Raisa menghampiri ayahnya, Pak Muslim. Di hadapan mereka
telah duduk seorang pria tampan dengan pakaian yang sangat rapi. Sempat Raisa
tak mengenali sosoknya, namun sejurus kemudian ia tertegun. Segaris alis hitam
tebal di atas matanya menyadarkan Raisa bahwa orang itu bukan orang asing
baginya.
“Nah, ini putri bapak, Raisa.” Pak Muslim memperkenalkan
Raisa kepada pemuda tersebut, “Isa, perkenalkan, pria di hadapanmu ini adalah
orang yang bapak kenal baik selama kamu bersekolah di Turki. Dia yang selalu
menemani bapak menghadiri pengajian-pengajian. Tahun lalu dia baru saja
menyelesaikan S2 nya dan kini sudah bekerja di salah satu perbankan syariah.
Kedatangannya kali ini mempunyai maksud yang baik bagimu, insyaallah.” Pak
Muslim meneguk kopi yang dibuatkan istrinya, “Nah, sekarang, sampaikanlah
langsung maksudmu yang tadi sudah kau ceritakan pada bapak, Nak.” Pak Muslim
berkata lembut pada pemuda tersebut.
“Ada apa ini, Pak?” Raisa yang baru saja datang dari kajian
tentulah heran. Alih-alih menjawab pertanyaan putrinya, Pak Muslim malah tersenyum
dan menyuruh putrinya untuk duduk bersamanya.
“Emh, Hai, Isa. Apa kabar?” Pria itu mulai berbicara. Raisa
menjawab pertanyaannya lirih.
“Maaf jika terkesan tergesa dan mendadak. Tadi sudah sempat
saya sampaikan pada Bapak tujuan saya datang kemari. Jika Allah mengizinkan,
dan jika kamu berkenan, saya bermaksud untuk melamarmu….”
***
7 tahun lalu
“Isa, pulang bareng yuk.” Andre menjajari langkah Raisa.
“Aku masih ada kelas, duluan aja.” Jawab Raisa sambil
tersenyum.
“Aku tunggu deh. Nanti kabari ya.” Andre membuat janji
sepihak. Setengah bingung, Raisa tak bisa menolak.
Kelas Kalkulus tidak begitu menarik bagi Isa. Dua jam yang
terasa sangat lama, akhirnya usai. Andaikan bukan mata kuliah wajib bagi
mahasiswa tingkat satu, ia tidak akan pernah mau mengambilnya. Raisa berjalan
menyusuri koridor kampus. Hampir saja dia melupakan Andre jika pemuda itu tidak
segera berlari dan muncul di hadapannya.
“Yah, kok gak ngabarin?” Protes Andre dengan nafas
tersenggal.
“Eh, ini baru mau gue kabarin.” Kilah Raisa sambil mengambil
ponselnya.
“Ya udah yuk pulang.” Andre berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak henti bercakap. Maklumlah
teman baru, segala informasi dikorek demi menjadi teman yang dapat saling
memahami. Sifat Andre maupun Raisa yang humble membuat keduanya mudah akrab,
terlebih mereka merupakan perantau yang berasal dari daerah yang sama. Raisa
merasa menemukan tempat bergantung di dunia baru yang asing. Begitupun
sebaliknya, adanya Raisa membuat Andre merasa menjadi orang yang dapat
diandalkan.
Minggu berganti bulan, hubungan Raisa-Andre semakin akrab.
Meski tak selalu bersama, komunikasi mereka tidak pernah terputus. Khalayak
menduga mereka berpacaran. Namanya remaja, ketertarikan antar lawan jenis menjadi hal yang sudah
biasa. Meski terkadang merasa bersalah pada seseorang, Raisa selalu berfikiran
tidak ada yang salah antara hubungannya dengan Andre. Dia catatkan dalam
hatinya, dirinya dan Andre hanya berteman.
Handphone putih itu bergetar, sebuah pesan masuk. Sekilas
Andre melirik, tertangkap sebaris nama oleh matanya. Raisa segera membalas
pesan tersebut.
“Izzi?” Tanya Andre.
Raisa mengangguk, “Hari ini dia kerja shift malam.”
Terangnya sambil kembali meletakkan HPnya.
Kali ini mereka sedang berada di salah satu tempat makan,
menikmati dinginnya malam kota Bandung.
“Sa, boleh ngomong sesuatu?” Andre memecah keheningan yang
tiba-tiba tercipta.
“Ngomong aja sih, Pak, biasanya juga bawel.” Ujar Raisa
sambil tertawa.
“Hehe. Penasaran aja, sebenarnya hubungan kita ini apa sih?”
Andre menatap mata Raisa serius.
Meski sudah menerka, tak urung Raisa terkejut juga, “Hubungan
kita… ya temanlah, memangnya apa? Ayah dan anak?” ujarnya bergurau, berusaha
menyembunyikan keterkejutannya.
“Begitu kah? Pengen tahu aja sih bagaimana dari sudut
pandang loe. Gue fikir kita lebih dari teman.” Tukas Andre. Lagi-lagi hening.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, saling menyelami hati sang lawan
bicaranya. Gagal memecah suasana yang kadung membeku, keduanya memutuskan untuk pulang.
Mentari menyusup dicelah gorden bermotif ribbon. Raisa masih
bergelung dengan selimut. Baginya, minggu pagi adalah saat yang tepat untuk melengkapi
jatah istirahatnya yang disunat setiap malam-malam weekdays. Tak lama kemudian,
lagu mirror berdering dari handphonenya. Setengah sadar Raisa menerima
panggilan tersebut.
“Hallo, sayang…”
“Hai cantik, lagi apa?” tanya suara pria di seberang.
“Masih tidur, hehe.” Raisa menjawab manja.
“Huuu, bangun dong, udah siang.” Ujar suara itu lagi.
“Masih ngantuk ah. Ka Izzi hari ini engga kerjakah?”
“Engga sayang, ini mau ngampus bentar lagi.”
“Ya udah, hati-hati ya.”
“Ngusir nih? Mentang-mentang masih ngantuk, pacarnya
dicuekin?” Izzi menggoda.
“hehe, biarin deh. Kan pacar Isa penyabar.”
“Aih gombal. Ya udah, kaka berangkat dulu ya sayang.
Bangunnya jangan siang-siang. Bye, miss you.”
“miss you.” Raisa menutup telepon dan melanjutkan
tidur.
Hari-hari berikutnya terkesan janggal. Sejak kejadian malam
itu, Raisa dan Andre seperti saling menjauh. Seperti kutub yang sama pada dua
magnet. Raisa bagai hidup di ruang hampa. Tanpa Andre, tidak ada yang
membuatnya bersemangat saat berada di kampus, pun saat melakukan aktivitas
lainnya. Saat tak sengaja berpapasan, Andre selalu memalingkan wajah, pura-pura
tak melihat. Raisa mulai merasa kesepian. Bahkan Izzi semakin sibuk dengan
jadwal kuliah serta pekerjaannya.
Tak tahan menjadi orang yang tak dianggap, Raisa akhirnya
berinisiatif untuk memulai percakapan. Dengan terus terang, Raisa menanyakan
pada Andre apa yang sedang terjadi diantara mereka. Dia juga bertanya apa
salahnya jika hubungan mereka hanya sebatas teman? Apakah hubungan pertemanan
tidak terlalu agung sehingga Andre menginginkan lebih? Apa salahnya mereka
saling peduli dan mengerti sebagai sepasang teman?
Setelah percakapan yang memakan waktu sekitar 1 jam, tidak
ada yang berubah. Andre tetap kukuh menjaga benteng beku diantara mereka. Raisa
menyerah.
Hubungan Raisa dengan Izzi pun semakin buruk. Komunikasi
tidak lagi selancar dahulu. Pesan dua hari sekali termasuk kategori sering bagi
hubungan mereka kini. Merasa tak lagi dipedulikan, Raisa akhirnya mundur
perlahan dari kehidupan Izzi, meski hubungannya dengan Andre tak pernah
beranjak dari status pertemanan.
***
6 tahun lalu
Siang itu gerimis. Waktu masih berbilang dhuhur, kantin
tidak begitu ramai. Raisa duduk diam, sendiri menikmati makan siangnya. Orang
berlalu lalang, namun tidak ada yang ia kenal. Ketidaksengajaan datang
terlambat membuatnya memutuskan untuk bolos pelajaran Fisika. Terlebih efek
perut kosong membuat kepalanya sedikit pusing.
“Ren, kasian banget sih orang-orang kaya lo.” Suara lantang
pria terdengar dari balik punggungnya.
“Kenapa memangnya?” sahut sang lawan bicara.
“Ya iya, keyakinan lo kan cuma lahir, hidup, terus mati.”
Jawab suara pertama. Raisa menguping, penasaran dengan arah bicara keduanya.
“Kan namanya juga keyakinan, beda-beda tergantung
agama yang dianut.” Tukas suara kedua santai.
“Ia sih, tapi ya
hampa banget gitu. Hidupnya cuma mikirin dunia, bahagia cuma di dunia juga.”
Kata suara pertama lagi.
“Halah, Lo solat aja ditinggal mulu, makan minum maen sabet
aja, kagak doa dulu. Hafal kagak lo doanya? Atau jangan-jangan kagak tau? Gue
sih kayak gini ibadah tiap minggu kagak pernah ketinggagalan bray. Kalo mau makan juga gue
doa dulu.” Si suara kedua berkata lugas.
“Enak aja kagak pernah solat. Gue tuh suka solat tauk." Protes suara pertama, "Kadang-kadang sih." Lanjutnya pelan. Keduanya tertawa, entah bagian mana yang lucu.
Raisa tersentak, seperti ada yang menampar keras dirinya.
Dia bangkit, berjalan tergesa. Dua pasang mata memperhatikan kepergiannya,
heran dengan tindakannya yang tiba-tiba. Langkah Raisa tertuju pada satu arah, mesjid. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.45.
Raisa mulai jenuh dengan kehidupan dunianya yang terus-terusan mengejar dunia. Berawal dari kejadian di kantin beberapa hari yang lalu, dia
mulai sering mendatangi mesjid. Bagai skenario yang telah disusun rapi,
kebiasaan barunya ini memberinya kesempatan untuk mengenal komunitas dakwah di
kampusnya. Bagai bertemu oase di padang pasir, Raisa meneguknya dengan
sukacita. Di sini dia merasakan suasana yang berbeda, kebahagiaan yang tidak
hanya berkutat pada kehidupan dunia, tetapi juga pada kehidupan setelah mati.
Perlahan Raisa mulai berbenah, kembali menyelami makna penciptaan seorang
makhluk bernama manusia.
Teman-teman barunya sangat ramah. Mereka menyambut Raisa
layaknya bagian keluarga yang sudah lama tak bersua. Melalui kedekatannya
dengan para akhwat tersebut, Allah menggerakka hati Raisa untuk bangkit menjadi
insan yang sesungguhnya. Keputusannya untuk berjilbab sungguh memberikan
kebahagiaan pada keluarga tak sedarah ini.
Dzohir yang sudah tertutup hijab tak serta merta mengubah
Raisa menjadi gadis alim tanpa cacat. Masih banyak yang perlu dilakukannya selain
memperbaiki akhlak, yaitu menghijabkan hati. Raisa tahu ini berat, tapi dia
yakin, hijab fisiknya akan menjadi salah satu pendorong ia untuk mencapainya.
Tertatih ia mulai melupakan Andre sang manusia salju, serta Izzi yang tak
pernah lagi ia ketahui rimbanya.
Jatuh bangun Raisa mensterilkan hati dari kontaminan-kontaminan
yang ada di sekitarnya. Memangnya dikira akhwat bersih dari godaan dari lawan
jenis? Tidak. Meski hijab telah menutup aurat, selalu ada celah bagi setan
untuk menggoda, terutama melalui makhluk berjenggot tipis bermerk ikhwan.
Tampilan yang rupawan serta akhlak menawan menjadi nilai plus yang ditawarkan
setan dalam mempromosikan ‘produknya’ ini. Pernah sekali Raisa terseret
godaan macam ini. Syukurnya para akhwat di sampingnya dengan sigap
menariknya.
Suatu ketika Raisa mengadu pada murabbinya.
“Mbak, Isa bingung sama diri sendiri. Sepertinya Isa punya
masalah serius. Isa selalu bergantung kepada sosok laki-laki, seperti
ketergantungan yang sulit dihilangkan.” Raisa memulai ceritanya.
Mbak Hasna tersenyum, “Sebenarnya itu hanya sangkaan diri sendiri. Ketergantungan kepada sesuatu
atau seseorang merupakan rasa nyaman yang timbul karena terbiasa. Bisa jadi
ketergantungan Isa kepada seorang ikhwan memang karena Isa membiasakan diri
atau telah terbiasa bergantung pada ikhwan, ya kan?” tanya sang murabbi.
“Iya, Mbak. Isa pernah berpacaran selama 2 tahun, dan Isa
merasa sangat bergantung pada orang itu.
Saat dia engga ada, Isa akan mencari orang lain yang bisa menggantikan posisi
dia.” Raisa menangis.
Kembali dengan suara lembut Mbak Hasna berkata, “Semoga
Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita ya dek. Bersyukurlah Dia sudah
menyadarkanmu kini. Maafkanlah masa lalumu. Mekarlah menjadi bunga yang cantik.
Janganlah dulu berfikir serangga seperti apa yang akan menghampirimu. Tahukah
sebuah ayat yang mengatakan ‘laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik,
dan sebaliknya’? Allah tidak akan menyalahi janjinya. Namun bukan berarti
dengan ayat ini hijrah kita dikarenakan sesosok makhluknya, tetap niatkan
karena Allah.”
Pembicaraan kedua akhwat itu berlanjut hingga magrib
menjelang. Sembab kentara di kedua mata Raisa, namun kini hatinya sedikit
tenang. Mulai saat itu, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidup hanya untuk
Allah dan orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
***
3 tahun lalu
Sebagai Sarjana kedokteran, Raisa tidak merasa cukup dengan
ilmu yang telah diperolehnya. Ia berniat melanjutkan studinya ke luar negeri.
Sambil magang di salah satu rumah sakit swasta, ia mulai mempersiapkan segala
yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginannya itu, mulai dari berkas-berkas,
fisik, mental, serta kemampuan berkomunikasi dalam berbahasa asing.
Sempat ridha ibu membantahkan keinginannya. Rasa sayang
seorang Ibu yang besar terkadang memang memberatkan langkah seorang anak
perempuan. Raisa tak lelah meminta, dan melalui bapaklah hati ibunya
terluluhkan. Saat ridha kedua orangtua telah digenggam, Raisa semakin semangat
memperjuangkan cita-citanya. Lelah terkadang mendera, namun Raisa segera
mengusirnya dengan bayangan indah tentang mimpi-mimpinya. Tak lupa ia
melengkapi usahanya dengan doa, merayu agar Allah mengabulkan keinginannya.
Buah matang dipetik setelah masanya. Berkali-kali Raisa
merasa hampir berhasil, namun gagal. Buah itu belum matang, belum saatnya ia
memetiknya. Ia kemudian tersadar, Ketergesaan yang lampau mengajarkannya
kesabaran kini, kekhilafan yang lalu memperbaiki niatnya sekarang. Doa ia
perkuat, ia yakin Tuhannya tidak pernah tidur.
Tanggal 7 akhir tahun, kabar baik itu akhirnya datang. Setelah
seleksi berkas, wawancara, Raisa akhirnya dinyatakan sebagai salah satu
penerima Türkiye Scholarships, program beasiswa
yang dibiayai oleh pemerintah Turki. Hujan syukur mengalir deras dari
dalam hatinya, hamdalah tak lepas terucap dari bibirnya. Ibu dan bapak menjadi
saksi betapa putri mereka sangat bahagia hari itu.
Tes yang selanjutnya harus ia lakukan adalah tes kesehatan.
Tidak ada kesulitan berarti bagi Raisa untuk menjalani tes ini. Bidang yang ia
geluti serta kesehariannya sebagai intern di rumah sakit membiasakannya hidup
sehat. Dokter tidak boleh sakit, begitu motto hidupnya. Akhirnya ia pun
dinyatakan lolos medical check up.
***
Hari ini
Raisa tertegun, menyangka dirinya sedang berhalusinasi.
“Bagaimana, Nak?” Pak Muslim menyentuh tangan putrinya itu.
Agak lama Raisa terdiam. Tak pernah ia duga, sosok yang berada di depannya menjadi orang pertama yang menemui walinya. Raisa mengira bertahun tak jumpa dan kabar tak bersua telah menghapus semua keterkaitan diantara mereka berdua. Tapi nyatanya, orang itu masih mengingatnya, dan ia muncul dengan pribadi yang jauh lebih baik, pun dengan niatan yang baik.
Setelah menghela napas dalam, akhirnya ia angkat bicara, “Isa tidak bisa menjawab sekarang, Pak. Jika Ka Izzi
berkenan, insyaallah Isa akan memberikan jawaban minggu depan, di hari yang
sama.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar