Kamis, 07 Februari 2013

Journey to Tasikmalaya part 2

Hari kedua ini rencananya kami akan pulang. Tapi Farah masih sakit, belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan yang luar biasa melelahkan untuk balik ke rumah kita masing-masing. Jadi, kepulangan aku dan Farah dipending hingga esok hari. Okesip, its better, semoga bisa dimanfaatkan untuk sedikit melirik keindahan Tasikmalaya.
Alhamdulillah keadaan Farah membaik setelah lewat pukul 10, hehe. Akhirnya pukul 11 kami, Aku, Farah, dan Faisal, melaksanakan keinginan kami untuk pergi ke bukit belakang rumah Faisal.
Lets check our journey. *oia, agar lebih jelas, deskripsi perjalanan ini aku lengkapi dengan foto2 amatir yang telah kami ambil *
Perjalanan dimulai dengan menyisir pinggir sungai, dan kami menemukan ini !!! hahaha tulisan khas orang sunda.

Kemudian melewati jembatan, dan menanjak.
Baru beberapa langkah, kaki mulai terasa pegal. Hmmm maklumlah sudah lama tidak daki-mendaki. Ya sudah, istirahat dulu deh….
Perjalanan dilanjutkan. Mulai memasuki perumahan warga. Waahhh di sana masih terlihat desa yang jaman dahulu sekali. Masih banyak rumah-rumah panggung, ayam-ayam berkeliaran, anjing-anjing , juga ibu-ibu dan bapak-bapak yang memanggul kayu kering untuk kayu bakar. Semua nafas desa bisa ditemukan di sini. Haha bahkan saya sempat juga mengambil gambar dapros yang sedang dijemur, salah satu makanan tradisional orang sunda. ibu-ibu, mungkin pemiliknya, hanya melihat saja dengan heran. Maaf ya bu…
Kalau di kota, jika kalian berjalan melewati penduduk, ya lewat saja. Nah kalau di desa tidak bisa begitu. Bisa-bisa kita dilempar sendal jepit !! eh becanda deng, hehe. Maksudnya, kalo kita lewat warga kurang dari 2 meter *aproksimasi berdasarkan pengalaman*, ya harus bilang punten, kalau dalam bahasa Indonesia berarti permisi. Penduduk di sana sopaaaaan sekali. Beberapa kali kami disapa dan ditanya mau pergi ke mana. Mereka berbicara dengan bahasa sunda. Untung saja aku dan farah berasal dari sunda juga. jadi tidak gelap gulita menangkap apa yang mereka maksud. Lucunya mereka menyapa setiap orang asing dengan bahasa mereka tanpa peduli orang yang disapa mengerti atau tidak.
Oia, kita naik ke bukit itu sebenarnya tanpa tujuan. Pokoknya ingin sampai ke hutan pohon pinus. Perkara nama tempat dan jauhnya kami tidak tahu. Bahkan Faisal yang pernah sampai sana pun lupa seberapa jauh tempat itu. Jreng jreng, dan kita terus berjalan.
Di perjalanan kami menemukan tukang es cincau. Kalian tahu berapa harga jual es cincau di sana? Just Rp. 1000 !! its so cheap right? Di jakarta? mana mungkin kita menemukan yang seperti ini. Ayo kita tester.. Hahaha
Nah, dari bapak penjual inilah kami menemukan bayangan bahwa hutan pohon pinus itu jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada saat itu. Waah nambah semangat nih. Apalagi disponsori dengan es cincau ala bapak…. *eh bapak apa yah namanya??? :P
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, entah berapa langkah yang kami ambil, pohon pinus belum terlihat batang hidungnya. *emang punya idung?? :P *. Yah, capek mulai terasa lagi. kami memutuskan untuk bertanya pada tiga ibu yang kebetulan lewat membawa kayu kering.
Farah: “Bu punten, ari hutan pinus tebih keneh henteu ti dieu?”
“Bu maaf, kalau hutan pinus masih jauh dari sini?”
Ibu: “Uh tebih keneh Neng. Engkin pami atos ngalangkungan jalan cagak, nembe tiasa mendakan hutan pinus.”
“Uh masih jauh Neng. Nanti kalau sudah lewat pertigaan, baru bisa menemukan hutan pinus.”
Aku: “Oh kitu nyah Bu? Janten tebih keneh ti dieu?”
“Oh begitu ya Bu, jadi masih jauh dari sini?”
Ibu: “Muhun Neng.”
“Ia Neng.”
Nah kurang lebih begitu percakapan kami dengan 3 ibu perkasa itu. Jawaban yang mau tidak mau membuat kami lemas juga. Ialah, sudah jauh, capek, peluh bercucuran entah sudah berapa liter *eh lebai, haha*.
Tapi kami terus berjalan, dan kalian tahu apa yang kami dapatkan di depan? Kebun kopi !! Ya, meski tidak sampai ke hutan pinus, kami menemukan kebun kopi yang saaaaangat indah. Rasanya kalau tidak berbahaya, aku ingin berguling-guling merasakan indahnya kebun ini. huaaaaa, penat hilang !! :D
Time to take photos..

Oke, waktu habis. Kami harus kembali ke rumah Faisal. Kalau lama-lama di atas sini, bisa-bisa kami tidak dapat jatah makan siang *eh :P .
Nah perjalanan menuruni bukit ini tidak memakan waktu terlalu lama, kalau ingin lebih cepat pun bisa sebenarnya. Tinggal melemparkan badan ke bawah sana. Sampai deh, ke rumah sakit !!
Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali dengan ibu yang tadi kami tanyai. Dia bertanya apa kami sampai ke hutan pinus atau tidak. Kemudian dia juga menawarkan kami untuk singgah di kediamannya. Namun kami menolak dengan halus. Kami sampai di rumah Faisal pukul setengah tiga sore.
***
Hari ketiga. Time to go back. Sudah terlalu lama aku dan Farah bermukim di rumah Faisal, numpang, makan, numpang mandi, numpang tidur. Untuk tidak ada tagihan bon yang harus kami bayar, hehe.
Pukul 7.30 kami berdua menuju terminal Garut, diantar oleh Papa Faisal. Kalian tahu bagaimana keadaan kami di angkot? Seperti orang mabuk !! medan yang menanjak dan berputar membuat aku dan Farah merasa mual dan pusing. Padahal ini belum apa-apa. Masih ada berkilo-kilo meter lagi jalan yang harus dilewati. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali memanggil Doraemon….
Di terminal kami sempatkan untuk sarapan. Sebenarnya makan pun tak berselera, melihat nasi malah ingin muntah. Tapi kami harus makan !!
Perjalanan dengan bus dimulai pukul 9 pagi, setelah sebelumnya Papa Faisal mengantarkan kami ke pintu bus. Beliau berpesan agar kami turun di Rancaekek, dan mencari bus Budiman jurusan Bogor dan Sukabumi. Oke siap.. !! But, bapak di samping tempat duduk kami menyarankan untuk turun di Cileunyi. Khawatir bus yang kami cari tidak ditemukan di Rancaekek, yang berarti akhirya kami harus menuju Cileunyi juga. Ah dasar masih labil, aku manggut aja ikut saran bapak yang barusan. Farah apalagi, sudah pasrah mengikuti keputusanku, hehe.
Dari terminal Garut ke Cileunyi ternyata bukan perjalanan main-main. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam, mungkin lebih. Di Cileunyi kami turun, celingak-celinguk mencari bus yang bisa membawa kami pulang ke hometown masing-masing. Tapi jangankan busnya, knalpotnya saja ga ada. Hanya ada 3 atau 4 bus hijau jurusan Jakarta yang berjajar . Bingung sudah sejak tadi, panik mulai menjalar. Jiwa petualanganku sesaat menciut, membayangkan tersesat di kota Bandung, berdua, dengan uang pas. Haha
Takut bertanya, tak bisa pulang. Aku memberanikan diri berdialog denga salah satu kernet bus. Beliau dengan antusias malah menyarankan kami naik bus jurusan jakarta tersebut. Karena tidak punya pilihan, akhirnya aku memutuskan untuk naik. Juga Farah. Di bus aku masih bawel bertanya bagaimana cara kami sampai ke Bogor dan Sukabumi. Kata sopirnya, kalau ke Bogor, nanti turun di Ciawi. Kalo ke Sukabumi nanti turun di Jekbrog, kemudian disambung dengan bus Bandung-Sukabumi. Bahkan Jekbrog saja aku baru mendengar, di mana itu?? Oh ternyata tempat itu ada di Cianjur.
Sedikit memutar otak. Kalau aku turun di Cianjur, berarti kami berpisah. Kemungkinan tersesat jika sendiri lebih berbahaya. Lagipula aku belum pernah melakukan perjalanan sendiri dari Cianjur ke Sukabumi. Berbeda dengan Ciawi yang selalu aku lewati saat pulang ataupun berangkat ke perantauan di Kuningan sana. Sepertinya emang niat awalnya mengantarkan Farah ke Bogor juga, akhirnya aku memutuskan untuk turun di Ciawi, meski memakan waktu yang lebih lama. Tak apa, setidaknya lebih aman untuk kami berdua.
Dan bus pun melaju. Kami duduk paling depan, di samping sopir, di atas additional chair. Amazing, seperti naik roller coaster. Dan setelah beberapa saat kami baru sadar bahwa bus yang kami naiki adalah bus ekonomi !! aku berbisik pada Farah,” untung engga ada ayam ya. Ra.” hehe.
sepuluh menit pertama, masih bisa enjoy. Masih tertawa-tawa dan mengobrol. Menit berikutnya mulai lemas. Untung tidak mual seperti tadi. Hanya saja pegal dan kantuk mulai menyerang. Sebisa mungkin kami halau dengan ngemil-ngemil makanan !!
Perjalanan berlanjut. Melewati toll Padalarang, Puncak, jalan penuh tikungan dan menurun, jalan bagus, jalan jelek, jalan lancar dan macet, aku rasa semua jenis jalan kami lewati. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di Ciawi.
Perjalan dari Ciawi ke rumah tidak terlalu asik untuk diceritakan. Aku terlalu lelah untuk memperhatikan keadaan sekitar. Oia, ada satu yang tak mungkin aku lupakan. Ada anak kecil yang berkali-kali muntah di sampingku. Kalian tau bagaimana rasanya?? Aku terus berusaha berfikiran bahwa aku tidak ada di tempat itu saat itu, melainkan sedang berada di suatu tempat yang indah dan nyaman bernama kamar tidur. :P

Journey to Tasikmalaya part 1

Journey to Tasik Perjalanan dimulai pukul 7 malam, dari Cawang. Bus bercorak merah milik Primajasa mengantarkan kami menuju kota tempat tinggal Faisal, Tasikmalaya Jawa Barat.
Masih di bilangan Jakarta, kemacetan jalan tak mampu dihindarkan, maklum weekend. Saat memasuki jalan toll, bus mulai melaju lancar, saatnya untuk tiduuuuuur…
Sampai di terminal Garut sudah tengah malam. Papa Faisal menjemput kami berempat. Huaaah, ternyata tempat yang kami tuju masih perlu waktu sekitar setengah jam lagi. Padahal mata ini sudah merindukan kedamaian kamar tidur, dan perut sudah menagih jatahnya sejak tadi. Hehe. Untung saja Papa Faisal mengerti kegalauan kami, beliau menyarankan kami untuk mampir di salah satu kedai nasi goreng. Thanks Pa..
Pukul setengah 1 malam, *jika tidak salah ingat*, kami sampai di rumah Papa faisal. Alhamdulillah, langsung saja menuju kamar yang telah disediakan, dan tiduuur…. !!! eh belum salat, capcus kamar mandi dulu deh.. :D
***
Hari pertama yang rencananya akan dimanfaatkan untuk mengobrak-abrik kota Tasik terpaksa dibatalkan. Dua personil kami tepar, mabuk perjalanan mungkin.. :p okelah, kita habiskan hari ini dengan berdiam diri di rumah, , capek sekali….
Kita belum sarapan loh, bangun saja pukul 9, hehe. Habisnya suasana mendukung, sejuuuuk sekali, lelah dan mengantuk pula. Yasudah deh selesai solat subuh kembali tidur.
Oia, di rumah Faisal ini tidak ada perempuan, hanya ada kakek, papa, dan Mas Gilang. Nenek lagi pergi ke Jakarta. Tidak ada perempuan its mean tidak ada yang masak !! hiatttzz kita beraksi Farah.. :D
Nah, Papanya Faisal sudah menyediakan ikan siap goreng. Ada cabe hijau di belakang rumah, dan juga kecap di meja makan. Tak terfikir sebelumnya untuk membuat ikan goreng sambal hijau, but inilah hasilnya

Selesai makan, masih juga tergoda saat melihat ada yang berjualan cilok di sebrang jalan. Oke deh, ini liburan, ayo bersenang-senang !!
Makan cilok sambil nonton tv di ruang tamu, menatap rintik hujan di balik jendela juga, akhirnya mengantarkan aku, Farah, dan Faisal ke alam mimpi. Pukul setengah 12 siang.
Hari pertama ditutup dengan makan mie rebus buatan Mas Gilang, kakak Faisal.
***