Selasa, 12 Agustus 2014

My Beloved Father



“Kullu nafsin dzaaiqotul mauut…” (Al-Ankabut:57)
Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Aku tahu itu, dan sangat paham karena kau yang mengajarkanku, Pak. Sikap zuhudmu yang selalu mengingatkanku bahwa manusia takkan selamanya di dunia, dan akhiratlah tujuan yang sesungguhnya.
***
“Ma, bapak apa kabar?”
“Alhamdulillah sudah membaik, sudah agak stabil, tapi masih harus kontrol. Engga apa-apa, fokus saja belajar, De. Kalo yang ngurusin bapak mah mama dan yang lain ko.”
“Iya, kan masa aku sama sekali engga nanyain kabar bapak.”
“Iya, berarti itu tandanya kamu sayang orangtua.”
“Mah, bilangin ke bapak harus sehat ya, kan belom ngewaliin aku. Hehe, becanda.”
“Iya insyaallah nanti dibilangin, tapi sekarang bapaknya udah tidur. Tadi habis isya langsung minum obat terus tidur.”
“Oh, iya.”
Kurang lebih seperti itulah percakapanku dan mama, semalam sebelum kepergianmu, Pak. Tidak sama sekali kumenyangka bahwa itu menjadi malam terakhir mama mengobrol denganmu. Tidak juga kusangka bahwa esok hari aku akan mendengar kabar yang begitu menohok tentangmu. Yang jelas malam itu aku tidur nyenyak, karena esok pagi aku akan pergi ke Bandung, menghadiri acara pernikahan Kaka tingkatku. Aku pernah bilang padamu, kan Pak?
Pagi hari aku bangun seperti biasa. Aku maklum karena keadaanmu yang sekarang, dirimu sudah lama tidak lagi membangunkanku saat subuh. Namun pagi itu ada panggilan tak terjawab dari nomormu. Kufikir kau berniat membangunkanku. Aku tak ambil pusing. Tak lama, muncul sms yang mengatakan aku harus pulang hari itu dan membatalkan kepergianku ke Bandung. Why? Bahkan semalam mama menyuruhku untuk tidak khawatir tentangmu, tapi kenapa sekarang menyuruhku pulang?? Terbersit fikiran yang tidak-tidak tentang, namun meski aku tidak diberitahu dengan jelas tentang keadaanmu, aku tahu dirimu masih ada.
Sempat aku merasa kesal. Maafkanku, Pak. Tapi aku tetap memilih pulang. Terlebih dua hari bertutur-turut aku memang bermimpi ditinggal pergi ke Bandung. Tidak, aku tidak begitu percaya firasat. Karena tanda-tanda itu hanya akan terbaca setelah kejadian sebenarnya terjadi. Aku hanya menganggapnya sebagai mimpi biasa.
Karena tidak dapat tiket kereta, aku memutuskan untuk naik angkutan biasa. Dan kau pasti tahu kondisi jalanan Bogor-Sukabumi, Pak, begitu padat. Bahkan untuk jarak sedekat Jakarta-Sukabumi, aku harus mengahabiskan waktu 6 jam!! Sepanjang perjalanan aku gregetan ingin segera sampai ke rumah sakit tempatmu dirawat.
Aku tidak pernah menangisimu sebelumnya, sebelum dirimu sakit-sakitan. Dulu dirimu begitu gagah, tidak pernah menampakkan kesedihan dan kesusahan. Sebaliknya, dirimu selalu siap mendengarkan keluh kesah kami kapanpun. Apapun yang ingin aku ketahui, orang pertama yang aku tanya adalah dirimu. Karena aku percaya, kau tidak akan pernah memberikan jawaban yang menyesatkan.
Melihatmu terbaring tak berdaya, dengan berbagai macam selang yang yang menyokong hidupmu, aku tak kuasa untuk tidak menangis. Entah kau menyadari kehadiranku atau tidak, aku hanya mampu menatapmu dan mengawasimu diam-diam seharian itu. Bahkan hanya sekali aku mengajakmu bercakap, sekedar mengatakan aku sudah pulang, aku ada di sampingmu. Yang kuyakin saat itu, aku akan bisa bercakap denganmu setelah kau siuman nanti. Lekas kembali, Pak, kami masih menunggumu.
9 jam, 12 jam, 15 jam dirimu terbaring, tak kunjung siuman. Saat kami bersiap untuk lelap sejenak, bibi keluar dari kamarmu dalam keadaan menangis. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menangis.  Aku terkejut, sudah tentu. Namun sebelum aku melihat sendiri, aku tidak ingin berspekulasi apa-apa. Setengah yakin dengan apa yang kulakukan, aku berjalan menuju ruanganmu. Sudah banyak orang berkumpul di situ, pun para dokter. Mereka melakukan resusitasi jantung-paru (RJP) untuk kembali menormalkan denyut jantungmu.  Beberapa saat aku di tempat itu, dokter mengumpulkan aku dan kakak-kakak. Dia bilang semua organ vitalmu sudah tidak berfungsi, Pak, hanya tersisa denyut jantung yang semakin melemah. Dan saat juga dia meminta izin pada kami untuk melepaskan semua alat bantu yang ada di tubuhmu, karena dirimu sudah tak bisa ditolong lagi. Dirimu sudah pergi, Pak!! 9 Agustus 2014, itu hari terakhirmu ada di dunia. Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Kendatipun sudah kusiapkan telingaku untuk mendengar kabar ini, tak begitu dengan mentalku. Tetap saja aku melemas dengan air mata yang kembali membanjir. Kaki dan tanganku kebas bagai tak berdarah. Anak mana yang tidak sedih ketika orangtua yang disayanginya terbujur kaku di depan mata dan dinyatakan meninggal oleh orang asing yang baru ditemuinya? Kau bisa tahu perasaanku kan, Pak?
Saat aku digandeng keluar ruangan, kulihat pemandangan yang memilukan dari mama. Adik-adiknya berusaha menenangkan mama, meski sekilas kulihat merekapun mesakan kesedihan atas kepergianmu. Malam itu juga kami berkemas pulang, tidak jadi bermalam di rumah sakit. Sedih sekali kepulangan kami kali ini bukan membawa dirimu, hanya membawa jasadmu, Pak.
Kesedihanku, mama, dan semua orang malam itu begitu hebat sehingga mampu memupus rasa lelah kami hari itu. Berkali tangisan mama kembali meledak. Bersyukur aku memiliki kakak-kakak yang tegar dan siap meminjamkan bahunya untukku dan mama. Malam itu, aku menatap jasadmu yang diam tak bergeming. Demi apapun aku sangat takut pada mayat, tapi aku kini duduk di samping kepalamu yang takkan pernah mampu menoleh lagi saat aku memanggilmu. Dulu kau sering bilang “Untuk apa takut pada mayat, mereka takkan bisa bangkit lagi. Jangan berfikir orang mati akan sempat bergentayangan menakutimu, mengurusi urusannya dengan Allah saja dia sudah sangat sibuk”. Sembari membacakan ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Yang Telah Memanggilmu, aku terus mencuri pandang padamu, berharap dadamu kembali naik-turun. Meski kutahu itu hanya harapan kosong.
Bapak, dulu aku tidak begitu tahu bagaimana orang-orang menganggapmu. Pagi ini, demi melihat begitu banyak orang yang berbondong-bondong ikut serta menyolatkan dan menguburkanmu, aku yakin dirimu bukan orang ‘sembarangan’ bagi mereka. Diantara pelayat, hanya sedikit yang aku kenal, tapi kebanyakan mereka mengenalku. Aku tersadar, ternyata dirimu begitu bangga padaku, bangga dengan  prestasiku yang tidak seberapa hingga selalu menceritakanku pada teman-temanmu. Mereka mengenalku karena kau, Pak. Semasa kau hidup, aku akui aku tidak begitu dekat denganmu. Tapi tentu kita saling menyayangi.
Langit mendadak suram, mendung, tidak panas, pun tidak menunjukkan tanda akan turun hujan. Cuaca pun mendukung pemakamanmu, Pak. Kuyakin di antara kami ada para malaikat sudah berbaris, siap mengikuti proses serah terima ini. Kami menyerahkanmu, para malaikat menerima dan mengantarkanmu ke hadapan Ilahi Rabbi. Aku yakin itu, karena kau orang baik, Pak. Orang-orang menyalamiku, menguatkanku, aku mengangguk. Tangan-tangan silih berganti menggandengku, mungkin khawatir aku akan ambruk.
Proses selesai. Salah satu dosenku pernah bilang, manusia akan melewati tiga gerbang: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Bapak sudah melewati semuanya. Tugas bapak di dunia ini sudah selesai. Aku tidak begitu khawatir melepasmu, Pak. Lisanmu yang selalu basah dengan ayat-ayat Quran kuharap dapat meringankanmu saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat. Pun dengan amalan-amalan yang lain, kuharap itu menjadi bekal yang dapat menyelamatkanmu di sana.
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: Jika anak Adam meninggal, maka amalnya akan terputus kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak-anak sholeh/sholehah.” (HR Muslim)
Perkara pertama, hanya dirimu dan Allah yang tahu. Untuk perkara kedua, aku berdoa semoga bertahun-tahun masa pengabdianmu menjadi pengajar dapat mengantarkan pahala atas semua ilmu yang telah kau manfaatkan. Dan perkara ketiga, inilah kesempatan kami, anak-anakmu, untuk membantumu di alam kubur sana, menjadi anak-anak yang sholeh agar segala doa kami dapat dikabulkan oleh-Nya.
Jika kumelihat ke belakang, begitu banyak hal ganjil pada dirimu. Kau selalu mengantar keberangkatanku saat aku harus kembali menjalani rutinitasku di tempat rantau, namun tak pernah menjemput kepulanganku. Namun kepulanganku saat Ramadhan kemarin, kau menjemputku di statsiun, bahkan tanpa memberi tahuku terlebih dahulu. Kuingat wajahmu saat itu masih terlihat ceria, sumringah dengan kedatanganku.
Kita menjalani Ramadhan bersama, meski kurasa beda. Karena kondisimu, kita tidak lagi rutin salat malam berjamaah. Aku bersyukur, setidaknya satu malam aku pernah bermakmum padamu, untuk terakhir kalinya. Semakin hari wajahmu semakin tirus, sudah langka menampakkan senyuman, lebih sering kulihat matamu menatap kami dengan sedih. Mungkin saat itu dirimu sudah tahu waktumu akan segera tiba.
Begitulah perasaanku kini, Pak. Sengaja kutuliskan segera, sebelum rasa ini memudar terpupus waktu.
Walau begitu, yakinlah, Pak, kami tidak akan pernah melupakanmu. Kepergianmu merupakan harga yang begitu mahal yang harus kami bayarkan untuk mendapatkan tamparan keras agar kami kembali menyadari tujuan hidup, serta terus memperbaiki diri.
Selamat tinggal, selamat beristirahat. Jika kau sempat, berkunjunglah sesekali ke dalam mimpi kami. Seperti tadi malam, saat kau datang dengan senyuman yang merekah, setidaknya itu menenangkanku bahwa kau baik-baik saja di sana.
Semoga kau termasuk jiwa-jiwa yang tenang yang diridhai Allah untuk memasuki syurga-Nya, seperti yang dijanjikan dalam surat Al-Fajr.
Untuk Bapak tersayang.
Depok, 12 Agustus 2014