Sabtu, 15 Februari 2014

Journey to Yogya



Sudah lumayan lama sejak aku menyelesaikan tulisan terakhirku, berbilang bulan yang lalu. Sebenarnya bukan untuk vakum menulis, hanya saja sedikit terhambat dalam mengembangkan ide-ide cerita, Problem umum untuk penulis yang malas atau mungkin pemalas yang ingin menulis. Terlebih belasan drama korea serta film-film lebih banyak menyusup masuk dibandingkan buku-buku sastra. Hih, tamatlah hidupku kalau begini terus.
Ini catatan perjalanan kedua yang pernah aku tulis. Kali ini aku berkunjung ke Yogyakarta, daerah yang sering disebut-sbut sebagai daerah istimewa.
Kala itu awan sedikit mendung. Pukul 7.30 malam awal langkah kakiku dari kosan tercinta, bertolak menuju stasiun Senen. Betapapun usahaku untuk stay cool, langkah kaki yang kupercepat serta doa dalam hati tidak dapat menyembunyikan kalau aku takut hujan keburu turun sebelum aku mencapai tujuan. Syukurlah langit baru menumpahkan tangisannya sesaat setelah aku berada di dalam angkutan umum,sehingga aku selamat dari kuyup.
Rencananya di Senen aku akan bertemu Ka Faza serta sepupunya, Ka cici. Sebenarnya liburan kali ini aku hanya menjadi ekor dan penumpang. Mengekor Ka Faza yang kebetulan akan berlibur ke Yogya serta menjadi penumpang bagi Ka Cici yang memang kuliah di Yogya sana. Jadilah dengan sedikit muka tembok aku berhasil mencontreng satu lagi daftar mimpi yang ingin aku capai, meski masih dengan subsidi dari orangtua tentunya.
Jam menunjukkan pukul 9 malam sedangkan kereta kami berangkat pukul 10 malam. Masih ada waktu sekitar 1 jam untuk sekedar rehat dan menyakinkan diri bahwa aku akan benar-benar pergi ke Yogya. Yeayyyy. This my second self journey, setelah tahun lalu berlibur ke Tasikmalaya. Entahlah, rasanya perizinan dari enyak-babeh untuk bepergian keluar kota menjadi lebih mudah setelah aku merantau kuliah di Jakarta. Selain itu, dunia terlihat lebih kecil dan… dekat.
Rangkaian Kereta Api Progo muncul tepat waktu. Calon penumpang yang sedari tadi duduk lesehan bersama kami langsung berebut memasuki gerbong. Aduh Indonesia, padahal tiap-tiap orang sudah pegang tiket dengan nomor kursi yang berbeda. Terbawa suasana, akhirnya kami berebut masuk juga !!
Aku duduk di dekat jendela. Aku sangat menyukai jendela. Saking pentingnya, jendela menjadi syarat wajib saat aku mencari dan menentukan pilihan bagi kamar kos yang akan aku tempati.
Kereta mulai melaju. Sebagian besar penumpang mulai mencari posisi ternyaman untuk tidur. Aku? Kebiasaan begadang menyulitkanku untuk tidur lebih awal. Meski mata terpejam, telinga masih aktif menangkap suara-suara serta bunyi-bunyian lainnya. Ah, akhirnya kuputuskan untuk menuliskan perjalanan ini (tulisan yang akhirnya dirombak total gara-gara kritikan pedas sang teman yang tak tahu diri, Alviano Soe. Haha) hingga akhirnya tertidur.
Ugh, kursi kereta ini terasa tidak nyaman. Maklumlah sok-sok an gaya traveler kami memilih kereta ekonomi AC. Yah beginilah jadinya, berkali-kali bangun-tidur-bangun dan berharap segera sampai. Raisa bilang sih mau dikatakan apalagi, jam masih menunjukkan pukul 3 malam, masih jauh panggang dari api untuk sampai ke Stasiun tujuan. Bekali-kali melihat jam dan jendela bergantian, tetap saja jarum jam tidak berjalan lebih cepat, langit pun masih berselimutkan gelap.
Subuh beranjak menjauh, langit berangsur-angsur biru. Semakin lama kabut semakin tipis. Hamparan sawah luas yang menghijau menjadi pemandangan tunggal yang mempesona, berkali-kali berucap ‘waaah’, tak mampu untuk menyembunyikan rasa kagum. Aku suka, aku suka!! 
Tiba di Lempuyangan pukul 7 pagi, disambut oleh hiruk-pikuk khas stasiun yang tidak pernah mati. Kukira derita perjalanan ini sudah berakhir. Namun bayangan tempat tidur di otak ngantukku langsung pecah seperti balon yang ditusuk jarum saat Ka Cici mengatakan perjalanan masih harus dilanjutkan dengan taksi.
Sampai di kontrakan langsung teler. Ini efek tidur yang tidak benar semalam. Tawaran untuk sarapan menjadi tidak manarik saat kantuk menyerang. Hal langka saat seorang ‘Aku’ menolak tawaran makan. Hari pertama diisi dengan istirahat dan menormalkan energi untuk jalan-jalan hari berikutnya. Malamnya kami berkeliling mencari angkringan. Untuk pertama kalinya aku makan nasi kucing setelah sekian lama menyandang gelar CATTY..

Hari kedua
Di list to do, hari ini kami akan main-main ke keraton. Tapi Pagi-pagi sekali Ka Faza mengajakku untuk berkeliling berdua, selagi Ka Cici menyelesaikan hajat mencuci bajunya. Ka Cici merelakan Mio ungunya untuk kami pakai. Tak lupa dia juga memberikan arahan jalan dan petuah lainnya agar kami tidak tersesat. Aku sih santai aja, berasa sudah hafal jalan yang malam sebelumnya sudah ditunjukkan Ka Cici. Akhirnya, berangkatlah kami berdua, berkeliling dan… nyasar!! Tetap kalem, dengan ke-sok tauanku sebagai navigator dan kesemena-menaan Ka Faza sebagai rider, akhirnya kami berhasil pulang. Syukurlah.
Sekitar pukul 10, kami bertiga ditambah Ka ulfa (yang berbaik hati meminjamkan motornya) berangkat ke Keraton.  Honestly, aku gak begitu excited saat berkeliling di area Keraton. Entahlah, aku ga begitu suka melihat-lihat barang-barang antik yang menurut orang bernilai sejarah. Pun saat melihat-lihat galeri foto besar-besar keluarga Keraton. Iseng aku berfikir mungkin suatu saat nanti aku akan mengabadikan foto keluarga menjadi sebuah museum macam ini juga.


Perjalanan dilanjutkan ke Tamansari. Konon ini dulunya tempat pemandian para selir sultan. Dari luar bangunan terlihat seperti bangunan kuno Thailand. Haha, take foto sajalah. 

Dari Tamansari, ternyata ada satu tempat yang hampir terlewatkan: Mesjid bawah tanah. Berdua, aku dan Ka Faza menelusuri lorong, sedangkan Ka Cici dan Ka Ulfa menunggu di luar gerbang. Katanya mereka sudah pernah masuk. Dengan bantuan penduduk setempat, akhirnya kami sampai juga ke -bekas- Mesjid bawah tanah. Menurut cerita Bapak itu, di masjid ini ada satu jalan yang bisa menembus ke Pantai Selatan. Namun sudah lama jalan tersebut 
ditutup oleh warga karena banyak anak-anak yang hilang. Dulu, Mesjid ini dijadikan tempat solat yang diimami oleh Sultan. Namun Mesjid ini aneh menurutku. Jika biasanya sebuah masjid berbentuk kotak dengan jamaah yang ber-saf, Mesjid bawah tanah ini berbentuk lingkaran dengan tempat wudhu dan lima buah tangga di tengahnya. Konon lima buah tangga ini melambangkan pancasila. Hubungannya? Entah.
Puas melihat-lihat, saatnya memanjakan perut. Time for Lunch, kita buktikan rumor yang menyatakan Yogya terkenal dengan kulinernya yang murah-murah.
Tempat makan pertama: Dapur Sambal.
Komentar:rasa masakan lumayan, 9 dari 10. Kenyamanan tempat 9 dari 10. Pelayanan 5 dari 10.
Kesimpulan: non recommended.

Selesai makan, kami pergi ke alun-alun kidul, melongok sejenak  pohon beringin kembar yang katanya bertuah itu. 


Hari ke tiga dan empat
Dua hari itu kami tidak pergi jalan-jalan. Hanya berbelanja di sunmor (Sunday morning) serta berbelanja buku di Taman Baca. Sunmor merupakan event mingguan semacam pasar rakyat. Hampir semua macam barang kebutuhan dijual di sini. Jajanan kecil juga ada. Harganya miring-miring, surga bagi para sophaholic. Syukurlah di saku Cuma ada uang 50 ribu. Kalo ndak, bisa kalap belanja, padahal ini baru hari ke tiga.
Selepas dari Toko buku, kami kembali makan siang di luar. Menjajal tempat makan pedas lainnya, kali ini Super Sambal.
Komentar: rasa masakan 8 dari 10. Kenyamanan tempat 8 dari 10. Pelayanan 8 dari 10.
Kesimpulan: recommended.

Hari ke lima
Inilah yang aku nanti dari perjalanan kali ini, Pantai. Parangtritis adalah yang paling popular diantara pantai-pantai yang ada. Namun kali ini tuan rumah mengajak kami untuk melihat keindahan alam Pantai Drini.
Perjalanan ke Pantai Drini membutuhkan waktu sekitar dua jam jika menggunakan kendaraan roda dua. But don’t worry, meski kedua kakak yang mengantar kami ini akhwat ber-rok dan berjilbab lebar, mereka jago banget ngebut. Abang-abang tukang ojek aja lewat. Lewat doang. Alhasil waktu tempuh Yogya-Pantai Drini menjadi lebih singkat, meski tetep aja efek pegelnya luar biasa. Eh tapi tunggu dulu, semua sakit yang terasa selama perjalanan menguap seketika saat kendaraan kami sudah sampai di bibir pantai. Wuaaah, Masyaallah, ini benar-benar seperti yang aku impikan, pantai dengan tebing yang indah.

Pantai ini, berpasir putih, diapit dua tebing di kanan-kirinya, serta satu tebing yang membelah pantai. Ombak begitu besar menerjang di satu belahan pantai, sementara air mengalir begitu tenang di bagian yang lain. Jernihnya air memperlihatkan dasar dengan batuan berbalut rumput hijau serta cangkang kerang yang berserakan. Inikah Indonesia? Lihatlah, Indonesia masih memiliki sesuatu yang indah di sini!
Malamnya kami makan malam di Lumpia Boomz.
Komentar: rasa masakan 9 dari 10. Kenyamanan tempat 8 dari 10. Pelayanan 8 dari 10.
Kesimpulan: recommended.

Hari ke tujuh
Setelah dua hari yang lalu bermesraan dengan pantai, ini saatnya menyapa gunung. Pendakian kali ini menggunakan dua motor, hihi. Karena aku adalah pengendara motor bersyarat (jalanan bagus, tidak ada kendaraan lain, motornya harus matic), maka kali ini pun kembali menjadi penumpang. Aku hanya tau dari Yogya kami melewati Magelang menuju bukit Menoreh. Selebihnya aku tidak hafal. Jalan yang dilewati telah membiusku untuk hanya bisa diam dan tercengang: indah euy!!
Awalnya Ka Cici akan mengantarku ke Borobudur. Honestly aku belum pernah ke sana dan entah kenapa saat liburan ini tidak begitu ngebet ke Borobudur. Namun karena Bapak, yang mensubsidi biaya hidup serta akomodasiku di sini, menginginkan aku untuk pergi ke sana (padahal jarang sekali bapak meminta sesuatu dariku) akhirnya aku putuskan untuk berangkat.
Tapi, Ka Cici dan Ka Cheche mengendarai motor ke arah berlawanan, menuju Gardu Pandang. Katanya pemandangan di sana bagus sekali, bisa melihat Borobudur dari ketinggian. Tentu saja aku penasaran, selain itu karena berstatus penumpang, maka tidak ada pilihan lain selain ngikut aja, haha.
Selama di perjalanan, aku berfikir, apa di Jawa pembangunan jalan itu sangat diprioritaskan? Dari hari pertama aku tidak menemukan jalan jelek berlubang atau kerusakan-kerusakan jalan lainnya. Bahkan jalan menuju gunung pun begitu rapi, meski memang ada kerusakan di beberapa bagian. Setelah sedikit diperlukan pengorbanan untuk manjat eh mendaki, this is it, Gardu Pandang!!

Pemandangan ini tidak boleh lewat bergitu saja. Harus diabadikan. Andai bisa bermalam, satu malam saja untuk menikmati pemandangan malamnya, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi waktu kami terbatas. Intinya, tangkap pemandangan sebanyak-banyaknya dengan lensa mata dan kamera.
Selepas duhur, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Borobudur. But that was an accident, yang menyebabkan perjalanan tak bisa dilanjutkan. Solusi terbaik saat itu adalah menginap di tempat bekas KKN Ka Cheche, di atas gunung, di Desa Wonolelo. Kasihan sih Ka Cici, terlebih aku ingin merasakan bagaimana tinggal di atas gunung, meski cuma satu malam.
Pertama kali melangkahkan kaki ke dalam rumah terkesan biasa saja. Jauh dari pikiranku bahwa rumah di desa-desa itu masih berbentuk rumah panggung dengan dinding bilik dan lantai bambu. Menuju dapur, barulah terasa kesan ‘desa’ nya, dengan tungku serta peralatan dapur yang masih sederhana. Saat melongok ke kamar mandi, barulah aku bergidik. No, aku tidak mempersiapkan diri untuk ini!! kamar mandi seadanya yang terbuka dengan air keruh dan berdaun. Hiii. Tapi, terlepas dari itu semua, pribumi sangat ramah dan welcome, apalagi bapak. Dengan selera humornya beliau menjamu kami seperti anak sendiri. Yah meski kusayangkan, mereka nonis.
Malamnya kami tidur bertiga, mengorbankan tuan rumah untuk tidak tidur di kamar. Menurut Ka Cheche, yang sudah sangat sering menginap, ibu dan bapak malah akan marah kalau melihat tamunya tidak tidur di kamar, apalagi perempuan. Meskipun agak tidak enak karena merasa merepotkan, tapi yasudahlah. Malam itu sangat tidak biasa, mataku langsung terpejam, berdoa semoga pagi cepat datang agar kami bisa segera pulang ke Yogya.
Doaku terkabul. Malam seperti singkat, atau mungkin karena kami terlalu lelah. Yang aku ingat, mimpiku malam itu adalah bertemu Jokowi, menyampaikan salam dari salah satu abdi dalem yang pernah kami temui di Keraton. Mimpi yang aneh.
Pagi begitu menggigit, dingin khas pedesaan. Ka Cheche mengajakku ke Pasar yang berada agak di kaki bukit. Meski termasuk pasar tradisional, pasar tersebut terlihat bersih. Memang barang dagangan yang dijual tidak selengkap pasar pada umumnya. Namun aku suka. Harga barang-barang di sana sangat murah, sayuran pun masih terlihat segar dan ‘sehat’.  Hanya saja masih diperlukan sosialisasi tentang penempaan barang dagangan agar tidak terjadi kontaminasi silang. Contohnya yang saat itu kulihat adalah penempatan daging ayam segar dengan daging olahan yang diletakan berdekatan, tanpa penutup pula. Yang girang sih lalat sialan. Hinggap di sana-sini. Ini bukan menjadi PR di desa-desa saja sih sebenarnya.
Setelah sarapan, kami bertolak kembali ke kota. Berdua, hanya aku dan Ka Cici. Ini hari ke 8 liburanku di Yogya. Sesampainya di Yogya nanti, aku dan Ka Faza akan belanja oleh-oleh. Ini akan menjadi salah satu bagian yang menyenangkan dalam rangkaian kegiatan liburan ini. Ya, belanja, yeayyy!!
Siang itu panas memangggang Malioboro. Wajar saja, duhur baru saja berlalu. Tak masalah, barang-barang yang berjejer di sepanjang trotoar seakan membiusku untuk tidak merasakan apapun kecuali semangat. Bersemangat belanja!!
Barang pertama yang dibidik tentu saja batik. Sebelumhya tidak terfikir untuk membeli batik apa, hanya saja ada titipan untuk mencarikan kain dan kemeja batik. Tau sendiri deh, barang titipan belum dapet, di tangan sudah nyangkut satu kantong aja. Khilaf, malah beli rok, hihi. Untunglah keburu sadar untuk kembali fokus mencarikan pesanan. Susahnya diminta untuk membeli sesuatu yang ‘gimana bagusnya aja’ alias tanpa spesifikasi yang jelas alias itu rasanya kaya nyari jarum di dalam perut hiu di dasar laut. Ga nyambung sih, tapi pokoknya susah. Kain yang bagus menurut mama itu seperti apa? Warna apa? Coraknya bagaimana? Kemeja yang bagus menurut versi laki-laki itu bagaimana? Ukurannya apa? Warnanya apa? Coraknya bagaimana? Semuanya bias. Alhasil pencarian hanya didasarkan pada insting serta selera pribadi yang dikombinasikan dengan saran penjual. Entahlah itu apa hasilnya. Haha.
Keluar toko yang satu, masuk ke toko yang lain. Pergi dari pedagang yang satu, mampir ke pedagang yang lain. Begitu saja, melihat-lihat, membandingkan barang dan harga hingga didapat yang benar-benar cocok.  Tak terasa kami melakukannya hingga langit menggelap. Tau-tau sudah adzan magrib. Jinjingan yang asalnya satu kantong pun sudah beranak pinak. Kebanyakan memang barang untuk orang lain. Milikku malah hanya belanjaan pertama tadi. Heran, rasanya lebih menyenangkan membeli barang untuk orang lain.
Malam itu rasanya nano-nano. Besoknya kami harus pulang ke Jakarta. Masih betah sih, tapi sudah rindu untuk menghabiskan liburan di rumah juga. Selain itu saldo di ATM semakin menipis, haha. Tak ada jalan lain selain segera pulang.
Begitulah liburanku kali ini. Ditutup dengan perjalanan panjang dari lempuyangan hingga tiba di Senen dengan sisa-sisa tenaga di pertengahan malam.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar