“Kullu nafsin dzaaiqotul mauut…” (Al-Ankabut:57)
Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Aku tahu itu,
dan sangat paham karena kau yang mengajarkanku, Pak. Sikap zuhudmu yang selalu
mengingatkanku bahwa manusia takkan selamanya di dunia, dan akhiratlah tujuan
yang sesungguhnya.
***
“Ma, bapak apa kabar?”
“Alhamdulillah sudah membaik, sudah agak stabil, tapi
masih harus kontrol. Engga apa-apa, fokus saja belajar, De. Kalo yang ngurusin
bapak mah mama dan yang lain ko.”
“Iya, kan masa aku sama sekali engga nanyain kabar
bapak.”
“Iya, berarti itu tandanya kamu sayang orangtua.”
“Mah, bilangin ke bapak harus sehat ya, kan belom
ngewaliin aku. Hehe, becanda.”
“Iya insyaallah nanti dibilangin, tapi sekarang bapaknya
udah tidur. Tadi habis isya langsung minum obat terus tidur.”
“Oh, iya.”
Kurang lebih seperti itulah percakapanku dan mama, semalam
sebelum kepergianmu, Pak. Tidak sama sekali kumenyangka bahwa itu menjadi malam
terakhir mama mengobrol denganmu. Tidak juga kusangka bahwa esok hari aku akan
mendengar kabar yang begitu menohok tentangmu. Yang jelas malam itu aku tidur
nyenyak, karena esok pagi aku akan pergi ke Bandung, menghadiri acara
pernikahan Kaka tingkatku. Aku pernah bilang padamu, kan Pak?
Pagi hari aku bangun seperti biasa. Aku maklum karena
keadaanmu yang sekarang, dirimu sudah lama tidak lagi membangunkanku saat
subuh. Namun pagi itu ada panggilan tak terjawab dari nomormu. Kufikir kau
berniat membangunkanku. Aku tak ambil pusing. Tak lama, muncul sms yang
mengatakan aku harus pulang hari itu dan membatalkan kepergianku ke Bandung. Why?
Bahkan semalam mama menyuruhku untuk tidak khawatir tentangmu, tapi kenapa
sekarang menyuruhku pulang?? Terbersit fikiran yang tidak-tidak tentang, namun
meski aku tidak diberitahu dengan jelas tentang keadaanmu, aku tahu dirimu masih
ada.
Sempat aku merasa kesal. Maafkanku, Pak. Tapi aku tetap
memilih pulang. Terlebih dua hari bertutur-turut aku memang bermimpi ditinggal
pergi ke Bandung. Tidak, aku tidak begitu percaya firasat. Karena tanda-tanda
itu hanya akan terbaca setelah kejadian sebenarnya terjadi. Aku hanya menganggapnya
sebagai mimpi biasa.
Karena tidak dapat tiket kereta, aku memutuskan untuk naik
angkutan biasa. Dan kau pasti tahu kondisi jalanan Bogor-Sukabumi, Pak, begitu
padat. Bahkan untuk jarak sedekat Jakarta-Sukabumi, aku harus mengahabiskan
waktu 6 jam!! Sepanjang perjalanan aku gregetan ingin segera sampai ke rumah
sakit tempatmu dirawat.
Aku tidak pernah menangisimu sebelumnya, sebelum dirimu
sakit-sakitan. Dulu dirimu begitu gagah, tidak pernah menampakkan kesedihan dan
kesusahan. Sebaliknya, dirimu selalu siap mendengarkan keluh kesah kami
kapanpun. Apapun yang ingin aku ketahui, orang pertama yang aku tanya adalah
dirimu. Karena aku percaya, kau tidak akan pernah memberikan jawaban yang menyesatkan.
Melihatmu terbaring tak berdaya, dengan berbagai macam
selang yang yang menyokong hidupmu, aku tak kuasa untuk tidak menangis. Entah
kau menyadari kehadiranku atau tidak, aku hanya mampu menatapmu dan mengawasimu
diam-diam seharian itu. Bahkan hanya sekali aku mengajakmu bercakap, sekedar
mengatakan aku sudah pulang, aku ada di sampingmu. Yang kuyakin saat itu, aku
akan bisa bercakap denganmu setelah kau siuman nanti. Lekas kembali, Pak, kami
masih menunggumu.
9 jam, 12 jam, 15 jam dirimu terbaring, tak kunjung siuman.
Saat kami bersiap untuk lelap sejenak, bibi keluar dari kamarmu dalam keadaan
menangis. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menangis. Aku terkejut, sudah tentu. Namun sebelum aku
melihat sendiri, aku tidak ingin berspekulasi apa-apa. Setengah yakin dengan
apa yang kulakukan, aku berjalan menuju ruanganmu. Sudah banyak orang berkumpul
di situ, pun para dokter. Mereka melakukan resusitasi jantung-paru (RJP) untuk
kembali menormalkan denyut jantungmu. Beberapa
saat aku di tempat itu, dokter mengumpulkan aku dan kakak-kakak. Dia bilang
semua organ vitalmu sudah tidak berfungsi, Pak, hanya tersisa denyut jantung
yang semakin melemah. Dan saat juga dia meminta izin pada kami untuk melepaskan
semua alat bantu yang ada di tubuhmu, karena dirimu sudah tak bisa ditolong
lagi. Dirimu sudah pergi, Pak!! 9 Agustus 2014, itu hari terakhirmu ada di
dunia. Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Kendatipun sudah kusiapkan telingaku untuk mendengar kabar
ini, tak begitu dengan mentalku. Tetap saja aku melemas dengan air mata yang
kembali membanjir. Kaki dan tanganku kebas bagai tak berdarah. Anak mana yang
tidak sedih ketika orangtua yang disayanginya terbujur kaku di depan mata dan
dinyatakan meninggal oleh orang asing yang baru ditemuinya? Kau bisa tahu
perasaanku kan, Pak?
Saat aku digandeng keluar ruangan, kulihat pemandangan yang
memilukan dari mama. Adik-adiknya berusaha menenangkan mama, meski sekilas
kulihat merekapun mesakan kesedihan atas kepergianmu. Malam itu juga kami
berkemas pulang, tidak jadi bermalam di rumah sakit. Sedih sekali kepulangan kami
kali ini bukan membawa dirimu, hanya membawa jasadmu, Pak.
Kesedihanku, mama, dan semua orang malam itu begitu hebat
sehingga mampu memupus rasa lelah kami hari itu. Berkali tangisan mama kembali
meledak. Bersyukur aku memiliki kakak-kakak yang tegar dan siap meminjamkan
bahunya untukku dan mama. Malam itu, aku menatap jasadmu yang diam tak
bergeming. Demi apapun aku sangat takut pada mayat, tapi aku kini duduk di
samping kepalamu yang takkan pernah mampu menoleh lagi saat aku memanggilmu.
Dulu kau sering bilang “Untuk apa takut pada mayat, mereka takkan bisa bangkit
lagi. Jangan berfikir orang mati akan sempat bergentayangan menakutimu,
mengurusi urusannya dengan Allah saja dia sudah sangat sibuk”. Sembari
membacakan ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Yang Telah Memanggilmu, aku terus
mencuri pandang padamu, berharap dadamu kembali naik-turun. Meski kutahu itu
hanya harapan kosong.
Bapak, dulu aku tidak begitu tahu bagaimana orang-orang menganggapmu.
Pagi ini, demi melihat begitu banyak orang yang berbondong-bondong ikut serta
menyolatkan dan menguburkanmu, aku yakin dirimu bukan orang ‘sembarangan’ bagi
mereka. Diantara pelayat, hanya sedikit yang aku kenal, tapi kebanyakan mereka
mengenalku. Aku tersadar, ternyata dirimu begitu bangga padaku, bangga
dengan prestasiku yang tidak seberapa
hingga selalu menceritakanku pada teman-temanmu. Mereka mengenalku karena kau,
Pak. Semasa kau hidup, aku akui aku tidak begitu dekat denganmu. Tapi tentu kita
saling menyayangi.
Langit mendadak suram, mendung, tidak panas, pun tidak
menunjukkan tanda akan turun hujan. Cuaca pun mendukung pemakamanmu, Pak.
Kuyakin di antara kami ada para malaikat sudah berbaris, siap mengikuti proses
serah terima ini. Kami menyerahkanmu, para malaikat menerima dan mengantarkanmu
ke hadapan Ilahi Rabbi. Aku yakin itu, karena kau orang baik, Pak. Orang-orang
menyalamiku, menguatkanku, aku mengangguk. Tangan-tangan silih berganti
menggandengku, mungkin khawatir aku akan ambruk.
Proses selesai. Salah satu dosenku pernah bilang, manusia
akan melewati tiga gerbang: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Bapak sudah
melewati semuanya. Tugas bapak di dunia ini sudah selesai. Aku tidak begitu
khawatir melepasmu, Pak. Lisanmu yang selalu basah dengan ayat-ayat Quran
kuharap dapat meringankanmu saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat.
Pun dengan amalan-amalan yang lain, kuharap itu menjadi bekal yang dapat
menyelamatkanmu di sana.
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: Jika anak
Adam meninggal, maka amalnya akan terputus kecuali tiga hal, yaitu sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak-anak sholeh/sholehah.” (HR Muslim)
Perkara pertama, hanya dirimu dan Allah yang tahu. Untuk
perkara kedua, aku berdoa semoga bertahun-tahun masa pengabdianmu menjadi
pengajar dapat mengantarkan pahala atas semua ilmu yang telah kau manfaatkan.
Dan perkara ketiga, inilah kesempatan kami, anak-anakmu, untuk membantumu di
alam kubur sana, menjadi anak-anak yang sholeh agar segala doa kami dapat
dikabulkan oleh-Nya.
Jika kumelihat ke belakang, begitu banyak hal ganjil pada
dirimu. Kau selalu mengantar keberangkatanku saat aku harus kembali menjalani
rutinitasku di tempat rantau, namun tak pernah menjemput kepulanganku. Namun
kepulanganku saat Ramadhan kemarin, kau menjemputku di statsiun, bahkan tanpa
memberi tahuku terlebih dahulu. Kuingat wajahmu saat itu masih terlihat ceria,
sumringah dengan kedatanganku.
Kita menjalani Ramadhan bersama, meski kurasa beda. Karena
kondisimu, kita tidak lagi rutin salat malam berjamaah. Aku bersyukur,
setidaknya satu malam aku pernah bermakmum padamu, untuk terakhir kalinya.
Semakin hari wajahmu semakin tirus, sudah langka menampakkan senyuman, lebih
sering kulihat matamu menatap kami dengan sedih. Mungkin saat itu dirimu sudah
tahu waktumu akan segera tiba.
Begitulah
perasaanku kini, Pak. Sengaja kutuliskan segera, sebelum rasa ini memudar
terpupus waktu.
Walau
begitu, yakinlah, Pak, kami tidak akan pernah melupakanmu. Kepergianmu
merupakan harga yang begitu mahal yang harus kami bayarkan untuk mendapatkan
tamparan keras agar kami kembali menyadari tujuan hidup, serta terus
memperbaiki diri.
Selamat tinggal, selamat beristirahat. Jika kau sempat,
berkunjunglah sesekali ke dalam mimpi kami. Seperti tadi malam, saat kau datang
dengan senyuman yang merekah, setidaknya itu menenangkanku bahwa kau baik-baik
saja di sana.
Semoga kau termasuk jiwa-jiwa yang tenang yang diridhai Allah
untuk memasuki syurga-Nya, seperti yang dijanjikan dalam surat Al-Fajr.
Untuk Bapak tersayang.
Depok, 12 Agustus 2014