Rabu, 23 April 2014

Merindu

Entahlah tulisin ini dibuat dalam rangka memperingati hari apa, yang jelas hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semesterku. Entah dari mana juga datangnya ide untuk menulis kisah kita ini, muncul begitu saja.
Teruntuk kalian yang di sana,
Kalian pasti ga’ akan pernah lupa apa yang kita lakukan empat tahun lalu…
                Bagaimana rutinitas keseharian kita, pergi pagi, pulang malam, dari senin hingga senin.
                Bagaimana kesibukan kita bantuin babeh ngurusin lab, ngambil kunci, beres-beres, ngatur jadwal praktikum, ngatur orang-orang praktikum, ngajarin, ngawasin, ga’ jarang kita juga teriak-teriak saingan sama suara mesin. Buat apa? Biar semuanya berjalan lancar, biar ga ada hal-hal aneh yang terjadi, yang malah bikin kita yang diteriakin babeh.
                Bagaimana kesalnya saat kata-kata dan teriakan kita udah ga’ mereka denger lagi. Kita biarin mereka berbuat semaunya, lalu sesuatu terjadi. Ketika itu kita hanya menghitung dalam hati, 1 2 3… RISKAAAA, HERLIAAAAH, YOLANDAAAA, dan tamatlah kita hari itu.
                Bagaimana  terkadang kantuk meyerang tanpa bisa ditahan. Sembari menunggu alarm oven bunyi, kita tidur di sudut manapun lab yang tak bisa dijangkau babeh.
                Bagaimana bingungnya saat mendapat instruksi yag kurang jelas dan kita ga’ berani bertanya. Kesempatan kita cuma 3, benar, salah, serta separuh benar dan salah. Kita berspekulasi atas berbagai kemungkinan yang terjadi. Jika tidak sedang beruntung maka… GOBLOK LU!! Dan kita cuma nyengir kuda, atau tak berekspresi sedikitpun, itu yang paling aman.

Kalian pasti akan selalu ingat…
                Saat orang lain sulit untuk mendapat izin masuk lab,  kita malah kesulitan untuk meninggalkan leb sebelum matahari terbenam.
              Bagaimana keadaan leb Sunday morning, that was our crazy time. Yeay, karaokean. Bento lagu kebangsaan kita kan?
                Tanggal muda adalah tanggal istimewa. Entah berapa banyak dana pribadi babeh yang kita habiskan untuk jalan-jalan ke kebun teh, dan kuliner-kuliner di pinggir jalan. Sate, sekoteng, durian, itu makanan wajib kita.
                Saat jenuh menyerang, bagaimana kita bersiasat agar bisa bolos satu hari aja dari lab. Sakit adalah alasan yang paling manjur untuk diterima oleh babeh.

Dulu, kita selalu berfikir bahwa kita harus ekstra sabar ngadepin babeh. Padahal ternyata babeh juga harus lebih sabar ngadepin kita.
Dia sabar ngadepin kita yang kadang bloon, ga nyambung dengan apa yang diperintahkannya.
                Dia sabar ngajarin kita apapun yang belum kita bisa.
                Dia sabar ngejelasin apapaun yang belum kita tahu.
                Dia sabar ngebimbing kita bahkan di hari libur sekalipun.
               
Masih ingatkah hal-hal sepele yang seorang babeh lakukan ke kita?
                Dia akan mengomentari cara kita makan. Tidak boleh ada bunyi sendok, tidak boleh berdecap, tidak boleh menyisakan makanan di piring, tidak boleh menolak tawaran makan, sekalipun kita tidak sedang lapar.
                Dia akan mengomentari kita dalam menerima tamu. Tamu ga’ boleh ditinggal sendiri, tamu ga’ boleh masuk lab sembarangan, dan blablabla lainnya.
                Dia akan mengomentari kopi buatan kita. Seberapa takaran air dalam cangkir, tidak boleh terlalu penuh, pun terlalu sedikit.
                Dia akan mengomentari kita saat praktikum. Mulai dari ekspresi wajah yang ga’ enak dipandang, tangan yang kelihatan ga’ terampil, serta aktivitas iseng lainnya saat kita praktik.
                Dia akan mengomentari kedekatan kita dengan siapapun. Bilang ya jika setuju, bilang tidak jika memang tidak setuju.

Disadari atau tidak, kita pasti merindukan sosoknya. Aku di sini dengan kegiatanku, pun kalian dengan kesibukan kalian, pasti ada saat teringat babeh, dan membayangkan apa yang akan dikatakannya jika melihat apa yang sedang kita lakukan kini.
Bahkan di hari perpisahan sekolah yang selalu kita tunggu, karena kita akan segera bebas tugas, babeh berfikiran sebaliknya. Dia tidak pernah menginginkan hari itu. Dan kenyataanya dia selalu kehilangan di setiap tahunnya, ditinggalkan murid-murid terdekatnya.
Di hari-hari setelah kita berpisah, berbeda nasib, dia masih saja memantau aktivitas kita. Saat aku tak sengaja bilang iri melihat kalian yang masih bisa terus bersama, dia berkata, “Sudah, memang jalan kalian berbeda. Jalani saja, ga’ boleh iri-irian.”
Dulu, saat kita terbaring sakit 3 hari saja, beliau akan langsung mengutus siapapun untuk menjenguk dan membawakan apapun makanan yang kita inginkan. Tapi kini, bahkan untuk sekedar menjenguknya saja kita selalu merasa sibuk. T.T
Rindukan kalian? Jelas, saya sedang merindu. T.T
Cerita tentang kita sangat banyak, sebanyak luka yang kita dapat saat tak sengaja menyenggol oven panas, menyentuh wajan, atau teriris pisau. Luka-luka itu kini sudah tak berbekas, tapi masa ‘mengerikan’ bersama kalian akan terus membekas. :) :*

 (22/4/14)
                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar