnya semua informasi yang kita dengar disebabkan karena kita tidak ingin atau tidak enjoy mendengarkannya. Begitupun dengan materi-materi kajian. Seberapa banyakpun kajian yang diikuti dengan materi-materi yang menarik, tidak akan mampu merubah perilaku kita jika dalam hati kitanya saja masih ada noktah kotor yang menghalangi kita untuk menerima kebenaran.

 

Sabtu, 03 Mei 2014

Kebangkitan Raisa



Raisa menghampiri ayahnya, Pak Muslim. Di hadapan mereka telah duduk seorang pria tampan dengan pakaian yang sangat rapi. Sempat Raisa tak mengenali sosoknya, namun sejurus kemudian ia tertegun. Segaris alis hitam tebal di atas matanya menyadarkan Raisa bahwa orang itu bukan orang asing baginya.
“Nah, ini putri bapak, Raisa.” Pak Muslim memperkenalkan Raisa kepada pemuda tersebut, “Isa, perkenalkan, pria di hadapanmu ini adalah orang yang bapak kenal baik selama kamu bersekolah di Turki. Dia yang selalu menemani bapak menghadiri pengajian-pengajian. Tahun lalu dia baru saja menyelesaikan S2 nya dan kini sudah bekerja di salah satu perbankan syariah. Kedatangannya kali ini mempunyai maksud yang baik bagimu, insyaallah.” Pak Muslim meneguk kopi yang dibuatkan istrinya, “Nah, sekarang, sampaikanlah langsung maksudmu yang tadi sudah kau ceritakan pada bapak, Nak.” Pak Muslim berkata lembut pada pemuda tersebut.
“Ada apa ini, Pak?” Raisa yang baru saja datang dari kajian tentulah heran. Alih-alih menjawab pertanyaan putrinya, Pak Muslim malah tersenyum dan menyuruh putrinya untuk duduk bersamanya.
“Emh, Hai, Isa. Apa kabar?” Pria itu mulai berbicara. Raisa menjawab pertanyaannya lirih.
“Maaf jika terkesan tergesa dan mendadak. Tadi sudah sempat saya sampaikan pada Bapak tujuan saya datang kemari. Jika Allah mengizinkan, dan jika kamu berkenan, saya bermaksud untuk melamarmu….”
***
7 tahun lalu
“Isa, pulang bareng yuk.” Andre menjajari langkah Raisa.
“Aku masih ada kelas, duluan aja.” Jawab Raisa sambil tersenyum.
“Aku tunggu deh. Nanti kabari ya.” Andre membuat janji sepihak. Setengah bingung, Raisa tak bisa menolak.
Kelas Kalkulus tidak begitu menarik bagi Isa. Dua jam yang terasa sangat lama, akhirnya usai. Andaikan bukan mata kuliah wajib bagi mahasiswa tingkat satu, ia tidak akan pernah mau mengambilnya. Raisa berjalan menyusuri koridor kampus. Hampir saja dia melupakan Andre jika pemuda itu tidak segera berlari dan muncul di hadapannya.
“Yah, kok gak ngabarin?” Protes Andre dengan nafas tersenggal.
“Eh, ini baru mau gue kabarin.” Kilah Raisa sambil mengambil ponselnya.
“Ya udah yuk pulang.” Andre berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak henti bercakap. Maklumlah teman baru, segala informasi dikorek demi menjadi teman yang dapat saling memahami. Sifat Andre maupun Raisa yang humble membuat keduanya mudah akrab, terlebih mereka merupakan perantau yang berasal dari daerah yang sama. Raisa merasa menemukan tempat bergantung di dunia baru yang asing. Begitupun sebaliknya, adanya Raisa membuat Andre merasa menjadi orang yang dapat diandalkan.

Minggu berganti bulan, hubungan Raisa-Andre semakin akrab. Meski tak selalu bersama, komunikasi mereka tidak pernah terputus. Khalayak menduga mereka berpacaran. Namanya remaja, ketertarikan  antar lawan jenis menjadi hal yang sudah biasa. Meski terkadang merasa bersalah pada seseorang, Raisa selalu berfikiran tidak ada yang salah antara hubungannya dengan Andre. Dia catatkan dalam hatinya, dirinya dan Andre hanya berteman.

Handphone putih itu bergetar, sebuah pesan masuk. Sekilas Andre melirik, tertangkap sebaris nama oleh matanya. Raisa segera membalas pesan tersebut.
“Izzi?” Tanya Andre.
Raisa mengangguk, “Hari ini dia kerja shift malam.” Terangnya sambil kembali meletakkan HPnya.
Kali ini mereka sedang berada di salah satu tempat makan, menikmati dinginnya malam kota Bandung.
“Sa, boleh ngomong sesuatu?” Andre memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta.
“Ngomong aja sih, Pak, biasanya juga bawel.” Ujar Raisa sambil tertawa.
“Hehe. Penasaran aja, sebenarnya hubungan kita ini apa sih?” Andre menatap mata Raisa serius.
Meski sudah menerka, tak urung Raisa terkejut juga, “Hubungan kita… ya temanlah, memangnya apa? Ayah dan anak?” ujarnya bergurau, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Begitu kah? Pengen tahu aja sih bagaimana dari sudut pandang loe. Gue fikir kita lebih dari teman.” Tukas Andre. Lagi-lagi hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, saling menyelami hati sang lawan bicaranya. Gagal memecah suasana yang kadung membeku, keduanya memutuskan untuk pulang.

Mentari menyusup dicelah gorden bermotif ribbon. Raisa masih bergelung dengan selimut. Baginya, minggu pagi adalah saat yang tepat untuk melengkapi jatah istirahatnya yang disunat setiap malam-malam weekdays. Tak lama kemudian, lagu mirror berdering dari handphonenya. Setengah sadar Raisa menerima panggilan tersebut.
“Hallo, sayang…”
“Hai cantik, lagi apa?” tanya suara pria di seberang.
“Masih tidur, hehe.” Raisa menjawab manja.
“Huuu, bangun dong, udah siang.” Ujar suara itu lagi.
“Masih ngantuk ah. Ka Izzi hari ini engga kerjakah?”
“Engga sayang, ini mau ngampus bentar lagi.”
“Ya udah, hati-hati ya.”                                                                                   
“Ngusir nih? Mentang-mentang masih ngantuk, pacarnya dicuekin?” Izzi menggoda.
“hehe, biarin deh. Kan pacar Isa penyabar.”
“Aih gombal. Ya udah, kaka berangkat dulu ya sayang. Bangunnya jangan siang-siang. Bye, miss you.”
“miss you.” Raisa menutup telepon dan melanjutkan tidur.

Hari-hari berikutnya terkesan janggal. Sejak kejadian malam itu, Raisa dan Andre seperti saling menjauh. Seperti kutub yang sama pada dua magnet. Raisa bagai hidup di ruang hampa. Tanpa Andre, tidak ada yang membuatnya bersemangat saat berada di kampus, pun saat melakukan aktivitas lainnya. Saat tak sengaja berpapasan, Andre selalu memalingkan wajah, pura-pura tak melihat. Raisa mulai merasa kesepian. Bahkan Izzi semakin sibuk dengan jadwal kuliah serta pekerjaannya.
Tak tahan menjadi orang yang tak dianggap, Raisa akhirnya berinisiatif untuk memulai percakapan. Dengan terus terang, Raisa menanyakan pada Andre apa yang sedang terjadi diantara mereka. Dia juga bertanya apa salahnya jika hubungan mereka hanya sebatas teman? Apakah hubungan pertemanan tidak terlalu agung sehingga Andre menginginkan lebih? Apa salahnya mereka saling peduli dan mengerti sebagai sepasang teman?
Setelah percakapan yang memakan waktu sekitar 1 jam, tidak ada yang berubah. Andre tetap kukuh menjaga benteng beku diantara mereka. Raisa menyerah.
Hubungan Raisa dengan Izzi pun semakin buruk. Komunikasi tidak lagi selancar dahulu. Pesan dua hari sekali termasuk kategori sering bagi hubungan mereka kini. Merasa tak lagi dipedulikan, Raisa akhirnya mundur perlahan dari kehidupan Izzi, meski hubungannya dengan Andre tak pernah beranjak dari status pertemanan.
***
6 tahun lalu
Siang itu gerimis. Waktu masih berbilang dhuhur, kantin tidak begitu ramai. Raisa duduk diam, sendiri menikmati makan siangnya. Orang berlalu lalang, namun tidak ada yang ia kenal. Ketidaksengajaan datang terlambat membuatnya memutuskan untuk bolos pelajaran Fisika. Terlebih efek perut kosong membuat kepalanya sedikit pusing.
“Ren, kasian banget sih orang-orang kaya lo.” Suara lantang pria terdengar dari balik punggungnya.
“Kenapa memangnya?” sahut sang lawan bicara.
“Ya iya, keyakinan lo kan cuma lahir, hidup, terus mati.” Jawab suara pertama. Raisa menguping, penasaran dengan arah bicara keduanya.
“Kan namanya juga keyakinan, beda-beda tergantung agama yang dianut.” Tukas suara kedua santai.
“Ia sih,  tapi ya hampa banget gitu. Hidupnya cuma mikirin dunia, bahagia cuma di dunia juga.” Kata suara pertama lagi.
“Halah, Lo solat aja ditinggal mulu, makan minum maen sabet aja, kagak doa dulu. Hafal kagak lo doanya? Atau jangan-jangan kagak tau? Gue sih kayak gini ibadah tiap minggu kagak pernah ketinggagalan bray. Kalo mau makan juga gue doa dulu.” Si suara kedua berkata lugas.
“Enak aja kagak pernah solat. Gue tuh suka solat tauk." Protes suara pertama, "Kadang-kadang sih." Lanjutnya pelan. Keduanya tertawa, entah bagian mana yang lucu.
Raisa tersentak, seperti ada yang menampar keras dirinya. Dia bangkit, berjalan tergesa. Dua pasang mata memperhatikan kepergiannya, heran dengan tindakannya yang tiba-tiba. Langkah Raisa tertuju pada satu arah, mesjid. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.45.

Raisa mulai jenuh dengan kehidupan dunianya yang terus-terusan mengejar dunia. Berawal dari kejadian di kantin beberapa hari yang lalu, dia mulai sering mendatangi mesjid. Bagai skenario yang telah disusun rapi, kebiasaan barunya ini memberinya kesempatan untuk mengenal komunitas dakwah di kampusnya. Bagai bertemu oase di padang pasir, Raisa meneguknya dengan sukacita. Di sini dia merasakan suasana yang berbeda, kebahagiaan yang tidak hanya berkutat pada kehidupan dunia, tetapi juga pada kehidupan setelah mati. Perlahan Raisa mulai berbenah, kembali menyelami makna penciptaan seorang makhluk bernama manusia.
Teman-teman barunya sangat ramah. Mereka menyambut Raisa layaknya bagian keluarga yang sudah lama tak bersua. Melalui kedekatannya dengan para akhwat tersebut, Allah menggerakka hati Raisa untuk bangkit menjadi insan yang sesungguhnya. Keputusannya untuk berjilbab sungguh memberikan kebahagiaan pada keluarga tak sedarah ini.
Dzohir yang sudah tertutup hijab tak serta merta mengubah Raisa menjadi gadis alim tanpa cacat. Masih banyak yang perlu dilakukannya selain memperbaiki akhlak, yaitu menghijabkan hati. Raisa tahu ini berat, tapi dia yakin, hijab fisiknya akan menjadi salah satu pendorong ia untuk mencapainya. Tertatih ia mulai melupakan Andre sang manusia salju, serta Izzi yang tak pernah lagi ia ketahui rimbanya.
Jatuh bangun Raisa mensterilkan hati dari kontaminan-kontaminan yang ada di sekitarnya. Memangnya dikira akhwat bersih dari godaan dari lawan jenis? Tidak. Meski hijab telah menutup aurat, selalu ada celah bagi setan untuk menggoda, terutama melalui makhluk berjenggot tipis bermerk ikhwan. Tampilan yang rupawan serta akhlak menawan menjadi nilai plus yang ditawarkan setan dalam mempromosikan ‘produknya’ ini. Pernah sekali Raisa  terseret  godaan macam ini. Syukurnya para akhwat di sampingnya dengan sigap menariknya.
Suatu ketika Raisa mengadu pada murabbinya.
“Mbak, Isa bingung sama diri sendiri. Sepertinya Isa punya masalah serius. Isa selalu bergantung kepada sosok laki-laki, seperti ketergantungan yang sulit dihilangkan.” Raisa memulai ceritanya.
Mbak Hasna tersenyum, “Sebenarnya itu hanya sangkaan diri sendiri. Ketergantungan kepada sesuatu atau seseorang merupakan rasa nyaman yang timbul karena terbiasa. Bisa jadi ketergantungan Isa kepada seorang ikhwan memang karena Isa membiasakan diri atau telah terbiasa bergantung pada ikhwan, ya kan?” tanya sang murabbi.
“Iya, Mbak. Isa pernah berpacaran selama 2 tahun, dan Isa merasa sangat  bergantung pada orang itu. Saat dia engga ada, Isa akan mencari orang lain yang bisa menggantikan posisi dia.” Raisa menangis.
Kembali dengan suara lembut Mbak Hasna berkata, “Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita ya dek. Bersyukurlah Dia sudah menyadarkanmu kini. Maafkanlah masa lalumu. Mekarlah menjadi bunga yang cantik. Janganlah dulu berfikir serangga seperti apa yang akan menghampirimu. Tahukah sebuah ayat yang mengatakan ‘laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya’? Allah tidak akan menyalahi janjinya. Namun bukan berarti dengan ayat ini hijrah kita dikarenakan sesosok makhluknya, tetap niatkan karena Allah.”
Pembicaraan kedua akhwat itu berlanjut hingga magrib menjelang. Sembab kentara di kedua mata Raisa, namun kini hatinya sedikit tenang. Mulai saat itu, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidup hanya untuk Allah dan orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
***
3 tahun lalu
Sebagai Sarjana kedokteran, Raisa tidak merasa cukup dengan ilmu yang telah diperolehnya. Ia berniat melanjutkan studinya ke luar negeri. Sambil magang di salah satu rumah sakit swasta, ia mulai mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginannya itu, mulai dari berkas-berkas, fisik, mental, serta kemampuan berkomunikasi dalam berbahasa asing.
Sempat ridha ibu membantahkan keinginannya. Rasa sayang seorang Ibu yang besar terkadang memang memberatkan langkah seorang anak perempuan. Raisa tak lelah meminta, dan melalui bapaklah hati ibunya terluluhkan. Saat ridha kedua orangtua telah digenggam, Raisa semakin semangat memperjuangkan cita-citanya. Lelah terkadang mendera, namun Raisa segera mengusirnya dengan bayangan indah tentang mimpi-mimpinya. Tak lupa ia melengkapi usahanya dengan doa, merayu agar Allah mengabulkan keinginannya.

Buah matang dipetik setelah masanya. Berkali-kali Raisa merasa hampir berhasil, namun gagal. Buah itu belum matang, belum saatnya ia memetiknya. Ia kemudian tersadar, Ketergesaan yang lampau mengajarkannya kesabaran kini, kekhilafan yang lalu memperbaiki niatnya sekarang. Doa ia perkuat, ia yakin Tuhannya tidak pernah tidur.

Tanggal 7 akhir tahun, kabar baik itu akhirnya datang. Setelah seleksi berkas, wawancara, Raisa akhirnya dinyatakan sebagai salah satu penerima Türkiye Scholarships, program beasiswa  yang dibiayai oleh pemerintah Turki. Hujan syukur mengalir deras dari dalam hatinya, hamdalah tak lepas terucap dari bibirnya. Ibu dan bapak menjadi saksi betapa putri mereka sangat bahagia hari itu.
Tes yang selanjutnya harus ia lakukan adalah tes kesehatan. Tidak ada kesulitan berarti bagi Raisa untuk menjalani tes ini. Bidang yang ia geluti serta kesehariannya sebagai intern di rumah sakit membiasakannya hidup sehat. Dokter tidak boleh sakit, begitu motto hidupnya. Akhirnya ia pun dinyatakan lolos medical check up.
***
Hari ini
Raisa tertegun, menyangka dirinya sedang berhalusinasi.
“Bagaimana, Nak?” Pak Muslim menyentuh tangan putrinya itu.
Agak lama Raisa terdiam. Tak pernah ia duga, sosok yang berada di depannya menjadi orang pertama yang menemui walinya. Raisa mengira bertahun tak jumpa dan kabar tak bersua telah menghapus semua keterkaitan diantara mereka berdua. Tapi nyatanya, orang itu masih mengingatnya, dan ia muncul dengan pribadi yang jauh lebih baik, pun dengan niatan yang baik.
Setelah menghela napas dalam, akhirnya ia angkat bicara, “Isa tidak bisa menjawab sekarang, Pak. Jika Ka Izzi berkenan, insyaallah Isa akan memberikan jawaban minggu depan, di hari yang sama.”


Rabu, 23 April 2014

Merindu

Entahlah tulisin ini dibuat dalam rangka memperingati hari apa, yang jelas hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semesterku. Entah dari mana juga datangnya ide untuk menulis kisah kita ini, muncul begitu saja.
Teruntuk kalian yang di sana,
Kalian pasti ga’ akan pernah lupa apa yang kita lakukan empat tahun lalu…
                Bagaimana rutinitas keseharian kita, pergi pagi, pulang malam, dari senin hingga senin.
                Bagaimana kesibukan kita bantuin babeh ngurusin lab, ngambil kunci, beres-beres, ngatur jadwal praktikum, ngatur orang-orang praktikum, ngajarin, ngawasin, ga’ jarang kita juga teriak-teriak saingan sama suara mesin. Buat apa? Biar semuanya berjalan lancar, biar ga ada hal-hal aneh yang terjadi, yang malah bikin kita yang diteriakin babeh.
                Bagaimana kesalnya saat kata-kata dan teriakan kita udah ga’ mereka denger lagi. Kita biarin mereka berbuat semaunya, lalu sesuatu terjadi. Ketika itu kita hanya menghitung dalam hati, 1 2 3… RISKAAAA, HERLIAAAAH, YOLANDAAAA, dan tamatlah kita hari itu.
                Bagaimana  terkadang kantuk meyerang tanpa bisa ditahan. Sembari menunggu alarm oven bunyi, kita tidur di sudut manapun lab yang tak bisa dijangkau babeh.
                Bagaimana bingungnya saat mendapat instruksi yag kurang jelas dan kita ga’ berani bertanya. Kesempatan kita cuma 3, benar, salah, serta separuh benar dan salah. Kita berspekulasi atas berbagai kemungkinan yang terjadi. Jika tidak sedang beruntung maka… GOBLOK LU!! Dan kita cuma nyengir kuda, atau tak berekspresi sedikitpun, itu yang paling aman.

Kalian pasti akan selalu ingat…
                Saat orang lain sulit untuk mendapat izin masuk lab,  kita malah kesulitan untuk meninggalkan leb sebelum matahari terbenam.
              Bagaimana keadaan leb Sunday morning, that was our crazy time. Yeay, karaokean. Bento lagu kebangsaan kita kan?
                Tanggal muda adalah tanggal istimewa. Entah berapa banyak dana pribadi babeh yang kita habiskan untuk jalan-jalan ke kebun teh, dan kuliner-kuliner di pinggir jalan. Sate, sekoteng, durian, itu makanan wajib kita.
                Saat jenuh menyerang, bagaimana kita bersiasat agar bisa bolos satu hari aja dari lab. Sakit adalah alasan yang paling manjur untuk diterima oleh babeh.

Dulu, kita selalu berfikir bahwa kita harus ekstra sabar ngadepin babeh. Padahal ternyata babeh juga harus lebih sabar ngadepin kita.
Dia sabar ngadepin kita yang kadang bloon, ga nyambung dengan apa yang diperintahkannya.
                Dia sabar ngajarin kita apapun yang belum kita bisa.
                Dia sabar ngejelasin apapaun yang belum kita tahu.
                Dia sabar ngebimbing kita bahkan di hari libur sekalipun.
               
Masih ingatkah hal-hal sepele yang seorang babeh lakukan ke kita?
                Dia akan mengomentari cara kita makan. Tidak boleh ada bunyi sendok, tidak boleh berdecap, tidak boleh menyisakan makanan di piring, tidak boleh menolak tawaran makan, sekalipun kita tidak sedang lapar.
                Dia akan mengomentari kita dalam menerima tamu. Tamu ga’ boleh ditinggal sendiri, tamu ga’ boleh masuk lab sembarangan, dan blablabla lainnya.
                Dia akan mengomentari kopi buatan kita. Seberapa takaran air dalam cangkir, tidak boleh terlalu penuh, pun terlalu sedikit.
                Dia akan mengomentari kita saat praktikum. Mulai dari ekspresi wajah yang ga’ enak dipandang, tangan yang kelihatan ga’ terampil, serta aktivitas iseng lainnya saat kita praktik.
                Dia akan mengomentari kedekatan kita dengan siapapun. Bilang ya jika setuju, bilang tidak jika memang tidak setuju.

Disadari atau tidak, kita pasti merindukan sosoknya. Aku di sini dengan kegiatanku, pun kalian dengan kesibukan kalian, pasti ada saat teringat babeh, dan membayangkan apa yang akan dikatakannya jika melihat apa yang sedang kita lakukan kini.
Bahkan di hari perpisahan sekolah yang selalu kita tunggu, karena kita akan segera bebas tugas, babeh berfikiran sebaliknya. Dia tidak pernah menginginkan hari itu. Dan kenyataanya dia selalu kehilangan di setiap tahunnya, ditinggalkan murid-murid terdekatnya.
Di hari-hari setelah kita berpisah, berbeda nasib, dia masih saja memantau aktivitas kita. Saat aku tak sengaja bilang iri melihat kalian yang masih bisa terus bersama, dia berkata, “Sudah, memang jalan kalian berbeda. Jalani saja, ga’ boleh iri-irian.”
Dulu, saat kita terbaring sakit 3 hari saja, beliau akan langsung mengutus siapapun untuk menjenguk dan membawakan apapun makanan yang kita inginkan. Tapi kini, bahkan untuk sekedar menjenguknya saja kita selalu merasa sibuk. T.T
Rindukan kalian? Jelas, saya sedang merindu. T.T
Cerita tentang kita sangat banyak, sebanyak luka yang kita dapat saat tak sengaja menyenggol oven panas, menyentuh wajan, atau teriris pisau. Luka-luka itu kini sudah tak berbekas, tapi masa ‘mengerikan’ bersama kalian akan terus membekas. :) :*

 (22/4/14)
                 

Selasa, 15 April 2014

BERPACU DENGAN MAUT




Awalnya aku heran, sangat heran saat melihat mereka dengan mudahnya meninggalkan solat. Bukan hanya 1 orang loh, tapi berjamaah, banyakan. Ckckck. Kupikir cerita orang yang berani meninggalkan solat itu tidak benar ada, hanya ada di cerita jaman jahiliyah dulu. Namun inilah faktanya, kejadian ini terjadi di depan mataku, di jamanku, jaman modern yang jahiliyah.
Namaku Reno, seorang calon sarjana kedokteran di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku bukan penduduk asli ibukota. Tiga tahun yang lalu aku bertolak dari Padang, merantau untuk mencari ilmu di sini. Bahagia tak terkira hatiku saat itu, menjadi seorang dokter adalah cita-citaku sejak kecil, juga keinginan amak terhadap anak tunggalnya ini.
Kebahagiaanku tak bertahan lama. Bulan pertama aku seperti mengalami culture shock, padahal aku hanya berpindah daerah yang masih satu negara. Oh, ini mungkin akibat aku yang sedikit tertutup dan menganggap kejadian di luar sana selalu baik-baik saja. Padahal nyatanya tidak. Kau tau? Kampus tempatku kuliah ini bisa dibilang termasuk kampus hedon. Tak terbilang berapa banyak mahasiswa yang bergaya seperti mau pergi shopping dan jalan-jalan unyu saat pergi ke kampus. Terlebih mahasiswinya, aku melihat mereka lebih seperti tanteku daripada teman sebaya. Oh my God, make up nya itu loh….
Namun dari awal yang paling aku risaukan adalah masalah solat. Aku sendiri menyadari aku bukan orang alim ‘tulen’, tapi untuk masalah solat, aku tidak pernah melewatkannya. Itu yang selalu amak dan abah tekankan padaku sejak kecil. Dan kini, aku begitu ‘terkagum-kagum’ saat melihat orang melenggang santai melewati masjid padahal adzan sedang berkumandang. Dia laki-laki loh, muslim pula. Aku tahu itu karena beberapa diantara mereka adalah teman satu fakultasku.

“Assalamu’alaykum, Rik.” Aku menepuk pundaknya.
“Eh, Wa’alaylkumsalam.” Dia menengok, dahinya berkerut.
“Reno nih Reno, masa lupa.” Aku menepuk dada, mengingatkan.
“Oalah, Reno temen OSPEK? Sorry bro, gue lupa.” Dia terkekeh menjabat tanganku.
“Haha, ialah, udah 3 tahun yang lalu.” Jawabku. Dia masih menggoyang-goyangkan tanganku, orangnya agak konyol memang.
“Eh ia, Ren, lo heran ga liat gue beredar di masjid mulu akhir-akhir ini?” Dia bertanya tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak, menimbang, “Emh, ia sih. Tapi baguslah. Haha” Jawabku, berusaha tidak terkesan serius. Dia mengangguk-angguk.
“Lagi sibuk ga? Ngobrol yuk.” Ajaknya tiba-tiba. Wah ada apa nih?
“Alhamdulillah enggak. Boleh, Yuk di mana?” Aku menyanggupi. Semoga menjadi ladang dakwah.
“Sambil makan siang aja, gue laper.” Jawabnya sambil beranjak memakai sepatu, “Eh ia, ga perlu orang ketiga kan?”
“Hah, orang ketiga? Kalo lo nya pake jilbab sih perlu.” Jawabku sekenanya.
“Hahaha, kenalin cyiin, nama eike Erika??” Dia tertawa, aku merinding.

Percakapan dengan Erik siang tadi masih membayang. Ternyata ibunya mengidap kanker rahim, dan setelah dilakukan operasi beberapa hari yang lalu, keadaannya sampai sekarang masih kritis. Itulah yang menyebabkan akhir-akhir ini Erik rajin bertandang ke masjid, solat. Erik bilang, dokter sudah angkat tangan, pesimis terhadap keselamatan ibunya ini. Meski begitu, dia berusaha merayu Allah agar ibunya diselamatkan.
Namun Allah berkehendak lain. Sore tadi juga Ibunya menghembuskan napas terakhir, tepat saat aku menjenguknya di rumah sakit. Erik tidak berekspresi, seperti sudah merasa bahwa ibunya akan segera pergi. Ya, Allah telah menyelamatkannya, menyelamatkan dari rasa sakit yang ia derita selama ini. Allahumagfirlaha Warhamha Wa’afihi Wa’fuanha.
                                                                                                                               
Dua minggu semenjak kejadian itu, aku tidak pernah melihat lagi kepalanya menyembul di antara jamaah solat di masjid. Khusnudzanku dia solat lebih awal daripada aku yang memang akhir-akhir ini sedikit keteteran dengan tugas baru di organisasi. Namun setelah dua-tiga hari kemudian aku tetap tak menemukan wujudnya, aku mulai curiga. Masa dia solat sebelum adzan berkumandang? Serajin-rajinnya orang solat, itu tidak boleh dilakukan, kan?
Besoknya, lembaga dakwah fakultasku mengadakan baksos ke salah satu rumah sakit khusus anak yang menderita leukemia di bilangan Priok. Tak kusangka, Erik terlihat diantara rombongan. Sosoknya yang kontras begitu jelas terlihat. Seperti spesies unik diantara makhluk berkoko dan berjanggut tipis ala-ala ikhwan. Selesai acara, kuhampiri dirinya.
“Hai, Bro. Assalamu’alaykum.” Aku merangkul dan menyalaminya.
“Eh, Wa’alaykumsalam. Aduh, geli gue.” Protesnya sambil mengibaskan tangan. Aku tertawa.
“Itu kan tanda persaudaraan.”
“Ih, tapi tetep aja geli, tau. Aneh.” Dia tetap tidak terima.
“Eh, kemana aja lo, Bray?” aku mengalihkan topik.
“Ada, lo tuh yang kemana.” Jawabnya cuek.
“Kok jarang ketemu di mesjid ya sekarang?” Tanyaku memancing. Dia memang cuek dan masa bodo, tapi sebenarnya dia tipe orang pencerita.
“Gue sekarang jarang ke mesjid juga.”
“Kok gitu?”
“Males ah solat mulu. Gue kecewa, doa biar ibu sembuh aja ga dikabulin.” Ujarnya ringan. Astagfirullah.
Kuhela napas dalam, “Allah pasti lebih kecewa sama kamu.”
“Kok gitu?” giliran dia yang tersentak.
“Ialah, lo menghadap Dia pas ada maunya aja. Giliran ga dikabulkan, langsung angkat kaki. Coba deh lo bayangin punya temen yang cuma ada pas dia butuh aja, kecewa ga? Kesel ga?”
“Kesel lah.” Dia menjawab lirih, “Ia sih. Tapi kayanya dari dulu kalo gue berdoa tuh selalu gak dikabulin sama Tuhan.”
“Yang lo pinta apa dulu? Kalo lo mintanya motor, mobil, duit sekarung, ya ga akan langsung dikabulin juga kali. Perlu proses kalo yang gituan mah. Lo mau nilai bagus, ya musti belajar. Lo mau kaya, ya kerja.” Jawabku tak habis fikir, ada ya orang kaya gini?
“Nah kan, ga perlulah gue doa sama solat. Kan tinggal belajar sama kerja.” Katanya.
“Astagfirullah, Rik...” Kalimatku terpotong seruan dari Zaki. Sudah saatnya kami pulang.
“Gimana tuh?” Dia masih penasaran.
“Nanti lo main deh ke kontrakan gue, kita sharing.” Tawarku padanya. Dia mengangguk semangat.

Senja beranjak malam saat kaki-kaki lelah ini menjejak di kediamanku. Syukurlah kami sudah solat magrib bersama di perjalanan tadi sehingga bisa bersantai sejenak. Namun baru saja aku mendarat di singgasanaku (baca:kursi lapuk), Erik sudah stand by di hadapanku, “Jadi bagaimana?” pertanyaannya masih sama dengan pertanyaan tadi sore.
“Gini, gini. Lo bisa bernapas normal? Bisa melihat jelas? Hidung berfungsi baik? Telinga ga budek? Dikaruniai wajah cakep? Semua anggota tubuh ga ada yang cacat?” tanyaku. Erik mengangguk mengiyakan, apalagi pas ditanya masalah wajah, anggukannya kuat sekali. Dasar narsis.
“Lo pernah meminta semua itu?” lanjutku. Kali ini dia menggeleng.
“Tapi Allah kasih lo semua itu kan? Tanpa lo minta, tanpa tagihan, semuanya gratis. Dan apa yang bisa kita berikan? Ga ada. Kita ga diminta, dan ga akan mungkin bisa, untuk memberikan apapun sebagai bayaran atas semua nikmat yang kita terima. Tapi Wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun, kita hanya diwajibkan untuk beribadah, salah satunya adalah solat. Itu ibadah yang paling wajib. Rukun islam kedua setelah syahadat. Beribadah adalah bentuk syukur atas anugerah yang kita terima, dan bentuk sabar atas segala musibah yang menimpa kita.” Aku berhenti sejenak, “Dan Allah tidak memberatkan manusia, lo tau buktinya?” Sekali lagi Erik menggeleng. Kali ini dengan wajah yang semakin serius.
“Rukun islam ada 5, Syahadat, solat, shaum, zakat, dan haji. Allah menempatkan syahadat sebagai rukun paling mudah di awal, semua orang bisa melafalkannya. Lalu solat, setiap manusia juga mampu melakukannya. Pun shaum dan zakat. Dan kemudian haji menjadi rukun terakhir yang diwajibkan hanya bagi yang mampu. Bayangkan jika Haji dijadikan rukun kedua yang wajib bagi setiap ummat muslim, berapa banyak yang ummat yang tidak mampu melakukannya. Islam itu mudah kan? Karena Allah telah memudahkannya. Sangat tidak pantas jika kini manusia meninggalkan solat yang notabene adalah ibadah yang mudah, apapun alasannya.” Sosok di hadapanku terdiam, merenung.
“Manusia bisa beralasan sibuk untuk tidak solat, tapi sadarkah kita? Allahlah yang lebih sibuk urusannya, mengurusi kita dan semua makhluk ciptaannya. Allah tidak mempunyai alasan menciptakan manusia selain agar beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Jadi, tidak ada alasan bagi manusia hidup di bumi selain untuk beribadah pada-Nya.”
Ruangan kotak ini sesaat hening, hanya terdengar hembusan napas dua makhluk yang ada di dalamnya, juga sayup-sayup seruan adzan di kejauhan.
“Yuk solat.” Makhluk berbaju rombeng di hadapanku bangkit, menyisakan aku yang bengong dan mengira telingaku tiba-tiba bermasalah.


Tiga bulan berlalu. Alhamdulillah kini Erik sudah hijrah menjadi lebih alim. Pakaiannya tidak lagi rombeng-rombeng seperti preman, terlihat lebih bersih dan santun. Meski intensitas kami untuk bertemu sangat jarang, tapi selalu ada celah bagiku untuk mengetahui kabarnya. Pun dirinya, terkadang menyempatkan mampir ke kontrakanku sekedar untuk bertanya hal-hal yang belum ia pahami.
Sore ini lagi-lagi asharku molor. Tidak berniat menuhankan tugas-tugas, tapi deadline terkadang serasa ranjau di atas kepala, sekali kau beranjak, habislah kepalamu terkena ranjau itu. Astagfirullah, pembenaran atas kesalahan diri sendiri lagi.
Kulihat pelataran masjid masih ramai, ada sekitar 5 pemuda berkumpul. Tapi ada yang aneh, rasanya aku belum pernah melihat mereka, kecuali satu orang yang berada di tengah. Ah ya, itu kan Erik. Tapi siapa yang lainnya?
Aku duduk perlahan tidak jauh dari kerumunan itu, pura-pura melepas sepatu. Kupasang telinga baik-baik.
“…kita hidup di dunia seperti berpacu dengan maut. Pilihannya hanya dua, bersegera beribadah dan berbuat baik selagi hidup, atau merelakan maut yang akan menelan kesempatan itu.” Ujar satu suara, tidak salah algi, itu memang Erik.
“Kayanya udah jam 4 nih, 10 menit lagi mulai praktikum. Udahan yuk.” Lanjutnya.
Masyaallah, berjuta syukur kupanjatkan pada-Mu Ya Rabbi.

“Ren, Ren.” Aku mencari sumber suara. Oalah, Fauzan.
“Assalamu’alaykum, ada apa akhi?” Sapaku segera.
“Wa’alaykumsalam. Dicari Erik tuh tadi. Katanya penting.” Jawabnya.
“Wah ia. Ada apa ya?” Aku agak khawatir juga mendengarnya.
“Tenang aja, wajahnya sumringah ko. Tuh, barusan dia masih ada di kantin.” Lanjut partner magangku itu.
“Dia ga bilang ada apa?”
“Udah, sana samperin aja.” Fauzan malah tertawa.
Aku menurut, berjalan menuju kantin. Samar-samar dari kejauhan sudah terlihat makhluk yang aku cari, duduk santai menikmati semangkuk bakso yang masih mengepul.
“Hei, brother, Assalamu’alaykum.” Aku langsung duudk di hadapannya, “Katanya tadi nyariin?”
“Wa’alaykumsalam. Wah wah, ini nih yang gue cariin dari tadi.” benar kata Fauzan, wajahya sumringah sekali.
“Ada ape sih? Ko kayanya lagi seneng bener?” tanyaku dengan tampang cuek. Sebenarnya sih penasaran.
“Oh jelas. Gue kan mau mengamalkan ‘menyegerakan dalam beribadah’.” Dia masih enggak mau ngaku.
“Apaan? Solat? kan duhur masih lama bro.”
“Ah elu, emangnya ibadah itu solat doang. Sini gue kasih tau.” Dia merendahkan suaranya, “Gue mau ngelamar Zara, insyaallah abis magang ini.”
“Heh?” teriakku sepontan. Shuut… dia meletakkan jari telunjuknyta di bibir. Upz, kini pengunjung kantin pada memandang kami berdua.
“Bulan depan dong?” tanyaku masih tak percaya, “Kok buru-buru?”
“Sebelum maut yang mengambil kesempatan.” Jawabnya sambil nyengir. Aih ini anak, bikin geleng-geleng kepala. Tapi diam-diam kudukung juga keputusannya. Bener bro, daripada pacaran, mending langsung lamar saja!