Entahlah tulisin ini dibuat dalam rangka memperingati hari
apa, yang jelas hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semesterku. Entah
dari mana juga datangnya ide untuk menulis kisah kita ini, muncul begitu saja.
Teruntuk kalian yang di sana,
Kalian pasti ga’ akan pernah lupa apa yang kita lakukan
empat tahun lalu…
Bagaimana
rutinitas keseharian kita, pergi pagi, pulang malam, dari senin hingga senin.
Bagaimana
kesibukan kita bantuin babeh ngurusin lab, ngambil kunci, beres-beres, ngatur
jadwal praktikum, ngatur orang-orang praktikum, ngajarin, ngawasin, ga’ jarang
kita juga teriak-teriak saingan sama suara mesin. Buat apa? Biar semuanya
berjalan lancar, biar ga ada hal-hal aneh yang terjadi, yang malah bikin kita
yang diteriakin babeh.
Bagaimana
kesalnya saat kata-kata dan teriakan kita udah ga’ mereka denger lagi. Kita
biarin mereka berbuat semaunya, lalu sesuatu terjadi. Ketika itu kita hanya
menghitung dalam hati, 1 2 3… RISKAAAA, HERLIAAAAH, YOLANDAAAA, dan tamatlah
kita hari itu.
Bagaimana terkadang kantuk meyerang tanpa bisa ditahan.
Sembari menunggu alarm oven bunyi, kita tidur di sudut manapun lab yang tak
bisa dijangkau babeh.
Bagaimana
bingungnya saat mendapat instruksi yag kurang jelas dan kita ga’ berani
bertanya. Kesempatan kita cuma 3, benar, salah, serta separuh benar dan salah.
Kita berspekulasi atas berbagai kemungkinan yang terjadi. Jika tidak sedang
beruntung maka… GOBLOK LU!! Dan kita cuma nyengir kuda, atau tak berekspresi
sedikitpun, itu yang paling aman.
Kalian pasti akan selalu ingat…
Saat
orang lain sulit untuk mendapat izin masuk lab,
kita malah kesulitan untuk meninggalkan leb sebelum matahari terbenam.
Bagaimana
keadaan leb Sunday morning, that was our crazy time. Yeay, karaokean.
Bento lagu kebangsaan kita kan?
Tanggal
muda adalah tanggal istimewa. Entah berapa banyak dana pribadi babeh yang kita
habiskan untuk jalan-jalan ke kebun teh, dan kuliner-kuliner di pinggir jalan.
Sate, sekoteng, durian, itu makanan wajib kita.
Saat
jenuh menyerang, bagaimana kita bersiasat agar bisa bolos satu hari aja dari
lab. Sakit adalah alasan yang paling manjur untuk diterima oleh babeh.
Dulu, kita selalu berfikir bahwa kita harus ekstra sabar
ngadepin babeh. Padahal ternyata babeh juga harus lebih sabar ngadepin kita.
Dia sabar ngadepin kita yang kadang
bloon, ga nyambung dengan apa yang diperintahkannya.
Dia
sabar ngajarin kita apapun yang belum kita bisa.
Dia
sabar ngejelasin apapaun yang belum kita tahu.
Dia
sabar ngebimbing kita bahkan di hari libur sekalipun.
Masih ingatkah hal-hal sepele yang seorang babeh lakukan ke
kita?
Dia
akan mengomentari cara kita makan. Tidak boleh ada bunyi sendok, tidak boleh
berdecap, tidak boleh menyisakan makanan di piring, tidak boleh menolak tawaran
makan, sekalipun kita tidak sedang lapar.
Dia
akan mengomentari kita dalam menerima tamu. Tamu ga’ boleh ditinggal sendiri,
tamu ga’ boleh masuk lab sembarangan, dan blablabla lainnya.
Dia
akan mengomentari kopi buatan kita. Seberapa takaran air dalam cangkir, tidak
boleh terlalu penuh, pun terlalu sedikit.
Dia
akan mengomentari kita saat praktikum. Mulai dari ekspresi wajah yang ga’ enak
dipandang, tangan yang kelihatan ga’ terampil, serta aktivitas iseng lainnya
saat kita praktik.
Dia
akan mengomentari kedekatan kita dengan siapapun. Bilang ya jika setuju, bilang
tidak jika memang tidak setuju.
Disadari atau tidak, kita pasti merindukan sosoknya. Aku di
sini dengan kegiatanku, pun kalian dengan kesibukan kalian, pasti ada saat
teringat babeh, dan membayangkan apa yang akan dikatakannya jika melihat apa
yang sedang kita lakukan kini.
Bahkan di hari perpisahan sekolah yang selalu kita tunggu,
karena kita akan segera bebas tugas, babeh berfikiran sebaliknya. Dia tidak
pernah menginginkan hari itu. Dan kenyataanya dia selalu kehilangan di setiap
tahunnya, ditinggalkan murid-murid terdekatnya.
Di hari-hari setelah kita berpisah, berbeda nasib, dia masih
saja memantau aktivitas kita. Saat aku tak sengaja bilang iri melihat kalian
yang masih bisa terus bersama, dia berkata, “Sudah, memang jalan kalian
berbeda. Jalani saja, ga’ boleh iri-irian.”
Dulu, saat kita terbaring sakit 3 hari saja, beliau akan
langsung mengutus siapapun untuk menjenguk dan membawakan apapun makanan yang
kita inginkan. Tapi kini, bahkan untuk sekedar menjenguknya saja kita selalu
merasa sibuk. T.T
Rindukan kalian? Jelas, saya sedang merindu. T.T
Cerita tentang kita sangat banyak, sebanyak luka yang kita
dapat saat tak sengaja menyenggol oven panas, menyentuh wajan, atau teriris
pisau. Luka-luka itu kini sudah tak berbekas, tapi masa ‘mengerikan’ bersama
kalian akan terus membekas. :)
:*
(22/4/14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar