Kakak,
Mengapa kau membutakan matamu padaku?
Namun aku maklum
Aku akan berada di belakang garis yang kau izinkan
Tapi kakak, aku kecewa padamu
Mengapa malah kau buka ruang untuknya?
Dia yang sama sekali bukan yang kau ceritakan,
Bukan yang kau refleksikan dalam harapmu,
Bukan yang kau tuntut dariku,
Kakak,
Apa kau menyadarinya?
Meisya menutup diary putih-ungunya. Masih dengan berlinang air mata, dilemparnya bantal dan guling serta benda-benda ‘ringan’ yang bisa dijangkaunya. Hatinya dongkol sedongkol-dongkolnya. Apa sih yang bikin gadis imut ini uring-uringan sendiri? Check it out !!
Sepulang kuliah tadi, Mey langsung masuk kamar, membanting pintu, dan mengunci diri dari dalam. Pasalnya ketika istirahat tadi dia melihat Kak Vian digandeng seorang temen ceweknya. So what?? *pasti kalian nanya gitu kan?? Hayoo ngaku… !!! haha
Begini, Mey itu awalnya seorang gadis kaya yang tidak begitu peduli dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Shalat aja kadang-kadang, kalo lagi inget, kalo lagi pengen, dan kalo lagi patah hati setelah diputusin pacar. Ckckck.
Ajaibnya, ketika masuk perguruan tinggi, Mey yang tidak bisa dibilang feminim itu naksir berat sama Vian, semiornya yang anak rohis. Menyalahi kodrat kah?? Sepertinya tidak begitu. Karena sejak Mey menerima jawaban atas perasaanya terhadap Vian, Mey mulai merubah hidupnya, 180 derajat, meski perlahan. Orang rumah sudah sangat bersyukur karena Mey tidak lagi meraung-raung saat permintaannya tak dipenuhi. Tetangga-tetangga merasa tenang karena balita-balita mereka tidak lagi menagis menjerit saat berpapasan dengan Mey yang sengaja memasang tampang menyeramkan bila bertemu mereka. Teman-teman Mey di kampus juga bahagia dengan perubahan Mey itu. Hanya beberapa gelintir orang yang bermuram durja karena Mey lebih sering mampir di mushola daripada gabung bergosip ria dengan mereka. Padahal tak banyak yang diucapkan Vian waktu itu. Hanya “Kakak ingin mempunyai pasangan hidup yang sholehah, De, bukan pacar. Tapi untuk mendapatkan bidadari sholehah, kakak harus berjuang untuk menjadi pribadi yang sholeh dahulu”.
Sejujurnya Vian tak pernah menduga akan ada wanita yang terang-terangan mengatakan isi hatinya pada dirinya. Namun ia lebih terkejut saat menyadari Meisya, gadis itu, berubah total sehari selepas pembicaraan dengannya di lobi depan kampus. Sungguh hatinya sangat bersyukur, meski ada perasaan khawatir terselip dalam hatinya, apakah Mey berubah karena dirinya?
Kurang lebih 1 bulan Mey hijrah. Susah payah ia melangkah meninggalkan segala kesuraman di masa lalunya. Tak apalah ia sedikit merenggang dengan kawan lamanya, toh di Rohis ia menemukan lebih banyak sosok bidadari-bidadari mulia yang menawarkan ukhuwah lebih dari sekedar teman. Tak apalah ia menahan gerah dengan benda baru yang bertengger menutupi mahkota indahnya.Tak apalah ia harus bersikap sedikit anggun dan menjaga pandangan terutama di depan kaum adam. Mey siap melewatinya, Mey siap berubah menjadi seperti bidadari harapan Vian.
Namun titian yang disusunnya hancur seketika. Ia terjatuh terjerembab dan terluka (aisshhh bahasanya) Begitu tega Vian menelan ucapannya sendiri. Vian bukan seorang cowok yang akan dengan mudah tergoda untuk berjalan bersama wanita bukan muhrim, apalagi bergandengan tangan. Tapi tadi apa? Jelas-jelas ia melihatnya digandeng perempuan berambut pirang keluar dari ruang 7. Memang wanita itu yang menggandeng, tapi Vian pun terlihat enjoy dan tak menolaknya. Ini gila !! jerit Meisya frustasi.
Ternyata betul kata Mbak Esti. Setiap perubahan yang dikarenakan oleh makhluk Allah itu tidak akan kekal. Pasti akan dikecewakan suatu hari saat sang sebab berbuat tak sesuai dengan harapan kita. Sudah sejak lama juga Mbak Dewi mengingatkan Mey untuk berubah karena memenuhi kewajiban sebagai insan yang bertaqwa kepada Allah. Namun Mey keukeuh pada pendiriannya, Kak Vian tujuannya. Baru sekaranglah terasa akibat dari kesalahannya dalam berniat itu.
Lama termenung di dalam kamar membuat perut keroncongan juga. Tapi Mey belum berniat bangkit. Sudah berlembar-lembar tissue berserakan di lantai kamarnya yang meriah itu. Tabiat jeleknya kembali muncul, kebiasaannya setiap kali putus dengan sang pacar.
Sempat terfikir untuk kembali ke jaman jahiliyah. Kembali melepas jilbab dan berbuat urakan seperti masa-masa SMA nya. Namun hidayah yang terlanjur melekat tak rela untuk kembali pergi. Syukurnya Mey masih diberi kesempatan untuk berfikir sehat. Mey tidak ingin usahanya merintis menjadi orang baik selama ini kandas sia-sia. Hanya karena seorang makhluk tuhan, sama seperti dirinya. Tidak ada yang pantas mengahancurkan hatinya. Tak ada yang boleh memupuskan langkah-langkah baiknya, pun itu berwujud Kak Vian.
The End
Sabtu, 15 Desember 2012
Rabu, 12 Desember 2012
Kebal..
Saat-saat pertama berada di jakarta, terutama saat di angkutan umum, saya selalu menyediakan uang kecil pecahan Rp500,- dan Rp1000,-. Kenapa ? karena saya selalu tidak tega untuk tidak memberi pengamen atau peminta-minta yang beredar di sekitar saya saat itu.
Ternyata hal itu tidak berlangsung lama. 1 bulan di sini saya sudah kembali terbiasa dengan suasana Jakarta yang seperti itu. tidak lagi repot merogoh dompet mengeluarkan uang receh untuk mereka. sepertinya saya sudah kebal karena terlalu banyak yang mengamen dan meminta.Oleh karenanya saya merasa itu adalah hal yang biasa di sini dan tidak lagi mencuri perhatian saya.
Namun di hati kecil terkadang saya berfikir kemana nurani saya? tapi pada detik itu juga ego akan berkata'seberapa banyak yang harus kamu keluarkan untuk mereka sedangkan kamu saja masih bergantung kepada orang tua kamu'.
Wallahualam...
Langganan:
Komentar (Atom)

