Tahun baru (lagi). Jika saat ini usia kita 19 tahun, maka
sudah 19 kali kita mengalami pergantian tahun. So, apanya yang istimewa? *ask to
my self.
Syukurnya, orangtuaku tidak membiasakanku untuk merayakan
tahun baru, ulang tahun, atau perayaan-perayaan lainnya. Menurutku itu
menguntungkan, sehingga aku terbiasa menyikapi pergantian tahun ini sebagai hal
yang “biasa”.
Okeh, sedikit review. Kita umat muslim kan? Betul? Yakin? Kalo
ia, sekedar mengingatkan, hari raya orang islam itu hanya 2: idul fitri dan
idul adha. Tidak ada hari lain yang patut dirayakan dalam islam, bahkan hari kelahiran,
yang sering disebut sebagai perayaan ulang tahun.
Apa esensi perayaan pergantian hari/ bulan/ tahun yang
sesungguhnya menunjukkan bahwa umur kita, jatah hidup kita semakin berkurang? Apa
coba? Dalam 2 hari ini aku mendengar 4 kabar kematian. Itu hanya yang aku dengar.
Pasti selalu ada manusia yang meninggal setiap harinya. Lalu apa
perayaan-perayaan yang kita lakukan ini? mengapa manusia begitu “happy”
menjalani penantian datangnya malaikat maut? Seandainya kita selalu sadar bahwa
maut itu begitu dekat, bahkan lebih dekat dari nadi leher kita sendiri.
Pernah terfikirkah kalian? Jika malam ini kalian menyerang
langit dengan petasan, kembang api, tertawa-tawa bahagia. Begitu pongahnya. Bagaimana
jika suatu saat langti balas dendam menyerang kita dengan hujan petasan dan kembang
api yang sama? Diberi hujan air seharian saja kita sudah kalang kabut setengah
mati. Lalu apa yang harus ditertawakan?
Coba direnungkan saja. Aku yakin kalian sudah mengetahui
ilmunya, tinggal keinginan untuk mengamalkannya atau tidak. Tapi ingatlah, mana
mau orang lain mendengar anjuran kita, kalau kita sendiri sering mengabaikan
nasihat orang lain. Jadi dengarkanlah, dan amalkan.
#bukanhanyauntukpembaca