Sabtu, 03 Mei 2014

Kebangkitan Raisa



Raisa menghampiri ayahnya, Pak Muslim. Di hadapan mereka telah duduk seorang pria tampan dengan pakaian yang sangat rapi. Sempat Raisa tak mengenali sosoknya, namun sejurus kemudian ia tertegun. Segaris alis hitam tebal di atas matanya menyadarkan Raisa bahwa orang itu bukan orang asing baginya.
“Nah, ini putri bapak, Raisa.” Pak Muslim memperkenalkan Raisa kepada pemuda tersebut, “Isa, perkenalkan, pria di hadapanmu ini adalah orang yang bapak kenal baik selama kamu bersekolah di Turki. Dia yang selalu menemani bapak menghadiri pengajian-pengajian. Tahun lalu dia baru saja menyelesaikan S2 nya dan kini sudah bekerja di salah satu perbankan syariah. Kedatangannya kali ini mempunyai maksud yang baik bagimu, insyaallah.” Pak Muslim meneguk kopi yang dibuatkan istrinya, “Nah, sekarang, sampaikanlah langsung maksudmu yang tadi sudah kau ceritakan pada bapak, Nak.” Pak Muslim berkata lembut pada pemuda tersebut.
“Ada apa ini, Pak?” Raisa yang baru saja datang dari kajian tentulah heran. Alih-alih menjawab pertanyaan putrinya, Pak Muslim malah tersenyum dan menyuruh putrinya untuk duduk bersamanya.
“Emh, Hai, Isa. Apa kabar?” Pria itu mulai berbicara. Raisa menjawab pertanyaannya lirih.
“Maaf jika terkesan tergesa dan mendadak. Tadi sudah sempat saya sampaikan pada Bapak tujuan saya datang kemari. Jika Allah mengizinkan, dan jika kamu berkenan, saya bermaksud untuk melamarmu….”
***
7 tahun lalu
“Isa, pulang bareng yuk.” Andre menjajari langkah Raisa.
“Aku masih ada kelas, duluan aja.” Jawab Raisa sambil tersenyum.
“Aku tunggu deh. Nanti kabari ya.” Andre membuat janji sepihak. Setengah bingung, Raisa tak bisa menolak.
Kelas Kalkulus tidak begitu menarik bagi Isa. Dua jam yang terasa sangat lama, akhirnya usai. Andaikan bukan mata kuliah wajib bagi mahasiswa tingkat satu, ia tidak akan pernah mau mengambilnya. Raisa berjalan menyusuri koridor kampus. Hampir saja dia melupakan Andre jika pemuda itu tidak segera berlari dan muncul di hadapannya.
“Yah, kok gak ngabarin?” Protes Andre dengan nafas tersenggal.
“Eh, ini baru mau gue kabarin.” Kilah Raisa sambil mengambil ponselnya.
“Ya udah yuk pulang.” Andre berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak henti bercakap. Maklumlah teman baru, segala informasi dikorek demi menjadi teman yang dapat saling memahami. Sifat Andre maupun Raisa yang humble membuat keduanya mudah akrab, terlebih mereka merupakan perantau yang berasal dari daerah yang sama. Raisa merasa menemukan tempat bergantung di dunia baru yang asing. Begitupun sebaliknya, adanya Raisa membuat Andre merasa menjadi orang yang dapat diandalkan.

Minggu berganti bulan, hubungan Raisa-Andre semakin akrab. Meski tak selalu bersama, komunikasi mereka tidak pernah terputus. Khalayak menduga mereka berpacaran. Namanya remaja, ketertarikan  antar lawan jenis menjadi hal yang sudah biasa. Meski terkadang merasa bersalah pada seseorang, Raisa selalu berfikiran tidak ada yang salah antara hubungannya dengan Andre. Dia catatkan dalam hatinya, dirinya dan Andre hanya berteman.

Handphone putih itu bergetar, sebuah pesan masuk. Sekilas Andre melirik, tertangkap sebaris nama oleh matanya. Raisa segera membalas pesan tersebut.
“Izzi?” Tanya Andre.
Raisa mengangguk, “Hari ini dia kerja shift malam.” Terangnya sambil kembali meletakkan HPnya.
Kali ini mereka sedang berada di salah satu tempat makan, menikmati dinginnya malam kota Bandung.
“Sa, boleh ngomong sesuatu?” Andre memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta.
“Ngomong aja sih, Pak, biasanya juga bawel.” Ujar Raisa sambil tertawa.
“Hehe. Penasaran aja, sebenarnya hubungan kita ini apa sih?” Andre menatap mata Raisa serius.
Meski sudah menerka, tak urung Raisa terkejut juga, “Hubungan kita… ya temanlah, memangnya apa? Ayah dan anak?” ujarnya bergurau, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Begitu kah? Pengen tahu aja sih bagaimana dari sudut pandang loe. Gue fikir kita lebih dari teman.” Tukas Andre. Lagi-lagi hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, saling menyelami hati sang lawan bicaranya. Gagal memecah suasana yang kadung membeku, keduanya memutuskan untuk pulang.

Mentari menyusup dicelah gorden bermotif ribbon. Raisa masih bergelung dengan selimut. Baginya, minggu pagi adalah saat yang tepat untuk melengkapi jatah istirahatnya yang disunat setiap malam-malam weekdays. Tak lama kemudian, lagu mirror berdering dari handphonenya. Setengah sadar Raisa menerima panggilan tersebut.
“Hallo, sayang…”
“Hai cantik, lagi apa?” tanya suara pria di seberang.
“Masih tidur, hehe.” Raisa menjawab manja.
“Huuu, bangun dong, udah siang.” Ujar suara itu lagi.
“Masih ngantuk ah. Ka Izzi hari ini engga kerjakah?”
“Engga sayang, ini mau ngampus bentar lagi.”
“Ya udah, hati-hati ya.”                                                                                   
“Ngusir nih? Mentang-mentang masih ngantuk, pacarnya dicuekin?” Izzi menggoda.
“hehe, biarin deh. Kan pacar Isa penyabar.”
“Aih gombal. Ya udah, kaka berangkat dulu ya sayang. Bangunnya jangan siang-siang. Bye, miss you.”
“miss you.” Raisa menutup telepon dan melanjutkan tidur.

Hari-hari berikutnya terkesan janggal. Sejak kejadian malam itu, Raisa dan Andre seperti saling menjauh. Seperti kutub yang sama pada dua magnet. Raisa bagai hidup di ruang hampa. Tanpa Andre, tidak ada yang membuatnya bersemangat saat berada di kampus, pun saat melakukan aktivitas lainnya. Saat tak sengaja berpapasan, Andre selalu memalingkan wajah, pura-pura tak melihat. Raisa mulai merasa kesepian. Bahkan Izzi semakin sibuk dengan jadwal kuliah serta pekerjaannya.
Tak tahan menjadi orang yang tak dianggap, Raisa akhirnya berinisiatif untuk memulai percakapan. Dengan terus terang, Raisa menanyakan pada Andre apa yang sedang terjadi diantara mereka. Dia juga bertanya apa salahnya jika hubungan mereka hanya sebatas teman? Apakah hubungan pertemanan tidak terlalu agung sehingga Andre menginginkan lebih? Apa salahnya mereka saling peduli dan mengerti sebagai sepasang teman?
Setelah percakapan yang memakan waktu sekitar 1 jam, tidak ada yang berubah. Andre tetap kukuh menjaga benteng beku diantara mereka. Raisa menyerah.
Hubungan Raisa dengan Izzi pun semakin buruk. Komunikasi tidak lagi selancar dahulu. Pesan dua hari sekali termasuk kategori sering bagi hubungan mereka kini. Merasa tak lagi dipedulikan, Raisa akhirnya mundur perlahan dari kehidupan Izzi, meski hubungannya dengan Andre tak pernah beranjak dari status pertemanan.
***
6 tahun lalu
Siang itu gerimis. Waktu masih berbilang dhuhur, kantin tidak begitu ramai. Raisa duduk diam, sendiri menikmati makan siangnya. Orang berlalu lalang, namun tidak ada yang ia kenal. Ketidaksengajaan datang terlambat membuatnya memutuskan untuk bolos pelajaran Fisika. Terlebih efek perut kosong membuat kepalanya sedikit pusing.
“Ren, kasian banget sih orang-orang kaya lo.” Suara lantang pria terdengar dari balik punggungnya.
“Kenapa memangnya?” sahut sang lawan bicara.
“Ya iya, keyakinan lo kan cuma lahir, hidup, terus mati.” Jawab suara pertama. Raisa menguping, penasaran dengan arah bicara keduanya.
“Kan namanya juga keyakinan, beda-beda tergantung agama yang dianut.” Tukas suara kedua santai.
“Ia sih,  tapi ya hampa banget gitu. Hidupnya cuma mikirin dunia, bahagia cuma di dunia juga.” Kata suara pertama lagi.
“Halah, Lo solat aja ditinggal mulu, makan minum maen sabet aja, kagak doa dulu. Hafal kagak lo doanya? Atau jangan-jangan kagak tau? Gue sih kayak gini ibadah tiap minggu kagak pernah ketinggagalan bray. Kalo mau makan juga gue doa dulu.” Si suara kedua berkata lugas.
“Enak aja kagak pernah solat. Gue tuh suka solat tauk." Protes suara pertama, "Kadang-kadang sih." Lanjutnya pelan. Keduanya tertawa, entah bagian mana yang lucu.
Raisa tersentak, seperti ada yang menampar keras dirinya. Dia bangkit, berjalan tergesa. Dua pasang mata memperhatikan kepergiannya, heran dengan tindakannya yang tiba-tiba. Langkah Raisa tertuju pada satu arah, mesjid. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.45.

Raisa mulai jenuh dengan kehidupan dunianya yang terus-terusan mengejar dunia. Berawal dari kejadian di kantin beberapa hari yang lalu, dia mulai sering mendatangi mesjid. Bagai skenario yang telah disusun rapi, kebiasaan barunya ini memberinya kesempatan untuk mengenal komunitas dakwah di kampusnya. Bagai bertemu oase di padang pasir, Raisa meneguknya dengan sukacita. Di sini dia merasakan suasana yang berbeda, kebahagiaan yang tidak hanya berkutat pada kehidupan dunia, tetapi juga pada kehidupan setelah mati. Perlahan Raisa mulai berbenah, kembali menyelami makna penciptaan seorang makhluk bernama manusia.
Teman-teman barunya sangat ramah. Mereka menyambut Raisa layaknya bagian keluarga yang sudah lama tak bersua. Melalui kedekatannya dengan para akhwat tersebut, Allah menggerakka hati Raisa untuk bangkit menjadi insan yang sesungguhnya. Keputusannya untuk berjilbab sungguh memberikan kebahagiaan pada keluarga tak sedarah ini.
Dzohir yang sudah tertutup hijab tak serta merta mengubah Raisa menjadi gadis alim tanpa cacat. Masih banyak yang perlu dilakukannya selain memperbaiki akhlak, yaitu menghijabkan hati. Raisa tahu ini berat, tapi dia yakin, hijab fisiknya akan menjadi salah satu pendorong ia untuk mencapainya. Tertatih ia mulai melupakan Andre sang manusia salju, serta Izzi yang tak pernah lagi ia ketahui rimbanya.
Jatuh bangun Raisa mensterilkan hati dari kontaminan-kontaminan yang ada di sekitarnya. Memangnya dikira akhwat bersih dari godaan dari lawan jenis? Tidak. Meski hijab telah menutup aurat, selalu ada celah bagi setan untuk menggoda, terutama melalui makhluk berjenggot tipis bermerk ikhwan. Tampilan yang rupawan serta akhlak menawan menjadi nilai plus yang ditawarkan setan dalam mempromosikan ‘produknya’ ini. Pernah sekali Raisa  terseret  godaan macam ini. Syukurnya para akhwat di sampingnya dengan sigap menariknya.
Suatu ketika Raisa mengadu pada murabbinya.
“Mbak, Isa bingung sama diri sendiri. Sepertinya Isa punya masalah serius. Isa selalu bergantung kepada sosok laki-laki, seperti ketergantungan yang sulit dihilangkan.” Raisa memulai ceritanya.
Mbak Hasna tersenyum, “Sebenarnya itu hanya sangkaan diri sendiri. Ketergantungan kepada sesuatu atau seseorang merupakan rasa nyaman yang timbul karena terbiasa. Bisa jadi ketergantungan Isa kepada seorang ikhwan memang karena Isa membiasakan diri atau telah terbiasa bergantung pada ikhwan, ya kan?” tanya sang murabbi.
“Iya, Mbak. Isa pernah berpacaran selama 2 tahun, dan Isa merasa sangat  bergantung pada orang itu. Saat dia engga ada, Isa akan mencari orang lain yang bisa menggantikan posisi dia.” Raisa menangis.
Kembali dengan suara lembut Mbak Hasna berkata, “Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita ya dek. Bersyukurlah Dia sudah menyadarkanmu kini. Maafkanlah masa lalumu. Mekarlah menjadi bunga yang cantik. Janganlah dulu berfikir serangga seperti apa yang akan menghampirimu. Tahukah sebuah ayat yang mengatakan ‘laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya’? Allah tidak akan menyalahi janjinya. Namun bukan berarti dengan ayat ini hijrah kita dikarenakan sesosok makhluknya, tetap niatkan karena Allah.”
Pembicaraan kedua akhwat itu berlanjut hingga magrib menjelang. Sembab kentara di kedua mata Raisa, namun kini hatinya sedikit tenang. Mulai saat itu, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidup hanya untuk Allah dan orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
***
3 tahun lalu
Sebagai Sarjana kedokteran, Raisa tidak merasa cukup dengan ilmu yang telah diperolehnya. Ia berniat melanjutkan studinya ke luar negeri. Sambil magang di salah satu rumah sakit swasta, ia mulai mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginannya itu, mulai dari berkas-berkas, fisik, mental, serta kemampuan berkomunikasi dalam berbahasa asing.
Sempat ridha ibu membantahkan keinginannya. Rasa sayang seorang Ibu yang besar terkadang memang memberatkan langkah seorang anak perempuan. Raisa tak lelah meminta, dan melalui bapaklah hati ibunya terluluhkan. Saat ridha kedua orangtua telah digenggam, Raisa semakin semangat memperjuangkan cita-citanya. Lelah terkadang mendera, namun Raisa segera mengusirnya dengan bayangan indah tentang mimpi-mimpinya. Tak lupa ia melengkapi usahanya dengan doa, merayu agar Allah mengabulkan keinginannya.

Buah matang dipetik setelah masanya. Berkali-kali Raisa merasa hampir berhasil, namun gagal. Buah itu belum matang, belum saatnya ia memetiknya. Ia kemudian tersadar, Ketergesaan yang lampau mengajarkannya kesabaran kini, kekhilafan yang lalu memperbaiki niatnya sekarang. Doa ia perkuat, ia yakin Tuhannya tidak pernah tidur.

Tanggal 7 akhir tahun, kabar baik itu akhirnya datang. Setelah seleksi berkas, wawancara, Raisa akhirnya dinyatakan sebagai salah satu penerima Türkiye Scholarships, program beasiswa  yang dibiayai oleh pemerintah Turki. Hujan syukur mengalir deras dari dalam hatinya, hamdalah tak lepas terucap dari bibirnya. Ibu dan bapak menjadi saksi betapa putri mereka sangat bahagia hari itu.
Tes yang selanjutnya harus ia lakukan adalah tes kesehatan. Tidak ada kesulitan berarti bagi Raisa untuk menjalani tes ini. Bidang yang ia geluti serta kesehariannya sebagai intern di rumah sakit membiasakannya hidup sehat. Dokter tidak boleh sakit, begitu motto hidupnya. Akhirnya ia pun dinyatakan lolos medical check up.
***
Hari ini
Raisa tertegun, menyangka dirinya sedang berhalusinasi.
“Bagaimana, Nak?” Pak Muslim menyentuh tangan putrinya itu.
Agak lama Raisa terdiam. Tak pernah ia duga, sosok yang berada di depannya menjadi orang pertama yang menemui walinya. Raisa mengira bertahun tak jumpa dan kabar tak bersua telah menghapus semua keterkaitan diantara mereka berdua. Tapi nyatanya, orang itu masih mengingatnya, dan ia muncul dengan pribadi yang jauh lebih baik, pun dengan niatan yang baik.
Setelah menghela napas dalam, akhirnya ia angkat bicara, “Isa tidak bisa menjawab sekarang, Pak. Jika Ka Izzi berkenan, insyaallah Isa akan memberikan jawaban minggu depan, di hari yang sama.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar