Selasa, 18 Februari 2014

UPSIDE DOWN





Kau tahu? Cerita Upside Down itu benar-benar nyata. Tentang dunia atas dan dunia bawah. Kini sudah satu abad sejak film itu dibuat dan keadaannya tetap sama. Dunia atas tetap makmur, dunia  bawah tetap miskin. Dari catatan sejarah aku menemukan perbedaan itu, perbedaan yang membedakan dunia bawah masa lalu dengan sekarang. Dulu semua penduduk dunia bawah harus mencuri dari kami untuk bertahan hidup. Sekarang,mereka saling mencuri dan menipu untuk bisa bertahan hidup. Kami? Dunia kami semakin makmur dengan pasokan energy dari dunia bawah. Kini kami bisa mendapatkannya dengan harga murah. Tentunyan dengan bantuan orang penting dari dunia bawah, orang bodoh yang menjual kekayaan negerinya sendiri demi kepentingan pribadi.
Oh iya, perkenalkan namaku Alex. Usiaku 28 tahun. Kau tahu Transworld? Perusahaan besar yang menghubungkan dunia atas dan dunia bawah. Hanya melalui Transworld lah kedua penduduk dunia dapat bertemu.  Sudah tiga tahun aku bekerja di sana, di bagian Hubungan Antar Dunia (HAD). Di divisi HAD ini aku bertugas menangani segala macam hal yang berasal dari dunia bawah, karena inilah aku tahu semua seluk beluk kehidupan mereka. Sebenarnya aku memprioritaskan untuk menangani sesuatu yang memberikan kontribusi positif bagi kedua dunia, namun ternyata terlalu banyak masalah yang mereka kirimkan.
Tolong maafkan jika aku terlalu banyak berbicara tentang dunia bawah, tapi memang inilah yang menarik untuk dibicarakan. Di sini, di dunia atas, kami terlalu hidup makmur. Kami tidak kenal dengan yang namanya masalah, Semua rakyat hidup dengan tenggang rasa yang tinggi.
Ada laporan yang baru-baru ini masuk ke meja kerjaku. Tentang penyelenggaraan pemilihan pemimpin dunia bawah yang akan diadakan tahun depan. Di laporan itu tertulis permohonan penayangan iklan di beberapa stasiun televisi yang memang harus disetujui lebih dahulu oleh Trasnworld. Penasaran, kuputar CD putih di hadapanku.
CD pertama, kedua, ketiga sudah kuputar. Semua CD itu hampir berisikan hal yang sama. Dua calon pemimpin beramah tamah dengan rakyatnya, membantu petani, menggendong bayi yang punya penyakit aneh, ikut membantu bekerja di perusahaan kecil ataupun profesi lainnya, namun tidak saja kulihat calon yang berperan menjadi tukang ojek. Kutebak CD keempat dan kelima pun begitu. CD ini harus segera kuserahkan ke bagian broadcast. Menonton tiga CD saja sudah membuat tertawa geli dan… jijik.
For your information, pemilihan pemimpin di dunia kami tidak seperti itu. Tak ada pendekatan khusus dari para calon kepada kami, rakyatnya. Tidak ada biaya untuk iklan atau apapun itu yang berhubungan dengan pencalonan mereka. Di hari penghitungan suara, pasangan yang menang akan bertanya kepada rakyat, memastikan apakah mereka yakin calon  yang menang tersebut dapat menjadi pemimpin yang baik. Jika minimal 80%  suara menjawab ya, itu artinya pasangan itu resmi menjadi pemimpin. Tidak ada yang sulit di dunia kami, karena ingat: penduduk dunia atas sangat tenggang rasa dan mendahulukan kepentingan umum.

“Hai, Bob. Kau loloskan iklan-iklan itu?” Tanyaku pada Bobby, rekan kerjaku di bagian broadcast.
“Iklan? Ah ya, mereka memberikan penawaran yang menggiurkan bagi transworld.” Jawabnya.
“Benar-benar bagi Transworld kan?” tanyaku memastikan.
“Tentu saja. Kau pikir aku seperti mereka yang mementingkan diri sendiri?” ujarnya sambil tertawa. Kami berpisah di persimpangan lorong. Kantor kami memang berlawanan arah.
Sebenarnya aku hanya penasaran mengapa iklan jelek itu lulus sensor. Karena yang aku tahu Bobby bukanlah tipe orang yang mudah meluluskan suatu proposal penayangan.

Oia, salah seorang temanku dari dunia bawah pernah mengeluh padaku. Mengeluhkan tentang keadaan dunianya. Dia merasa muak dengan orang-orang di sekitarnya yang tidak mau dikritik. Pernah ada satu tayangan TV , sebut saja YK*, yang menerima banyak kritikan oleh penonton karena dianggap tidak mendidik. Alih-alih menerima kritikan tersebut, pihak YK* malah menantang dengan mengatakan “kalau merasa tayangan kami tidak mendidik, kenapa tidak membuat tayangan lain yang mendidik?”Oh Tuhan, apa semua orang harus membuat acara TV? Tiap orang punya profesi yang berbeda-beda kan? Apakah pantas menanggapi sebuah kritikan dengan sikap seperti itu?
Yang kudengar, merekapun rajin mencari kambing hitam, tak ragu bersumpah meski bersalah, suka membebek, ah terlalu banyak jika harus kusebutkan satu-satu. Padahal dunia bawah sangatlah indah. Sebaga Negara kepulauan, ia memiliki banyak pantai-pantai cantik. Itulah satu hal yang kami di sini tidak punya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar