Selasa, 31 Desember 2013

Hear and Do



Tahun baru (lagi). Jika saat ini usia kita 19 tahun, maka sudah 19 kali kita mengalami pergantian tahun. So, apanya yang istimewa? *ask to my self.
Syukurnya, orangtuaku tidak membiasakanku untuk merayakan tahun baru, ulang tahun, atau perayaan-perayaan lainnya. Menurutku itu menguntungkan, sehingga aku terbiasa menyikapi pergantian tahun ini sebagai hal yang “biasa”.
Okeh, sedikit review. Kita umat muslim kan? Betul? Yakin? Kalo ia, sekedar mengingatkan, hari raya orang islam itu hanya 2: idul fitri dan idul adha. Tidak ada hari lain yang patut dirayakan dalam islam, bahkan hari kelahiran, yang sering disebut sebagai perayaan ulang tahun.
Apa esensi perayaan pergantian hari/ bulan/ tahun yang sesungguhnya menunjukkan bahwa umur kita, jatah hidup kita semakin berkurang? Apa coba? Dalam 2 hari ini aku mendengar 4 kabar kematian. Itu hanya yang aku dengar. Pasti selalu ada manusia yang meninggal setiap harinya. Lalu apa perayaan-perayaan yang kita lakukan ini? mengapa manusia begitu “happy” menjalani penantian datangnya malaikat maut? Seandainya kita selalu sadar bahwa maut itu begitu dekat, bahkan lebih dekat dari nadi leher kita sendiri.
Pernah terfikirkah kalian? Jika malam ini kalian menyerang langit dengan petasan, kembang api, tertawa-tawa bahagia. Begitu pongahnya. Bagaimana jika suatu saat langti balas dendam menyerang kita dengan hujan petasan dan kembang api yang sama? Diberi hujan air seharian saja kita sudah kalang kabut setengah mati. Lalu apa yang harus ditertawakan?
Coba direnungkan saja. Aku yakin kalian sudah mengetahui ilmunya, tinggal keinginan untuk mengamalkannya atau tidak. Tapi ingatlah, mana mau orang lain mendengar anjuran kita, kalau kita sendiri sering mengabaikan nasihat orang lain. Jadi dengarkanlah, dan amalkan.
#bukanhanyauntukpembaca

Sabtu, 28 Desember 2013

Bertemu kembali...

Saat otak masih berusaha untuk mengenali, bibir telah lebih dulu tersenyum,pipi telah lebih dulu memerah, tangan telah lebih dulu melambai, dan lidah telah lebih dulu menyapa. tak ada yang lebih indah selain pertemuan yang tidak disengaja. dan sungguh, rasa rindu itu tak mampu untuk diredam. Oh, rasanya tak ada kata yang terucap, tak ada kalimat yang teruntai, meski hati ingin. Cukuplah dia, sang perasaan yang mampu menggambarkan dirinya sendiri, karena yang lain takkan pernah mengerti. (27/12/13)