“Wah , ikan terinya naik pangkat.” Begitu komentar yang saya lontarkan saat berjalan-jalan bersama Farah. Kala itu kami sedang berada di salah satu supermarket di kawasan Rasuna Epicentrum. Kata “jalan-jalan” ini saya rasa lebih tepat dibanding “berbelanja”, karena kami memang saat itu hanya melihat-lihat.
Tergelitik untuk membuktikan statement bahwa harga suatu produk tidak hanya didasarkan pada row material yang digunakan, tetapi juga branding serta posisioning dari produk itu sendiri.
Mari saya contohkan dengan ikan teri. Siapa yang tidak mengenal ikan teri? Saya rasa ikan teri cukup populer di kalangan masyarakat. ‘Dia’ adalah salah satu protein hewani yang biasa melengkapi meja makan para petani, buruh, dan masyarakat yang mempunyai profesi dengan ‘gaji’ rendah. Meski sering disepelekan, ternyata ikan teri mempunyai harga yang lumayan ‘keren ‘ juga di pasaran. Informasi terbaru yang saya dapatkan, ikan teri mempunyai harga Rp.64.000 per kilo. Menurut saya itu tidak sebanding dengan postur tubuhnya yang mini. Bahkan daging ayam di pasaran hanya dipatok Rp. 28.000 per kilo. Jadi sebenarnya mana yang menjadi makanan rakyat??
Oke kita abaikan dahulu mengenai gelar sebagai makanan rakyat. Mari kita lihat si tubuh mini ini saat dia telah masuk ke pasar modern. Oh ternyata harganya lebih mahal lagi. Dengan kemasan yang menarik dan minimalis, dengan sombong ‘dia’ membandrol dirinya Rp.22.000 per kemasan dengan bobot sekitar 1 ons. Woww.. amazing, right??
Jika saya menjadi orang awam, mungkin saya akan mengkritik habis-habisan ‘diskriminasi’ ikan teri tersebut. Namun posisi saya sekarang adalah mahasiswa ilmu dan teknologi pangan. Berdasarkan kuliah-kuliah yang telah saya jalani, saya mengakui packaging begitu berpengaruh merubah harga jual suatu produk. Begitu pula dengan merk atau branding. Kedua komponen ini yang menurut saya menjadi kekuatan utama dalam memasarkan produk. Eitss, namun jika teman-teman sekalian menjadi produsen di masa depan, jangan lupa untuk memperhatikan kualitas produk yang kalian pasarkan, apalagi produk makanan. Jangan sampai kemasan oke, namun produk yang dikemasnya tidak layak konsumsi. (Riska/22/03)
