Jumat, 05 April 2013

Ikan Teri yang Sombong


“Wah , ikan terinya naik pangkat.” Begitu komentar yang saya lontarkan saat berjalan-jalan bersama Farah. Kala itu kami sedang berada di salah satu supermarket di kawasan Rasuna Epicentrum. Kata “jalan-jalan” ini saya rasa lebih tepat dibanding “berbelanja”, karena kami memang saat itu hanya melihat-lihat.
Tergelitik untuk membuktikan statement bahwa harga suatu produk tidak hanya didasarkan pada row material yang digunakan, tetapi juga branding serta posisioning dari produk itu sendiri.
Mari saya contohkan dengan ikan teri. Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Saya rasa ikan teri cukup populer di kalangan masyarakat. ‘Dia’ adalah salah satu protein hewani yang biasa melengkapi meja makan para petani, buruh, dan masyarakat yang mempunyai profesi dengan ‘gaji’ rendah. Meski sering disepelekan, ternyata ikan teri mempunyai harga yang lumayan ‘keren ‘ juga di pasaran. Informasi terbaru yang saya dapatkan, ikan teri mempunyai harga Rp.64.000 per kilo. Menurut saya itu tidak sebanding dengan postur tubuhnya yang mini. Bahkan daging ayam di pasaran hanya dipatok Rp. 28.000 per kilo. Jadi sebenarnya mana yang menjadi makanan rakyat??
Oke kita abaikan dahulu mengenai gelar sebagai makanan rakyat. Mari kita lihat si tubuh mini ini saat dia telah masuk ke pasar modern. Oh ternyata harganya lebih mahal lagi. Dengan kemasan yang menarik dan minimalis, dengan sombong ‘dia’ membandrol dirinya Rp.22.000 per kemasan dengan bobot sekitar 1 ons. Woww.. amazing, right??
Jika saya menjadi orang awam, mungkin saya akan mengkritik habis-habisan ‘diskriminasi’ ikan teri tersebut. Namun posisi saya sekarang adalah mahasiswa ilmu dan teknologi pangan. Berdasarkan kuliah-kuliah yang telah saya jalani, saya mengakui packaging begitu berpengaruh merubah harga jual suatu produk. Begitu pula dengan merk atau branding. Kedua komponen ini yang menurut saya menjadi kekuatan utama dalam memasarkan produk. Eitss, namun jika teman-teman sekalian menjadi produsen di masa depan, jangan lupa untuk memperhatikan kualitas produk yang kalian pasarkan, apalagi produk makanan. Jangan sampai kemasan oke, namun produk yang dikemasnya tidak layak konsumsi.  (Riska/22/03)

Kamis, 04 April 2013

Risky


(ilustrasi)
“Payung, ojek payung..!!” beberapa anak kecil lewat di hadapan kami, dengan suara cempreng nan lantang menjajakan jasa ojek payung. Saat itu memang sedang hujan deras. Aku dan kelima teman saya baru saja keluar dari sebuah food court, bersiap pulang menerjang hujan karena hari telah merayap magrib.
Awalnya tak kupedulikan suara-suara itu, sebelum mataku menangkap sesosok tubuh kecil yang kurasa aku mengenalnya. Pelan aku berguman, Risky. Dan entah ketidaksengajaan apa yang membuat bocah itu menangkap gerak bibirku, menatapku barang sedetik, dan tersenyum. Kemudian tanganku tergerak untuk memanggilnya mendekat.
Selintas cerita di atas seperti potongan cerpen fiktif yang biasa aku tulis saat ide-ide bermunculan bak air bah. But it was really happen!! Risky adalah salah satu adik didikku yang tergabung dalam organisasi sosial Belajar Baca Quran. Kalo aku tidak salah ingat, saat ini dia duduk di kelas 4 SD 21 Jakarta. Setiap hari senin, selasa, dan rabu, dia bersama teman-teman ciliknya rutin belajar baca dan tulis Quran bersama kami.
Dulu, sedikitpun aku tidak menyangka akan menyentuh kehidupan Jakarta dari dua sisi. Satu sisi aku berhak bangga berkesempatan kuliah di universitas bergengsi sekelas Univ Bakrie. Dengan kelengkapan fasilitas yang serba ada di kawasan rasuna epicetrum, apapun yang aku inginkan sudah tersedia di depan mata. Namun mari kita lihat ke sisi lainnya. Saat ini aku tinggal di mentas, kawasan yang sama sekali berbeda dengan rasuna episentrum. Padahal kedua tempat ini hanya dibatasi tembok setinggi orang dewasa, dengan satu pintu kecil yang disebut “pintu surga-neraka” oleh para mahasiswa yang melewatinya, entah siapa yang pertama kali mencetuskan nama itu.
Sekolah dasar tempat Risky dan teman-temannya menuntut ilmu ini berada di kawasan menteng atas. Awalnya aku tidak pernah mengira bahwa kehidupan anak-anak ini begitu keras. Aku hanya mengira dengan mereka bisa bersekolah, berarti mereka adalah anak-anak yang mempunyai keluarga harmonis dan ekonomi yang berkecukupan. Hidup tenang dan damai tanpa beban untuk mencari uang, hanya bermain dan belajar, seperti masa kecilku dulu.
Namun kenyataannya memang berbeda. Dua kali saya bertemu dengannya di luar sekolah dengan menenteng payung besar. Berharap ada orang yang membutuhkan di tengah guyuran hujan. Menjajakan jasa agar orang-orang tidak basah kehujanan namun merelakan diri sendiri kuyup demi selembar uang. (terimakasih kepada Indah Eva yang telah memberikan ‘selembar’ yang Insyaallah berarti baginya).
Saya tidak tahu pasti apa kegiatannya di luar sekolah. benarkah hanya sebagai ojek payung? Bagaimana kalo hujan tidak turun? Apa setiap hari Risky harus berdoa supaya hujan turun agar dia mempunyai uang untuk dibawa pulang? Kemana saja saya selama ini sampai tidak menyadari adik-adik saya berlarian di tengah hujan deras, sementara saya hidup nyaman dengan kucuran dana dari orang tua?? (Riska/23/03)