Jumat, 14 Maret 2014

Selalu ada alasan



Tiba-tiba mataku menangkap sesosok hitam di atas lemari baju. Pelan tanganku membuka pintu lemari dan mengambil sebotol parfum. Tidak ingin membuang kesempatan, langsung kusemprot makhluk itu. Mungkin dia kaget, tidak mengantisipasi seranganku, akhirnya dia bergelantung, bergantung, dan jatuh. Saat tubuhnya mendarat mulus di lantai, pada detik itu juga aku loncat ke atas Kasur. Hiii, melihatnya saja sudah cukup membuatku bergidik.
Dilihat dari gerak tubuhnya, serangan parfum tadi cukup membuatnya pusing. Agak lama dia bertahan, berputar-putar tanpa arah. Kesal karena dia tak kunjung mati, aku kembali menyerang makhluk itu. Namun sejurus kemudian aku berteriak, ternyata dia malah mendekat. Kalap, daripada aku yang diserang, akhirnya kuputuskan untuk membunuhnya dengan cara ‘instan’. kuambil selembar tissue, kuletakkan perlahan di atas tubuhnya, lalu berkali-kali kupukul dengan botol air mineral. Huft, akhirnya dia mati juga.
Waktuku sudah banyak tersita olehnya, sedangkan kelas pagi dimulai 15 menit lagi. Aku harus buru-buru jika tidak ingin terlambat. Terpaksa sesosok mayat itu aku tinggalkan begitu saja di kamarku, tergeletak dengan hanya ditutupi selembar tissue.
Begitulah ceritaku pagi tadi. Sedikit ‘psikopat’ mungkin. Pembunuhan tragis terhadap seekor laba-laba kecil yang tak berdosa. Ya, dia memang tidak berdosa, tapi dia bersalah karena melanggar batas wilayah kekuasaanku, dan aku tidak suka itu.
Kejadian tadi bukan pembunuhan pertama yang aku lakukan. Hampir semua korbanku adalah binatang yang menjijikkan  yang aku takuti. 
Dari peristiwa itu aku berfikir tentang orang-orang yang bersikap keras, kasar, judes, jutek, dan memperlihatkan sikap permusuhan. Tak jarang orang-orang bersikap seperti itu karena mereka melindungi atau menjaga yang dia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Analogi sederhana adalah seekor ibu harimau. Dia buas karena dia melindungi anaknya. Boss sangar karena menjaga wibawanya.
Pembahasan ini agak men-general sih. Tapi tak apalah. Intinya hanya ingin menyampaikan bahwa dibalik sikap ‘superpower’ seseorang pasti ada sesuatu yang ia lindungi, yang ia takuti, dan ia jaga dengan sikap superpowernya itu. Bingung ga? Kalo bingung leptopnya banting aja. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar