Aku kembali lembur dengan tugas-tugas yang tak henti datang silih
berganti. Meski mata sudah berasa sepet, dan berkali-kali kepala terkulai di
depan keyboard laptop, malam ini aku harus menyelesaikan tugas kimia. Handphone
yang sedari tadi bisu tiba-tiba bergetar.
“Assalamu’alaykum, dek, sudah tidur kah?” Kak Zhifa, ketua
keputrian di kampusku mengirim whatsapp.
“Wa’alaykumsalam, belum ka. Apa ada?” balasku cepat.
“Lagi apa? Ngerjain tugas atau nonton?” terbayang wajahnya yang
teduh tersenyum manis.
“Ngerjain tugaslah, Kak. Ada apa nih malem-malem gini?” Tanyaku
curiga.
“Wah, semangat sayang. Eh dek, mau nanya dong, jawab jujur ya.”
Ujarnya misterius.
“Kenapa?” kejarku tak sabar.
“Kamu ada apa dengan ‘venus’?” deg. Tiba-tiba mataku on 85%. Heh,
apa ini venus? Venus kan planet. Tapi rasanya ada definisi yang lain dan aku rasa
tak asing.
“Venus, kenapa venus ka? Mau minggat dari tata surya kita?” tanyaku
iseng sambil berusaha mengingat.
“Bukanlah, sayang. Venus, atau ada apa kamu sama Fahmi?” nah loh
dia langsung tembak.
“Oalah, Ka Fahmi. Engga ada apa-apa, memang kenapa?” aku baru
ingat, aku pernah mendengar kata venus ini dari Kak Fahmi. Venus versinya
adalah Dewi Yunani yang diasosiasikan dengan cinta dan kecantikan. Waktu itu
aku hanya ber-oh tak mengerti, dan tak peduli.
Percakapan berlanjut. Kak Zhifa mengatakan bahwa dia mendapat kabar
tentang ‘skandal’ antara aku dan Kak Fahmi. Jelas saja aku membantah. Kendati
Kak Zhifa memberikan bukti, tetap aku tidak terima. Menurutnya ada sebuah
kontak bernamakan venus di HP Kak Fahmi, dan setelah diidentifikasi itu adalah
nomorku. Tidak, aku tidak ada affair dengan dia, aku hanya korban
–duilee bahasanya-. Aku memang pernah
suka, dulu waktu jaman-jaman alay di SMA, bahkan sebelum dia mengenalku. Tapi
sekarang tidak, perasaanku sudah biasa saja.
Kak Zhifa akhirnya nyerah,
percaya. Ya mau dikata apalagi, memang aku tidak merasa ada yang special
dengannya. Kendati HP ku sudah kembali dorman, tidak begitu dengan
otakku. Rasa dongkol, kesal, dan sebel sejadi-jadinya membuatku ngomel-ngomel dalam
hati.
Besoknya kuceritakan kejadian semalam pada Via, sahabat
tersayangku. Dia mendengarkan sambil nyengir kuda.
“Makanya, Neng, jangan main-main sama perasaan, sama lawan jenis.
Mungkin kamu merasa biasa saja, tapi siapa yang tahu perasaan dia bagaimana.
Jadi yang bisa kita lakukan adalah mencegah, meminimalkan interaksi yang tidak
pentinng dengan lawan jenis.” Dia malah ceramah. Aku merenggut.
“Haha, jangan manyun. Kan sekarang sudah pakai kerudung, mulai
hijabkan yang lain juga dong. Oia kapan mulai pakai rok?” tanyanya jenaka. Yah,
itu lagi.
“Entar deh, belom beli roknya.” Jawabku ngasal. Via mencubit
lenganku, tahu bahwa aku hanya menghindar.
Memang baru sebulan aku berjilbab, eh berkerudung. Keputusanku
tidak terlepas dari usaha dan dan Via agar aku berbusana Syar’i. Teman-temanku
ramai menyebutku jilbaber. Aku jadi ngeri sendiri membayangkan bagaimana kalau
nanti aku mulai memakai rok, apa aku akan disebut roker?
Aku merasa Via begitu sayang padaku, padahal kami baru saling
mengenal di kampus ini, setahun lalu. Bukan hanya Via, tapi semua akhwat di
organisasi ini. Aku merasa kami bersaudara, bukan hanya berteman.
“Sekarang kakaknya masih suka sms atau apa gitu?” Tanyanya
kemudian.
“Masih, tapi ga sering.” Jawabku.
“Dibalas?”
“Ia.”
“Nah itu.” Dia menepuk bahuku.
“Kenapa? Kan cuman balas. Ga sopan kan kalo ada yang nanya gak
dijawab. Bukan hanya dia aja kok.” Tanyaku heran.
“Masalahnya kakaknya gak tau itu kan? Bisa saja dia menganggap
perlakuanmu itu special, hanya untuk dia.” Jelasnya.
“Kakaknya aja yang GR.”
“Haha kau ini, kaya yang gak pernah GR saja.”
Aku mengedikkan bahu. Tapi kata-kata Via ada benarnya juga.
Sejak kejadian itu aku tak
pernah mau membalas tiap pesan yang masuk darinya. Pun jika tak sengaja
berpapasan di kampus, kubuang jauh-jauh pandangan darinya. Aku masih kesal,
gara-gara kelakuan konyolnya, nama baikku jadi tercemar. Dengan ikhwan yang
lain pun aku menjauh, lebih terkesan jutek malah. Whatever. Pernah suatu saat
dibahas di syuro bahwa organisasi rohis ini bukan hanya orientasi pada proker,
tapi juga mendekatkan setiap individu di dalamnya dalam satu ikatan ukhuwah. Ya
terus gimana? Cuek salah, baik-baikan salah juga.
“Vi, apa sih maksudnya kata-kata kaka tadi? waktu itu dia bilang
jaga interaksi antar lawan jenis. Tapi tadi bilangnya mendekatkan setiap
individu, gimana tuh?” tanyaku penasaran seusai syuro malam ini.
“Ya beda atuh konteks kalimatnya juga, Ren. Menjaga
interaksi lawan jenis dan mendekatkan setiap individu.” Via menarik napas
panjang, “Menjaga interaksi antara lawan jenis maksudnya jangan sampai
berlebihan dalam berkomunikasi. Misal karena satu departemen, satu proker, atau
lainnya kita jadikan alasan atau excuse dalam berkomunikasi lebih intens antar
pengurus. Jika akhwat dengan akhwat sih tidak masalah. Pun jika ikhwan dengan
ikhwan. Yang menjadi masalah adalah jika komunikasi seperti ini terjadi
diantara ikhwan dan akhwat. Mencari-cari alasan untuk terus selalu berhubungan
dengannya, selalu update kabarnya, apa yang dilakukannya, dan lain-lain. Nah
yang seperti inilah yang harus kita hindari.” Via menghentikan ucapannya. Aku
manggut-manggut mengerti.
“Maksud perkataan Kak Anwar tadi adalah dalam organisasi yang kita
jalani ini kita tidak hanya berorientasi pada program kerja yang telah kita
susun. Kita bukan event organizer. Kita ini lembaga dakwah. Amanah kita adalah
mendakwahkan islam kepada masyarakat kampus dan orang-orang sekitar kita
melalui proker-proker kita ini. jangan sampai alasan sibuk mempersiapkan sebuah
event malah menjadikan penyakit hati diantara kita sendiri. Kecemburuan kerja,
iri atas hasil sukses yang diraih oleh departemen lain misalnya, bisa saja
timbul karena kita kurang atau tidak peka terhadap individu yang lain.” Via
tersenyum, “Mengerti bu?” Wah benar juga, kepalaku semakin kuat mengangguk.
“Viaaaa…” Aku berteriak menghambur ke arah Via.
“Aduh kaget. Ada apa?” tanyanya sambil melipat halaman buku yang
dibacanya.
“Nih lihat.” Aku menyodorkan HP ku ke hadapannya, “Masih aja deh
tuh kakak, udah dijutekin juga ga peka banget.” Omelku.
Via menekuri layar HP ku, membaca pesan-pesan Kak Fahmi untukku. Sesekali
dia tersenyum geli, atau geleng-geleng kepala.
“Ini sih harus dituntaskan.” Ujarnya.
“Ia, Vi. Masa kakaknya yang ganjen, tapi yang ditegurnya aku. Kesel
kan?” kataku ga terima.
“Tapi kamu juga salah.” Ralat Via.
“Ia ia. Tapi adil dong. Biar kakaknya juga sadar. Kak Zhifa sih
pernah bilang bakal negur dia juga. Tapi kayanya it’s not work.”
“Ih, gemes ya. Perlu aku yang turun tangan?” Tantangnya. Aku mengangguk.
Dia langsung mengambil ponselnya, mengetik dengan cepat. Penasaran, aku
mengintip:
Assalamu’alaykum.
Jadi ikhwan jangan setengah-setengah,
Kak.
Katanya ikhwan, masa mau ngajak pacaran?
Katanya ga pacaran, tapi ngasih perhatian
berlebihan.
Sama aja atuh, ka.
Selama masih merasa belum siap untuk
menikah, jangan pernah menggoda anak gadis orang.
Maaf kalau tersinggung, tapi sikap kakak
ini sangat mengganggu.
Syukron.
Wassalam.
Aku bengong. Sebelum tersadar, Via sudah terlanjur menyentuh icon
send. Wah, kiamat. Pikirku dalam hati.
“Itu serius, Via?” tanyaku masih tidak percaya.
“Heeh.” Jawabnya santai.
“Ko tega? Gimana kalau dia sakit hati?” aku jadi khawatir Kak Fahmi
bakal melakukan sesuatu yang aneh-aneh.
“Makanya sewaktu-waktu kamu perlu teman yang tak berperasaan
seperti aku. Kamu terlalu perasa sih.” Uajr Via sambil menjawil pipiku. Aih.
Semoga saja dia mengerti, ya Via? bisikku dalam hati.