Jumat, 11.45, mushola kampus…
“Sabar itu bisa dikategorikan menjadi tiga: sabar
dalam beribadah kepada Allah, sabar dalam menahan diri untuk tidak berbuat
maksiat, serta sabar dalam mengahadapi musibah.
Sabar dalam beribadah kepada Allah banyak
bentuknya, salah satunya adalah sabar dalam melakukan sholat. Misalnya si saat
sholat empat rakaat kita hanya berdurasi 2 meni, orang sholeh lain mungkin
mampu melakukan sholat subuh selama 5 menit atau lebih. Sholat yang terburu-buru
seperti itu bisa mengindikasikan ketidaksabaran kita dalam beribadah. Sholat
adalah doa, melakukan sholat berarti juga berdoa. Bagaimana bisa kita ingin keinginan
kita dikabulkan oleh Allah sedangkan dalam berdoa saja kita tidak bisa
bersabar?
Maksiat bisa timbul dari semua indera yang
dimiliki oleh manusia, melalui penglihatan, pendengaran, ucapan, juga melalui sentuhan.
Menahan diri dari melihat lawan jenis yang bukan mahram termasuk ke dalam
bersabar. Menahan diri untuk tidak mendengarkan pembicaraan yang tidak
bermanfaat termasuk ke dalam bersabar. Menahan diri untuk tidak berucap selain
hal yang benar dan bermanfaat, termasuk usaha untuk bersabar. Pun menahan diri
untuk tidak menyentuh atau bersentuhan dengan yang tidak halal, merupakan
kategori dalam bersabar.
Kategori ketiga merupakan yang lumayan berat,
jarang sekali orang mampu bersabar ketika dihadapkan pada sebuah ujian atau
musibah. Padahal, dalam Al-Quran sendiri Allah sudah menekankan bahwa apapun
yang menimpa orang beriman, akan bernilai kebaikan. Jika ia mendapat anugerah
ia akan bersyukur, dan jika ia mendapat musibah ia akan bersabar. Masyaallah…”
“Nah, lalu bagaimana dengan bersabar dalam menghadapi
problema sehari-hari dengan teman ataupun lingkungan?? Seringkali kita ‘dipaksa’
untuk bersabar terhadap tingkah orang-orang di sekitar kita yang terkadang ‘nyebelin’, padahal kan sabar ada batasnya.”
“Allah tidak akan membiarkan seseorang yang berusaha
menjadi baik tanpa memberinya ujian. Bisa jadi teman-teman atau orang-orang di
sekitar kita yang kadangkala bertingkah ‘unik’ sebenarnya merupakan ladang kita
untuk bersabar, ladang kita untuk menaikkan derajat kesabaran kita.
Perlu diketahui, sabar itu tidak ada batasnya,
karena ganjaran yang telah dijanjikan Allah terhadap orang-orang yang mampu
bersabar pun merupakan kenikmatan yang tidak ada batasnya. Hanya saja sabar
bukan berarti selalu diam. Ingat, sabar bukan berarti diam. Kita
contohkan saja dalam sebuah organisasi ada satu oknum yang sedikit bermasalah. Setiap
amanah yang diberikan kepadanya tidak pernah terselesaikan. Sekali dua kali
mungkin kita bisa bersabar dengan diam. Namun, hal ini tidak bisa dibiarkan
terus berlanjut. Oknum macam ini bisa menjadi virus yang menular dalam sebuah
organisasi jika tidak ditindak tegas. Teguran secara personal atau melalui
orang yang lebih mempunyai power bisa dijadikan sebagai alternatif untuk
memangkas virus macam ini.”
Jumat, 16.15, ruang kelas…
“Tau ga? Masa tadi orang itu bertingkah lagi. So’ mau
berkontribusi banyak di acara divisi kita, tugas dia di divisinya aja kagak
kelar-kelar. Show up banget.” Omelku sambil mencorat-coret kertas
kosong. Sosok di sampingku diam saja, aku tidak puas.
“Nah terus, si itu, yang make up nya menor itu,
dia sama temen-temennya tadi berisik banget coba pas di toilet, ambisius banget
tuh dia mau naik jadi ketua Padus.”
“Ssst, inget kajian tadi siang.” Ucap suara di
sampingku lirih.
Astagfirullah, aku langsung diam. Jawabannya
sangat singkat, tapi cukup mampu membuatku berfikir bahwa waktu yang aku
luangkan untuk menghadiri kajian tadi siang menjadi sia-sia.
Sekedar refleksi, disadari ataupun tidak,
seringkali ilmu-ilmu yang telah telinga kanan kita tangkap, akan keluar lagi
dengan lancar lewat telinga kiri. Ilmu Consumen Behavior mengatakan: manusia
hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Jadi, mungkin saja terpentalnya
semua informasi yang kita dengar disebabkan karena kita tidak ingin atau tidak
enjoy mendengarkannya. Begitupun dengan materi-materi kajian. Seberapa banyakpun
kajian yang diikuti dengan materi-materi yang menarik, tidak akan mampu merubah
perilaku kita jika dalam hati kitanya saja masih ada noktah kotor yang
menghalangi kita untuk menerima kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar