Selasa, 15 April 2014

BERPACU DENGAN MAUT




Awalnya aku heran, sangat heran saat melihat mereka dengan mudahnya meninggalkan solat. Bukan hanya 1 orang loh, tapi berjamaah, banyakan. Ckckck. Kupikir cerita orang yang berani meninggalkan solat itu tidak benar ada, hanya ada di cerita jaman jahiliyah dulu. Namun inilah faktanya, kejadian ini terjadi di depan mataku, di jamanku, jaman modern yang jahiliyah.
Namaku Reno, seorang calon sarjana kedokteran di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku bukan penduduk asli ibukota. Tiga tahun yang lalu aku bertolak dari Padang, merantau untuk mencari ilmu di sini. Bahagia tak terkira hatiku saat itu, menjadi seorang dokter adalah cita-citaku sejak kecil, juga keinginan amak terhadap anak tunggalnya ini.
Kebahagiaanku tak bertahan lama. Bulan pertama aku seperti mengalami culture shock, padahal aku hanya berpindah daerah yang masih satu negara. Oh, ini mungkin akibat aku yang sedikit tertutup dan menganggap kejadian di luar sana selalu baik-baik saja. Padahal nyatanya tidak. Kau tau? Kampus tempatku kuliah ini bisa dibilang termasuk kampus hedon. Tak terbilang berapa banyak mahasiswa yang bergaya seperti mau pergi shopping dan jalan-jalan unyu saat pergi ke kampus. Terlebih mahasiswinya, aku melihat mereka lebih seperti tanteku daripada teman sebaya. Oh my God, make up nya itu loh….
Namun dari awal yang paling aku risaukan adalah masalah solat. Aku sendiri menyadari aku bukan orang alim ‘tulen’, tapi untuk masalah solat, aku tidak pernah melewatkannya. Itu yang selalu amak dan abah tekankan padaku sejak kecil. Dan kini, aku begitu ‘terkagum-kagum’ saat melihat orang melenggang santai melewati masjid padahal adzan sedang berkumandang. Dia laki-laki loh, muslim pula. Aku tahu itu karena beberapa diantara mereka adalah teman satu fakultasku.

Assalamu’alaykum, Rik.” Aku menepuk pundaknya.
“Eh, Wa’alaylkumsalam.” Dia menengok, dahinya berkerut.
“Reno nih Reno, masa lupa.” Aku menepuk dada, mengingatkan.
“Oalah, Reno temen OSPEK? Sorry bro, gue lupa.” Dia terkekeh menjabat tanganku.
“Haha, ialah, udah 3 tahun yang lalu.” Jawabku. Dia masih menggoyang-goyangkan tanganku, orangnya agak konyol memang.
“Eh ia, Ren, lo heran ga liat gue beredar di masjid mulu akhir-akhir ini?” Dia bertanya tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak, menimbang, “Emh, ia sih. Tapi baguslah. Haha” Jawabku, berusaha tidak terkesan serius. Dia mengangguk-angguk.
“Lagi sibuk ga? Ngobrol yuk.” Ajaknya tiba-tiba. Wah ada apa nih?
“Alhamdulillah enggak. Boleh, Yuk di mana?” Aku menyanggupi. Semoga menjadi ladang dakwah.
“Sambil makan siang aja, gue laper.” Jawabnya sambil beranjak memakai sepatu, “Eh ia, ga perlu orang ketiga kan?”
“Hah, orang ketiga? Kalo lo nya pake jilbab sih perlu.” Jawabku sekenanya.
“Hahaha, kenalin cyiin, nama eike Erika??” Dia tertawa, aku merinding.

Percakapan dengan Erik siang tadi masih membayang. Ternyata ibunya mengidap kanker rahim, dan setelah dilakukan operasi beberapa hari yang lalu, keadaannya sampai sekarang masih kritis. Itulah yang menyebabkan akhir-akhir ini Erik rajin bertandang ke masjid, solat. Erik bilang, dokter sudah angkat tangan, pesimis terhadap keselamatan ibunya ini. Meski begitu, dia berusaha merayu Allah agar ibunya diselamatkan.
Namun Allah berkehendak lain. Sore tadi juga Ibunya menghembuskan napas terakhir, tepat saat aku menjenguknya di rumah sakit. Erik tidak berekspresi, seperti sudah merasa bahwa ibunya akan segera pergi. Ya, Allah telah menyelamatkannya, menyelamatkan dari rasa sakit yang ia derita selama ini. Allahumagfirlaha Warhamha Wa’afihi Wa’fuanha.
                                                                                                                               
Dua minggu semenjak kejadian itu, aku tidak pernah melihat lagi kepalanya menyembul di antara jamaah solat di masjid. Khusnudzanku dia solat lebih awal daripada aku yang memang akhir-akhir ini sedikit keteteran dengan tugas baru di organisasi. Namun setelah dua-tiga hari kemudian aku tetap tak menemukan wujudnya, aku mulai curiga. Masa dia solat sebelum adzan berkumandang? Serajin-rajinnya orang solat, itu tidak boleh dilakukan, kan?
Besoknya, lembaga dakwah fakultasku mengadakan baksos ke salah satu rumah sakit khusus anak yang menderita leukemia di bilangan Priok. Tak kusangka, Erik terlihat diantara rombongan. Sosoknya yang kontras begitu jelas terlihat. Seperti spesies unik diantara makhluk berkoko dan berjanggut tipis ala-ala ikhwan. Selesai acara, kuhampiri dirinya.
“Hai, Bro. Assalamu’alaykum.” Aku merangkul dan menyalaminya.
“Eh, Wa’alaykumsalam. Aduh, geli gue.” Protesnya sambil mengibaskan tangan. Aku tertawa.
“Itu kan tanda persaudaraan.”
“Ih, tapi tetep aja geli, tau. Aneh.” Dia tetap tidak terima.
“Eh, kemana aja lo, Bray?” aku mengalihkan topik.
“Ada, lo tuh yang kemana.” Jawabnya cuek.
“Kok jarang ketemu di mesjid ya sekarang?” Tanyaku memancing. Dia memang cuek dan masa bodo, tapi sebenarnya dia tipe orang pencerita.
“Gue sekarang jarang ke mesjid juga.”
“Kok gitu?”
“Males ah solat mulu. Gue kecewa, doa biar ibu sembuh aja ga dikabulin.” Ujarnya ringan. Astagfirullah.
Kuhela napas dalam, “Allah pasti lebih kecewa sama kamu.”
“Kok gitu?” giliran dia yang tersentak.
“Ialah, lo menghadap Dia pas ada maunya aja. Giliran ga dikabulkan, langsung angkat kaki. Coba deh lo bayangin punya temen yang cuma ada pas dia butuh aja, kecewa ga? Kesel ga?”
“Kesel lah.” Dia menjawab lirih, “Ia sih. Tapi kayanya dari dulu kalo gue berdoa tuh selalu gak dikabulin sama Tuhan.”
“Yang lo pinta apa dulu? Kalo lo mintanya motor, mobil, duit sekarung, ya ga akan langsung dikabulin juga kali. Perlu proses kalo yang gituan mah. Lo mau nilai bagus, ya musti belajar. Lo mau kaya, ya kerja.” Jawabku tak habis fikir, ada ya orang kaya gini?
“Nah kan, ga perlulah gue doa sama solat. Kan tinggal belajar sama kerja.” Katanya.
Astagfirullah, Rik...” Kalimatku terpotong seruan dari Zaki. Sudah saatnya kami pulang.
“Gimana tuh?” Dia masih penasaran.
“Nanti lo main deh ke kontrakan gue, kita sharing.” Tawarku padanya. Dia mengangguk semangat.

Senja beranjak malam saat kaki-kaki lelah ini menjejak di kediamanku. Syukurlah kami sudah solat magrib bersama di perjalanan tadi sehingga bisa bersantai sejenak. Namun baru saja aku mendarat di singgasanaku (baca:kursi lapuk), Erik sudah stand by di hadapanku, “Jadi bagaimana?” pertanyaannya masih sama dengan pertanyaan tadi sore.
“Gini, gini. Lo bisa bernapas normal? Bisa melihat jelas? Hidung berfungsi baik? Telinga ga budek? Dikaruniai wajah cakep? Semua anggota tubuh ga ada yang cacat?” tanyaku. Erik mengangguk mengiyakan, apalagi pas ditanya masalah wajah, anggukannya kuat sekali. Dasar narsis.
“Lo pernah meminta semua itu?” lanjutku. Kali ini dia menggeleng.
“Tapi Allah kasih lo semua itu kan? Tanpa lo minta, tanpa tagihan, semuanya gratis. Dan apa yang bisa kita berikan? Ga ada. Kita ga diminta, dan ga akan mungkin bisa, untuk memberikan apapun sebagai bayaran atas semua nikmat yang kita terima. Tapi Wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun, kita hanya diwajibkan untuk beribadah, salah satunya adalah solat. Itu ibadah yang paling wajib. Rukun islam kedua setelah syahadat. Beribadah adalah bentuk syukur atas anugerah yang kita terima, dan bentuk sabar atas segala musibah yang menimpa kita.” Aku berhenti sejenak, “Dan Allah tidak memberatkan manusia, lo tau buktinya?” Sekali lagi Erik menggeleng. Kali ini dengan wajah yang semakin serius.
“Rukun islam ada 5, Syahadat, solat, shaum, zakat, dan haji. Allah menempatkan syahadat sebagai rukun paling mudah di awal, semua orang bisa melafalkannya. Lalu solat, setiap manusia juga mampu melakukannya. Pun shaum dan zakat. Dan kemudian haji menjadi rukun terakhir yang diwajibkan hanya bagi yang mampu. Bayangkan jika Haji dijadikan rukun kedua yang wajib bagi setiap ummat muslim, berapa banyak yang ummat yang tidak mampu melakukannya. Islam itu mudah kan? Karena Allah telah memudahkannya. Sangat tidak pantas jika kini manusia meninggalkan solat yang notabene adalah ibadah yang mudah, apapun alasannya.” Sosok di hadapanku terdiam, merenung.
“Manusia bisa beralasan sibuk untuk tidak solat, tapi sadarkah kita? Allahlah yang lebih sibuk urusannya, mengurusi kita dan semua makhluk ciptaannya. Allah tidak mempunyai alasan menciptakan manusia selain agar beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Jadi, tidak ada alasan bagi manusia hidup di bumi selain untuk beribadah pada-Nya.”
Ruangan kotak ini sesaat hening, hanya terdengar hembusan napas dua makhluk yang ada di dalamnya, juga sayup-sayup seruan adzan di kejauhan.
“Yuk solat.” Makhluk berbaju rombeng di hadapanku bangkit, menyisakan aku yang bengong dan mengira telingaku tiba-tiba bermasalah.


Tiga bulan berlalu. Alhamdulillah kini Erik sudah hijrah menjadi lebih alim. Pakaiannya tidak lagi rombeng-rombeng seperti preman, terlihat lebih bersih dan santun. Meski intensitas kami untuk bertemu sangat jarang, tapi selalu ada celah bagiku untuk mengetahui kabarnya. Pun dirinya, terkadang menyempatkan mampir ke kontrakanku sekedar untuk bertanya hal-hal yang belum ia pahami.
Sore ini lagi-lagi asharku molor. Tidak berniat menuhankan tugas-tugas, tapi deadline terkadang serasa ranjau di atas kepala, sekali kau beranjak, habislah kepalamu terkena ranjau itu. Astagfirullah, pembenaran atas kesalahan diri sendiri lagi.
Kulihat pelataran masjid masih ramai, ada sekitar 5 pemuda berkumpul. Tapi ada yang aneh, rasanya aku belum pernah melihat mereka, kecuali satu orang yang berada di tengah. Ah ya, itu kan Erik. Tapi siapa yang lainnya?
Aku duduk perlahan tidak jauh dari kerumunan itu, pura-pura melepas sepatu. Kupasang telinga baik-baik.
“…kita hidup di dunia seperti berpacu dengan maut. Pilihannya hanya dua, bersegera beribadah dan berbuat baik selagi hidup, atau merelakan maut yang akan menelan kesempatan itu.” Ujar satu suara, tidak salah algi, itu memang Erik.
“Kayanya udah jam 4 nih, 10 menit lagi mulai praktikum. Udahan yuk.” Lanjutnya.
Masyaallah, berjuta syukur kupanjatkan pada-Mu Ya Rabbi.

“Ren, Ren.” Aku mencari sumber suara. Oalah, Fauzan.
Assalamu’alaykum, ada apa akhi?” Sapaku segera.
Wa’alaykumsalam. Dicari Erik tuh tadi. Katanya penting.” Jawabnya.
“Wah ia. Ada apa ya?” Aku agak khawatir juga mendengarnya.
“Tenang aja, wajahnya sumringah ko. Tuh, barusan dia masih ada di kantin.” Lanjut partner magangku itu.
“Dia ga bilang ada apa?”
“Udah, sana samperin aja.” Fauzan malah tertawa.
Aku menurut, berjalan menuju kantin. Samar-samar dari kejauhan sudah terlihat makhluk yang aku cari, duduk santai menikmati semangkuk bakso yang masih mengepul.
“Hei, brother, Assalamu’alaykum.” Aku langsung duudk di hadapannya, “Katanya tadi nyariin?”
Wa’alaykumsalam. Wah wah, ini nih yang gue cariin dari tadi.” benar kata Fauzan, wajahya sumringah sekali.
“Ada ape sih? Ko kayanya lagi seneng bener?” tanyaku dengan tampang cuek. Sebenarnya sih penasaran.
“Oh jelas. Gue kan mau mengamalkan ‘menyegerakan dalam beribadah’.” Dia masih enggak mau ngaku.
“Apaan? Solat? kan duhur masih lama bro.”
“Ah elu, emangnya ibadah itu solat doang. Sini gue kasih tau.” Dia merendahkan suaranya, “Gue mau ngelamar Zara, insyaallah abis magang ini.”
“Heh?” teriakku sepontan. Shuut… dia meletakkan jari telunjuknyta di bibir. Upz, kini pengunjung kantin pada memandang kami berdua.
“Bulan depan dong?” tanyaku masih tak percaya, “Kok buru-buru?”
“Sebelum maut yang mengambil kesempatan.” Jawabnya sambil nyengir. Aih ini anak, bikin geleng-geleng kepala. Tapi diam-diam kudukung juga keputusannya. Bener bro, daripada pacaran, mending langsung lamar saja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar