Selasa, 31 Desember 2013

Hear and Do



Tahun baru (lagi). Jika saat ini usia kita 19 tahun, maka sudah 19 kali kita mengalami pergantian tahun. So, apanya yang istimewa? *ask to my self.
Syukurnya, orangtuaku tidak membiasakanku untuk merayakan tahun baru, ulang tahun, atau perayaan-perayaan lainnya. Menurutku itu menguntungkan, sehingga aku terbiasa menyikapi pergantian tahun ini sebagai hal yang “biasa”.
Okeh, sedikit review. Kita umat muslim kan? Betul? Yakin? Kalo ia, sekedar mengingatkan, hari raya orang islam itu hanya 2: idul fitri dan idul adha. Tidak ada hari lain yang patut dirayakan dalam islam, bahkan hari kelahiran, yang sering disebut sebagai perayaan ulang tahun.
Apa esensi perayaan pergantian hari/ bulan/ tahun yang sesungguhnya menunjukkan bahwa umur kita, jatah hidup kita semakin berkurang? Apa coba? Dalam 2 hari ini aku mendengar 4 kabar kematian. Itu hanya yang aku dengar. Pasti selalu ada manusia yang meninggal setiap harinya. Lalu apa perayaan-perayaan yang kita lakukan ini? mengapa manusia begitu “happy” menjalani penantian datangnya malaikat maut? Seandainya kita selalu sadar bahwa maut itu begitu dekat, bahkan lebih dekat dari nadi leher kita sendiri.
Pernah terfikirkah kalian? Jika malam ini kalian menyerang langit dengan petasan, kembang api, tertawa-tawa bahagia. Begitu pongahnya. Bagaimana jika suatu saat langti balas dendam menyerang kita dengan hujan petasan dan kembang api yang sama? Diberi hujan air seharian saja kita sudah kalang kabut setengah mati. Lalu apa yang harus ditertawakan?
Coba direnungkan saja. Aku yakin kalian sudah mengetahui ilmunya, tinggal keinginan untuk mengamalkannya atau tidak. Tapi ingatlah, mana mau orang lain mendengar anjuran kita, kalau kita sendiri sering mengabaikan nasihat orang lain. Jadi dengarkanlah, dan amalkan.
#bukanhanyauntukpembaca

Sabtu, 28 Desember 2013

Bertemu kembali...

Saat otak masih berusaha untuk mengenali, bibir telah lebih dulu tersenyum,pipi telah lebih dulu memerah, tangan telah lebih dulu melambai, dan lidah telah lebih dulu menyapa. tak ada yang lebih indah selain pertemuan yang tidak disengaja. dan sungguh, rasa rindu itu tak mampu untuk diredam. Oh, rasanya tak ada kata yang terucap, tak ada kalimat yang teruntai, meski hati ingin. Cukuplah dia, sang perasaan yang mampu menggambarkan dirinya sendiri, karena yang lain takkan pernah mengerti. (27/12/13)

Jumat, 05 April 2013

Ikan Teri yang Sombong


“Wah , ikan terinya naik pangkat.” Begitu komentar yang saya lontarkan saat berjalan-jalan bersama Farah. Kala itu kami sedang berada di salah satu supermarket di kawasan Rasuna Epicentrum. Kata “jalan-jalan” ini saya rasa lebih tepat dibanding “berbelanja”, karena kami memang saat itu hanya melihat-lihat.
Tergelitik untuk membuktikan statement bahwa harga suatu produk tidak hanya didasarkan pada row material yang digunakan, tetapi juga branding serta posisioning dari produk itu sendiri.
Mari saya contohkan dengan ikan teri. Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Saya rasa ikan teri cukup populer di kalangan masyarakat. ‘Dia’ adalah salah satu protein hewani yang biasa melengkapi meja makan para petani, buruh, dan masyarakat yang mempunyai profesi dengan ‘gaji’ rendah. Meski sering disepelekan, ternyata ikan teri mempunyai harga yang lumayan ‘keren ‘ juga di pasaran. Informasi terbaru yang saya dapatkan, ikan teri mempunyai harga Rp.64.000 per kilo. Menurut saya itu tidak sebanding dengan postur tubuhnya yang mini. Bahkan daging ayam di pasaran hanya dipatok Rp. 28.000 per kilo. Jadi sebenarnya mana yang menjadi makanan rakyat??
Oke kita abaikan dahulu mengenai gelar sebagai makanan rakyat. Mari kita lihat si tubuh mini ini saat dia telah masuk ke pasar modern. Oh ternyata harganya lebih mahal lagi. Dengan kemasan yang menarik dan minimalis, dengan sombong ‘dia’ membandrol dirinya Rp.22.000 per kemasan dengan bobot sekitar 1 ons. Woww.. amazing, right??
Jika saya menjadi orang awam, mungkin saya akan mengkritik habis-habisan ‘diskriminasi’ ikan teri tersebut. Namun posisi saya sekarang adalah mahasiswa ilmu dan teknologi pangan. Berdasarkan kuliah-kuliah yang telah saya jalani, saya mengakui packaging begitu berpengaruh merubah harga jual suatu produk. Begitu pula dengan merk atau branding. Kedua komponen ini yang menurut saya menjadi kekuatan utama dalam memasarkan produk. Eitss, namun jika teman-teman sekalian menjadi produsen di masa depan, jangan lupa untuk memperhatikan kualitas produk yang kalian pasarkan, apalagi produk makanan. Jangan sampai kemasan oke, namun produk yang dikemasnya tidak layak konsumsi.  (Riska/22/03)

Kamis, 04 April 2013

Risky


(ilustrasi)
“Payung, ojek payung..!!” beberapa anak kecil lewat di hadapan kami, dengan suara cempreng nan lantang menjajakan jasa ojek payung. Saat itu memang sedang hujan deras. Aku dan kelima teman saya baru saja keluar dari sebuah food court, bersiap pulang menerjang hujan karena hari telah merayap magrib.
Awalnya tak kupedulikan suara-suara itu, sebelum mataku menangkap sesosok tubuh kecil yang kurasa aku mengenalnya. Pelan aku berguman, Risky. Dan entah ketidaksengajaan apa yang membuat bocah itu menangkap gerak bibirku, menatapku barang sedetik, dan tersenyum. Kemudian tanganku tergerak untuk memanggilnya mendekat.
Selintas cerita di atas seperti potongan cerpen fiktif yang biasa aku tulis saat ide-ide bermunculan bak air bah. But it was really happen!! Risky adalah salah satu adik didikku yang tergabung dalam organisasi sosial Belajar Baca Quran. Kalo aku tidak salah ingat, saat ini dia duduk di kelas 4 SD 21 Jakarta. Setiap hari senin, selasa, dan rabu, dia bersama teman-teman ciliknya rutin belajar baca dan tulis Quran bersama kami.
Dulu, sedikitpun aku tidak menyangka akan menyentuh kehidupan Jakarta dari dua sisi. Satu sisi aku berhak bangga berkesempatan kuliah di universitas bergengsi sekelas Univ Bakrie. Dengan kelengkapan fasilitas yang serba ada di kawasan rasuna epicetrum, apapun yang aku inginkan sudah tersedia di depan mata. Namun mari kita lihat ke sisi lainnya. Saat ini aku tinggal di mentas, kawasan yang sama sekali berbeda dengan rasuna episentrum. Padahal kedua tempat ini hanya dibatasi tembok setinggi orang dewasa, dengan satu pintu kecil yang disebut “pintu surga-neraka” oleh para mahasiswa yang melewatinya, entah siapa yang pertama kali mencetuskan nama itu.
Sekolah dasar tempat Risky dan teman-temannya menuntut ilmu ini berada di kawasan menteng atas. Awalnya aku tidak pernah mengira bahwa kehidupan anak-anak ini begitu keras. Aku hanya mengira dengan mereka bisa bersekolah, berarti mereka adalah anak-anak yang mempunyai keluarga harmonis dan ekonomi yang berkecukupan. Hidup tenang dan damai tanpa beban untuk mencari uang, hanya bermain dan belajar, seperti masa kecilku dulu.
Namun kenyataannya memang berbeda. Dua kali saya bertemu dengannya di luar sekolah dengan menenteng payung besar. Berharap ada orang yang membutuhkan di tengah guyuran hujan. Menjajakan jasa agar orang-orang tidak basah kehujanan namun merelakan diri sendiri kuyup demi selembar uang. (terimakasih kepada Indah Eva yang telah memberikan ‘selembar’ yang Insyaallah berarti baginya).
Saya tidak tahu pasti apa kegiatannya di luar sekolah. benarkah hanya sebagai ojek payung? Bagaimana kalo hujan tidak turun? Apa setiap hari Risky harus berdoa supaya hujan turun agar dia mempunyai uang untuk dibawa pulang? Kemana saja saya selama ini sampai tidak menyadari adik-adik saya berlarian di tengah hujan deras, sementara saya hidup nyaman dengan kucuran dana dari orang tua?? (Riska/23/03)

Kamis, 07 Februari 2013

Journey to Tasikmalaya part 2

Hari kedua ini rencananya kami akan pulang. Tapi Farah masih sakit, belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan yang luar biasa melelahkan untuk balik ke rumah kita masing-masing. Jadi, kepulangan aku dan Farah dipending hingga esok hari. Okesip, its better, semoga bisa dimanfaatkan untuk sedikit melirik keindahan Tasikmalaya.
Alhamdulillah keadaan Farah membaik setelah lewat pukul 10, hehe. Akhirnya pukul 11 kami, Aku, Farah, dan Faisal, melaksanakan keinginan kami untuk pergi ke bukit belakang rumah Faisal.
Lets check our journey. *oia, agar lebih jelas, deskripsi perjalanan ini aku lengkapi dengan foto2 amatir yang telah kami ambil *
Perjalanan dimulai dengan menyisir pinggir sungai, dan kami menemukan ini !!! hahaha tulisan khas orang sunda.

Kemudian melewati jembatan, dan menanjak.
Baru beberapa langkah, kaki mulai terasa pegal. Hmmm maklumlah sudah lama tidak daki-mendaki. Ya sudah, istirahat dulu deh….
Perjalanan dilanjutkan. Mulai memasuki perumahan warga. Waahhh di sana masih terlihat desa yang jaman dahulu sekali. Masih banyak rumah-rumah panggung, ayam-ayam berkeliaran, anjing-anjing , juga ibu-ibu dan bapak-bapak yang memanggul kayu kering untuk kayu bakar. Semua nafas desa bisa ditemukan di sini. Haha bahkan saya sempat juga mengambil gambar dapros yang sedang dijemur, salah satu makanan tradisional orang sunda. ibu-ibu, mungkin pemiliknya, hanya melihat saja dengan heran. Maaf ya bu…
Kalau di kota, jika kalian berjalan melewati penduduk, ya lewat saja. Nah kalau di desa tidak bisa begitu. Bisa-bisa kita dilempar sendal jepit !! eh becanda deng, hehe. Maksudnya, kalo kita lewat warga kurang dari 2 meter *aproksimasi berdasarkan pengalaman*, ya harus bilang punten, kalau dalam bahasa Indonesia berarti permisi. Penduduk di sana sopaaaaan sekali. Beberapa kali kami disapa dan ditanya mau pergi ke mana. Mereka berbicara dengan bahasa sunda. Untung saja aku dan farah berasal dari sunda juga. jadi tidak gelap gulita menangkap apa yang mereka maksud. Lucunya mereka menyapa setiap orang asing dengan bahasa mereka tanpa peduli orang yang disapa mengerti atau tidak.
Oia, kita naik ke bukit itu sebenarnya tanpa tujuan. Pokoknya ingin sampai ke hutan pohon pinus. Perkara nama tempat dan jauhnya kami tidak tahu. Bahkan Faisal yang pernah sampai sana pun lupa seberapa jauh tempat itu. Jreng jreng, dan kita terus berjalan.
Di perjalanan kami menemukan tukang es cincau. Kalian tahu berapa harga jual es cincau di sana? Just Rp. 1000 !! its so cheap right? Di jakarta? mana mungkin kita menemukan yang seperti ini. Ayo kita tester.. Hahaha
Nah, dari bapak penjual inilah kami menemukan bayangan bahwa hutan pohon pinus itu jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada saat itu. Waah nambah semangat nih. Apalagi disponsori dengan es cincau ala bapak…. *eh bapak apa yah namanya??? :P
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, entah berapa langkah yang kami ambil, pohon pinus belum terlihat batang hidungnya. *emang punya idung?? :P *. Yah, capek mulai terasa lagi. kami memutuskan untuk bertanya pada tiga ibu yang kebetulan lewat membawa kayu kering.
Farah: “Bu punten, ari hutan pinus tebih keneh henteu ti dieu?”
“Bu maaf, kalau hutan pinus masih jauh dari sini?”
Ibu: “Uh tebih keneh Neng. Engkin pami atos ngalangkungan jalan cagak, nembe tiasa mendakan hutan pinus.”
“Uh masih jauh Neng. Nanti kalau sudah lewat pertigaan, baru bisa menemukan hutan pinus.”
Aku: “Oh kitu nyah Bu? Janten tebih keneh ti dieu?”
“Oh begitu ya Bu, jadi masih jauh dari sini?”
Ibu: “Muhun Neng.”
“Ia Neng.”
Nah kurang lebih begitu percakapan kami dengan 3 ibu perkasa itu. Jawaban yang mau tidak mau membuat kami lemas juga. Ialah, sudah jauh, capek, peluh bercucuran entah sudah berapa liter *eh lebai, haha*.
Tapi kami terus berjalan, dan kalian tahu apa yang kami dapatkan di depan? Kebun kopi !! Ya, meski tidak sampai ke hutan pinus, kami menemukan kebun kopi yang saaaaangat indah. Rasanya kalau tidak berbahaya, aku ingin berguling-guling merasakan indahnya kebun ini. huaaaaa, penat hilang !! :D
Time to take photos..

Oke, waktu habis. Kami harus kembali ke rumah Faisal. Kalau lama-lama di atas sini, bisa-bisa kami tidak dapat jatah makan siang *eh :P .
Nah perjalanan menuruni bukit ini tidak memakan waktu terlalu lama, kalau ingin lebih cepat pun bisa sebenarnya. Tinggal melemparkan badan ke bawah sana. Sampai deh, ke rumah sakit !!
Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali dengan ibu yang tadi kami tanyai. Dia bertanya apa kami sampai ke hutan pinus atau tidak. Kemudian dia juga menawarkan kami untuk singgah di kediamannya. Namun kami menolak dengan halus. Kami sampai di rumah Faisal pukul setengah tiga sore.
***
Hari ketiga. Time to go back. Sudah terlalu lama aku dan Farah bermukim di rumah Faisal, numpang, makan, numpang mandi, numpang tidur. Untuk tidak ada tagihan bon yang harus kami bayar, hehe.
Pukul 7.30 kami berdua menuju terminal Garut, diantar oleh Papa Faisal. Kalian tahu bagaimana keadaan kami di angkot? Seperti orang mabuk !! medan yang menanjak dan berputar membuat aku dan Farah merasa mual dan pusing. Padahal ini belum apa-apa. Masih ada berkilo-kilo meter lagi jalan yang harus dilewati. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali memanggil Doraemon….
Di terminal kami sempatkan untuk sarapan. Sebenarnya makan pun tak berselera, melihat nasi malah ingin muntah. Tapi kami harus makan !!
Perjalanan dengan bus dimulai pukul 9 pagi, setelah sebelumnya Papa Faisal mengantarkan kami ke pintu bus. Beliau berpesan agar kami turun di Rancaekek, dan mencari bus Budiman jurusan Bogor dan Sukabumi. Oke siap.. !! But, bapak di samping tempat duduk kami menyarankan untuk turun di Cileunyi. Khawatir bus yang kami cari tidak ditemukan di Rancaekek, yang berarti akhirya kami harus menuju Cileunyi juga. Ah dasar masih labil, aku manggut aja ikut saran bapak yang barusan. Farah apalagi, sudah pasrah mengikuti keputusanku, hehe.
Dari terminal Garut ke Cileunyi ternyata bukan perjalanan main-main. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam, mungkin lebih. Di Cileunyi kami turun, celingak-celinguk mencari bus yang bisa membawa kami pulang ke hometown masing-masing. Tapi jangankan busnya, knalpotnya saja ga ada. Hanya ada 3 atau 4 bus hijau jurusan Jakarta yang berjajar . Bingung sudah sejak tadi, panik mulai menjalar. Jiwa petualanganku sesaat menciut, membayangkan tersesat di kota Bandung, berdua, dengan uang pas. Haha
Takut bertanya, tak bisa pulang. Aku memberanikan diri berdialog denga salah satu kernet bus. Beliau dengan antusias malah menyarankan kami naik bus jurusan jakarta tersebut. Karena tidak punya pilihan, akhirnya aku memutuskan untuk naik. Juga Farah. Di bus aku masih bawel bertanya bagaimana cara kami sampai ke Bogor dan Sukabumi. Kata sopirnya, kalau ke Bogor, nanti turun di Ciawi. Kalo ke Sukabumi nanti turun di Jekbrog, kemudian disambung dengan bus Bandung-Sukabumi. Bahkan Jekbrog saja aku baru mendengar, di mana itu?? Oh ternyata tempat itu ada di Cianjur.
Sedikit memutar otak. Kalau aku turun di Cianjur, berarti kami berpisah. Kemungkinan tersesat jika sendiri lebih berbahaya. Lagipula aku belum pernah melakukan perjalanan sendiri dari Cianjur ke Sukabumi. Berbeda dengan Ciawi yang selalu aku lewati saat pulang ataupun berangkat ke perantauan di Kuningan sana. Sepertinya emang niat awalnya mengantarkan Farah ke Bogor juga, akhirnya aku memutuskan untuk turun di Ciawi, meski memakan waktu yang lebih lama. Tak apa, setidaknya lebih aman untuk kami berdua.
Dan bus pun melaju. Kami duduk paling depan, di samping sopir, di atas additional chair. Amazing, seperti naik roller coaster. Dan setelah beberapa saat kami baru sadar bahwa bus yang kami naiki adalah bus ekonomi !! aku berbisik pada Farah,” untung engga ada ayam ya. Ra.” hehe.
sepuluh menit pertama, masih bisa enjoy. Masih tertawa-tawa dan mengobrol. Menit berikutnya mulai lemas. Untung tidak mual seperti tadi. Hanya saja pegal dan kantuk mulai menyerang. Sebisa mungkin kami halau dengan ngemil-ngemil makanan !!
Perjalanan berlanjut. Melewati toll Padalarang, Puncak, jalan penuh tikungan dan menurun, jalan bagus, jalan jelek, jalan lancar dan macet, aku rasa semua jenis jalan kami lewati. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di Ciawi.
Perjalan dari Ciawi ke rumah tidak terlalu asik untuk diceritakan. Aku terlalu lelah untuk memperhatikan keadaan sekitar. Oia, ada satu yang tak mungkin aku lupakan. Ada anak kecil yang berkali-kali muntah di sampingku. Kalian tau bagaimana rasanya?? Aku terus berusaha berfikiran bahwa aku tidak ada di tempat itu saat itu, melainkan sedang berada di suatu tempat yang indah dan nyaman bernama kamar tidur. :P

Journey to Tasikmalaya part 1

Journey to Tasik Perjalanan dimulai pukul 7 malam, dari Cawang. Bus bercorak merah milik Primajasa mengantarkan kami menuju kota tempat tinggal Faisal, Tasikmalaya Jawa Barat.
Masih di bilangan Jakarta, kemacetan jalan tak mampu dihindarkan, maklum weekend. Saat memasuki jalan toll, bus mulai melaju lancar, saatnya untuk tiduuuuuur…
Sampai di terminal Garut sudah tengah malam. Papa Faisal menjemput kami berempat. Huaaah, ternyata tempat yang kami tuju masih perlu waktu sekitar setengah jam lagi. Padahal mata ini sudah merindukan kedamaian kamar tidur, dan perut sudah menagih jatahnya sejak tadi. Hehe. Untung saja Papa Faisal mengerti kegalauan kami, beliau menyarankan kami untuk mampir di salah satu kedai nasi goreng. Thanks Pa..
Pukul setengah 1 malam, *jika tidak salah ingat*, kami sampai di rumah Papa faisal. Alhamdulillah, langsung saja menuju kamar yang telah disediakan, dan tiduuur…. !!! eh belum salat, capcus kamar mandi dulu deh.. :D
***
Hari pertama yang rencananya akan dimanfaatkan untuk mengobrak-abrik kota Tasik terpaksa dibatalkan. Dua personil kami tepar, mabuk perjalanan mungkin.. :p okelah, kita habiskan hari ini dengan berdiam diri di rumah, , capek sekali….
Kita belum sarapan loh, bangun saja pukul 9, hehe. Habisnya suasana mendukung, sejuuuuk sekali, lelah dan mengantuk pula. Yasudah deh selesai solat subuh kembali tidur.
Oia, di rumah Faisal ini tidak ada perempuan, hanya ada kakek, papa, dan Mas Gilang. Nenek lagi pergi ke Jakarta. Tidak ada perempuan its mean tidak ada yang masak !! hiatttzz kita beraksi Farah.. :D
Nah, Papanya Faisal sudah menyediakan ikan siap goreng. Ada cabe hijau di belakang rumah, dan juga kecap di meja makan. Tak terfikir sebelumnya untuk membuat ikan goreng sambal hijau, but inilah hasilnya

Selesai makan, masih juga tergoda saat melihat ada yang berjualan cilok di sebrang jalan. Oke deh, ini liburan, ayo bersenang-senang !!
Makan cilok sambil nonton tv di ruang tamu, menatap rintik hujan di balik jendela juga, akhirnya mengantarkan aku, Farah, dan Faisal ke alam mimpi. Pukul setengah 12 siang.
Hari pertama ditutup dengan makan mie rebus buatan Mas Gilang, kakak Faisal.
***

Senin, 21 Januari 2013

Cloudy Day

Rere menatap lekat boneka beruangnya. menggoyang-goyangkan kepalanya seolah mengajak berbicara,
"Bear, kamu tahu? hari ini 3 orang terdekatku sakit. Reza sejak kemarin demam, Mas Angga tadi pagi kecelakaan motor, lalu Arsad juga tadi sore tiba-tiba demam." Ia menghentikan ucapannya. Memberikan kesempatan si beruang untuk menimpali. Namun hanya hening.
"Ajaib kan, Bear? terjadi dalam waktu yang bersamaan." Rere menghela nafas berat, "Aku sedih. Disaat Reza sakit, aku bahkan tak bisa sekedar menghiburnya, mood ku sedang tidak baik, Bear."
"Lalu mas Angga.sesaat setelah kecelakaan itu, dia bahkan sempat-sempatnya meminta maaf karena tidak dapat membawakan kamus yang aku pesan." mata Rere mulai berkaca, "Dan Arsad juga sakit, Bear. kenapa harus sekarang? kenapa saat aku dengannya sedang tidak baik dia malah sakit? aku bersalahkah, Bear? terlalu kasar padanya? hatiku belum ingin berbaikan dengan Arsad. Tapi peristiwa ini tak urung membuatku sedih juga."
Lama hening, hanya isak tertahan yang terdengar. Beruang putih itu menelungkup, memeluk Rere seakan faham kesedihan yang Rere alami. Dia merelakan dirinya kuyup menampung tangisan sang majikan tunggalnya itu.
"Deza juga, Bear. Dia semakin menjauh saja dari aku dan Fini. Melirik dengan lirikan nyinyir seakan kami adalah benda busuk yang perlu dijauhi. Menatap tajam ibarat vonis hakim kepada napi. Dia bahkan tak mempercayai lagi kami sebagai pendengar kisah hidupnya. Deza sudah berubah, Bear. Aku sedih, tapi kebencian ini semakin kentara. Apakah normal? namanya kini masuk ke dalam black list ku. Aku tak ingin mendnegar namanya lagi. Aku tak mau melihat wujudnya lagi. Aku benci, bear !!"
Rere kembali menangis, menutup curhat satu arahnya malam itu.

Minggu, 20 Januari 2013

Pelangi merindu

Aku rindu sesuatu.. tapi entah apa.. Aku merindukan rumah, tapi lebih dari sebuah gubuk tempatku berkumpul dengan keluarga. Aku merindukan mama dan bapak, tapi lebih dari orang tua yang selalu ada untukku. aku merindukan apa? rasanya hampa, apa yang aku mau? aku pun tak tau. sebersit aku ingat masa-masa silam, tapi itu tidak akan kembali lagi kan? Kata orang, hidup itu harus menatap masa depan, tapi aku ingin kembali ke masa lalu. Mengenang indahnya hidup dengan kebersamaan..

Kamis, 10 Januari 2013

Open House Ub 100113

Terlambat bangun !! Selalu begitu di hari libur. Tak peduli akan ada kegiatan di luar atau tidak. Pikiran sudah diseting bahwa hari ini libur, dan saya berhak tidur kembali di pagi hari.
Ini hari kamis, seperti yang sudah saya bilang, hari ini libur. Tapi, di kampus ada even ynag harus saya ikuti, open house UB. Sebenarnya bukan kewajiban sih, tapi karena sudah mengusulkan diri untuk ikut andil, ya saya harus tanggung jawab dong.
Bertiga, aku, Farrah dan Faisal, yang akan hadir hari ini. Sebagai anak sulung prodi baru, kami harus berusaha mencerminkan image sebaik mungkin pada adik-adik yang akan datang hari ini. oleh karena itu, kami ingin membuat sesuatu yang bisa menarik minat mereka untuk mengenal prodi ini, ilmu dan teknologi pangan.
Pagi sekali aku bangun. Dingin yang menerpa, tentu. Dengan nyawa yang masih ngawang-ngawang, aku menggedor kamar farah, bertanya kapan akan belanja ke pasar.
Pintu terbuka, muncul sesosok farah yang sebagian nyawanya masih di alam mimpi juga. *Hehe peace Ra, aku kira kau sudah bangun sebelumnya.
Karena sang partner belum siap untuk menginjakan kaki di luar kosan *sebenarnya masih ingin memeluk bantal juga :D , aku melesat ke kamar dan…… kembali tertidur. Hingga pukul DELAPAN !! Saat bangun, melirik jam, langsung bangkit. Masih mengerjap-ngerjapkan mata, tidak percaya bahwa si kaki tiga sudah berlari jauh, melewati angka 8.
Aku dan Farrah pergi belanja pukul 9. Maksud hati ingin membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan. Namun apa daya yang didapat hanya permen (sebagai souvenir), dan karton putih. Sterofoam, karton hitam, pita dekor, dan play dough belum kami dapatkan. Masya Allah… Faisal yang direncanakan sampai kosan pukul 9 pun masih tertahan macet di Ciputat. Tahu kan seberapa lama Ciputat Kuningan?? Itu bukan sesuatu yang bisa ditunggu. Akhirnya, kami memutuskan untuk sarapan dahulu.
Teng, jarum jam terus berputar. Sudah pukul 10 lebih faisal belum juga terlihat tanda-tanda kedatangannya. Lalu, Farrah dengan ketulusan hatinya *cieee, berinisiatif untuk pergi ke pasfes sendiri mencari bahan yang kurang, sementara aku mempercantik souvenir.
Satu jam kemudian Farah kembali, dan Faisal belum juga datang !! Rencana diubah. Seperti yang diajarkan film-film action James Bond, kita harus punya plan B. dan itulah yang aku lakukan bersama Farrah. Sementara tangan sibuk mengerjakan apa yang diperintahkan otak, dengan dagdigdug kepanikanku, HP malah sibuk menerima telpon dari Denny, mengabarkan bahwa kami sudah sejak tadi dicari dan ditunggu Ka.Prodi untuk menangani stand. Hingga akhirnya Denny bilang bahwa Bapak yang menyiapkan semuanya.
Jelbb!!! Perasaan bersalah semakin menyusup. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang setengah jalan -yang juga menjadi alasan mengapa kami telat- sementara kami datang dengan tangan kosong. Ya sudah, aku bilang ke Denny kalau kami sedang jalan ke kampus *untuk menenangkannya, padahal kami pun sama sekali tidak tenang.
Keadaan yang sudah kalut, semakin kacau saat ibu kos tiba-tiba muncul di tangga dengan sikap berunagnya. Aku yang merasa tidak punya salah padanya hanya bilang maaf untuk sejenak rumah kosnya berantakan. Ternyata bukan itu yang membuatnya geram. Aku dan Farrah mengizinkan laki-laki untuk berada di depan kamar kos kami (kamarku dan Farrah berada di lantai 2, dan itu daerah terlarang untuk ikhwan). Oh My God !! aku lupa Faisal itu laki-laki. Hehe maaf Mas Faisal.
Dalam keadaan normal mungkin aku akan merasa bersalah. Tapi ini tidak. Aku malah ikut mengomel di belakang ibu kos, tentu dengan bahasa yang tidak dimengertinya. bergegas kami berkemas dan meluncur ke kampus.
Singkat cerita, kami bertiga sampai di kampus, berurutan dari Faisal, aku dan terakhir Farrah. Sudah banyak orang memang. Dengan nafas yang ngos-ngosan, aku bantu Faisal dan Denny menempel-nempelkan ‘prakarya’ kami. Sekilas kulihat kekesalan Bapak masih tergurat. Ya Allah. Akhirnya selesai juga. Meski sangat terlambat untuk sebuah persiapan, tapi masih bisa dikatakan tepat untuk ukuran acara. Alhamdulillah.
Buat Bapak
Maaf ya, Pak. Kami tidak bermaksud telat dan buat Bapak kesal. We will better later. Promise jari kelingking deh. 
Buat Mas Ivan dan Mas Kurnia
Thanks sudah membimbing dan membantu.
Buat Denny
Makasih ya sudah handle tugas kita. Yu ar awer epriting lah. 
Buat Farrah dan Faisal
Not too bad job. We can still repaire it for next season. 
Buat Gayu dan Yunita
Thanks sudah hadir membantu.. 
Buat ibu kos
Bu, sanes abdi teu ngartos aturan anu aya. Tapi pan abdi kitu oge lantaran aya alesanana. Da biasana oge tara ngajak-nagjak pameget ka luhur atuh. Sing nagrtos atuh, Bu. Nya mangga ari Ibu masih ngomel-ngomel mah, abdi mah bade ngalih wae, da seueur ieuh kosan mah, sanes di Ibu hungkul. 
And the last but not least, hehe Thanks for Mas ZCA yang sangat-sangat membantu kelancaran sepak terjang anak pangan. Hahaha

Note: Ra, lain kali kalo ga ada uang kecil buat bayar ojek, jangan gadein kunci kosan lagi ya :P hehe

Selasa, 01 Januari 2013

malam ini...

Kini aku menulis karena hanya aku ingin menulis. Biarlah tak usah ada editing karena ini tulisan murni, buka sebuah karya ilmuaih yang karus rata kanan kiri, spasi 2, dan penempatan huruf kapital yang sesuai.
Kalo berbicara perasaan pasti akan berhubungan dengan hati. Karena perasaanku yang sedang tidak menentu, maka aku kaan bilang kalo yang sakit saat ini adalah ahtiku, bukan lutut, kaki, atau bahkan otak *gila lah kalo otakku yang sakit.
Aku tidak akan menghubungkan yang kualami sekarang dengan kejadian serupa yang mungkin dialami juga oleh kalian. Ini real yang aku alami sekarang. Dengan sedikit penghalusan dalam bahasa serta penyamaran sang objek.
Waktu itu, aku sangat bahagia karena akan berbuat sesuatu yang akan mengejutkan dan membuatnya senang. Makhluk pemakan roti bilang sih surprise. Jreng jreng. Tujuanku berhasil, setidaknya menurutku begitu.
Ternyata dalam kebaikanku ini ada modus. Manusia, manusia, kapan kau berbuat baik tanpa pamrih?? BESOK !! *ngakak. Aku memperhatikannya, menyiapkan segala untuknya karena aku ingin dia pun berbuat lebih padaku. Wajar? Atau kurang aja?? Sepertinya pilihan yang kedua, ya kah?
Aku mau tanya, kalo kalian sudah memperlakukan teman kalian spesial, apa yang kalian harap? Kebaikan balik kan? Sakit ga kalo ternyata dia lebih mementingkan orang lain yang bahkan tidak sespesial kita dalam memperlakukan dia? aku rasa kalian pun akan menganggukan kepala.
Sepele kan masalahnya? Tapi kalo sedang dialami sendiri ini akan membawa efek yang dahsyat. Mual-mual, migran, alergi (ketemu orangnya, balas smsnya, angkat telponnya) dan gejala lainnya. Ajaib, karena hal sepele bisa begitu berpengaruh.
Mungkin bukan hanya aku yang saat inin merasakannya. Mungkin juga kalian. Atau bahkan aku yang menjadi objek menyebalkan itu bagi kalian? Maafkan saya sodara..