Jumat, 16 Mei 2014

Kajian Muslimah Terakhir



Jumat, 11.45, mushola kampus…
“Sabar itu bisa dikategorikan menjadi tiga: sabar dalam beribadah kepada Allah, sabar dalam menahan diri untuk tidak berbuat maksiat, serta sabar dalam mengahadapi musibah.
Sabar dalam beribadah kepada Allah banyak bentuknya, salah satunya adalah sabar dalam melakukan sholat. Misalnya si saat sholat empat rakaat kita hanya berdurasi 2 meni, orang sholeh lain mungkin mampu melakukan sholat subuh selama 5 menit atau lebih. Sholat yang terburu-buru seperti itu bisa mengindikasikan ketidaksabaran kita dalam beribadah. Sholat adalah doa, melakukan sholat berarti juga berdoa. Bagaimana bisa kita ingin keinginan kita dikabulkan oleh Allah sedangkan dalam berdoa saja kita tidak bisa bersabar?
Maksiat bisa timbul dari semua indera yang dimiliki oleh manusia, melalui penglihatan, pendengaran, ucapan, juga melalui sentuhan. Menahan diri dari melihat lawan jenis yang bukan mahram termasuk ke dalam bersabar. Menahan diri untuk tidak mendengarkan pembicaraan yang tidak bermanfaat termasuk ke dalam bersabar. Menahan diri untuk tidak berucap selain hal yang benar dan bermanfaat, termasuk usaha untuk bersabar. Pun menahan diri untuk tidak menyentuh atau bersentuhan dengan yang tidak halal, merupakan kategori dalam bersabar.
Kategori ketiga merupakan yang lumayan berat, jarang sekali orang mampu bersabar ketika dihadapkan pada sebuah ujian atau musibah. Padahal, dalam Al-Quran sendiri Allah sudah menekankan bahwa apapun yang menimpa orang beriman, akan bernilai kebaikan. Jika ia mendapat anugerah ia akan bersyukur, dan jika ia mendapat musibah ia akan bersabar. Masyaallah…”
“Nah, lalu bagaimana dengan bersabar dalam menghadapi problema sehari-hari dengan teman ataupun lingkungan?? Seringkali kita ‘dipaksa’ untuk bersabar terhadap tingkah orang-orang di sekitar kita yang terkadang ‘nyebelin’,  padahal kan sabar ada batasnya.”
“Allah tidak akan membiarkan seseorang yang berusaha menjadi baik tanpa memberinya ujian. Bisa jadi teman-teman atau orang-orang di sekitar kita yang kadangkala bertingkah ‘unik’ sebenarnya merupakan ladang kita untuk bersabar, ladang kita untuk menaikkan derajat kesabaran kita.
Perlu diketahui, sabar itu tidak ada batasnya, karena ganjaran yang telah dijanjikan Allah terhadap orang-orang yang mampu bersabar pun merupakan kenikmatan yang tidak ada batasnya. Hanya saja sabar bukan berarti selalu diam. Ingat, sabar bukan berarti diam. Kita contohkan saja dalam sebuah organisasi ada satu oknum yang sedikit bermasalah. Setiap amanah yang diberikan kepadanya tidak pernah terselesaikan. Sekali dua kali mungkin kita bisa bersabar dengan diam. Namun, hal ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Oknum macam ini bisa menjadi virus yang menular dalam sebuah organisasi jika tidak ditindak tegas. Teguran secara personal atau melalui orang yang lebih mempunyai power bisa dijadikan sebagai alternatif untuk memangkas virus macam ini.”

Jumat, 16.15, ruang kelas…
“Tau ga? Masa tadi orang itu bertingkah lagi. So’ mau berkontribusi banyak di acara divisi kita, tugas dia di divisinya aja kagak kelar-kelar. Show up banget.” Omelku sambil mencorat-coret kertas kosong. Sosok di sampingku diam saja, aku tidak puas.
“Nah terus, si itu, yang make up nya menor itu, dia sama temen-temennya tadi berisik banget coba pas di toilet, ambisius banget tuh dia mau naik jadi ketua Padus.”
“Ssst, inget kajian tadi siang.” Ucap suara di sampingku lirih.
Astagfirullah, aku langsung diam. Jawabannya sangat singkat, tapi cukup mampu membuatku berfikir bahwa waktu yang aku luangkan untuk menghadiri kajian tadi siang menjadi sia-sia.

Sekedar refleksi, disadari ataupun tidak, seringkali ilmu-ilmu yang telah telinga kanan kita tangkap, akan keluar lagi dengan lancar lewat telinga kiri. Ilmu Consumen Behavior mengatakan: manusia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Jadi, mungkin saja terpentalnya semua informasi yang kita dengar disebabkan karena kita tidak ingin atau tidak enjoy mendengarkannya. Begitupun dengan materi-materi kajian. Seberapa banyakpun kajian yang diikuti dengan materi-materi yang menarik, tidak akan mampu merubah perilaku kita jika dalam hati kitanya saja masih ada noktah kotor yang menghalangi kita untuk menerima kebenaran.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar