Ketahuilah, saat hati ini tergerak untuk membenarkan, bukan
berarti diri sudah benar dan sempurna. Khilaf kalian kini, mungkin menjadi khilafku
di masa lalu. Kesalahan kalian kini, mungkin pernah menjadi kesalahanku dulu. Kalian
tahu? Kini aku menyesal dan tak bisa memutar waktu. Yang bisa kulakukan
hanyalah mencegah kalian terlambat menyadari kesalahan dan merasakan
penyesalan.
Orang yang dapat mengoreksi kekurangan sahabatnya itu mahal,
padahal saling menasihati dalam kebaikan itu sangat dianjurkan. Kita mungkin
akan sangat mudah mengenali kesalahan dan kekurangan orang lain. Namun adakah
keberanian dalam diri kita untuk menyampaikan kepada orang yang bersangkutan? Sangat
jarang. Tinggallah kata-kata itu tersangkut di dalam kerongkongan tanpa pernah
terucap oleh lidah.
Kita tidak pernah tahu, seberapa besar efek yang ditimbulkan
jika kita berani mengoreksi kekurangan sahabat kita. Hanya butuh keberanian,
bukan barang mahal tapi sangat langka. Analogikan saja sahabat kita adalah seseorang
yang rajin telat. Semakin lama ia menjadi aktivis telat kelas akut sehingga
demikian banyak orang yang menggunjing dan tidak menyukainya. Andaikan sedari
awal kita mempunyai keberanian untuk menegurnya, saat kebiasaannya tersebut
belum mendarah daging, mungkin hal buruk ini tidak pernah terjadi pada sahabat
kita tercinta.
Ada kalanya kita merasa ragu untuk berkata karena tingkah
laku kita yang masih ada cela. Cobalah berfikir dari sisi lain. Manusia tidak
akan pernah sempurna. Jika untuk mengoreksi kita harus menjadi orang benar dulu,
sampai mati pun kita tidak akan pernah berkesempatan untuk melakukannya. Apa salahnya
kita menegur kekhilafan sahabat kita, lalu bersama-sama memperbaiki diri? Bukankah
berjalan beriringan itu lebih indah dan mudah?
Kehadiranmu di hidupku adalah anugerah bagiku. Semoga kehadiranku
di hidupmu membawa berkah bagimu. Kedekatan diantara kita bukan dikarenakan
kita adalah orang baik, tapi semata-mata karena Allah masih mau menutupi aibku dari
pengetahuanmu, pun aibmu dari pandanganku.
“Jika engkau memiliki sahabat yang membawamu pada ketaatan
kepada Allah, maka genggmlah ia erat-erat, jangan lepaskan.” –Imam Syafi’i-