Awalnya aku heran, sangat heran saat melihat mereka dengan mudahnya
meninggalkan solat. Bukan hanya 1 orang loh, tapi berjamaah, banyakan. Ckckck.
Kupikir cerita orang yang berani meninggalkan solat itu tidak benar ada, hanya
ada di cerita jaman jahiliyah dulu. Namun inilah faktanya, kejadian ini terjadi
di depan mataku, di jamanku, jaman modern yang jahiliyah.
Namaku Reno, seorang calon sarjana kedokteran di sebuah universitas
swasta di Jakarta. Aku bukan penduduk asli ibukota. Tiga tahun yang lalu aku
bertolak dari Padang, merantau untuk mencari ilmu di sini. Bahagia tak terkira
hatiku saat itu, menjadi seorang dokter adalah cita-citaku sejak kecil, juga
keinginan amak terhadap anak tunggalnya ini.
Kebahagiaanku tak bertahan lama. Bulan pertama aku seperti
mengalami culture shock, padahal aku hanya berpindah daerah yang masih
satu negara. Oh, ini mungkin akibat aku yang sedikit tertutup dan menganggap
kejadian di luar sana selalu baik-baik saja. Padahal nyatanya tidak. Kau tau?
Kampus tempatku kuliah ini bisa dibilang termasuk kampus hedon. Tak terbilang
berapa banyak mahasiswa yang bergaya seperti mau pergi shopping dan
jalan-jalan unyu saat pergi ke kampus. Terlebih mahasiswinya, aku melihat
mereka lebih seperti tanteku daripada teman sebaya. Oh my God, make up
nya itu loh….
Namun dari awal yang paling aku risaukan adalah masalah solat. Aku
sendiri menyadari aku bukan orang alim ‘tulen’, tapi untuk masalah solat, aku
tidak pernah melewatkannya. Itu yang selalu amak dan abah tekankan padaku sejak
kecil. Dan kini, aku begitu ‘terkagum-kagum’ saat melihat orang melenggang
santai melewati masjid padahal adzan sedang berkumandang. Dia laki-laki loh,
muslim pula. Aku tahu itu karena beberapa diantara mereka adalah teman satu fakultasku.
“Assalamu’alaykum, Rik.” Aku menepuk pundaknya.
“Eh, Wa’alaylkumsalam.” Dia menengok, dahinya berkerut.
“Reno nih Reno, masa lupa.” Aku menepuk dada, mengingatkan.
“Oalah, Reno temen OSPEK? Sorry bro, gue lupa.” Dia terkekeh
menjabat tanganku.
“Haha, ialah, udah 3 tahun yang lalu.” Jawabku. Dia masih
menggoyang-goyangkan tanganku, orangnya agak konyol memang.
“Eh ia, Ren, lo heran ga liat gue beredar di masjid mulu
akhir-akhir ini?” Dia bertanya tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak, menimbang, “Emh, ia sih. Tapi baguslah. Haha”
Jawabku, berusaha tidak terkesan serius. Dia mengangguk-angguk.
“Lagi sibuk ga? Ngobrol yuk.” Ajaknya tiba-tiba. Wah ada apa nih?
“Alhamdulillah enggak. Boleh, Yuk di mana?” Aku menyanggupi. Semoga
menjadi ladang dakwah.
“Sambil makan siang aja, gue laper.” Jawabnya sambil beranjak
memakai sepatu, “Eh ia, ga perlu orang ketiga kan?”
“Hah, orang ketiga? Kalo lo nya pake jilbab sih perlu.” Jawabku
sekenanya.
“Hahaha, kenalin cyiin, nama eike Erika??” Dia tertawa, aku
merinding.
Percakapan dengan Erik siang tadi masih membayang. Ternyata ibunya
mengidap kanker rahim, dan setelah dilakukan operasi beberapa hari yang lalu,
keadaannya sampai sekarang masih kritis. Itulah yang menyebabkan akhir-akhir
ini Erik rajin bertandang ke masjid, solat. Erik bilang, dokter sudah angkat
tangan, pesimis terhadap keselamatan ibunya ini. Meski begitu, dia berusaha merayu
Allah agar ibunya diselamatkan.
Namun Allah berkehendak lain. Sore tadi juga Ibunya menghembuskan
napas terakhir, tepat saat aku menjenguknya di rumah sakit. Erik tidak
berekspresi, seperti sudah merasa bahwa ibunya akan segera pergi. Ya, Allah
telah menyelamatkannya, menyelamatkan dari rasa sakit yang ia derita selama
ini. Allahumagfirlaha Warhamha Wa’afihi Wa’fuanha.
Dua minggu semenjak kejadian itu, aku tidak pernah melihat lagi
kepalanya menyembul di antara jamaah solat di masjid. Khusnudzanku dia solat
lebih awal daripada aku yang memang akhir-akhir ini sedikit keteteran dengan
tugas baru di organisasi. Namun setelah dua-tiga hari kemudian aku tetap tak
menemukan wujudnya, aku mulai curiga. Masa dia solat sebelum adzan
berkumandang? Serajin-rajinnya orang solat, itu tidak boleh dilakukan, kan?
Besoknya, lembaga dakwah fakultasku mengadakan baksos ke salah satu
rumah sakit khusus anak yang menderita leukemia di bilangan Priok. Tak
kusangka, Erik terlihat diantara rombongan. Sosoknya yang kontras begitu jelas
terlihat. Seperti spesies unik diantara makhluk berkoko dan berjanggut tipis
ala-ala ikhwan. Selesai acara, kuhampiri dirinya.
“Hai, Bro. Assalamu’alaykum.” Aku merangkul dan
menyalaminya.
“Eh, Wa’alaykumsalam. Aduh, geli gue.” Protesnya sambil
mengibaskan tangan. Aku tertawa.
“Itu kan tanda persaudaraan.”
“Ih, tapi tetep aja geli, tau. Aneh.” Dia tetap tidak terima.
“Eh, kemana aja lo, Bray?” aku mengalihkan topik.
“Ada, lo tuh yang kemana.” Jawabnya cuek.
“Kok jarang ketemu di mesjid ya sekarang?” Tanyaku memancing. Dia
memang cuek dan masa bodo, tapi sebenarnya dia tipe orang pencerita.
“Gue sekarang jarang ke mesjid juga.”
“Kok gitu?”
“Males ah solat mulu. Gue kecewa, doa biar ibu sembuh aja ga
dikabulin.” Ujarnya ringan. Astagfirullah.
Kuhela napas dalam, “Allah pasti lebih kecewa sama kamu.”
“Kok gitu?” giliran dia yang tersentak.
“Ialah, lo menghadap Dia pas ada maunya aja. Giliran ga dikabulkan,
langsung angkat kaki. Coba deh lo bayangin punya temen yang cuma ada pas dia
butuh aja, kecewa ga? Kesel ga?”
“Kesel lah.” Dia menjawab lirih, “Ia sih. Tapi kayanya dari dulu
kalo gue berdoa tuh selalu gak dikabulin sama Tuhan.”
“Yang lo pinta apa dulu? Kalo lo mintanya motor, mobil, duit
sekarung, ya ga akan langsung dikabulin juga kali. Perlu proses kalo yang
gituan mah. Lo mau nilai bagus, ya musti belajar. Lo mau kaya, ya kerja.”
Jawabku tak habis fikir, ada ya orang kaya gini?
“Nah kan, ga perlulah gue doa sama solat. Kan tinggal belajar sama
kerja.” Katanya.
“Astagfirullah, Rik...” Kalimatku terpotong seruan dari Zaki.
Sudah saatnya kami pulang.
“Gimana tuh?” Dia masih penasaran.
“Nanti lo main deh ke kontrakan gue, kita sharing.” Tawarku
padanya. Dia mengangguk semangat.
Senja beranjak malam saat kaki-kaki lelah ini menjejak di
kediamanku. Syukurlah kami sudah solat magrib bersama di perjalanan tadi
sehingga bisa bersantai sejenak. Namun baru saja aku mendarat di singgasanaku
(baca:kursi lapuk), Erik sudah stand by di hadapanku, “Jadi bagaimana?”
pertanyaannya masih sama dengan pertanyaan tadi sore.
“Gini, gini. Lo bisa bernapas normal? Bisa melihat jelas? Hidung
berfungsi baik? Telinga ga budek? Dikaruniai wajah cakep? Semua anggota tubuh
ga ada yang cacat?” tanyaku. Erik mengangguk mengiyakan, apalagi pas ditanya
masalah wajah, anggukannya kuat sekali. Dasar narsis.
“Lo pernah meminta semua itu?” lanjutku. Kali ini dia menggeleng.
“Tapi Allah kasih lo semua itu kan? Tanpa lo minta, tanpa tagihan,
semuanya gratis. Dan apa yang bisa kita berikan? Ga ada. Kita ga diminta, dan ga
akan mungkin bisa, untuk memberikan apapun sebagai bayaran atas semua nikmat
yang kita terima. Tapi Wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun, kita
hanya diwajibkan untuk beribadah, salah satunya adalah solat. Itu ibadah yang
paling wajib. Rukun islam kedua setelah syahadat. Beribadah adalah bentuk
syukur atas anugerah yang kita terima, dan bentuk sabar atas segala musibah yang
menimpa kita.” Aku berhenti sejenak, “Dan Allah tidak memberatkan manusia, lo
tau buktinya?” Sekali lagi Erik menggeleng. Kali ini dengan wajah yang semakin
serius.
“Rukun islam ada 5, Syahadat, solat, shaum, zakat, dan haji. Allah
menempatkan syahadat sebagai rukun paling mudah di awal, semua orang bisa
melafalkannya. Lalu solat, setiap manusia juga mampu melakukannya. Pun shaum
dan zakat. Dan kemudian haji menjadi rukun terakhir yang diwajibkan hanya bagi
yang mampu. Bayangkan jika Haji dijadikan rukun kedua yang wajib bagi setiap
ummat muslim, berapa banyak yang ummat yang tidak mampu melakukannya. Islam itu
mudah kan? Karena Allah telah memudahkannya. Sangat tidak pantas jika kini
manusia meninggalkan solat yang notabene adalah ibadah yang mudah, apapun
alasannya.” Sosok di hadapanku terdiam, merenung.
“Manusia bisa beralasan sibuk untuk tidak solat, tapi sadarkah
kita? Allahlah yang lebih sibuk urusannya, mengurusi kita dan semua makhluk
ciptaannya. Allah tidak mempunyai alasan menciptakan manusia selain agar
beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Jadi, tidak ada alasan bagi manusia
hidup di bumi selain untuk beribadah pada-Nya.”
Ruangan kotak ini sesaat hening, hanya terdengar hembusan napas dua
makhluk yang ada di dalamnya, juga sayup-sayup seruan adzan di kejauhan.
“Yuk solat.” Makhluk berbaju rombeng di hadapanku bangkit,
menyisakan aku yang bengong dan mengira telingaku tiba-tiba bermasalah.
Tiga bulan berlalu. Alhamdulillah kini Erik sudah hijrah
menjadi lebih alim. Pakaiannya tidak lagi rombeng-rombeng seperti preman,
terlihat lebih bersih dan santun. Meski intensitas kami untuk bertemu sangat
jarang, tapi selalu ada celah bagiku untuk mengetahui kabarnya. Pun dirinya,
terkadang menyempatkan mampir ke kontrakanku sekedar untuk bertanya hal-hal
yang belum ia pahami.
Sore ini lagi-lagi asharku molor. Tidak berniat menuhankan
tugas-tugas, tapi deadline terkadang serasa ranjau di atas kepala, sekali kau
beranjak, habislah kepalamu terkena ranjau itu. Astagfirullah, pembenaran atas
kesalahan diri sendiri lagi.
Kulihat pelataran masjid masih ramai, ada sekitar 5 pemuda
berkumpul. Tapi ada yang aneh, rasanya aku belum pernah melihat mereka, kecuali
satu orang yang berada di tengah. Ah ya, itu kan Erik. Tapi siapa yang lainnya?
Aku duduk perlahan tidak jauh dari kerumunan itu, pura-pura melepas
sepatu. Kupasang telinga baik-baik.
“…kita hidup di dunia seperti berpacu dengan maut. Pilihannya hanya
dua, bersegera beribadah dan berbuat baik selagi hidup, atau merelakan maut
yang akan menelan kesempatan itu.” Ujar satu suara, tidak salah algi, itu
memang Erik.
“Kayanya udah jam 4 nih, 10 menit lagi mulai praktikum. Udahan
yuk.” Lanjutnya.
Masyaallah, berjuta syukur kupanjatkan pada-Mu Ya Rabbi.
“Ren, Ren.” Aku mencari sumber suara. Oalah, Fauzan.
“Assalamu’alaykum, ada apa akhi?” Sapaku segera.
“Wa’alaykumsalam. Dicari Erik tuh tadi. Katanya penting.”
Jawabnya.
“Wah ia. Ada apa ya?” Aku agak khawatir juga mendengarnya.
“Tenang aja, wajahnya sumringah ko. Tuh, barusan dia masih ada di
kantin.” Lanjut partner magangku itu.
“Dia ga bilang ada apa?”
“Udah, sana samperin aja.” Fauzan malah tertawa.
Aku menurut, berjalan menuju kantin. Samar-samar dari kejauhan
sudah terlihat makhluk yang aku cari, duduk santai menikmati semangkuk bakso
yang masih mengepul.
“Hei, brother, Assalamu’alaykum.” Aku langsung duudk di
hadapannya, “Katanya tadi nyariin?”
“Wa’alaykumsalam. Wah wah, ini nih yang gue cariin dari
tadi.” benar kata Fauzan, wajahya sumringah sekali.
“Ada ape sih? Ko kayanya lagi seneng bener?” tanyaku dengan tampang
cuek. Sebenarnya sih penasaran.
“Oh jelas. Gue kan mau mengamalkan ‘menyegerakan dalam beribadah’.”
Dia masih enggak mau ngaku.
“Apaan? Solat? kan duhur masih lama bro.”
“Ah elu, emangnya ibadah itu solat doang. Sini gue kasih tau.” Dia
merendahkan suaranya, “Gue mau ngelamar Zara, insyaallah abis magang
ini.”
“Heh?” teriakku sepontan. Shuut… dia meletakkan jari telunjuknyta
di bibir. Upz, kini pengunjung kantin pada memandang kami berdua.
“Bulan depan dong?” tanyaku masih tak percaya, “Kok buru-buru?”
“Sebelum maut yang mengambil kesempatan.” Jawabnya sambil nyengir.
Aih ini anak, bikin geleng-geleng kepala. Tapi diam-diam kudukung juga
keputusannya. Bener bro, daripada pacaran, mending langsung lamar saja!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar